Sabtu, 09 Agustus 2020
Just another WordPress site
BUKU HARIAN YUFI

Berikut ini adalah Buku Harian Yufi, adik Yubi, yang lahir 3 ½ tahun setelah kakaknya. Saya sudah keluar dari PT Badak NGL Co hampir setahun sebelumnya dan bekerja di Yayasan Airlangga Balikpapan, lembaga pendidikan yang saya dirikan bersama keluarga di Balikpapan. Saat Yufi mau lahir kami putuskan untuk melahirkannya di Surabaya. Kami tinggal di Bratang Gede bersama dengan keluarga mertua.

YUFI

Yufi, atau lengkapnya Muhammad Yusuf Dharma, lahir pada hari Minggu, 27 April 1997, pada jam 10:50 pagi. Berat badannya 3550 gr, 550 gram lebih berat daripada Yubi kakaknya dengan panjang 51 cm, 3 cm lebih panjang dari yubi.
Ia menangis keras-keras ketika dibersihkan tapi setelah itu diam ketika dibungkus dengan kain hangat. Hari-hari berikutnya ia hanya akan menangis jika merasa kedinginan tapi lantas terdiam jika sudah dibungkus selimut. Yufi tampaknya lebih ‘diam’ dibanding kakaknya yang menangis setiap malam pada minggu-minggu pertamanya.
Wajahnya mirip sekali dengan Yubi kecuali bahwa kulitnya lebih hitam. Dibanding Yubi yang tampak manis dan imut-imut, wajah Yufi tampak lebih tegas.

Ketika dokter diberitahu bahwa kakaknya terkena TB dan masih dalam perawatan, dokter akhirnya memberinya juga obat TB berupa bubuk yang harus diminumkan padanya setiap hari selama 15 hari. Saya terkadang merasa tidak tega melihatnya harus minum obat yang mestinya pahit tersebut. Tapi ia dengan mudah meminumnya,

Yufi mempunyai nafsu makan yang besar dan kuat sekali menetek. Ia kuat menetek semalaman sehingga sangat melelahkan mamanya. Untungnya air susu mamanya berlimpah. Terkadang ia minum berlebihan dan akhirnya membuatnya muntah karena kekenyangan. Tapi kalau ia masih mau minum dan dihentikan, ia akan menangis keras-keras.
Pertumbuhan fisiknya bagus dan semakin gemuk. Pada akhir bulan ini ia akan diimunisasi dan setelah itu baru bisa dibawa ke Balikpapan.

Selasa, 8 Juli 1997
Usia 2 bulan lebih…
Yufi tiba dari Surabaya beberapa hari yang lalu dan langsung disambut dengan meriah oleh sepupu-sepupunya.
Beratnya bertambah dengan cepat. Pada usia 2 bulan saja beratnya sudah mencapai 6 ½ kg, lebih berat daripada Yubi yang hanya 6,3 kg pada usia 3 bulan.
Sebagai bayi Yufi lebih banyak bangun. Semestinya ia harus tidur 90 % dalam sehari, tapi tampaknya Yufi lebih banyak meleknya. Ia sangat mudah terbangun ketika tidur. Suara pintu terbuka saja sudah membuatnya kaget. Tetapi ia tidak banyak menangis meski terbangun. Ia tampaknya sudah bisa diajak berkomunikasi dan senang bila ada orang yang mengajaknya berbicara. Ia juga berusaha untuk mengeluarkan suaranya yang berupa lenguhan. Ia juga mudah tertawa jika digoda dan diajak berbicara. Dengan mukanya yang bulat dan penuh itu ia tampak lebih tampan dibandingkan Yubi yang tampak manis dan imut-imut. Wajah Yufi adalah wajah laki-laki yang tampan dan berwibawa.

Selasa, 29 Juli 1997
Pada usianya yang ke 3 bulan berat badan Yufi telah mencapai 7,7 kg…! Seluruh tubuhnya tampak bergumpal-gumpal. Tante Unieknya ketika melihatnya sangat heran dan berkomentar, “Wah…! Ini sih kayak Hercules…!”
Kemarin ia diimunisasi DPT.. Ia hanya menangis sebentar meski bekas suntikannya berdarah. Karena bekas suntikan BCG-nya tidak berbekas, ia disuntik lagi. Kali ini ia menangis keras-keras, meski hanya sebentar, karena suntikannya tanpa diolesi alkohol dulu dan ia bergerak-gerak.
Ia sekarang menjadi lebih ‘sociable’ dan suka diajak berbicara oleh siapa pun. Suara yang dikeluarkannya juga lebih bervariasi dan ia tampak berusaha untuk berkomunikasi dengan orang yang mengajaknya berbicara. Dalam keadaan sendiri pun ia sering mengoceh dengan mengeluarkan berbagai macam bunyi.
Otot lehernya pun telah kuat menahan tubuhnya dan ia sangat suka digendong dengan posisi duduk.

