Fulanah (bukan nama sebenarnya) tinggal di Surabaya dan terpaksa harus hidup menanggung lima anaknya sendiri setelah ditinggalkan oleh suami keduanya yang sudah lama tidak bekerja. Mungkin karena suaminya tidak ingin semakin membebani perekonomian Fulanah dengan statusnya yang pengangguran maka ia pergi begitu saja meninggalkan istri dan lima anaknya tersebut.
Darinya ia memberi dua anak yang masih kecil (kelas 1 SD dan TK) dan dari suami Fulanah sebelumnya ia diberi tiga anak (SMK, SMP, dan SD). Selain harus menanggung lima anak di rumahnya yang hanya memiliki satu kamar tidur itu, ia juga masih harus menanggung kehidupan ayahnya yang sakit keras berbulan-bulan dan hanya bisa berbaring di kasur bonyok di ruang tamu.
Fulanah sendiri tidak punya pekerjaan tetap dan kadang-kadang ia berjualan sayur atau berjualan ikan untuk kehidupan sehari-harinya. Dan itu jelas sangat tidak cukup dan tidak jelas hasilnya.
Karena anak-anaknya bukan termasuk anak miskin cerdas juara kelas dan juga tidak bisa disebut sebagai anak yatim maka mereka tidak diterima bersekolah di sekolah negeri dan harus masuk sekolah swasta. Dan sebagaimana adatnya sekolah swasta kelas bawah maka semua siswa ya harus bayar, termasuk harus beli LKS dan seragam sekolah yang telah ditentukan. Kan sekolahnya juga butuh subsidi. Jadi gak bisa menggratiskan siswa begitu saja.
Pertanyaannya adalah : Bagaimana caranya agar Fulanah bisa hidup dan membiayai sekolah anak-anaknya yang bersekolah semua itu?
Siapakah yang semestinya bertanggung jawab atas kehidupannya agar jangan sampai terjadi anak-anak kelaparan, tidak bisa bersekolah, sakit tak terawat, tak punya beras dan lauk sedikit pun, rumah kecil rusak disana sini, dan berbagai macam kesulitan hidup yang lain.
Melalui FB ini saya mau mengajak para pembaca posting saya ini untuk bersama-sama menjawab pertanyaan saya ini. Kayaknya saya juga sudah mentok mikirin masalah ini dan butuh masukan dari para cendekiawan, akademisi, aktifis, pekerja sosial, dermawan, politisi, pejabat, intelektual, pengusaha, konsultan, pemikir, ustad, ulama, kyai, dan siapa saja yang mungkin punya pemikiran hebat dan bisa memecahkan masalah si Fulanah secara riel.
Tolong jangan dijawab retoris teoritis seperti : Pemerintah dan Pemerintah daerahlah yang seharusnya bertanggung jawab atas semua hal yang terjadi pada rakyatnya. Mohon dijelaskan dalam hal apa pemerintah dan pemerintah daerah bertanggung jawab dan melalui siapa. Umpamanya, untuk keperluan makan 7 orang (termasuk ayah Fulanah yang sakit) dibutuhkan dana sebesar sekian rupiah dan bisa diperoleh dari RT atau RW atau Lurah atau Kecamatan sebesar sekian. Tentu saja pemerintah dan pemerintah daerah bertanggung jawab atas rakyatnya tapi bagaimana mekanisme dan berapa besarannya perlu jawaban yang jelas. Kalau bisa ya mari turun tangan membantu Fulanah melapor ke mana agar bisa dapat bantuan tersebut.
Saya tentu saja berharap agar masjid di sekitar rumah Fulanah ikut bertanggung jawab atas nasib Fulanah sekeluarga karena Fulanah adalah muslimah yang patut mendapatkan perhatian dari sesama muslim, meski bukan jamaah masjid. Fulanah tidak punya privilege waktu luang untuk jadi jamaah masjid. Tapi bagaimana cara menyampaikan hal ini kepada takmir masjid dan apa dalil yang dibutuhkan untuk mengetuk hati takmirnya?
Tapi saya akan sangat…sangat berterima kasih jika ada pembaca FB saya yang terketuk hatinya dan ingin membantu secara nyata kepada Fulanah sekeluarga meski tidak harus seluruh kebutuhan hidupnya.
Sebagai contoh:
- Saya ingin membantu beras setiap bulan sebesar 5, 10, 20 kilo (kebutuhan 7 orang tersebut sekitar 20 kilo lebih dalam sebulan).
- Saya ingin membantu lauk pauk sekedarnya sebesar 100 rb, 200 rb, dst.
- Saya ingin membantu membayar biaya listrik dan PDAM mereka setiap bulan (lumayan besar untuk warga miskin)
- Saya ingin membiayai sekolah anaknya (silakan pilih yang TK, SD, SMP, SMK setiap bulan baik SPP mau pun biaya printilannya. Bisa bantu satu, dua, tiga anak, atau semuanya malah lebih ciamik). Sekedar info biaya SPP bulanan yang SMK sebesar Rp. 380 rb dan selalu ada printilan lain-lain. Kalau yang TK cuma 50 rb tapi juga selalu ada tarikan lain-lain.
- Saya punya sepeda yang tidak dipakai dan bisa saya berikan. Kebetulan mereka yang SMP dan SMK butuh sepeda untuk transport. Mereka pernah diberi sepeda dan selama ini dipakai oleh yang SMP tapi kok ya dicuri orang waktu diletakkan di depan rumahnya yang tidak berpagar tersebut. Sudah miskin kecurian pula.
- Saya ingin membantu membelikan pampers dan susu buat ayah Fulanah yang sakit dan hanya bisa berbaring di kasur bonyok.
- Apa saja bantuan yang mungkin bisa membantu kehidupan Fulanah sekeluarga secara berkelanjutan. Soalnya kan mereka hidup bukan hanya sebulan atau dua bulan.
Jika Anda ingin membantu secara nyata, apa pun bentuknya, dan ingin berhubungan langsung dengan Fulanah maka saya bisa menghubungkan Anda nanti.
Saya tunggu usulan ciamik Anda.
Balikpapan, 2 Agustus 2024
Satria Dharma