Seorang ayah akan mengantar anaknya masuk pesantren. Anaknya akan tinggal di pesantren selama pendidikan sekolah menengahnya. Tapi sebelum berangkat si ayah ingin memberikan sebuah pelajaran penting bagi anaknya.
Si ayah memberi anaknya pasta gigi dan memintanya untuk mengeluarkan isinya ke piring. Setelah selesai, si ayah memintanya untuk memasukkan kembali semua isi pasta gigi ke dalam tabungnya. Si anak kaget dan menjawab, “Mana bisa, Pak!”. Si ayah diam saja dan menunggu. Si anak bingung lalu berkata, “Walau pun bisa dimasukkan kembali jelas tidak akan seperti sebelumnya!” protesnya.
Si ayah menunggunya selesai dengan keheranannya, lalu berkata:
“Tentu saja kita tidak akan bisa memasukkannya kembali dan tidak akan pernah sama lagi seperti sebelumnya. Jadi ini pelajarannya. Ingat pasta gigi ini seumur hidupmu ya, Nak. Ini pelajaran penting bagimu sebelum kamu masuk ke pesantren. Kata-katamu memiliki kekuatan yang bisa menghidupkan atau mematikan. Saat kamu memasuki pesantren, kamu akan melihat betapa besarnya pengaruh dari kata-katamu pada teman-teman dan orang di sekelilingmu. Kamu akan memiliki kesempatan untuk menggunakan kata-katamu untuk menyakiti, merendahkan, memfitnah, dan melukai orang lain.
Kamu juga akan berkesempatan menggunakan kata-katamu untuk menyembuhkan, menghibur, menyemangati, menginspirasi, dan mengasihi orang lain. Terkadang kamu akan membuat pilihan yang salah; dan kecerobohan kata-kata kita akan menyebabkan kerugian baik pada diri kita mau pun pada orang lain.
Seperti pasta gigi ini, begitu kata-kata keluar dari mulutmu, kamu tidak bisa menariknya kembali. Gunakan kata-katamu dengan hati-hati. Ketika orang lain menyalahgunakan kata-kata mereka, jagalah kata-katamu. Jangan asal mengumbar kata-kata. Buatlah pilihan setiap kali mau menyampaikan sesuatu bahwa kata-kata yang akan keluar dari mulutmu adalah yang akan memberi kehidupan dan cahaya. Putuskan saat ini bahwa kamu akan menjadi pemberi kehidupan dan menjadi cahaya di pesantren tempatmu tinggal dengan kata-katamu. Jadikan dirimu dikenal karena kelembutan dan kasih sayangmu. Gunakan kata-katamu untuk memberi kehidupan kepada dunia yang sangat membutuhkannya. Itu adalah kebaikan dan kamu tidak akan pernah menyesal memilih kebaikan.”
Si anak tertegun dengan petuah ayahnya. Ia lalu berterima kasih pada ayahnya dan berjanji akan menjaga kata-katanya.
Surabaya, 23 Nopember 2025
Satria Dharma