Selasa, 05 Agustus 2020
Just another WordPress site
Rejeki yang Tak Terduga

Kadang-kadang saya dapat rejeki tak terduga. Contohnya kemarin. Tiba-tiba saya di SMS oleh salah seorang dosen di STIKOM Balikpapan dan diminta utk memberi sambutan pada acara “Seminar Sosialisasi Internet Sehat dan Aman dan Internet Security” yg dikerjakan bersama oleh Kemkominfo dan Stikom Balikpapan. Alasannya Ketua Yayasan Airlangga dan Ketua Stikom Balikpapan sedang tidak berada di tempat. Dan saya (yg sudah menganggap diri saya sebagai komisaris non-aktif) ketiban sampur dan harus dimainkan. Reaksi pertama di otak saya adalah menolak. Gile..! Sedangkan yg di Bandung saja tidak saya datangi. Padahal yg hadir adalah Dirjen Kemkominfo Pak Ashwin Sasongko. Tapi yg di Bandung memang sudah ada Pak Indra Djati Sidi, Ketua Pembina IGI. Jadi sudah tepat alasan saya utk tidak perlu menghadirinya. Lah sekarang kok malah diminta membuka acara di Balikpapan…!

Tapi saya menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan-pelan sambil berpikir. Saya harus punya alasan tepat untuk menolak. Bukan sesuatu yg konyol seperti ‘lagi malas’ seperti itu. Sifat malas itu sudah bertahun-tahun saya perangi dan saya tendang ke selokan setiap kali muncul.

Saya tidak menemukan alasan yg bagus…

Jadi saya iyakan permintaan mereka utk memberi sambutan pada acara tersebut. Ini kan hanya kerjaan sangat ringan dan hanya butuh waktu maksimal dua jam. Saya juga tidak perlu waktu utk mempersiapkan makalah presentasi atau semacamnya. Saya bisa datang begitu saja dan ngacapruk, kata orang Sunda.

Esoknya saya datang ke acara di hotel Tiga Mustika lebih awal. Saya memang tidak suka datang terlalu mepet waktu. Lagipula ini di Balikpapan, my own town. Hotel ini juga sudah begitu familier dengan saya. Saya biasa mengajak Tara, anak saya, berenang di hotel ini dengan biaya 50 ribu sekalian makannya. Dan biasanya hanya kami yg mengisi kolam renang kecil hotel tersebut.

Saya tiba dan bertemu dg Pak Sarono, salah seorang staf hotel kenalan lama sejak ia masih di hotel Benakutai. Ketika Benakutai tutup ia pindah ke hotel ini (sekarang Benakutai sudah buka lagi). Saya kemudian ditariknya utk sarapan atau ngopi-ngopi dulu. Ia memang selalu hormat dan gembira bertemu saya. Dan begitu juga saya kepadanya. Kami pun ngobrol ngalor ngidul. Quite a good start for the day.

Baca juga:  ANTARA HARUS PULANG KAMPUNG DAN INGIN MUDIK

Ketika salah seorang staf Kemkominfo, Pak Fauzie Dahmier, Kasubdit Pemberdayaan Informasi Masyarakat Khusus, datang kami pun ngobrol ngalor ngidul lagi. Tapi kami sudah lebih serius ngobrolnya karena setelah saya jelaskan soal Gerakan Guru Melek Internet beliau ternyata tertarik. Ini memang sudah jadi hobi saya, yaitu ‘menyuntikkan’ ide-ide dan gagasan kepada siapa saja yg mungkin tertarik utk mengadopsinya. GGMI jelas mengandung hal yg ‘sesuatu banget’ bagi Kemkominfo. The talk was surely a better warm-up for the day.

Ketika Ibu Mariam F. Barata, Direktur Pemberdayaan Informatika Kemkominfo tiba maka saya lebih bersemangat. Saya kemudian bercerita lebih bersemangat soal GGMI ini dengan lebih ekspresif. Saya membayangkan diri saya secara karikatural sedang berbicara dengan begitu bersemangat sehingga ludah saya menyembur-nyembur seperti air mancur. Itu kalau dijadikan film kartun lho! Saya baru berhenti menembakkan mitraliur setelah Bu Mariam mengingatkan bahwa beliau sudah tahu tentang GGMI ini dan pada saat yg sama di Bandung Pak Dirjen Ashwin Sasongko sedang menghadiri Deklarasi Gerakan Guru Melek Internet Jawa Barat di Bandung. Beliau bahkan punya acara dengan Bu Nina Kaha panitia GGMI setelah ini. Skak mat…! Ternyata saya sedang nggedabrus sesuatu yg sudah diketahui…! It’s quite embarrassing of course.

But it’s OK. It’s still a good start of the day. Saya bahkan gembira bahwa jajaran Kemkominfo sudah tahu program ini dan kami di Konsorsium GGMI bisa maju ke level berikutnya (siapa tahu bisa ke level lanjutan utk menyelamatkan sang putri di penjara menara nantinya).

Pagi itu saya menjadi bersemangat dan bersyukur dengan keputusan saya utk menerima tugas memberi sambutan pada acara tersebut. Tak ada yg lebih menyenangkan bagi saya selain mengetahui bahwa ide dan gagasan telah tumbuh dan punya harapan utk berkembang pesat. And today is surely the day of joy for me.

Baca juga:  DIVESTASI FREEPORT BERMASALAH?

Saya memberikan sambutan dan berterima kasih pada Kemkominfo yg telah bersedia bekerjasama dengan STIKOM Balikpapan dalam acara ini. Kami berharap kerjasama ini akan menjadi kerjasama yg indah dan bermanfaat dan menjadi awal utk kerjasama lebih lanjut nantinya. Setelah gong tanda pembukaan acara dipukul tiga kali oleh Bu Mariam maka acara pembukaan selesai. Tugas saya juga selesai dan saya minta ijin ke teman-teman Kemkominfo untuk undur diri.

Di luar saya dicegat oleh panitia seminar. “Sebentar Pak. Ada yg harus ditandatangani.” katanya.

Guess what…!

You’re right. Ternyata ada honornya…!

Saya sebetulnya ingin berlagak sok jaim gak butuh dan tidak mau terima honor apa pun. Apalagi ini cuma memberi sambutan. Too shallow…! Paling juga berapa sih…?!
Tapi bajingan-bajingan rakus harta dalam diri saya serempak mengetawai saya dalam hati sampai terpingkal-pingkal dengan sikap sok jaim tersebut sehingga keinginan menolak honor tersebut hanya muncul sepersekian detik dan tiba-tiba saya sudah menemukan diri saya menandatangani amplop tersebut. Fast as lightning…!

Amplop tersebut terasa ringan. Saya biasa menerima amplop yg lebih tebal, kata saya dalam hati. Sekarang bajingan-bajingan yg mengetawai saya tadi itu ganti mendelik pada diri saya sambil ngomel. “Gila lu…! Cuman ngasih sambutan gak mutu samasekali lu ngarep amplop tebal…?! Gua aja nggak seserakah elu.” Dan saya tertawa dalam hati setelah berhasil membalas olok-olok mereka tadi. Gotcha…!

Saya lemparkan amplop di jok samping dan pulang dengan hati gembira dan perasaan yg sangat ringan. Am I driving or am I flying…?!

Di rumah amplop saya buka pelan-pelan (supaya khidmat dan syahdu) dan saya tarik isinya. Perkiraan saya benar. Isinya tipis karena uang ratusan ribuan (dan beberapa pecahan lebih kecil). Jumlahnya lebih dari tujuh ratus ribu. Saya menarik nafas dalam-dalam dan menutup mata.

Baca juga:  BUKU HARIAN

Ya Allah, ya Rahman ya Rahim…! Segala puja dan puji hanyalah bagiMu. Engkau memberi rejeki kepada siapa yg Engkau kehendaki dan menahannya kepada siapa yg Engkau kehendaki.

Tiba-tiba saya teringat pada para guru honorer yg harus bekerja keras mengajar dengan segala kesulitannya dan hanya mendapatkan honor yg bahkan lebih kecil daripada yg saya peroleh dengan ringannya pada pagi ini.

Is life not fair…?!

(Only if you are in the wrong side of it.) 😀

Balikpapan, 17 Maret 2012
Salam
Satria Dharma
https://satriadharma.com/

0 tanggapan untuk “Rejeki yang Tak Terduga”

  1. wijaya kusumah berkata:

    Alhamdulillah, mari kita lebih bersyukur kepada Allah. Ada yag mudah mendapatkan rezekinya dan ada yg harus mengalami kesulitan hidup untuk menjemput rezeki.

    salam
    Omjay

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *