TIji Tibeh adalah semboyan perjuangan Pangeran Sambernyawa yang berarti “mati siji, mati kabeh” (mati satu, mati semua) atau “mukti siji, mukti kabeh” (berjaya satu, berjaya semua). Artinya apabila salah satu orang dalam kelompok mengalami kesulitan, maka semua orang dalam kelompok tersebut akan mengalami kesulitan yang sama pula; apabila salah satu orang dalam kelompok mengalami kebahagiaan, maka semua orang dalam kelompok tersebut juga ikut menikmati kebahagiaan yang sama.
Seorang konglomerat bernama Jay Chaudhry melakukan prinsip TIJI TIBEH tersebut dalam perusahaannya. Begitu perusahaannya menjadi kaya raya maka semua karyawannya juga ikut menjadi jutawan. CEO berusia 65 tahun ini mengubah setidaknya 88% karyawannya menjadi jutawan setelah menjual perusahaannya senilai US$ 70 juta. Dan dia membagikan hasil penjualan perusahaannya tersebut kepada semua karyawannya. Jadi bukan hanya ia yang kaya raya tapi semua karyawannya juga jadi kaya raya. Sungguh keren…! 👍😁
Jay Chaudhry (lahir 26 Agustus 1958) adalah seorang pengusaha teknologi India-Amerika dan CEO serta pendiri perusahaan keamanan cloud Zscaler. Chaudhry lahir di Panoh, sebuah desa di distrik Una di Punjab (sekarang Himachal Pradesh), India dengan populasi 800 jiwa. Desa tersebut tidak memiliki air bersih atau listrik sampai dia remaja. Orang tuanya, Bhagat dan Surjeet Chaudhry, adalah petani skala kecil, dan dia adalah anak bungsu dari tiga bersaudara.
Dalam sebuah wawancara, Jay mengenang bahwa dia biasa berjalan kaki hampir 4 km setiap hari untuk bersekolah di SMA di Dhusara, desa tetangga dan, karena tidak ada listrik, dia sering belajar di luar di bawah pohon.
Setelah menyelesaikan sekolah menengah atas, ia memperoleh gelar sarjana teknik elektronik dari Institut Teknologi India, Universitas Hindu Banaras.
Pada tahun 1980, pada usia 22 tahun, dia pindah ke Amerika Serikat untuk kuliah di Universitas Cincinnati. Pertama kali naik pesawat adalah penerbangannya ke AS untuk kuliah di Universitas Cincinnati, di mana ia menerima gelar master di bidang teknik industri, teknik komputer, dan pemasaran. Ia juga menyelesaikan program manajemen eksekutif di Harvard Business School. Ini sebuah lompatan yang lumayan tinggi dari anak yang berasal dari desa yang tidak berlistrik bisa lulus program manajemen di Harvard Business School. Jadi sejak awal Chaudry ini memang sudah keren. Chaudhry saat ini dikenal sebagai pendiri dan CEO Zscaler, sebuah perusahaan keamanan siber berbasis komputasi awan yang bernilai sekitar US$ 28 miliar.
Mengutip CNBC International, ketika Jay Chaudhry menjual perusahaan pertamanya senilai US$ 70 juta, dia tidak egois dan ingin kaya sendiri. Sebaliknya ia memikirkan bagaimana hal tersebut juga dapat mengubah puluhan karyawannya menjadi jutawan.
Perjalanan Chaudhry dimulai pada tahun 1998. Saat itu Ia adalah seorang pengusaha pemula yang menjual startup yang ia bangun bersama istrinya, Jyoti. Perusahaan tersebut bernama SecureIT, Ia menjualnya kepada VeriSign dalam sebuah kesepakatan jual-beli saham dan mendapatkan untung besar.
“Hampir dua tahun setelah kesepakatan itu ditutup, ketika harga saham VeriSign melonjak, lebih dari 70 dari 80 karyawan SecureIT, di atas kertas menjadi jutawan,” kata Chaudhry kepada CNBC Make It.
“Orang-orang menjadi gila di perusahaan, karena mereka tidak pernah memikirkan dapat uang sebanyak itu,” katanya.
“Banyak dari mereka membeli rumah baru dan juga mobil baru. Saya kenal seorang karyawan yang kemudian mengambil cuti enam bulan, menyewa [rumah mobil] dan berkeliling negeri. Mereka bisa melakukan apa yang ingin mereka lakukan dengan uang mereka,” ungkapnya.
Menurutnya, Ia benar-benar memahami dampak keputusan untuk menjual SecureIT terhadap para karyawan tersebut.
“Saya pulang ke rumah malam itu dan melihat spreadsheet semua opsi [saham] yang mereka miliki, dan mengalikannya dengan harga saham VeriSign. Saat itulah saya menyadari bahwa hitungannya adalah sekitar 70 atau 80 jutawan, dengan opsi saham,” kata Chaudhry. “Itu sangat mengesankan.” Ketika dia meninggalkan VeriSign pada akhir tahun 1999, mantan karyawannya mengadakan pesta untuknya.
Chaudhry sendiri sudah memiliki cukup uang untuk merasa bahagia dengan apa yang ia miliki. Ia dan istrinya memiliki rumah kelas menengah yang bagus pada waktu itu meskipun tidak memiliki mobil mewah atau hal mewah lainnya. Dia bangga terhadap kemampuannya untuk memberikan begitu banyak saham kepada para karyawan berkat pendekatan bootstrap-nya. Chaudhry dan istrinya mendanai SecureIT sendiri, mengosongkan tabungan mereka yang berjumlah sekitar US$ 500.000, alih-alih mencari investor dari luar.
Kisah ini mengingatkan kita pada miliarder lainnya, Mark Cuban, yang baru-baru ini mencatat bahwa ia membagikan bonus kepada karyawan setelah menjual Broadcast.com kepada Yahoo senilai US$5,7 miliar pada tahun 1999. Cuban melakukan hal serupa saat menjual saham mayoritasnya di HDNet, yang sekarang dikenal sebagai AXS TV, pada tahun 2019 dan Dallas Mavericks dari NBA tahun lalu, tulisnya dalam postingannya. Mark Cuban, mantan pemilik Dallas Mavericks, akan membagikan bonus lebih dari $35 juta kepada karyawan tim. Pengumuman mengejutkan ini menyusul penjualan saham mayoritas Cuban di tim baru-baru ini kepada Miriam Adelson dan keluarganya senilai $3,5 miliar. Berdasarkan kesepakatan tersebut, Cuban tetap memiliki saham di tim dan mengendalikan operasi bola basket.
“Tindakan tersebut mengubah ratusan karyawannya menjadi jutawan instan,” kata Cuban. Ketika Mark Cuban menjual sebuah bisnis, dia selalu menyisihkan sebagian hasilnya untuk satu tujuan tertentu: membaginya kepada karyawan perusahaan.
“Dalam setiap bisnis yang saya jual, saya telah membayar bonus kepada setiap karyawan yang bekerja di sana selama lebih dari setahun,” kata Cuban. Semakin besar akuisisi, semakin besar pembayarannya: 300 dari 330 karyawan Broadcast.com menjadi jutawan ketika layanan streaming audio tersebut dijual ke Yahoo seharga $5,7 miliar pada tahun 1999, tulis Cuban.
Cuban memulai praktik ini setelah menjual perusahaan pertamanya, sebuah perusahaan perangkat lunak bernama MicroSolutions, seharga $6 juta kepada CompuServe pada tahun 1990. Dia mengambil 20% dari total harga jual, katanya kepada CNBC Make It, dan membayarkannya kepada 80 karyawan — yang akan setara dengan $15.000 per staf, jika didistribusikan secara merata.
“Cuban telah memberikan bonus kepada karyawan di setiap perusahaan yang telah dijualnya, dimulai dengan akuisisi CompuServe atas perusahaan perangkat lunak MicroSolutions pada tahun 1990,”katanya kepada CNBC Make It bulan lalu. Keuntungan tersebut termasuk penjualan saham mayoritasnya di HDNet, yang sekarang dikenal sebagai AXS TV, pada tahun 2019 dan Dallas Mavericks dari NBA tahun lalu, tulisnya di platform media sosial X.
Ini benar-benar prinsip ‘mukti siji mukti kabeh’ yang patut untuk ditiru.
Balikpapan, 31 Juli 2024
Satria Dharma