Jumat, 22 Februari 2020
Just another WordPress site
AL-QUR’AN, KEGIATAN LITERASI, DAN MASA DEPAN BANGSA

 

Pagi ini bacaan saya tiba pada surah Al-Fathir dan tertegun ketika membaca ayat ke 29 sbb:
inna alladziina yatluuna kitaaba allaahi wa-aqaamuu alshshalaata wa-anfaquu mimmaa razaqnaahum sirran wa’alaaniyatan yarjuuna tijaaratan lan tabuura
[35:29] Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,

Istilah perniagaan yang yang tidak akan merugi (tijaaratan lan tabura) adalah istilah yang menarik. Berniaga dengan siapa? Mengapa disebut sebagai ‘perniagaan/berdagang/berbisnis’? Mengapa istilah ‘berniaga/berdagang/berbisnis yang akan selalu untung’ yang digunakan untuk mendeskripsikan tiga kegiatan, yaitu : membaca kitab Allah, mendirikan sholat, dan menafkahkan rejeki diam-diam maupun terang-terangan? Saya sudah membaca banyak ulasan tentang apa itu ‘tijaaratan lan tabuura’ tapi selalu saja saya terpikat oleh istilah ini. Allah benar-benar mampu mengajak pembaca Al-Qur’an untuk selalu penasaran dengan istilah-istilah yang digunakannya. Tidakkah Anda tergelitik oleh istilah tersebut…?!

Membaca kitab Allah, Kitab Allah yang mana yang dimaksud? (Ingat, di sini disebut ‘Kitab Allah’ dan bukan ‘membaca ayat Allah’. Tentunya ada beda pemaknaan antara ‘kitab Allah’ dengan ‘ayat Allah’) Dengan merujuk pada ‘kitab’ maka benak kita akan selalu mengacu pada deskripsi tentang kumpulan tulisan dalam bentuk lembaran-lembaran. Ini adalah kegiatan literasi. Sedangkan ‘membaca ayat Allah’ bisa dilakukan tanpa harus mengacu pada kegiatan membuka buku dan membacanya.

Saya lalu teringat pada sebuah pertemuan dengan Prof Daoed Josoef di sebuah acara Diskusi Terbatas tentang Kebudayaan yang diselenggarakan oleh YSNB Yayasan Suluh Nuswantara Bakti di Jakarta. Beliau menjelaskan bahwa Tuhan punya 2 (dua) Kitab, bukan satu. Menurut beliau Tuhan memiliki dua jenis Buku yang harus dibaca. Buku tersebut adalah :
– Kitab Suci dalam agama masing-masing.
– Alam Semesta sebagai “buku” yang harus dibaca.

Untuk dapat membaca dua jenis Kitab tersebut manusia membutuhkan dua hal agar dapat memahaminya dan memperoleh manfaat darinya. Untuk membaca Kitab Suci diperlukan keimanan sedangkan untuk mengakses alam semesta dibutuhkan Ilmu Pengetahuan. Ilmu itu sendiri bukanlah kelanjutan dari pengetahuan. Ilmu adalah produk dari suatu pembelajaran tertentu. Jika cara pembelajaran tersebut salah maka ia tidak akan menjadi ilmu.

Baca juga:  Islam dan Kekerasan

Beliau kemudian menjelaskan tentang lima ayat Al-Qur’an pertama yang diturunkan ke nabi Muhammad SAW, yaitu ayat “Iqra” dst. Dengan fasih beliau menjelaskan bahwa meski pun manusia ketika itu sudah hidup selama ribuan tahun dan telah memiliki pengetahuan tapi ayat tersebut menyatakan bahwa Allah akan mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya. Dan ternyata Allah memang membukakan 2 jenis Bukunya baik melalui Kitab Suci Al-Qur’an mau pun melalui ilmu pengetahuan. Sejak turunnya Islam itulah maka segala jenis pengetahuan kemudian mengalir dengan derasnya sampai dengan sekarang. Dan itu dimulai dengan lahirnya para ilmuwan Islam dari segala penjuru sampai berabad-abad lamanya yang kemudian baru diikuti oleh ilmuwan Barat lama kemudian. Itulah sebabnya beliau mengatakan bahwa Islam adalah ‘the religion of reason’, agama yang bernalar.

Islam datang untuk mengubah peradaban. Islam datang untuk mengubah dunia yang kelam menjadi terang benderang. Dan itu melalui kegiatan atau ritual yang tidak pernah diperintahkan kepada umat-umat sebelumnya, yaitu MEMBACA. Jadi membaca itu sejatinya adalah sebuah ritual keagamaan atau sebuah kegiatan yang bernuansa spiritual jika diniati untuk itu.

Tentu saja kegiatan literasi telah ada sebelumnya dan itu bisa dijejaki pada jaman-jaman sebelumnya. Tapi itu masih merupakan inisiatif-inisiatif perorangan yang sangat elitis dan belum merupakan sebuah gerakan, apalagi berlandaskan semangat keagamaan atau spiritual seperti dalam Islam. Pada tahun 1600-an SM, awal mula Dinasti Shang muncul di Cina dan ada bukti mengenai sudah berkembangnya sistem tulisan China

Secara garis besar periodisasi sejarah perkembangan ilmu pengetahuan ada empat periode: pada zaman Yunani kuno, pada zaman Islam, pada zaman renaisans dan modern, dan pada zaman kontemporer. Tapi hanya umat Islamlah yang benar-benar mendapat AMANAH untuk mengembangkan ilmu pengetahuan melalui kegiatan literasi membaca dan menulis. Amanah itu tertulis secara eksplisit pada wahyu Tuhan yang pertama diturunkannya pada Nabi Muhammad.

Baca juga:  PROF. DR. ARIEF RAHMAN DAN UJIAN NASIONAL

Umat Islam pernah mengalami kejayaan. Zaman Kejayaan Islam (sek. 750 M – sek. 1258 M) adalah masa ketika para ilmuwan Islam menghasilkan banyak kontribusi terhadap perkembangan teknologi dan kebudayaan, baik dengan menjaga tradisi yang telah ada ataupun dengan menambahkan penemuan dan inovasi mereka sendiri. Kejayaan Islam ini jelas telah menyumbangkan tonggak peradaban yang tinggi pada dunia.

Menggambarkan hal ini, Bloom dan Blair menyatakan, “Rata-rata tingkat kemampuan literasi (kemampuan melek huruf membaca dan menulis Dunia Islam di abad pertengahan lebih tinggi daripada Byzantium dan Eropa. Karya tulis ditemukan di setiap tempat dalam peradaban ini.” (Jonathan Bloom & Sheila Blair, Islam “ A Thousand Years of Faith and Power”, Yale University Press, London, 2002, p-105). Baca tentang kejayaan Islam di http://allamandasyifa.wordpress.com/2010/02/14/kejayaan-islam-di-masa-lalu/

Apakah saya hendak mengajak umat Islam untuk beromantisme dengan mengenang-ngenang masa jaya dan hanyut di dalamnya? Tentu tidak. Saya hanya ingin kembali menekankan bahwa LITERASI adalah kunci kejayaan Islam (dan bukan karena banyaknya para penghafal Al-Qur’an, umpamanya). Jadi kejayaan Islam adalah karena kemajuan ILMU PENGETAHUAN yang dimiliki umatnya (dan bukan karena bagus dan merdunya suara qari’ dan qari’ah dalam lomba MTQ-nya, umpamanya. Dan juga bukan karena banyaknya hafiz Al-Qur’an). Jadi mari kita fokuskan perhatian kita pada upaya untuk membangun kembali budaya literasi umat atau bangsa ini agar kejayaan dapat kita raih kembali. Tak ada rahasia lagi setelah Tuhan menurunkan kata kuncinya, yaitu ‘Iqra’ sebagai pembuka ilmu pengetahuan untuk membangun peradaban. Semua orang bisa menggunakan kata kunci tersebut untuk membangun kejayaan bangsanya melalui kata kunci tersebut.

Rod Welford, Mentri Pendidikan dan Kebudayaan Queensland, Australia telah bertekad untuk memberi perhatian yang khusus untuk literasi.Ia berkata :“Literacy is at the heart of a student’s ability to learn and succeed in school and beyond. It is essential we give every student from Prep to Year 12 the best chance to master literacy so they can meet the challenges of 21st century life.” Jadi Literasi adalah inti atau jantungnya kemampuan siswa untuk belajar dan berhasil dalam sekolah dan sesudahnya. Tanpa kemampuan literasi yang memadai maka siswa tidak akan dapat menghadapi tantangan-tantangan Abad 21. Intinya, kemampuan literasi adalah modal utama bagi generasi muda untuk memenangkan tantangan abad 21. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Queensland telah mengeluarkan sebuah buku “Literacy the Key to Learning : Framework for Action” untuk digunakan sebagai acuan pendidikan mereka pada tahun 2006-2008.

Baca juga:  PERBUDAKAN DALAM ISLAM

Bagaimana dengan pendidikan literasidi Indonesia? There’s still no light ahead. Belum ada yang benar-benar peduli dengan pentingnya kemampuan literasi siswa. Saya sendiri sudah menawarkan program Gerakan Literasi Sekolah via semua milis yang saya ikuti dan berharap ada sekolah yang mau mengenal dan memahami betapa pentingnya sekolah member perhatian besar pada literasi. Saya ingin menyampaikan betapa pentingnya kurikulum literasi di sekolah dan bagaimana menjadikan siswa menjadi gemar membaca dan menulis. Banyak yang menghubungi tapi sampai saat ini masih belum ada yang benar-benar jadi mengundang saya. Padahal saya sudah tegaskan bahwa saya akan datang dengan biaya sendiri alias gratis.

Ini hanya berarti satu, yaitu bahwa dibutuhkan kebijakan politik untuk perubahan radikal. Kebijakan politik yang saya maksud adalah PERINTAH atau KEPUTUSAN dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan atau dari Dinas Pendidikan di daerah untuk melakukan program ini. Dibutuhkan kebijakan yg radikal utk mengubah ini. Harus ada perintah langsung dari Mendikbud atau Kadisdik ke semua kepala sekolah untuk memasukkan kegiatan literasi dalam kegiatan sekolah sehari-hari. Dan kebijakan radikal itu sebenarnya sederhana saja kok, yaitu dengan memberi porsi jam membaca secara rutin setiap hari pada sisa dan memberi buku-buku bacaan bermutu pada SEMUA sekolah. Tapi bagaimana mungkin kementrian dan dinas pendidikan akan melakukan ini jika mereka sendiri tidak paham tentang pentingnya kemampuan literasi bagi masa depan anak-anak kita.

Anybody can help….?!
Surabaya, 26 Februari 2014

Salam

Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *