Senin, 24 Februari 2020
Just another WordPress site
APA TANDA BAHWA SEJUMLAH BESAR MUSLIM TELAH BERKUMPUL?

Teka-teki :
Apakah ciri suatu tempat yang menjadi tanda bahwa disitu baru saja
berkumpul sejumlah besar muslim?

Jawabannya:

Tempat itu menjadi KOTOR SEKALI.

Taqabal Allahu minna wa minkum.
Mohon maaf lahir dan batin.

salam,
ida

Itu adalah teka-teki yang disampaikan oleh Mbak Ida Sitompul, Seorang teman di milis SD-Islam, dalam sebuah postingnya. Beliau menyinggung umat Islam yang dengan enaknya meninggalkan koran-koran bekas yang mereka pakai untuk sholat Ied di lapangan tanpa merasa bersalah sedikit pun.

Terus terang setelah membaca ini saya langsung ‘kliyengan’ karena ‘it’s so damned true’. Mbak Ida berhasil menonjok saya dengan tepat di ulu hati. Olok-olok sekaligus gugatan ini benar-benar jitu. Bahkan beberapa teman yang mengasuh pondok pesantren ketika berkunjung ke rumah saya beberapa hari lalu hanya bisa nyengir ketika saya sampaikan gugatan ini. “Dua kosong!” katanya. Beberapa waktu yang lalu ia kuberi tebakan,:”Apa sebabnya umat Islam tidak bisa menang melawan umat lain?”dan ketika ia berusaha mencari jawaban saya membantunya,:”Karena umat Islam bahkan tidak melaksanakan perintah Tuhan yang pertama sekalipun.”
Baru ia paham bahwa santri-santrinya memang tidak membaca yang lain dan
hanya sekedar mengulang-ulang (recite) ayat-ayat Al-Qur’an. “Satu kosong!” katanya waktu itu. Saya berharap untuk tidak membuat skor menjadi 3-0 atau hubungan kami akan terganggu karenanya.

Sebagai orang yang sangat bangga dan bersyukur menjadi umat Islam,
gugatan Mbak Ida tersebut benar-benar mengganggu saya. Saya memang
tidak menanggapi posting beliau karena itu bukan pertanyaan yang bisa saya jawab sambil cengar-cengir (seperti yang biasa saya lakukan selama ini di milis-milis). Pertanyaan ini telah lama bergantung di benak saya tanpa bisa saya jawab dengan memuaskan tanpa memukul kebanggaan saya sebagai seorang muslim. Bagaimana mungkin umat Islam yang memiliki prinsip ‘Kebersihan adalah sebagian dari iman’ justru merupakan umat yang paling getol meninggalkan jejak kotoran di mana-mana? Sering kali saya dengan geram membunyikan klakson ketika melihat seseorang dengan enaknya membuang sampah atau kotoran dari mobil yang sedang ia tumpangi. Mereka mungkin menganggap bahwa jalanan adalah tempat sampah umum dan ‘toh nanti akan ada yang membersihkan’. Berani yakin bahwa penumpang tersebut adalah umat Islam. 80% tebakan saya tentu benar karena kita mengklaim bahwa 80% orang Indonesia adalah umat Islam kan?.

Baca juga:  KISAH MUSA

What’s happening with us, the proud Moslem? Mengapa untuk hal yang
se’remeh’ inipun kita belum juga bisa menyelesaikannya (masih banyak hal ‘remeh’ lainnya seperti ‘menghargai waktu’, berempati pada umat lain’, ‘menebarkan senyum’, dll)? Mengapa kita yang memiliki ajaran yang begitu tinggi, seperti yang selalu kita gembar-gemborkan, ternyata begitu memble pada penerapannya? Bagaimana mungkin kita yang dengan begitu seringnya berkoar ‘Kebersihan adalah sebagian dari iman…kebersihan adalah sebagian dari iman..” tapi dengan mudahnya meninggalkan sampah dimana-mana?

Ketika berkunjung ke Lapangan Tian Anmen di Beijing beberapa waktu yang
lalu saya dengan takjub melihat ribuan penduduk China berbondong-bondong datang dari desa-desa di seluruh China untuk berrekreasi ke Forbidden City setiap hari. Yang mengagumkan adalah bahwa tak ada satupun sampah yang bisa saya temukan di lapangan yang begitu luas atau dimanapun di sudut-sudut jalan. Begitu bersih dan bebas sampah apapun! Tak ada petugas kebersihan yang berkeliaran dimana-mana karena memang tak ada satupun dari mereka yang membuang sampah seenaknya. Padahal mereka adalah orang-orang desa dari berbagai pelosok China belaka dan bukan orang yang kita anggap sebagai ‘learned people’. Tapi mereka begitu paham tentang arti kebersihan. Dan kita sebagai umat Islam masih juga menganggap diri kita ‘superior’ hanya karena kita sudah bersyahadat? Give me a break!

Ini hanya berarti satu, bahwa kita belum mampu menurunkan ‘ajaran yang
mulia’ tersebut ke level yang mampu dipahami dan dilaksanakan oleh
umatnya sehingga menjadi kebiasaan dan watak umat. Ini juga membuktikan
bahwa ‘ajaran yang mulia’ hanya akan menjadi ‘beban di punggung
keledai’ jika tidak menjadi suatu tindakan atau perbuatan yang menjadi
kebiasaan sehari-hari. Jadi ajaran tersebut haruslah dijadikan sebagai
perbuatan, tindakan, kebiasaan, yang dilakukan secara terus menerus
sehingga akan dilakukan secara bawah sadar dan menjadi ciri kita. Begitu lekatnya ciri tersebut sehingga kita akan menjadi canggung tanpanya. Ini akan menjadi seperti jika kita menyetir mobil yang secara otomatis menarik sabuk pengaman sebelum menghidupkan mesin, kita menjadi merasa ‘vulnerable’ jika naik motor tanpa helm, kita merasa sangat bersalah jika kita naik ojek atau becak dan kita dibawa menembus jalan melawan arah. Sesuatu yang seperti itu.

Baca juga:  JALAN-JALAN KE JEPANG (BAGIAN 1) : NIHON E YOKOSO

Yang membuat saya merasa semakin tertonjok oleh gugatan Mbak Ida adalah
justru karena selama ini saya merasa sebagai ‘a proud teacher’. Hari demi hari kebanggaan saya sebagai seorang guru semakin lama semakin digerogoti oleh fakta-fakta memilukan bahwa saya telah terus menerus kalah dalam perang melawan kebodohan. Siapa lagi yang harus bertanggungjawab dalam hal se’remeh’ itu kalau bukan kita sebagai muslim, yang mengaku sebagai khalifah, dan khususnya yang berprofesi sebagai guru yang seharusnya mengajari umat untuk memahami hal-hal ‘remeh’ seperti ini? Bagaimana mungkin saya dapat menegakkan kepala sebagai seorang guru muslim menghadapi para guru di desa-desa di pelosok China yang tanpa gembar-gembor ‘kebersihan adalah sebagian dari iman…kebersihan adalah sebagian dari iman…’ tapi mampu membuat para penduduknya berprilaku bersih sebagaimana seharusnya umat muslim? Metoda apa yang mereka terapkan sehingga mereka mampu mengambil ajaran mulia tersebut dari kita umat Islam?
Saya dengan sedih melihat siswa-siswa saya masih sering juga membuang
bungkus permennya, plastik pembungkus makanan, kertas-kertas, begitu
saja tanpa sadar. Saya dengan sangat sedih melihat masih ada rekan guru
saya yang dengan nyamannya naik motor melawan arus (apalagi para siswa
dan mahasiswanya). Para dosen dan mahasiswa yang dengan tanpa konvensi
sepakat untuk selalu datang kuliah terlambat. Dlsb..dlsb.
Apa yang membuat umat lain begitu patuh terhadap ketertiban dan kedisiplinan sedangkan kita umat Islam di Indonesia (dan diberbagai belahan dunia lain) yang diwarisi AlQur’an yang agung justru tidak memiliki ketertiban dan kedisiplinan? Begitu sulitkah kita untuk mematuhi isyarat lampu lalu-lintas yang hanya tiga warna tersebut? Begitu menggodakah tanda bulatan merah dengan garis putih melintang yang berarti ‘dilarang masuk’ sehingga kita tertantang untuk menerobos menembusnya? Begitu sulitkah bagi kita untuk menyediakan waktu untuk membaca setengah jam saja setiap hari? (OK. Ini memang tidak mudah). Tidak mengeraskan ‘loud speaker’ ketika mengimami sholat di mushola
(OK. ini juga tidak mudah).
Sampai hari ini saya masih juga menimbang-nimbang apakah saya harus
menegur pengurus mushola di dekat rumah saya yang dengan ‘niat baik’nya
untuk ‘berdakwah’ mengeraskan ‘loud speaker’ yang benar-benar ‘loud’ ketika sholat lengkap dengan dzikir dan doa-doanya yang begitu panjang. Saya yang sholat berjamaah di rumah seringkali sulit untuk berkonsentrasi karenanya. Hubungan saya dengan imam dan jamaahnya menjadi taruhannya jika saya benar-benar nekat untuk menegur. Saya pernah melakukan hal tersebut tapi pada masjid yang agak jauh dari rumah saya sehingga tidak ada hubungan yang akan terganggu. Lagipula yang saya tegur hanyalah penunggu masjid dan bukan pengurus, apalagi imamnya.

Baca juga:  MENGAPA SAYA MEMILIH IGI (Bagian 2)

Saya jadi ingat guyonan Gus Dur yang pernah saya baca tentang pertemuan
Imam mesjid, pendeta kristen dan Pedanda Hindu. Ketika ditanya seberapa
dekat masing-masing umat dengan Tuhannya sang pendeta Hindu menjawab,:”Oh kami cukup dekat dengan Tuhan kami. Kami bahkan memanggilnya “Om” dalam doa kami “Om Swasti astu, Om!”.
Si Pendeta Kristen langsung menukas,:”Kalau begitu kami lebih dekat dengan Tuhan karena kami memanggilnya “Bapak” dalam doa kami “Bapa kami
di Surga, dst..dst..”
Si Imam masjid tidak mengeluarkan sepatah kata pun sehingga mereka
berdua mendesaknya,:”Bagaimana hubungan umat Anda dengan Tuhan?
Seberapa dekat, Pak Imam?”
Si Imam nampak lemas dan menjawab setengah bergumam,:”Gimana mau dekat
dengan Tuhan, lha wong manggilnya aja pakai ‘loud speaker’, dari menara lagi!”
Sama nylekitnya dengan ‘guyonan’ Mbak Ida.

Bulan puasa dan kegembiraan lebaran baru saja usai dan hari ini kita harus sudah mulai masuk kerja. Puasa sebulan membuat saya merasa ‘recharged’ secara fisikal, mental dan spiritual dan merasa siap untuk
bekerja lagi. Dan sebelum saya masuk kantor tiba-tiba Mbak Ida menyodok
saya dengan teka-tekinya. Bekal yang baik untuk memulai kerja. Baiklah!
Thanks a lot, Mbak!

Satria Dharma
Balikpapan, 30 Oktober 2006.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *