Alhamdulillah, begitu posting tentang si Fulanah saya kirim maka datanglah jawaban pertama dari seorang teman yang tinggalnya di luar negeri.
“Assalamualaikum Pak Satria 🙂
Ini …. 😁 Aku tadi baca postingan tentang Fulanah.
Kalau boleh tahu alamatnya dimana ya pak?
Bapaknya mau tak belikan susu dan popok dewasa. Sekaligus tak kirimi beras & makanan kalengan yang bergizi buat fulanah dan keluarganya
Dan untuk sekolah, aku bisa bantu yang paling besar.
SMK ya? Tapi aku bayarnya langsung ke sekolahnya. Piye iki carane?” 😁
Saya sungguh senang menerima WA dari teman jauh ini. Dia ini memang dermawan dan sangat sering membantu orang-orang yang dianggapnya perlu dibantu. Tapi menerima kabar keinginannya untuk membantu adalah best news I heard.
(Tapi tak lama kemudian dapat kabar dari Fulanah bahwa ayahnya baru saja meninggal. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Semoga Allah menerima arwahnya disisiNya. Artinya bantuan susu dan popok dewasa sudah tidak diperlukan lagi.)
Teman ini kemudian menghubungi Fulanah. Ia bilang bahwa ia sudah njapri langsung dan maunya dia kirimi bantuan berupa benda. Dan kalaupun urusan uang sekolah, ia akan meminta nomer WA pengurus sekolahnya langsung. Ia ingin membayar uang sekolah anak pertama si Fulanah langsung setahun ke sekolahnya. “Aku sangat berhati2 untuk kirim duit. Kalau buat penguburan, aku bersedia. Tapi kalau buat selametan? NO WAY 😁Uripe dewe durung selamet. Opone sing diselameti.”. katanya. Saya tentu sangat setuju dengan pemikirannya tersebut. Alhamdulillah Fulanah juga tidak minta dana untuk selamatan pada saya. Mungkin ia tahu saya akan menolak juga.
Saya senang sekali dengan cara teman saya ini. Akan tepat sekali kalau langsung berhubungan dengan sekolah anaknya jadi tidak dalam bentuk uang yang mungkin bisa belok kalau kepepet, kata saya.
Lalu dijawab lagi, “I’m highly trained for donation sir.”
Saya pingin ngakak tapi kok ya gak sopan. 😂
Beberapa orang lain juga menyatakan ingin membantu dengan mengirimkan dana sekedarnya. Ada juga yang bilang mau membantu memberi sepeda untuk anaknya. Saya meminta mereka untuk menghubungi nomor Fulanah langsung dan ada yang langsung mengirim dana ke nomor rekening yang saya berikan. Mungkin ini akan dianggap sebagai dana duka kematian ayahnya. Biar sajalah.
Meski saya sudah katakan bahwa sebaiknya berhubungan langsung dengan Fulanah tapi ada yang tidak bersedia dan hanya mau lewat saya. Ya, apbolbu. 😁
Tapi ada satu usulan yang saya terima yang saya pikir perlu saya coba, yaitu menghubungi Baznas (atau Bazda) dan Dompet Dhuafa. Siapa tahu mereka punya skema untuk membantu keluarga miskin seperti keluarga Fulanah ini. Saya sudah mencaritahu alamat dan no telpon Dompet Dhuafa dan akan saya hubungi nanti kalau saya kembali ke Surabaya. I will knock their doors. 😎
Saya sungguh bahagia bahwa ternyata memang masih CUKUP BANYAK orang yang berhati emas dan dermawan. Tentu saja masalah Fulanah tidak akan bisa diselesaikan oleh donasi tersebut karena butuhnya kan terus setiap bulan. Tapi paling tidak apa yang mereka berikan akan SANGAT membantu kehidupan Fulanah saat ini. Yang akan datang insyaallah akan diselesaikan pada waktunya juga nanti.
Balikpapan, 3 Agustus 2024
Satria Dharma