Masjid di kompleks kami saldonya lebih dari 100 juta. Saya tahu karena istri saya adalah donatur tetap yang setiap bulan akan didatangi oleh petugas dari masjid. Mereka mendatangi setiap rumah jamaah untuk mengumpulkan donasi ini dan kami mendapatkan laporan sisa saldo tersebut. Bulan lalu kami mengurangi jumlah donasi kami karena kami tidak melihat apa pemanfaatan dana tersebut. Kalau untuk pembangunan masjid selalu ada sumbangan dari para donatur besar sehingga masjid kami sekarang menjadi mewah dan full AC. Jadi donasi bulanan kami tersebut ya bukan untuk kepentingan pembangunan masjid karena untuk setiap keperluan pembangunan dan pengembangan masjid selalu ada pos tarikan lain. Bahkan Setiap Senin – Kamis biasanya juga disediakan makan untuk berbuka gratis. Itu juga ada posnya sendiri. Sumbangan akan semakin deras kalau Ramadhan.
Kapan hari istri saya bilang bahwa ia akan mengurangi jumlah donasinya karena ia tidak puas dengan penggunaan kas masjid. Istri saya berharap dana kas masjid itu bisa bermanfaat bagi masyarakat sekitar masjid karena tentunya ada banyak umat Islam yang membutuhkan dana sedangkan dana kas masjid berlimpah dan dibiarkan tanpa dimanfaatkan.
Salah seorang pengurus pengajian ibu-ibu kemudian berinisiatif untuk memberikan pinjaman tanpa bunga pada para penjual di warung-warung yang butuh modal atau pinjaman untuk keperluan anak-anaknya. Alahmdulillah sekarang masjid kami sudah mulai berupaya untuk memakmurkan warga sekitar yang meski pun bukan jamaah tapi jelas umat Islam. Warga miskin biasanya memang tidak tinggal di kompleks perumahan kami tapi ada di kompleks sekitar. Mereka biasanya punya masjid atau musholla sendiri di kampung atau di gang mereka masing-masing. Saldo kasnya lebih kecil tapi TOA-nya lebih kencang daripada masjid kami. Mungkin itu untuk menutupi kecilnya jumlah kas mereka. 😁
Ketika salah satu peminjam ingin membayar lunas pinjamannya oleh pengurus dianjurkan untuk dipakai dulu untuk keperluan lain. Silakan pinjamannya dicicil selama setahun tanpa bunga. Alhamdulillah masjidku sekarang bukan hanya megah tapi sudah mulai menjadi rahmatan lil masakin. 👍😁
Soal masjid yang tidak peduli pada warga sekitarnya yang miskin ini memang sudah lama menjadi ganjelan di hati saya. Lha kalau masjid saja tidak bisa mengoordinir atau menjadi pusat pemberdayaan masyarakat miskin di sekitarnya mosok yang diharapkan adalah Banser? Bukankah masjid adalah tempat berkumpulnya umat Islam untuk menjadi tempat memikirkan dan menyelesaikan berbagai masalah umat? Bukankah masjid adalah tempat umat memberikan infak dan sedekahnya? Lha kalau masjidnya punya saldo ratusan juta tapi di sekitarnya ada janda beranak lima tanpa kerjaan tetap dan hidup dalam kemiskinan tapi tidak dipedulikan hanya karena dia bukan jamaah masjid tersebut lalu di mana letak rahmatan lil masakinnya umat Islam di masjid tersebut? Tidak usahlah bicara soal rahmatan lil alamin jika untuk rahmatan lil masakin saja belum mampu.
Saya terus terang malas mau berdebat soal fikih, apalagi menggunakan kitab fikih yang tidak kontemporer dan tidak menyentuh permasalahan umat yang nyata seperti ini. Mari kita lakukan apa yang menurut akal sehat dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah-masalah umat yang nyata. Kemiskinan adalah masalah yang sangat nyata di depan mata kita dan sudah selayaknya masjid melakukan terobosan untuk berupaya ikut menyelesaikannya dan bukan sekedar menyerahkannya kepada pemerintah.
Balikpapan, 1 Agustus 2024
Satria Dharma