Pagi ini kami sarapan jam 08:00 dan berangkat untuk city tour jam 09;00. Cuaca sekitar 7 – 17 derci. Pagi ini kami diantar oleh Tami, guide kami, untuk melihat pemandangan di Metekhi Church yang berada di puncak sambil melihat pemandangan Sungai Kura sambil memandang keindahan Abanotubani area yang terkenal dengan Sulphur Baths dan rooftop nya.
Abanotubani (secara harfiah berarti “distrik pemandian”) adalah distrik kuno Tbilisi, Georgia, yang dikenal karena pemandian belerangnya. Sauna belerang ini terletak di tepi timur Sungai Mtkvari di kaki benteng Narikala di seberang Metekhisubani, Abanotubani adalah bagian bersejarah penting dari kota ini: menurut legenda, di sinilah elang Raja Iberia, Vakhtang Gorgasali, jatuh, yang menyebabkan penemuan mata air panas dan, selanjutnya, pendirian ibu kota baru.
GEREJA METEKI
Gereja Metekhi adalah landmark ikonik yang terletak di atas tebing berbatu yang menghadap Sungai Mtkvari di Tbilisi, Georgia. Gereja ini dibangun pada abad ke-13 pada masa pemerintahan Raja Demetrius II dan telah mengalami banyak restorasi selama bertahun-tahun.
Gereja ini pernah berfungsi sebagai kediaman kerajaan, masjid, dan penjara. Saat ini, gereja ini merupakan objek wisata populer dan gereja Kristen Ortodoks yang masih berfungsi. Interiornya dihiasi dengan lukisan dinding yang menggambarkan adegan-adegan dari kehidupan Kristus dan Gereja Ortodoks Georgia.
Pengunjung dapat menaiki tangga ke puncak bukit dan menikmati pemandangan panorama kota dan sungai. Jembatan Metekhi di dekatnya menyediakan tempat yang sempurna untuk berfoto dan juga layak dikunjungi.
JUMA MOSQUE
Masjid Juma adalah satu-satunya masjid yang masih berdiri di Kota Tua bersejarah Tbilisi, Georgia. Terletak di kaki Benteng Narikala di Jalan Botani, masjid ini terkenal karena digunakan bersama oleh umat Muslim Sunni dan Syiah.
Umat Islam telah tinggal di Tbilisi sejak penaklukan Arab pada abad ke-7, dan kota ini pernah memiliki beberapa masjid. [ 4 ] Masjid Juma asli yang dibangun oleh Ottoman pada awal abad ke-18, di kaki Benteng Narikala , dihancurkan oleh pasukan Persia pada tahun 1740-an, kemudian dibangun kembali antara tahun 1846–1851 oleh arsitek Italia Giovanni Scudieri. Pada tahun 1895, didanai oleh filantropis Azerbaijan Zeynalabdin Taghiyev , masjid ini dibangun kembali dalam bentuknya yang sekarang terbuat dari batu bata merah. Masjid ini menjalani restorasi pada tahun 1998.
MOTHER OF GEORGIA
Perjalanan dilanjutkan dengan mengunjungi patung Mother of Georgia yang merupakan simbolisasi keramahan dan perlindungan.
Kartlis Deda (Ibu Georgia) adalah patung monumental setinggi 20 meter yang terbuat dari aluminium di Bukit Sololaki di Tbilisi, didirikan pada tahun 1958 untuk merayakan ulang tahun ke-1500 kota tersebut. Dirancang oleh Elguja Amashukeli, ia memegang pedang untuk musuh dan semangkuk anggur untuk teman, melambangkan kekuatan dan keramahan Georgia.
Sosok ini mewakili karakter nasional—melindungi, namun ramah. Anggur di tangan kirinya menyambut teman, sementara pedang di tangan kanannya melambangkan kesiapan untuk berjuang demi kemerdekaan. Awalnya berupa patung kayu yang didirikan pada tahun 1958, kemudian digantikan oleh versi aluminium pada tahun 1963 dan selanjutnya pada tahun 1997 untuk daya tahan yang lebih baik.
NARKALA FORTRESS CABLE
Kqmi kemudian diantarkan untuk naik Narikala Fortress Cable Car dengan mengunjungi pemandangan indah kota dan pegunungan sekitar.
Kereta gantung Narikala (sering disebut sebagai Rike Cable Car atau Aerial Tramway) adalah salah satu cara paling populer dan terjangkau untuk menikmati pemandangan kota Tbilisi, Georgia. Jalur ini menghubungkan Taman Rike di tepi sungai Mtkvari dengan Benteng Narikala yang bersejarah di atas bukit Sololaki.
Kami menaiki gondola modern berisi 6 orang dengan dinding kaca memberikan pandangan 360 derajat ke arah Kota Tua Tbilisi, atap terakota, sungai, dan pegunungan Kaukasus di kejauhan.
SHADENI STREET
Terakhir, kami mengunjungi Shadeni Street di mana terdapat kafe, boutique shop dan art galleries yang menawarkan budaya Tbilisi yang sangat vibrant. Jalan Shardeni, yang terletak di distrik Kala Atas Tbilisi, membentang antara Lapangan Vakhtang Gorgasali dan Jalan Sioni. Jalan pejalan kaki kecil ini telah lama menjadi pusat kehidupan budaya dan sosial kota, menarik penduduk lokal dan pengunjung. Saat ini, jalan ini terkenal dengan suasananya yang semarak, menampung berbagai galeri seni, toko kerajinan tangan, bar, dan restoran yang menawarkan perpaduan unik antara tradisi dan modernitas.
Secara historis, Jalan Shardeni memiliki nama dan penampilan yang berbeda. Pada akhir Abad Pertengahan, jalan ini merupakan lorong sempit beratap yang dikenal sebagai “Jalan Gelap,” karena sifatnya yang tertutup. Pada abad ke-19, daerah ini mengalami perubahan signifikan, termasuk penggantian nama jalan setelah penjelajah dan penulis Prancis abad ke-17, Jean Chardin, yang mendokumentasikan kesannya tentang Tbilisi dan budaya Georgia. Renovasi pada awal tahun 2000-an membawa pesona baru ke jalan ini sambil tetap melestarikan esensi historisnya. Saat ini Jalan Shardeni telah menjadi salah satu destinasi paling digemari di Tbilisi.
Di pintu masuk Jalan Shardeni, pengunjung disambut oleh sebuah alun-alun kecil yang menampilkan patung “Tamada” yang ikonik. Patung perunggu ini merupakan replika artefak kuno yang ditemukan di Vani, yang berasal dari abad ke-7 SM, melambangkan tradisi pembuatan anggur Georgia yang mengakar kuat.
MENUJU KE BANDARA
Setelah selesai city tour kami kemudian diantar ke airport untuk menuju Istanbul dengan penerbangan sebagai berikut TBS – IST : 21.10 – 22.45. Kami akan transit sebelum melanjutkan perjalanan ke Jakarta dengan penerbangan sebagai berikut IST – CGK : 01.45 – 17.35.
Hari 11 (Minggu, 17 Mei 2026) : Istanbul – Jakarta
Saat ini kami sudah berada di ruang tunggu D-7 Istanbul Airport menunggu keberangkatan kami ke Jakarta.
Kami akan tiba di Jakarta sekitar pukul 18:00. Dan inilah akhir dari perjalanan kami.
Istanbul, Minggu, 17 Mei 2026.
Satria Dharma







































