Selasa, 23 Juli 2019
Just another WordPress site
WISUDA IX STIKOM BALI

Saya mendapat tawaran yang sulit untuk saya tolak. Berlibur ke Bali dengan menginap di hotel Westin, Nusa Dua, semalam dan disediakan mobil sedan Camry dengan sopirnya untuk kemana saja mau pergi. Tugas saya cuma satu, yaitu memberi sambutan wisuda pada acara Wisuda Sarjana dan Diploma IX pada hari ini, Sabtu, 28 April 2012. Kebetulan Ketua Yayasan Widya Dharma Shanti, Prof Dr. I Made Bandem, sedang berada di Amerika Serikat dan sebagai wakilnya saya diminta untuk menggantikan beliau. Selain hotel dan transport saya juga diberi honor yang lumayan. Untuk bayar tiket saya berdua dengan istri Balikpapan – Denpasar pulang pergi masih berlebih.

Siapa yang tidak mau…?! Edan po…?! J

Jadi di sinilah saya berada, di pulau Bali yang semakin lama semakin indah (dan juga macetnya mau menyaingi Jakarta). Malamnya saya menikmati dinner di Resto Ulam Nusa Dua bersama istri muda saya (maksudnya  istri saya yang masih tetap nampak muda) sambil menikmati alunan musik khas Bali. Sungguh romantis, Bleh! You should try once in your life.

Pagi ini saya memberikan sambutan wisuda saya dengan penuh semangat (Tentulah! dibayar kok gak semangat!) dan nampaknya para hadirin yang terdiri dari para wisudawan, orang tua, para pejabat lokal, dan staf STIKOM Bali cukup terkesan. Bahkan istri Pak Dadang Hermawan, Ketua STIKOM Bali yang mengundang saya berkomentar pada istri saya, “Pak Satria ternyata lucu juga ya.”  Mungkin ia hanya tahu sisi serius saya dan kurang tahu betapa saya suka yang lucu-lucu. Istri saya tentu mesem-mesem saja karena tahu betapa kami ini berdua selalu mencari hal-hal yang lucu dalam hidup agar kami bisa selalu tertawa bersama-sama.

Sekedar untuk informasi, STIKOM Bali adalah sekolah tinggi komputer pertama dan paling besar di Propinsi Bali. Usianya sudah sepuluh tahun dan ini adalah wisuda ke sembilannya. Wisuda kali ini cukup besar dengan jumlah wisudawan sebanyak 242 mahasiswa sehingga membutuhkan ruang yang lebih besar juga daripada biasanya. Itu sebabnya maka mereka menggunakan Hotel Westin sebagai tempat wisuda. Hotel Westin ini setahu saya adalah hotel yang dipakai oleh Clinton waktu berkunjung ke Bali dulu dan hotel ini punya ruang anti peluru. Iseng-iseng saya tanya apa punya ruang ‘Anti Korupsi’ karena kayaknya kita lebih butuh itu. J

Baca juga:  TOO BIG TOO FAIL

STIKOM Bali setiap tahunnya menerima sekitar seribuan mahasiswa baru dan itu termasuk cukup luar biasa untuk ukuran PTS di luar Jawa. Selama tiga tahun berturut-turutSTIKOM Bali telah mensejajarkan diri sebagai kampus kelas dunia (world class university) versi Webometrics. Tentu saja rankingnya masih jauh banget di bawah tapi minimal sudah masuk Webolah! Pada akhir tahun 2011 lalu STIKOM Bali dinobatkan sebagai The Best Campus in Bali bersaing dengan sekitar 60 PTN dan PTS se Bali. Pada Maret 2012 STIKOM Bali kembali menyabet gelar sebagai Kampus Tercerdas No 2 se Indonesia kategori perguruan tinggi.  Tapi hal yang paling membanggakan bagi STIKOM Bali mungkin karena tahun 2013 yang akan datang dipercaya menjadi penyelenggara Open Course Ware International Conference yang diselenggarakan oleh Open Course Ware Consortium yang beranggotakan ratusan perguruan tinggi berkualitas di dunia. Tahun lalu konperensi ini dilaksanakan di Cambridge University Inggris dan tahun sebelumnya lagi dilaksanakan di Massachussets Institut of Technology (MIT) Amerika. Jadi ini benar-benar konperensi internasional yang sangat bergengsi. STIKOM Bali jelas belum ada apa-apanya dibandingkan dengan Cambridge Uni dan MIT yang sudah berdiri ratusan tahun tersebut.  Tapi nama Balinya itu lho…! Begitu nama ‘Bali’ muncul maka hampir semua peserta langsung berbinar-binar matanya membayangkan eksotisme Pulau Bali. Siapa yang tidak ingin berlibur, eh! berkonperensi ke Bali…?! Lha wong para Kepala Negara se dunia saja pada ‘kemecer’ untuk datang berkonperensi di Bali kok. Pokoke Bali is always the best destination for anything. J

Orasi ilmiah pada acara Wisuda IX ini disampaikan oleh Prof. Dr. Jazi Eko Istiyanto, M.Sc, Ketua Jurusan Ilmu Komputer dan Elektronika UGM, dengan membawakan topik “Filosofi Open-Source : Software dan Hardware”.  Papernya setebal 16 halaman dengan lebih dari 30 daftar pustaka (sudah kuhitung).  Beliau bicara soal open-source secara filosofi s dan disampaikan secara oral tanpa presentasi powerpoint samasekali. Beliau mengira kalau acara formal dan ilmiah seperti ini biasanya tidak boleh ada presentasi powerpointnya. Padahal saya pakai powerpoint untuk presentasi saya. Meski demikian jangan dikira presentasi beliau itu garing.  Sepanjang prsentasi oral tersebut para hadirin diajak ger-geran terus oleh Prof Jazi yang ternyata lucu banget tersebut.

Beliau membuka orasi dengan menyatakan bahwa orang-orang Bali itu memang sudah inernasional dari sononya karena kemana pun kita pergi dan membeli produk apa pun pasti akan tertulis ‘Made in..’. Jadi nama ‘Made’ itu memang internasional. Bali itu juga selalu dikira lebih besar daripada Indonesia dan Indonesia dianggap sebagai bagian dari Bali.

Baca juga:  KONTEKSTUALITAS AYAT AL-QUR’AN

Beliau lalu bercerita bahwa ada temannya yang tidak mau kerja dan ingin jadi pengusaha di bidang IT. Ia membuat sebuah software untuk Puskesmas yang sampai kini sudah digunakan di sekitar 400-an Puskesmas. Lha kalau satu Puskesmas bayar 10 juta saja maka bayangkan berapa penghasilannya! Tapi ternyata penghasilannya yang besar itu tidak membuatnya ‘laku’ di kalangan para calon mertua. Alasannya karena tidak punya penghasilan tetap. Bagaimana bisa berpenghasilan tetap kalau bulan ini penghasilannya 30 juta, bulan depan 40 juta, dan bulan berikutnya menjadi 50 juta? Orang tua itu senang dapat menantu yang berpenghasilan tetap meski pun hanya tetap saja 2 juta sebulan! Dan para hadirin pun ‘ger’….! Bagi Prof Jazi pekerjaan itu hanya ada PNS. Kalau tidak ‘Pegawai Negeri Sipil’ ya  ‘Pengusaha Nasional Sukses’.

Beliau juga bercerita bahwa teknologi telah mengubah prilaku manusia bahkan sampai ke masjid. Saat ini para jamaah ditengarai berdzikir lebih lama setelah sholat Jum’at usai. Tapi setelah dicek ternyata mereka asyik dengan HP dan BB masing-masing membuka status Facebook…! J  Meski demikian, menurutnya para malaikat juga diuntungkan karena tidak perlu repot-repot memeriksa perhitungan amal mereka karena bisa diakses di Facebook masing-masing. Hadirin pun kembali ‘ger’….!

Beliau menceritakan bahwa orang-orang yang sukses di bidang IT seperti Bill Gates, Steve Jobs, dan Mark Zuckerberg adalah orang-orang yang ‘drop-out’ dari kuliahnya. Mereka ‘drop-out’ kemudian sukses. Lha kalau sampai diwisuda berarti mungkin kesempatan sukses kita sudah lewat dan tidak mungkin bisa meniru kesuksesan mereka.

Orang-orang sukses itu ditengarai telah memiliki pengalaman sebanyak 10.000 jam sehingga mereka bisa sukses. Bill Gates sendiri memiliki pengalaman programming sebanyak 10.000 jam sebelum sukses dengan Microsoftnya. Nah, bagaimana bisa mengalahkan mereka dengan pengalaman sekian banyak? Kalau seorang mahasiswa menyediakan waktu hanya 3 jam sehari untuk melakukan aktivitas pemrograman komputer maka ia membutuhkan 10 tahun untuk mencapai 10.000 jam. Tapi umat Islam punya cara khusus untuk mengalahkan hal tersebut, yaitu dengan melakukannya pada malam Lailatul Qodar…! Bukankah malam Lailatul Qodar itu nilainya sama dengan seribu bulan…?! J  Tapi ia buru-buru menambahkan bahwa itu tidak akan tercapai karena para ulama tidak pernah menganjurkan umat untuk melakukan aktivitas programming pada malam Lailatul Qodar tersebut tapi untuk beribadah semata. Prof Jazi ini  memang ngocol pol.

Baca juga:  Sekolah Pemimpin, Mencetak Pemimpin dari Siswa Miskin di Balikpapan (2)

Teknologi akan terus berkembang dan suatu saat akan ditemukan teknologi untuk menjejaki di mana keberadaan seseorang dari pesawat handphone yang dibawanya. Jadi jika seseorang diketahui sedang pergi ke lokalisasi pelacuran bisa dikirimi SMS ‘Bertobatlah pada Tuhan’ dengan harapan agar mengurungkan niatnya. Tapi bisa saja seseorang yang pergi ke mesjid dikira sedang beribadah tapi ternyata tujuannya untuk nyolong sandal….!

Prof Jazi menjelaskan rahasia mengapa orang Yahudi sangat menonjol kecerdasannya. Katanya itu karena orang non-yahudi selalu menganggap orang Yahudi itu cerdas. Akhirnya ‘doa’ itu terkabul. J

Meski demikian Prof Jazi mengajak semua orang untuk bersyukur atau mensyukuri apa pun kondisi yang kita terima. Yang penting itu mengetahui apa kelebihan dan kelemahan kita dan menggunakannya secara  sesuai. Jadi orang yang berwajah jelek pun sebenarnya bisa mendapat Piala Citra jika bermain film. Yang penting pilihlah film yang sesuai untuk diterjuni. Orang jelek jangan ngotot main di film percintaan tapi pilihlah film horror. Insya allah masih ada harapan dapat Pila Citra khusus untuk peran horror, begitu katanya. Bahkan gak perlu di’make-up’ segala lha wong sudah jelek. Asem tenan kok Prof Jazi iki….!

Menurut Prof Jazi orang Indonesia banyak yang hebat. Banyak teman-temannya yang meski pun mereka bekerja di luar ngeri tapi masih memiliki mimpi untuk kembali ke tanah air untuk membangun sendiri pabrik seperti tempat di mana mereka bekerja sekarang ini.

Saya langsung ingat diri saya dulu ketika bekerja di Bontang International School. Saya sangat terkesan dengan sekolah tersebut sehingga bercita-cita ingin punya sekolah sendiri sebagus Bontang International School. Itu yang mendorong saya untuk keluar dari sekolah itu dan mendirikan sendiri sekolah-sekolah saya kini. Mungkin mutunya tidak sebagus Bontang International School tapi cita-cita untuk membangun sekolah itu sendiri akhirnya terwujud.

Akhirul kalam : Selamat Wisuda untuk STIKOM Bali! Semoga selalu sukses dalam membangun bangsa melalui pendidikan teknologi informasi.

Bandara Ngurah Rai, 28 april 2012

Salam
Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Satu tanggapan untuk “WISUDA IX STIKOM BALI”

  1. Tulisan yang menarik pak Satria , dan makasih atas sambutan di Westinya. Selamat berkatifitas kembali .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *