Kemarin sudah saya tunjukkan betapa ngawurnya Irene Teng Siat Hwa dalam postingnya yang menyalahkan Jokowi dan Nadiem karena ada penjual cilok yang tidak bisa menghitung tanpa kalkulator. Sila baca di sini. https://www.facebook.com/share/p/1EwD3msLzr/
Jangankan penjual cilok… Jika ada siswa SMP, SMA, mahasiswa, atau bahkan yang sudah sarjana tapi ternyata tidak bisa melakukan operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian atau pembagian sederhana, maka itu bukan berarti siswa atau bahkan sarjana tersebut bodoh. Itu juga bukan berarti kurikulum yang sedang berjalan sekarang ini atau bahkan kurikulum sebelumnya yang salah. Bukan…! Kalau Anda sampai menyalahkan mentri pendidikannya dan bahkan Jokowi. Itu namanya asbun dan bertujuan untuk memfitnah saja.
Satu hal yang perlu Anda pahami adalah bahwa pelajaran berhitung penjumlahan dan pengurangan sudah dimulai dari klas 1 SD. Perkalian dan pembagian itu diajarkan mulai kelas 2 SD dan akan terus ditingkatkan di kelas-kelas berikutnya menjadi lebih tinggi dan kompleks. Jika dasar pembelajarannya di SD BERMASALAH maka siswa akan terus mengalami kesulitan dengan operasi perkalian dan pembagian tersebut. Jadi jika pembelajaran Matematika di SD kelas 1, 2, dan 3 gagal maka KEGAGALAN itu akan dibawa sampai dia sarjana sekali pun. Kegagalan ini tidak bisa diperbaiki di SMP atau pun di SMA karena guru-guru mereka di SMP dan SMA punya tugas materi pembelajarannya masing-masing dan tentu tidak mau mengoreksi kesalahan guru di SD. Mereka juga tidak bisa diminta untuk memperbaiki kegagalan pembelajaran di SD. Kegagalan pembelajaran di SD itu bisa permanen (padahal itu akan menjadi fondasi bagi pembelajaran mereka selanjutnya).
Jadi saya ulangi lagi ya…
Ketidakmampuan siswa, mahasiswa, atau pun sarjana dalam operasi perkalian dan pembagian adalah akibat dari kegagalan pembelajaran Matematika mereka di SD awal. Dan itu akan mereka bawa terus sampai di kampus, kalau mereka kuliah dan di rumah tangganya kalau mereka menikah dan punya anak.
Jadi kalau ada siswa SMA akhir atau mahasiswa yang tidak bisa penjumlahan, pengurangan, atau perkalian sederhana maka itu artinya dasar pembelajarannya di kelas 1, 2, dan 3 SD yang bermasalah. Jadi itu hasil dari pembelajaran 9 s/d belasan tahun yang lalu dan BUKAN hasil pembelajaran sekarang atau 5 tahun ke belakang.
Jadi kalau ada penjual cilok atau penjual sabun yang tidak bisa berhitung kecuali menggunakan kalkulator maka itu jelas bukan kesalahan mantan Mendikbud Nadiem Makarim dan Jokowi. Kecuali Anda memang ternyata juga tidak bisa berhitung sederhana tapi sok tahu.
Mengapa pembelajaran operasi perkalian dan pembagian bisa gagal di SD? Nah, ini yang Anda harus tahu.
Ketahuilah bahwa kompetensi guru SD kita itu rendah. Berdasarkan hasil uji kompetensi di tahun 2015 Nilai rata-rata kompetensi guru dari jenjang SD, SMP hingga SMA cukup mengkhawatirkan. Secara nasional nilai rata-rata guru tingkat SD adalah 40,14; SMP 44,16; dan SMA 45,38. Nilai ini di bawah standar minimal yang ditetapkan 55. Rata-rata nilai uji kompetensi guru (UKG) 2019 untuk tingkat SD 54,8%, SMP 58,6%, SMA 62,3%, dan SMK 58,4%. Hasil dari UKG tahun 2021 sampai 2015, sekitar 81% guru di Indonesia bahkan tidak mencapai nilai minimum.
Jadi kalau gurunya sendiri raportnya merah seperti ini lalu bagaimana kita bisa mengharapkan mereka untuk menghasilkan murid yang bermutu? 🥺
Meskipun Uji Kompetensi Guru (UKG) tidak dapat dijadikan sebagai satu-satunya indikator kualitas guru, hasil UKG tetap menunjukkan bahwa banyak guru di Indonesia belum punya kompetensi minimal yang dibutuhkan untuk memfasilitasi pembelajaran yang berkualitas. Dalam studi Research on Improving Education Systems (RISE) di Indonesia pada 2018, ditemukan bahwa hanya 12,43% guru SD yang menganggap dirinya menguasai materi pengajaran literasi baca tulis dan 21,27% yang menganggap dirinya menguasai materi pengajaran matematika. Sedemikian rendahnya lho…!
Studi ini mensurvei persepsi diri 360 guru kelas sekolah dasar lulusan S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar yang mengikuti program Pendidikan Profesi (PPG) selama setahun secara tatap muka di tujuh universitas penyelenggara pendidikan keguruan di Pulau Jawa tahun lalu. Guru yang mengikuti survei memiliki pengalaman mengajar antara 6 bulan hingga lima tahun. Mereka merupakan sampel dari 2.449 guru SD dari seluruh Indonesia yang ikut program tersebut di 43 universitas.
Bila para guru tidak kompeten dalam mengajarkan materi baca tulis dan matematika di tingkat SD, jangan heran bahwa pencapaian siswa Indonesia dalam berbagai program penilaian nasional maupun internasional juga berada dalam kategori rendah. Pada Programme for International Student Assessment (PISA) 2015, misalnya, rata-rata skor literasi matematika siswa Indonesia adalah 386, berada di bawah nilai rata-rata skor literasi matematika siswa dari 72 negara peserta PISA sebesar 490.
Tapi kasus semacam ini juga terjadi di mana-mana kok, termasuk di negara-negara maju. Sila baca ini. https://satriadharma.com/…/03/kesalahan-kurikulum-merdeka/
Jadi bagaimana dong…! 🤔
Tentu saja pemerintah dalam hal ini Kemendikbud terus menerus mengupayakan untuk meningkatkan mutu para guru yang mengajar di kelas. Sudah berbagai upaya yang mereka lakukan setiap tahun. Jangan dipikir mereka diam-diam saja. Kebijakan Kemendikbud Ristek yakni Merdeka Belajar, berupaya meningkatkan kompetensi Literasi dan Numerasi bagi guru pada Sekolah Dasar melalui pelatihan-pelatihan guru. Dengan pelatihan guru ini diharapkan para pendidik memiliki pemahaman yang menyeluruh tentang konsep literasi dan numerasi, serta dapat menerapkannya dalam pembelajaran yang bermakna di kelas.
Kalau sampai hari ini belum kelihatan hasilnya ya karena memang melatih pengetahuan dan ketrampilan baru, khususnya bagi guru-guru tua yang sudah malas belajar, butuh waktu lama. Untuk paham saja butuh waktu lama, apalagi sampai trampil. Jelas butuh waktu yang lebih lama untuk membuat perubahan nyata sampai di kelas apalagi sampai tampak hasilnya pada siswa mereka. Itu bukan seperti bikin tahu goreng yang bisa dadakan. It takes many…many years to build.
Kalau mau hasil yang cepat ya ganti saja para guru tak kompeten tersebut dengan guru-guru muda yang jauh lebih kompeten. Tapi tentu saja itu cuma teori. Mencopot guru tak kompeten dengan guru yang kompeten itu tidak semudah mengganti sparepart kendaraan.
Jadi begitulah kesulitan yang dihadapi oleh negara kita. Bukan hanya sulit tapi juga sangat kompleks. Kita harus paham dan memakluminya.
Satu permintaan saya… Kalau sudah tahu begini kondisinya ya HENTIKANLAH menghujat, mencaci-maki, melontarkan kata-kata kasar dan kemarahan karena melihat masalah seperti ini di medsos. Tolong sampaikan juga ini pada teman-teman Anda yang lain. Kalau tidak bisa membantu menyelesaikan masalah paling tidak ya jangan ikut gerbong para penghujat dan para pengumbar kebencian. Sungguh itu hanya mengotori dunia medsos saja. Kalau orang Surabaya akan bilang begini : Wis gak ngewangi, kakehan cocot. 😁
Surabaya, 16 Juli 2025
Satria Dharma