Tahun ini keluarga kami memutuskan untuk lebaran di Lombok. Keputusan telah diambil jauh-jauh hari sebelumnya. Bahkan sebenarnya rencana lebaran di Lombok sudah masuk list sejak dua tahun yang lalu. Jadi begitu diputuskan maka segala keperluan segera dipersiapkan. Jadi sebulan sebelumnya kami sudah beli tiket dari tempat tinggal kami masing-masing. Ini adalah musim mudik dan cari tiket ke mana pun suasananya seperti ‘ticket war’. Kalau tidak beli tiket jauh hari sebelumnya bisa gak dapat tiket kami ke Lombok ini. 😁
Keluarga Besar Hasyim Mahmud akan datang dari beberapa bandara. Ada yang dari Surabaya, ada yang dari Balikpapan, dari Jakarta, dan Jogya. Rombongan terbesar dari Balikpapan sebanyak 30 orang. Dari Surabaya 15 orang, dari Jakarta 15 orang dan Jogya seorang. Ada 3 bayi di antaranya. Tentu saja untuk itu kami perlu sewa bis besar, dua hi ace, dan pinjam mobil untuk riwa-riwi panitia.
Kami akan berlebaran selama 5 hari di Lombok. Selama 4 malam kami akan menginap di hotel Jayakarta dan semalam di sebuah villa milik keluarga. Semua acara sudah ditangani oleh para anak dan keponakan. Kami para tetua tinggal terima beres. Oh ya, kedua orang tua kami telah beristirahat dengan tenang di alam barzah jadi saya adalah anak laki-laki tertua di keluarga besar ini sekarang. Yang tertua adalah kakak perempuan kami yang kami panggil ‘Kakak Pembina’. 😁
Karena pemerintah lebarannya tanggal 21 sedangkan kami termasuk golongan oposisi maka kami ikut lebaran yang tanggal 20. 😁 Jadi ketika pemerintah sedang lebaran kami sudah berangkat ke Lombok pada tanggal 21 tersebut dari kota masing-masing. Kami yang dari Surabaya sudah terbang sejak pagi sekali. Yang dari Jakarta berangkat siang dan yang dari Balikpapan berangkat sore.
Karena kami berangkat pagi maka kami tentu belum bisa masuk hotel dan punya waktu untuk melakukan kunjungan ke keluarga yang ada di Lombok. Kami punya keluarga yang tinggal di Lombok jadi begitu tiba di Lombok pertama kali yang kami kunjungi adalah mereka. Ada keluarga Juwayni di Selong, di mana salah satu putranya Edwin Hadiwijaya saat ini menjabat sebagai Wakil Bupati di Kabupaten Lombok Timur. Kami mendatanginya pada hari pertama lebaran sehingga belum ada acara Open House.
Salah satu kerabat kami di Lombok ternyata bersepupu dengan Gubernur NTB, Lalu Ahmad Ikbal, sehingga kami diajak juga datang ke rumah beliau. Tapi itu hari kedua lebaran sehingga rumah beliau sudah penuh oleh warga dan keluarga beliau yang datang untuk acara open house. Yang penting sudah sempat foto sebagai kenang-kenangan bersama Gubernur NTB. Kami juga masih sempat mendatangi keluarga lain di Mataram sebelumnya.
Acara hari kedua adalah rekreasi ke Desa Ende, Sirkuit Mandalika, dan Pantai Aan. Malamnya adalah Gala Dinner. Pada acara ini kami semua sepakat untuk memakai baju adat Lombok dengan menyewa. Tentu saja kami tampil sangat keren seolah bangsawan Lombok semua.
Pada acara tersebut para anak dan keponakan membuat acara ‘Awarding Night’ untuk kami para Om dan Tantenya. Saya dapat award ‘The Brainiacs’ sedangkan istri saya dapat award ‘The Golden Skill’. Ada banyak award yang diberikan oleh para panitia dengan penampilan ala Golden Globes. Malam ini kami sangat bergembira dan banyak tertawa.
Selain acara awarding kami juga melakukan acara wajib lebaran yaitu ‘Sungkeman’ dan bagi-bagi angpao. Meski sudah bekerja para anak dan keponakan juga masih tetap dapat angpao. Tentu saja ini acara yang paling ditunggu oleh mereka. Yang membuat hati saya tersentuh adalah bahwa anak saya Yubi juga sudah mulai ikut bagi angpao pada para keponakannya meski gajinya tidak besar. Itu artinya dia sudah mulai merasa kaya juga dan ingin ikut berbagi. 😁
Senggigi, 23 Maret 2026
Satria Dharma
























