Selasa, 18 September 2019
Just another WordPress site
JURANG KEMISKINAN FIKTIF
Foto: RMOLSumsel.

Foto: RMOLSumsel.

“Jurang kemiskinan semakin menganga…”

“Jurang yang membatasi antara orang kaya dan orang miskin semakin melebar…””

“Yang miskin semakin miskin dan yang kaya semakin kaya…” – Rhoma Irama

Saya yakin kita semua sangat akrab dengan kalimat-kalimat tersebut. Istilah ‘jurang kemiskinan’ seolah sangat nyata dan terus dipakai sebagai jargon yang faktual. Padahal sebenarnya TIDAK ADA jurang kemiskinan tersebut. Yang disebut sebagai ‘jurang kemiskinan’itu FIKTIF. Baca buku “Factfulness”nya Hans Rosling. Itu salah kaprah yang terus menerus kita pikir benar dan juga kita pakai sebagai dasar kita dalam berpikir. Yang kaya memang semakin kaya tapi TIDAK ADA kelompok orang, bangsa, atau negara miskin yang semakin miskin. Perbedaan kekayaan antara yang miskin dan kaya mungkin semakin lebar tapi sesungguhnya TIDAK ADA JURANG yang memisahkan mereka. Yang ada justru BUKIT atau PIRAMIDA. Jadi antara orang-orang yang PALING KAYA dengan orang yang PALING MISKIN mereka dibatasi oleh sebuah bukit yang tinggi dan terjal di mana orang-orang yang ‘agak miskin’, ‘kalangan menengah’, dan orang-orang ‘kaya’ berada. Jadi kalau dibikin kurva maka kurvanya adalah kurva lonceng dan bukan kurva lonceng terbalik. Kurva pendapatan masyarakat itu sebenarnya TIDAK PERNAH berbentuk kurva lonceng terbalik. Dalam kurva lonceng terbalik antara titik ekstrim kiri dan ekstrim kanan akan dipisahkan oleh sebuah cekungan sehingga jika mau diibaratkan maka antara orang-orang yang paling miskin dan yang paling kaya terpisahkan oleh sebuah jurang. Tapi kurva semacam ini TIDAK PERNAH ada. Yang ada selalu berbentuk kurva lonceng di mana puncak kurvanya semakin lama semakin tinggi dan kurva ini dengan dinamis selalu bergerak ke kanan.

Apa artinya?

Artinya semua orang semakin lama semakin kaya dan yang dulunya SANGAT MISKIN akhirnya bergerak juga ke kanan menjadi tidak terlalu miskin. Tidak ada satu pun kelompok masyarakat yang bergerak ke kiri alias menjadi semakin miskin. TIDAK ADA…! Yang ada adalah pertumbuhan ekonomi mereka lebih lambat di bandingkan kelompok masyarakat lain yang merambat naik menjadi kelompok menengah yang berada di puncak kurva. Apalagi kalau dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi mereka yang berada di kurva paling kanan yang dengan cepatnya melaju pertumbuhan ekonominya. Posisi ekonomi bangsa Indonesia saat ini dibandingkan dengan dengan perekonomian dunia adalah berada di Tingkat 3 dari empat tingkatan perekonomian dengan penghasilan $16 perhari.

Baca juga:  MAYO RASA MINO

Apakah dengan demikian maka tidak ada ‘gap’ atau perbedaan antara orang kaya dan orang miskin…?! Jelas sekali bahwa posisi antara orang kaya dan orang miskin itu terpisah karena orang miskin berada di kurva paling kiri sedangkan orang kaya berada di kurva sebelah kanan. Tapi TIDAK ADA GAP di antara mereka karena di antara orang miskin dan orang kaya berdiri menjulang kelompok orang-orang berpenghasilan menengah yang membentuk kurva lonceng atau piramida yang semakin lama semakin tinggi puncaknya.

Masih belum paham…?!

Bagaimana kalau kita cari perumpamaan lain? Mari kita bikin perbandingan antara orang jelek dan orang yang cantik dan ganteng. Apakah menurut Anda saat ini orang-orang yang jelek semakin jelek dan yang ganteng (seperti Tom Cruise) semakin ganteng? Apakah menurut Anda ada jurang yang menganga antara orang-orang super jelek dengan orang-orang super ganteng seperti George Clooney? Ya endaklah, Bro. Coba perhatikan bahwa orang-orang sekarang ini semakin lama semakin ganteng dan cantik. Setiap anak yang dilahirkan saat ini hampir selalu lebih keren, lebih rupawan, lebih cling ketimbang orang tuanya. Ahmad Dhani dulu di zamannya sudah termasuk ganteng banget tapi kalau dibandingkan dengan anak-anaknya, Al, El, dan Doel, saat ini maka Ahmad Dhani sudah ‘tekipai’. Apalagi Ahmad Rizali… Anak-anak kita saat ini jelas lebih ganteng dan cantik ketimbang kita. Ada ‘perbaikan keturunan’ istilahnya. Di antara orang-orang jelek absolut dengan orang sangat ganteng seperti George Clooney ada orang-orang seperti Mas Nanang yang sak klumbruk dan mereka sedang merajai puncak kurva. Ane mah gak ke kanan dekat-dekat dengan Brad Pitt.

Jadi lain kali kalau mau nggedabrus soal ‘jurang yang menganga’ antara orang tajir dan yang tafran ingat-ingatlah selalu bahwa ada Mas Nanang bersama kawan-kawan mediokernya sedang nongkrong ngupi-ngupi di puncak kurva.

Baca juga:  Branding

Sebentar…, saya mau ngakak dulu membayangkan Mas Nanang sedang ngupi-ngupi di puncak kurva sambil mengira dirinya is at the top of the world. No, Sir…! You’re not at the top of the world. You are at the top of the curve which means you are at the highest mediocre level.

Surabaya, 26 Agustus 2019

Salam

Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Satu tanggapan untuk “JURANG KEMISKINAN FIKTIF”

  1. Slondok berkata:

    yang kaya semakin kaya..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *