Selasa, 14 Juli 2020
Just another WordPress site
The Iron Lady

Saya dan istri kemarin siang nonton film ‘Iron Lady’ di E-Walk, Balikpapan. Ini film yg sangat bagus tentang perjalanan hidup Margaret Thatcher, PM Inggris, yg pernah memerintah Inggris selama 11,5 tahun. Ia seorang pemimpin dunia yg tegas dan keras. Itu sebabnya ia dijuluki ‘Wanita Besi’ saking kerasnya pendiriannya. Perannya dimainkan dengat sangat bagusnya oleh Meryll Streep, bintang wanita favorit saya sejak dulu. Sudah lama sekali rasanya sy tidak nonton filmnya. Dan aktingnya dalam film ini benar-benar memukau saya.

Kekerasan dan keteguhan hati Margaret Thatcher bisa dilihat ketika ia memutuskan perang thdp Argentina perkara sengketa Falklands (atau Malvinas menurut Argentina). Utusan dari Amerika yg diharapkan dapat mengubah pandangannya samasekali tak diberi kesempatan utk menyampaikan pandangan-pandangannya. Tegas dan keras bagai karang. Perang dimenangkan oleh Inggris dan Malvinas jadi sejarah.

Margaret Thatcher menghadapi banyak tentangan dan perlawanan dalam politik karena kebijakan-kebijakannya dan demonstrasi besar-besaran terus menghadangnya. Tapi ia bergeming. Tak sedikit pun ia menunjukkan rasa gentar atau kuatir menghadapi tentangan dan demonstrasi langsung, dan bahkan pemboman yg nyaris membunuhnya bersama suaminya, Dennis Thatcher. Benar-benar wanita besi.

Thatcher justru terguling karena kekasaran sikapnya yg berlebihan pada sesama sejawatnya dalam pemerintahan. Saya sendiri kaget melihat sikap Thatcher yg begitu kasar (rude) kepada deputinya mengingat bangsa Inggris terkenal karena kesantunannya. Geoffrey Howe, deputinya tersebut, akhirnya mengajukan surat pengunduran diri setelah dipermalukan dalam sidang kabinet. Akhirnya para sejawatnya di Partai Konservatif sepakat utk memintanya mundur daripada semakin memperburuk citra partai. Sikap Thatcher yg tanpa kompromi memang membuat semua orang menjadi tidak nyaman. Sejawatnya akhirnya menantangnya dengan mengajukan diri sebagai ketua partai Konservatif dan koleganya memaksanya untuk mundur dari jabatannya. Thatcher memahami situasi yg semakin memburuk yang berbalik melawan dirinya dan akhirnya bersedia mundur setelah memerintah Inggris selama 11,5 tahun (1979 – 1990). Terlama dalam sejarah kepemerintahan Inggris. Tapi hal ini dianggapnya sebagai pengkhianatan dari para sejawatnya yg sampai tua tidak dapat ia terima.

Baca juga:  GUILIN : 50 Juta Turis Setahun

Film ini dibuat dengan scene pada saat Thatcher telah tua dan menderita dementia. Agak karikatural menurut saya dan tentunya akan cukup menyinggung perasaan para pengagum Si Wanita Besi. Tapi saya sendiri menikmati cara penyampaian yg berbeda seperti ini, terutama oleh kepiawaian Meryll Streep dalam membawakan perannya. Ciamsor…!

Yang paling menyenangkan bagi saya dan istri ketika menonton film ini adalah bahwa kami merupakan penonton satu-satunya (eh! Mestinya dua-duanya ya?) di bioskop tersebut. Tak ada penonton lain selain kami…! Mungkin orang Balikpapan tidak doyan nonton film sejarah. Jadinya seperti menyewa satu theater khusus utk kami pada siang itu.

Jika Anda seorang politikus (atau suka politik dan sejarah) maka ini adalah a must-see film. Don’t miss it.

Salam
Satria Dharma
https://satriadharma.com/

0 tanggapan untuk “The Iron Lady”

  1. coral berkata:

    memang pak.. film horor nyerempet masih jadi top film dng rating tertinggi penontonnya.film bermutu ga laku,ga ada yg nonton!!

  2. budi muhammad berkata:

    kalau boleh berpendapat, itu bukan film sejarah atau film untuk orang yang suka politik, justru film itu begitu mengalir indah yang dapat dinikmati oleh siapapun, politik hanya disentuh sangat minimal, semua menceritakan bagaimana seseorang dengan keteguhan dan ketinggian cita cita merangkai cinta dan kehidupan. briliant film itu, saya tidak suka poltiik, ataupun sejarah, dan saya sangat menikmati film itu, asli, saya sangat tersentuh dengan setiap bagian dari film itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *