Saya sedang menikmati makan sahur saya pagi ini Ketika tiba-tiba anak sulung saya Yubi bertanya, “Pak, bagaimana niatnya salat tahajud itu…?!”
Saya tertegun sejenak…
Saya tidak pernah menduga akan mendapat pertanyaan seperti itu dari Yubi. Apakah tiba-tiba dia dapat hidayah dan pingin salat tahajud di sepuluh malam terakhir Ramadan ini…?! Padahal selama ini kami masih selalu harus mengingatkannya untuk salat lima waktu.
“Setahu Bapak tidak ada bacaan khusus untuk niat salat tahajud. Bangun saja tengah malam dan lakukan.” Jawab saja.
“Boleh berapa rakat saja…?!” tanyanya.
“Hmmm… oke.” Jawab saya. Terserah saja mau berapa rakaat kata saya dalam hati. Kalau sudah dimulai dan nikmatnya salat tahajud sudah dirasakan maka ia pasti akan mencari tahu lebih banyak soal salat tahajud ini.
Tiba-tiba saya merasakan hati saya dipenuhi dengan rasa haru dan syukur. Semoga Yubi akan benar-benar mulai salat tahajud dan merasakan nikmatnya salat malam. Kemarin setelah salat jamaah saya balik ke kamar dan tak lama kemudian ia datang untuk cium tangan saya.
“Lho, mau kemana…?!” tanya saya. Anak-anak kami memang membiasakan diri untuk pamit kalau mau pergi dan cium tangan kami ortunya. Kami akan memeluknya dan mencium pipi kiri dan kanan mereka. Sampai setua itu… I really love doing it. 😍
“Nggak kemana-mana. Kan tadi belum salim.” Jawabnya.
“Oh, iya ya…” jawab saya tertawa. Tadi saya memang langsung balik ke kamar sebelum kami bersalaman. Anak-anak dan keponakan kami memang membiasakan diri juga untuk salim cium tangan kami setelah salat jamaah.
Bagi saya dan istri, bisa salat jamaah dan ditutup dengan bersalaman dan anak mencium tangan kami adalah sebuah kebahagiaan yang sungguh besar artinya. 🙏
Surabaya, 15 Maret 2026
Satria Dharma