Saya sedang di mobil menunggu istri yang sedang mengecek proyeknya di Lanud Iswahyudi sambil membuka WA. Lalu masuk sebuah WA dari Tim Setmen Kemendikdasmen RI. WA itu menginformasikan bahwa ada surat ucapan terima kasih dari Pak Mentri Abdul Muti untuk saya. Surat itu rencananya akan dikirimkan ke alamat saya dan dia minta alamat untuk mengirim surat itu.
Saya tentu saja heran… 🤔
Olaopo Pak Mentri mengirim surat terima kasih pada saya?
Saya lalu ingat bahwa lembaga di mana saya bekerja (BAN PDM) akan dirombak lagi. Kalau lembaganya dirombak artinya ya ada ganti pemain. Dan saya besar kemungkinan adalah pemain yang akan diganti. Lha wong saya bukan pemain inti… Kalau dalam sepakbola jarang dioperi bola dan cuma lari kesana kemari. 😁
Jadi Pak Mentri mungkin ingin mengucapkan terima kasih atas pengabdian saya di BAN PDM selama 3 tahun tersebut. Good bye and thank you… 🙏
Tapi saya lalu mikir…. Biasanya ya tidak ada ritual semacam itu. Kalau sudah selesai ya selesai saja. No thank you just good bye… 😎
Saya lalu bertanya, “Surat ucapan terima kasih untuk apa?”
Lalu dijawab, ”Atas pengiriman buku “Iqro. Misteri di Balik Perintah Membaca 14 Abad yang Lalu”.
Oalaa…!
Saya memang mendatangi kantor Pak Mentri dua minggu lalu sambil membawa surat dan paparan tentang “Rendahnya Mutu Pendidikan Kita dan Solusi Sederhana untuk Mengatasinya”. Selain membawa surat dan paparan saya juga menyertakan buku saya “Iqro. Misteri di Balik Perintah Membaca 14 Abad yang Lalu”. Dan karena buku inilah maka Pak Mentri mengirim surat terima kasih. Sungguh seorang Mentri yang sangat peduli pada adab dan sopan santun (agak berbeda dengan dua orang wakilnya).
Saya memang mendatangi para pejabat di Kemendikdasmen dan berharap bisa berdiskusi tentang upaya untuk menumbuhkan budaya baca siswa kita yang sangat ketinggalan di bandingkan dengan siswa di negara-negara lain. Saya ingin Kemendikdasmen melakukan lagi program Gerakan Literasi Sekolah yang dulu pernah diinisiasi di zaman Pak Anies Baswedan. Saya sangat percaya bahwa budaya membaca yang tinggi akan sangat berpengaruh pada peningkatan mutu pendidikan kita. Begitu juga sebaliknya. Sangat banyak penelitian tentang hal tersebut. Jika Kemendikdasmen mau memulainya lagi saya akan dengan senang hati membantu secara probono (seperti juga di zamannya Anies Baswedan).
Saya memang lalar gawe seperti orang yang tidak punya pekerjaan. Selain Mendikdasmen dan dua wakilnya, saya juga mendatangi Staf Ahli Mentri, Prof Biyanto (seorang teman baik) dan juga teman lama Pak Gogot Suharwoto yang jadi Dirjen Dikdasmen. Selain Kemendikdasmen saya juga mendatangi Kemensos untuk menawarkan diri. Sepulang dari Jakarta saya mendatangi Balai Kota Surabaya untuk menemui Eri Cahyadi, Walikota Surabaya dan Pak Ikhsan yang saya kira masih sebagai Sekda tapi ternyata sudah pindah di Inspektorat. Keduanya tidak bisa ketemu. Sila baca di sini. https://www.facebook.com/share/p/1BiuEgeQRd/
Selain itu saya juga mencoba mengirim WA ke Bupati Madiun tapi gayung tak bersambut meski sudah pakai perantara yang katanya kenal baik dengan Pak Bupati. Zonk…! 😁
Ya sudahlah… Lha wong saya ini memang lalar gawe alias ra nduwe gawean.
Buktinya adalah saya masih juga menemani Ibu Kasek SDN Madigondo untuk bertemu dengan Universitas PGRI Madiun (UNIPMA) dan pimpinan Radar Madiun. Tujuannya adalah untuk menjalin kerjasama untuk meningkatkan mutu sekolah dan pembelajaran di SD tersebut. Ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh sekolah tersebut untuk meningkatkan mutu manajemen dan pembelajarannya dengan kolaborasi dengan berbagai instansi. Daripada saya hanya menjadi sopir mengantar istri ke proyeknya di Lanud Iswahyudi Maospati ya saya cari repot sedikit.
Saya lalu jadi mikir… 🤔
Sebetulnya enak mana sih bagi orang seusia saya ini : banyak nganggurnya atau banyak repotnya? 😁
Madigondo, 2 Juli 2026
Satria Dharma