Selasa, 05 Agustus 2020
Just another WordPress site
Jiwa Kaypang

Karena siswa kelas 6 SD sedang ujian maka Tara yg kelas 4 libur sekolah selama tiga hari. Sejak kemarin ia sudah mem’booking’ jadwal saya utk berenang dan sudah saya iyakan. Pagi ini kami meluncur ke hotel Tiga Mustika setelah mengantarkan mamanya ke acara PKK. Jalanan macet di mana-mana karena orang-orang pada antre bensin dan menutupi ruas jalan puluhan meter di semua jalan yg ada pompa bensinnya. Akibatnya perekonomian di sekitar pompa bensin tersebut terganggu karena orang tidak bisa lagi beraktifitas seperti biasa karena jalanan tertutup antrian. Antrian bensin ini memang mengherankan karena jatah bahan bakar di Balikpapan tidak dikurangi sehingga sebetulnya tidak ada kelangkaan bahan bakar. Yang ada hanyalah kepanikan akan hilangnya BBM sehingga ketika ada kendaraan antri BBM maka yg lain ikut-ikutan seolah takut besok sdh tidak bisa beli BBM lagi.

Saya sendiri kemarin ikut antri beli bensin karena memang sudah kehabisan. Tanda peringatan pengisian bensin telah muncul di dashboard. Dan saya butuh lebih dari satu jam utk antri beringsut sedikit demi sedikit dari jarak puluhan meter jaraknya dari pompa bensin sampai ke tempat pengisian. Sebetulnya saya sudah lama pakai Pertamax tapi sampai di tempat ternyata Pertamax kosong dan yg ada justru premium. Aneh memang. Lha wong saya sudah bertekad utk tidak menggunakan BBM bersubsidi ketika mengantri kok malah kini Pertamaxnya yg kosong. Apa boleh buat. Saya terpaksa beli premium bersubsidi lagi.

Stok BBM sebenarnya tetap tersedia meski orang pada antri bersamaan dalam barisan yg begitu panjang. Anehnya, seorang wanita yg mengisi di depan saya ternyata hanya membayar 70 ribuan dan tangkinya sudah penuh. Artinya tangki mobilnya sebetulnya masih banyak isinya tapi toh ia ikut-ikutan mengantri utk memenuhi tangki mobilnya. Pantasan kok antrian begitu panjang lha wong semua ikut mengantri meski tangkinya belum kosong dan hanya ingin membuat tangkinya penuh. Saya sedih memikirkan prilaku orang Balikpapan yg seperti ini. Saking kuatirnya sampai bersikap irasional. Lagipula sekarang masih jauh dari hari kenaikan harga BBM.

Ketika sampai di Hotel Tiga Mustika ternyata kolam renangnya sedang direnovasi dan tidak bisa dipakai. Selain di Hotel Tiga Mustika kami biasanya juga berenang di kompleks perumahan Bukit Damai Indah yg dekat rumah kami. Tapi kami sdh terlanjur ke tengah kota dan kalau ke BDI berarti balik lagi. Akhirnya kami putuskan menuju ke kolam renang Wisma Patra, milik Pertamina.

Baca juga:  PUISI UNTUK DE’CITI

Seperti yg kami duga kolam ini sepi dan bahkan penjaga pintunya pun masih belum ada. Siapa juga yg mau berenang pagi hari di jam dan hari kerja seperti kami? Karena penjaga pintu tidak ada kami akhirnya menyelonong saja masuk.

Sebetulnya kolam renang ini khusus untuk karyawan Pertamina dan keluarganya tapi kadang-kadang orang luar boleh ikut berenang dg membayar sejumlah tertentu yg tidak tertulis di pintu masuknya. Karena tidak ada penjaganya kami masuk begitu saja dan Tara bertanya pada saya, “Nggak bayarkah kita?” Saya menjawab nanti saja waktu pulang.

Selain kami ada sekitar 5 atau 6 orang lain yg berenang. Sepi karena saat itu hari dan jam kerja. Satu jam kemudian tinggal kami berdua yg berenang.

Sekitar jam 11 saya mengajak Tara berhenti berenang. Kami tidak membawa handuk karena biasanya kami dapat handuk kalau berenang di Tiga Mustika. Di Wisma Patra kami tidak dapat handuk karena tidak bayar masuknya.
Ketika mau pulang Tara kembali bertanya,”Nggak bayarkah Pak?”. Terus terang saya agak heran ditanya terus soal pembayaran tiket masuk Wisma Patra ini. Saya ingat dulu waktu masih kecil saya biasa nyerobot masuk ke mana saja, entah itu bioskop, kolam renang, pertunjukan, naik kendaraan, dll. Di mana saja saya bisa nyerobot ya nyerobot gak pakai bayar. Berbagai cara dan trik saya gunakan agar tidak perlu membayar. Dan saya cukup ahli dalam menyerobot ini. Lha wong saya pernah naik kapal laut Pelni tiga hari tiga malam dengan tanpa memiliki tiket. Kalau cuma nonton bioskop dan naik kereta gak bayar itu mah sipil. Kalau perlu saya naik ke atap kereta agar tidak perlu bayar. Jadi kalau bisa tidak bayar kenapa harus bayar?
Sedangkan sekarang ini kan kami tidak perlu menyerobot karena petugasnya memang tidak ada. Jadi ini salahnya mereka sendiri. Lha kok Tara malah ngotot mau membayar toh…?! Ini jelas bertentangan dengan ‘filosofi’ hidup saya dulu. “Ini namanya rejeki tak disangka-sangka Tara…!” kata anggota Kaypang yang ada dalam diri saya.

Baca juga:  Kuliner Bali : Pia Legong

Tapi Tara mana tahu filosofi seorang anggota Kaypang?

Mengingat ini saya lalu tertawa ngakak dalam hati. Tentu saja Tara tidak paham dengan filosofi Kaypang yg saya pakai dulu. Dulu saya harus menyerobot dan berupaya agar tidak bayar tiket apa pun lha wong memang gak gablek duit. Lha wong utk makan aja susah kok! Sementara Tara kan hidup dalam suasana ekonomi makmur dan masuk dalam golongan ‘wong eneng’. Ia tentu belum pernah mengenal kehidupan para anggota Kaypang yg harus berjuang dengan segala cara utk bisa hidup. Untuk Tara segalanya tersedia dengan mudah begitu saja. Tentu saja ia merasa bersalah jika masuk ke kolam renang tanpa membayar meski karena petugasnya sedang tidak berada di tempat. Tidak membayar berarti pelanggaran hak. Dan pelanggaran hak adalah tidak terpuji dan harus dihindari. (Bagi anggota Kaypang mah rejeki. Hahaha…!)

Rupanya darah Kaypang saya masih mengalir meski sudah tidak menjabat di struktur Partai Kaypang lagi saat ini. Memang sulit untuk mengubah kebiasaan apa pun itu.

Akhirnya saya membuka dompet, mengambil uang dan memberikannya ke Tara. “Ini uangnya dan cari sendiri petugasnya.” kata saya padanya dan keluar menuju ke mobil.

Tara akhirnya menemukan petugas loketnya dan membayar utk dua orang. “Murah banget, Pak!” katanya ketika sampai ke mobil,”Dua orang cuma lima belas ribu…!” sambil memberikan uang kembalian dg terheran-heran.

“Kalau kita tadi nyelonong langsung pulang tentu lebih murah lagi.” kata Ketua Partai Kaypang yg bersembunyi dalam diri saya sambil tersenyum.

“Apa Pak…?!” Tanya Tara.

“Nggak apa-apa. Ayo kita pulang…! Perut Bapak lapar nih…!” (Anggota Kaypang di perut Bapak menuntut jatah)

Baca juga:  Andrea Hirata

Balikpapan, 20 Maret 2012

Salam
Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *