Pertarungan antara George Foreman dan Muhammad Ali, yang dikenal sebagai “The Rumble in the Jungle”, adalah salah satu pertarungan tinju kelas berat paling terkenal dalam sejarah. Pertarungan ini terjadi pada tanggal 30 Oktober 1974, di Kinshasa, Zaire (sekarang Republik Demokratik Kongo). Muhammad Ali menang dengan KO di ronde kedelapan, merebut gelar juara dunia kelas berat dari George Foreman. Kemenangan Ali dalam pertarungan ini dianggap sebagai salah satu momen paling ikonik dalam sejarah tinju dan menjadi titik balik dalam kariernya. Tapi George Foreman tidak bisa menerima kekalahannya ini. Kekalahannya ini sangat menyakitkan hatinya.
Setelah bertahun-tahun menyalahkan kekalahannya atas Ali, George Foreman kemudian merenung dan berkontemplasi sehingga terbuka hatinya. Ia kemudian bisa melihat kebenaran dengan jelas dan penuh penyesalan. Seiring waktu, ia tak hanya berhenti menolak dan mencibir kemenangan Ali, ia justru menghormatinya. Apa yang awalnya merupakan persaingan berubah menjadi rasa hormat yang mendalam, dan akhirnya, mereka membangun persahabatan sejati yang dibangun di atas iman, keluarga, dan pengampunan.
George Foreman: “Setelah saya kalah dari Ali di Zaire, saya memberi tahu semua orang bahwa saya telah dirampok dalam pertarungan itu. Saya berdalih bahwa tali ringnya longgar, airnya diberi obat bius, dll. Lalu, setelah saya merenung, berintrospeksi, dan mengubah cara pandang saya, saya menyadari betapa buruknya saya karena telah menodai karier Ali, si pria hebat ini. Mengapa saya harus menolak dan menghujat kemenangannya untuk mencoreng nama pria hebat ini?
“Itu adalah akhir tahun 70-an, saya rasa tahun 1978, Ali menelpon saya. Saya tidak tahu bagaimana dia mendapatkan nomor saya karena dia selalu menghindari saya. Dia tidak ingin memberi saya kesempatan untuk pertandingan ulang. Dia menelepon dan memuji-muji saya selama sekitar 20 menit, lalu berkata, ‘George, maukah kau membantuku?’ Dia tahu saya menyukainya. Saya bilang, ‘Tentu saja,’ lalu dia berkata, ‘Tolong kembalilah ke dunia tinju dan kalahkan Ken Norton. Tolong lawan dia demi saya. Mereka akan mencopot gelar saya kalau saya tidak melawannya dan saya merasa tidak bisa mengalahkannya. George, kau bisa mengalahkannya, dia takut padamu. Saya akan memberimu tempat berlatih. Kamu bisa menggunakan kamp pelatihan saya dan semuanya yang kamu butuhkan, tetapi tolong kembalilah ke dunia tinju dan kalahkan dia untuk saya.’
“Sejak hari itu, kami menjadi sahabat karib dan mulai rutin berbicara lewat telepon. Dia menelepon saya, dan saya mencoba mengejarnya di mana pun dia berada. Kami melakukan percakapan religius. Anak-anaknya menjadi teman baik bagi anak-anak saya.
Di situlah kisah persahabatan kami yang penuh cinta dimulai, tepat di akhir tahun 70-an.”
Kisah rivalitas dan persahabatan yang sungguh indah. 🙏
Balikpapan, 30 Juli 2025
Satria Dharma