Sabtu, 20 September 97
Usia 5 bulan…
Kini berat badan Yufi telah mencapai 8,5 kg. Bahkan sebelum sakit beberapa waktu yang lalu beratnya pernah mencapai 9 kg. Dengan tubuh yang bulat begitu, ia sungguh menggemaskan. Panggilan untuknya juga bertambah. Ada yang memanggilnya ‘Samson’, ‘T- Rex Kecil’, bahkan Tante Unieknya menyebutnya ‘Arab Kecilku’ karena menurutnya wajah Yufi bertampang kearab-araban. Something I cannot see myself.
Ia juga dipanggil ‘T-Rex Kecil’ karna kesukaannya menggeram-geram terutama kalau ia sedang gembira. Ia bisa menggeram-geram cukup lama sampai mamanya kuatir tenggorokannya akan sakit.
Beberapa waktu yang lalu ia ikut PIN dan mendatangkan kekaguman dari ibu-ibu yang menjaga. Mereka menganjurkan agar Yufi ikut lomba balita sehat lain kali.
Ia mulai diperkenalkan dengan makanan tambahan yaitu bubur susu tapi tampaknya makannya tidak selahap kalau ia menyusu. Ia hanya suka menu-menu tertentu seperti sari buah dan pisang.
Ia juga mulai diperkenalkan dengan ‘baby walker’ dan sangat tertarik pada mainan yang ada di situ. Ia sudah mulai bisa menggerakkan keretanya dengan berjalan mundur.
Ia kini memiliki permainan baru, bermain ludah dan menyemburkannya. Jika disuap ia sering menyemburkannya sehingga membuat wajahnya berlepotan.
Ia juga sudah mahir membolak-balikkan tubuhnya. Bahkan ia pernah jatuh dari kasur padahal semula ia diletakkan di tengah dan cukup jauh dari tepi kasur. Untung kasurnya di bawah sehingga ia tidak luka dan hanya terkejut sebentar.
Wajahnya semakin lama semakin menunjukkan kemiripan dengan Yubi dulu kecuali bahwa Yufi tampak tampan dan jantan sedangkan Yubi tampak manis dan lembut.

Baca juga:  Sekolah Pemimpin, Mencetak Pemimpin dari Siswa Miskin di Balikpapan (3-Habis)

Jum’at, 12 Desember 1997
Usia 7 ½ bulan…
Kembali ke Balikpapan dari Surabaya setelah tinggal selama 2 bulan lebih di sana (kami memang mengungsikan anak-anak ke Surabaya karena ada kebakaran hutan yang cukup hebat dan anak-anak sangat rentan terkena ISPA dan kembali ke Balikpapan setelah kabut asap tertangani).
Selama di Surabaya ia banyak mengalami perkembangan mental meski ia selalu kena penyakit. Selama dua bulan lebih ia batuk parah sehingga nafasnya berbunyi ‘grok-grok’.. Antibiotik berganti-ganti tidak mempan menghantamnya. Mungkin udara pengap Surabaya ditambah dengan kencangnya kipas angin yang tiada henti disetel. Dokter memperkirakan bahwa batuknya lebih parah dairpada bronchitis karena infeksinya lebih dalam. Ia juga telah sempat dirontgen dan diperiksa darahnya tapi belum sempat kami tunjukkan hasilnya pada dokternya.
Selain batuk, ia juga mencret parah. Dalam sehari ia bisa mencret air lebih dari 20 kali. Hal ini membuatnya demam, merasa nyeri, lemas, dan iritasi pada pantatnya. Sungguh sedih melihatnya demikian.
Hal ini tentu saja membuat pertumbuhan fisiknya tertahan. Berat badannya sempat turun dan saat ini hanya sekitar 8,7 kg. Tapi dengan berat tubuh sekian pun ia masih tetap tampak bulat sehingga dipanggil ‘Si Onggok’ oleh Tante Indahnya. Bahkan oleh dokter yang menanganinya pertama kali Yufi diminta untuk diet karena terlalu gemuk dengan berat tersebut dan bakal tidak ideal. Saya juga sebenarnya kuatir jika Yufi tumbuh overweight seperti Vika, sepupunya.
Menginjak usia 7 bulan ini Yufi telah mampu berdiri sendiri selama 10 hitungan dan tampaknya ia suka berlatih berdiri. Proses antara merangkak, duduk sendiri, dan berdiri tampaknya dilakukannya hampir bersamaan. Tampaknya ia bakal lebih cepat berjalan daripada Yubi yang waktu itu 10 bulan usianya ketika mulai melangkahkan kakinya. Fahmi, sepupunya yang lebih tua sebulan dari Yufi, bahkan belum bisa merangkak dan baru merayap dengan perutnya.

Minggu, 1 Maret 1998
Usia 10 bulan lebih…
Yufi tumbuh menjadi anak yang sangat menyenangkan. Semua tingkah laku dan ekspresinya membuat semua orang jatuh cinta padanya. Wajahnya selalu ceria dan gembira menyambut siapa pun. Semua orang suka menggendongnya karena ia tidak rewel dan cengeng.
Begitu bangun pagi wajahnya langsung ceria dan siap untuk bermain. Ia memang selalu bangun pagi, lebih pagi daripada kakaknya. Meski demikian ia selalu tidur malam, lama setelah kakaknya terlelap. Ia bahkan suka sekali mengganggu kakaknya yang sedang tidur dengan memukul-mukulnya, menaikinya, dan bahkan menggigitnya.
Pada usianya yang ke 10 bulan ini ia mulai menunjukkan minat yang besar untuk berkomunikasi dengan orang sekitarnya. Ia selalu berusaha untuk memahami apa yang dikatakan oleh orang. Ia akan mengeluarkan berbagai macam bunyi yang bisa diucapkan untuk menyampaikan maksudnya. Jika ditanya, “Mana Adik…?!”ia akan menepuk-nepuk dadanya untuk menunjukkan dirinya. Kalau ditanya, “Mana yang suka ngompol…?!” ia akan menunjukkan tititnya. Untuk menunjukkan keinginannya makan ia akan mengucapkan ‘mamam’ sambil mengecap-ngecapkan mulutnya.

Keinginannya untuk ikut bergabung dengan anak-anak kecil lainnya juga sudah tumbuh. Jika anak-anak kecil berkumpul ia akan berusaha untuk ikut bergabung bersama mereka. Tampak sekali bahwa ia ingin mengetahui bagaimana cara bermain anak-anak lainnya. Ia akan merebut salah sebuah mainan yang dipegang oleh anak lainnya dan ia akan diam sejenak untuk melihat reaksinya. Kalau mainan itu direbut kembali ia akan diam saja. Tapi jika yang diambil diam saja, ia akan bermain dengan mainan yang direbutnya dengan membalik-baliknya dan memasukkan ke mulutnya.
Dalam usia 10 bulan sampir semua pakaian kakaknya ketika berusia 2 tahun telah dipakainya. Tampaknya tubuhnya akan lebih besar daripada kakaknya yang kurus itu.

Selasa, 17 Maret 1998
Usia 11 bulan…
Yufi sudah mulai berjalan beberapa langkah. Tampaknya ia mulai menguasai keseimbangannya ketika melangkah. Meski ia sudah mampu berjalan sejauh satu meter tampaknya ia belum berminat untuk mengembangkan kemampuan barunya tersebut. Ia bisa merangkak dengan cepat untuk memenuhi kebutuhannya berpindah.
Sekarang ia baru menampakkan sifatnya yang sesungguhnya. Yufi ternyata juga seorang anak yang keras hati.. Ia mempunyai kemauan yang besar dan akan berusaha keras untuk memenuhi keinginannya tersebut. Ia akan menangis dan berteriak untuk menunjukkan apa yang ia kehendaki. Tapi ia tampaknya juga cepat paham apa yang bisa ia dapatkan dan apa yang tidak. Jika kita tegaskan bahwa ia tidak bisa mendapatkan apa yang ia inginkan ia akan berhenti bersikeras. Something I admire about him… 👍😊

Rabu, 19 Agustus 1998
Usia 15 bulan lebih…
Kembali berada di Surabaya.. Yufi tampaknya tidak terlalu terpengaruh. Ia bahkan gembira karena menemukan teman lamanya lagi, Fahmi (sepupunya yang sebulan lebih tua darinya dan tinggal di Darmokali).
Yufi seorang anak yang cepat belajar. Apa yang dilakukan orang terhadapnya akan segera ditirunya. Jika Fahmi merebut sesuatu darinya, ia semula merasa terganggu dan merengek. Tapi kemudian ia akan menirunya dengan merebut apa pun yang dibawa Fahmi. Jika pada mulanya Yufi merasa terganggu oleh Fahmi kini situasi telah terbalik. Fahmi merasa ‘intimidated’ oleh Yufi. Ini juga dipelajarinya dari sepupunya yang lain, Fian, yang setahun lebih tua darinya (Fian juga tinggal di Darmokali sampai sekarang).
Seperti kebiasaannya, Fian akan selalu mendorong anak kecil yang berada di dekatnya, termasuk Yufi (semua anak yang berada di dekatnya akan didatangi dan didorongnya hingga jatuh. Itu sebabnya Fian mendapat julukan ‘Rateg’ alias ‘Raja Tega’). Pada mulainya Yufi merasa heran dan marah oleh tindakan Fian tersebut. Tapi kemudian ia cepat belajar. Ia segera ganti mendorong Fian dan terjadi dorong mendorong di antara mereka. Something which amazes me… Tapi tentu saja tenaganya masih kalah jauh dari Fian yang berusia dua kalinya. Yang membuat semua orang kagum adalah bahwa ia tidak traumatis dengan tindakan kekerasan Fian terhadapnya. Jika Fahmi merasa ketakutan jika Fian mulai bersikap ‘hostile’ denganmendorong, Yufi justru balik membalas bila ia didorong. Ia mungkin mengira itu sebagai sebuah cara untuk bermain.
The bad thing is ia mulai mendorong Fahmi setiap kali bertemu dan Fahmi akan feels intimidated dan mulai menangis (kayaknya ia mengira bahwa tindakan mendorong itu semacam bentuk komunikasi antar anak-anak yang ia pelajari dari Fian). Mungkin bila ia bisa berkata ia akan berteriak, “Stop it…!You scare me with the push.”

Baca juga:  INDAHNYA KERAGAMAN: Catatan Perjalanan dari Saudi Arabia Sampai Amerika

Senin, 28 September 1998
Usia Yufi sekarang 17 bulan dan perkembangannya sungguh mencengangkan. Ia membuat kami terkagum-kagum dengan setiap hal baru yang ia temukan.
Ia sekarang telah mulai belajar untuk berkomunikasi secara verbal. Dengan ucapannya yang cedal itu ia berusaha mengucapkan kata-kata sederhana yang ia ketahui untuk berkomunikasi. Ia meniru dengan cepat, terutama kakaknya, apa saja yang diucapkannya. Ia dengan mudah mengucapkan dua suku kata yang sama bunyinya seperti: tutup, titit, tatak (untuk kakak), bibi (untuk Bobby), pipi, dll. Untuk kata lainnya ia hanya mengambil suku kata terakhirnya.
Pemahamannya berkembang cepat dan ia bisa dengan mudah menunjukkan anggota tubuh yang kita sebut seperti: mata, hidung, telinga, rambut, kepala, mulut, gigi, dll. Kosakatanya juga berkembang dengan cepat dan kadang membuat kami tercengang. Ia akan mengucapkan ‘cet’ untuk menyatakan ‘terpeleset’ dan ‘popom’ untuk ‘ngompol’. Hampir semua benda yang sering ia dengar disebutkan ia ketahui dan ia coba untuk ucapkan. Ia juga ingin mencoret-coret di papan seperti kakaknya dengan mengatakan ‘yis’ untuk ‘tulis’. Jika diberi spidol ia akan mencoret-coret di papan dan menikmatinya.

Yufi juga tahu apa yang ia inginkan dan tidak mudah untuk dikecoh atau dibelokkan perhatiannya. Ia akan bersikeras dengan mengucapkan ‘mau’ dengan menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menyatakan ‘tidak mau’ dan menepis dengan tangannya. Dengan cara yang sama ia juga menolak orang yang akan menyentuh atau menggendongnya jika ia tidak bersedia. Ia tahu apa yang ia inginkan dan ia juga tahu cara menolak. Jika merajuk ia akan menangis berguling-guling dan tidak bersedia diambil untuk ditenangkan. Ia baru bersedia diam jika kehendaknya telah dituruti. Ia juga telah mulai menikmati TV dan akan duduk tenang jika ia menyukai acaranya. Acara anak-anak selalu menyita perhatiannya.
Komputer selalu membuatnya penasaran karena begitu menarik dan ia tidak pernah diberi kesempatan untuk mengotak-atiknya. Tapi jika ada kesempatan ia akan naik kursi dan mulai pencet sana-sini.

Sekarang keadaan mulai berbalik dan Fahmi yang mulai meneror Yufi (now he learns how to push). Fahmi akan memukuli Yufi, merebut apa saja yang ada di tangan Yufi, dan mendorong-dorongnya. Sebaliknya, Yufi hanya akan protes dengan memanggil-manggil nama Fahmi dan menangis jika barangnya direbut. Ia tidak berusaha untuk membalas dan lebih suka menghindar. Tapi itu juga tidak membuatnya traumatis terhadap sikap Fahmi.
Ia juga semakin trampil mengembangkan psikomotoriknya. Ia dengan mudah dan percaya diri akan naik tangga ke atas untuk mencari ‘om’. Untuk turun pun ia sudah trampil. Memanjat adalah kurikulum utamanya dan ia sangat menyukainya. Meski demikian ia tampaknya tidak setrampil kakaknya ketika seusianya. Mungkin karena postur tubuhnya yang tambun itu membuatnya tak begitu mudah memanjat.
Dalam beberapa hal ia lebih cepat berkembang daripada Fahmi yang sebulan lebih tua daripadanya. Kemampuan verbalnya lebih baik ketimbang Fahmi yang meski celotehnya panjang tapi tidak jelas artinya. Ia juga tampak lebih paham akan kata-kata dan tampak mengeti bila diberitahu. Ia juga sudah bisa menirukan iklan TV terutama iklan rokok A Mild yang meletakkan jari di mulutnya untuk menyatakan tutup mulut. Begitu iklan tersebut muncul ia akan meletakkan telunjuknya di bibirnya.

27 Oktober 1998
Genap 18 bulan usia Yufi. Banyak hal yang menyenangkan pada diri Yufi. Dia menjadi peniru yang ulung. Semua gerakan yang ia lihat selalu dicoba atau ditirunya mulai dari berputar, melompat, menendang, berteriak, menari, dll. Lebih-lebih apa saja yang dilakukan kakaknya dia selalu berusaha untuk menirukannya. Demikian pula dengan apa yang diucapkan kakaknya. Untuk itu saya memberinya julukan “Si Norbun”, alias Si Norok Buntek (bahasa Madura). 😀
Perkembangan tubuhnya masih tetap montok walau beberapa bulan ini berat badannya tidak banyak kenaikan. Sekarang berat badannya 10 kg. Nafsu makan masih belum berubah alias masih besar porsinya. Dia belum berminat pada susu kaleng. Kadang-kadang dia ikut-ikutan kakaknya minum susu di botol tapi tidak banyak, kira-kira 20 – 50 cc saja. Tapi segala macam makanan yang disodorkan padanya dia tidak pernah menolaknya, lebih-lebih bila yang disodorkan mie goring. Biar pun sudah kenyang bila ada mie goreng dia tetap akan melahapnya. Kadang-kadang saya kawatir perutnya sakit akibat kekenyangan…

Baca juga:  GERAKAN LITERASI SEKOLAH MENJADI PROGRAM NASIONAL

Gigi Yufi sekarang sudah berjumlah 16 buah. Dia mempunyai gigi yang jauh lebih baik daripada kakaknya (mungkin akibat banyaknya antibiotic yang dicekokkan karena TB-nya). Tapi sampai saat ini dia belum mau gosok gigi. Entah kenapa… Sudah dicoba berbagai cara tetap saja dia menolak bila diberi sikat gigi. Tapi kami bersyukur bahwa dia tidak suka makanan yang manis sehingga tidak merusak giginya.
Yufi sudah mengalami gundul tiga kali. Sekarang rambutnya sudah mulai tumbuh walau tidak selebat kakaknya. Rambut Yufi tampak lebih hitam.
Kadang-kadang dia masih ngompol kalau tidur. Dia juga belum bisa berak di WC jongkok. Mungkin trauma karena pernah jatuh ke dalam WC tersebut. Sejak saat itu dia tidak mau jongkok bila BAB, tapi berdiri…!
Banyak kata-kata Yufi yang membuat orang tertawa geli mendengarnya. Salah satunya adalah kata ‘Tun’ untuk memanggil Yang Kungnya. Sampai-sampai Yang Kungnya jengkel. Katanya, “Aku ini tidak pernah membayangkan bila tua dipanggil ‘Tun’. Emangnya Atun…!”
Dia memanggil ‘Dun’ untuk tante Idhul, ‘Wiwi’ untuk Tante Dewi, ‘Don’ untuk Om Bagong.

Hari ini dia kecewa pada mamanya karena dia minta nenen di saat mamanya sedang belajar dengan kakaknya. Sudah diingatkan, “Adik tunggu ya nenennya nanti setelah kakak setelah belajar. “ tapi ia bersikeras. Pada awalnya dia menangis tapi tidak dihiraukan oleh mamanya. Lama-lama dia diam, masuk kamar, dan tidur-tiduran sendiri di kamar. Ketika saya masuk kamar tiba-tiba dia menangis keras seolah mau mengadukan nasibnya yang diacuhkan oleh mamanya. Kok ya lucu betul kamu, Nak…! 😍

Kamis, 11 Maret 1999
Usia 22 ½ bulan…
Yufi pulang ke Balikpapan dua bulan yang lalu dan menikmati sosialisasi dengan sepupu-sepupunya yang ada di Balikpapan. Emosinya berkembang dengan baik dan bahkan ia mampu menunjukkan rasa tidak senangnya dengan mengeluarkan hardikan kepada orang yang menurutnya mengganggunya. Ia juga berteriak keras untuk menunjukkan kemarahannya.
Salah satu hal yang mencengangkan adalah kemampuannya untuk menjulurkan lidah sambil mengucapkan, “Wek…wek…wek…!” pada orang yang dianggapnya mengganggunya. Meski jelas menampakkan wajah marh tapi ekspresinya itu justru terasa sangat lucu karena ia begitu mungil tapi ekspresinya sudah seperti anak-anak yang berusia lebih besar. Akibatnya sepupu-sepupunya yang lebih besar malah justru sukamengganggunya karena senang melihat Yufi menjulurkan lidah seperti itu.
Satu hal yang saya sukai adalah bahwa Yufi mampu untuk menyatakan perasaanya atau menekspresikannya dengan baik. Salah satu hal yang agak mencemaskan adalah kesukaannya untuk memukul jika ia marah atau kesal. Yufi dengan mudah akan mengayunkan tangannya pada siapa pun yang membuatnya kesal. Bahkan jika ia kesal pada seseorang ia bisa mengungkapkan perasaan kesalnya pada orang yang menggendongnya. Ini mungkin bisa berarti, “Stop it…!” atau “I don’t like it.”

Ketika di Balikpapan ia sempat kena musibah karena ditabrak dari belakang oleh mobilnya Muliek, tantenya. Muliek mengundurkan mobilnya dengan kencang tanpa menyadari bahwa Yufi ada di belakang mobilnya. Yufi tertabrak dengan cukup keras. Meski hampir seluruh tubuhnya penuh luka secara ajaib Yufi tidak mengalami luka yang serius. Seluruh luka di tubuhnya hanya lecet-lecet termasuk luka di kepalanya yang menimbulkan pitak, dan tak satu pun tulangnya yang patah atau retak. Subhanallah…! Maha Suci Allah yang telah melindunginya dari kecelakaan yang serius tersebut. Ia bahkan tidak menderita demam apalagi traumatis karena peristiwa tersebut.

Ketika di Balikpapan ia mulai disapih oleh mamanya dan tampaknya hal tersebut tidak terlalu sulit. Saat ini ia tidak lagi minta nenen seolah ia tidak pernah nenen sebelumnya. Meski demikian jika tidur ia harus bergolek-golek kesana –kemari. Tapi ia tidaklagi minta nenen pada mamanya sebelum tidur. Seolah ia ingin mengatakan ‘I’ve grown up now and I don’t need any suckling anymore.’ Ia mulai mengidentifikasikan dirinya dengan bapaknya dengan mengatakan ‘Ini bapaknya Adik’ sambil menunjuk saya dan mengatakan ‘Ini mamanya kakak’ sambil menunjuk pada mamanya. Ia juga mulai jarang mengompol karena ia selalu diminta untuk kencing sebelum tidur oleh mamanya. Untuk masalah ‘potty training’ mamanya memang tegas dan konsisten. 👍😊

Sekian dulu kisah tentang Yufi. Semoga Anda mendapatkan inspirasi setelah membaca kisah ini. 🙏😊

Surabaya, 12 Maret 2020
Satria Dharma

Dokumentasi Foto.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *