Kasus Vina Cirebon yang semakin lama semakin rumit mengingatkan saya akan buku “The Invisible Gorilla” yang diterbitkan pada tahun 2010 yang ditulis bersama oleh Christopher Chabris dan Daniel Simons. Dalam kasus Vina Cirebon akan terjadi adu rekayasa kasus dengan menggunakan saksi-saksi, baik yang mengalami sendiri peristiwanya mau pun saksi sekunder. Kesaksian pelaku atau pun saksi sekunder bisa benar dan bisa juga bohong. Dan itu pun bisa direkayasa. Intinya, tidak seorang pun yang bisa dianggap sebagai saksi yang paling akurat kebenaran kesaksiannya meski pun orang-orang tersebut berada di tempat kejadian dan bahkan mengalami sendiri peristiwanya. Kesaksian mereka bisa benar-benar terjadi tapi juga bisa saja merupakan ilusi, meski pun mereka adalah saksi kunci, pelaku peristiwa, atau pun saksi sekunder.
Buku The Invisible Gorilla ini menjelaskan bahwa kita bisa ditipu oleh ilusi kita.
Christopher Chabris dan Daniel Simons memenangkan Hadiah Ig Nobel di bidang Psikologi pada tahun 2004 atas eksperimen mereka yang menunjukkan betapa kita bisa tidak jeli dan ditipu oleh ilusi kita. Mereka melakukan eksperimen di mana mereka menunjukkan kepada orang-orang video pertandingan bola basket. Responden diminta untuk menghitung berapa banyak operan yang dilakukan oleh pemain berbaju putih, dan mereka diminta untuk mengabaikan pemain berbaju hitam. Selama permainan, seorang siswa yang mengenakan kostum gorila berjalan ke tengah lapangan sambil melambaikan tangannya ke arah kamera. Ini tentu peristiwa yang sangat aneh di mana ada gorilla berjalan ke tengah lapangan permainan bola basket dan melambaikan tangannya.
Responden kemudian ditanyai berapa banyak operan yang dilakukan, dan apakah terjadi sesuatu yang tidak biasa atau aneh dalam video tersebut. Sekitar separuh pemirsa, tidak peduli dari kelompok demografi atau negara mana mereka berasal, ternyata tidak melihat gorila tersebut. Gorila tersebut TIDAK TAMPAK oleh mereka. Gorila berjalan di tengah pertandingan bola basket tapi separoh dari responden tidak merasa melihatnya karena mereka fokus pada perintah untuk menghitung operan bola. Sesuatu yang sangat aneh dan sangat jelas dan sebenarnya kita lihat dan ada di depan mata kita tapi kita TIDAK MEMERHATIKANNYA dan ketika kita ditanya kita menjawab bahwa kita TIDAK MELIHATNYA. Ini menunjukkan bahwa kita bisa ditipu oleh ilusi kita. Kita bahkan bisa mengarang-ngarang kisah yang tidak pernah terjadi tapi kita pikir bahwa kita mengalaminya sendiri sebagai peristiwa pribadi.
Dalam buku “The Invisible Gorilla”, penulisnya mengidentifikasi enam ilusi yang membuat kita melebih-lebihkan kekuatan pikiran kita; ilusi perhatian, sebab, kepercayaan diri, pengetahuan, ingatan dan potensi. Artinya, manusia BERPIKIR atau MENGIRA bahwa mereka memperhatikan dan mengetahui lebih banyak daripada yang sebenarnya, mengingat lebih akurat, dan mempunyai potensi untuk meningkatkan diri lebih dari yang sebenarnya. Padahal kita bisa sangat salah dan ditipu oleh ingatan kita. Kita bahkan bisa ditipu oleh KENANGAN PALSU.
Kenangan palsu tentang peristiwa emosional umumnya tidak berbahaya, namun kadang-kadang bisa menghancurkan kehidupan. Helen Paterson, dosen psikologi forensik di Universitas Sydney, telah menunjukkan bagaimana ingatan palsu dapat tercipta pada saksi kejahatan. Sebuah penelitian yang dilakukannya, di jurnal Psychology, Crime & Law, menemukan bahwa orang akan mengadopsi ”ingatan” dari saksi lain meskipun mereka telah diperingatkan tentang fenomena tersebut sebelumnya.
Dia meminta siswa untuk menonton video suatu kejahatan, kemudian mendiskusikannya dengan orang lain, yang mungkin pernah melihat video yang berbeda. Dia memperingatkan beberapa siswa bahwa diskusi tersebut mungkin mempengaruhi apa yang mereka yakini telah mereka lihat.
Seminggu kemudian mereka ditanya apa yang terjadi. Mereka juga ditanya apakah mereka “mengingat” atau sekadar “mengetahui” fakta, untuk melihat apakah mereka bisa membedakan antara apa yang mereka lihat dan apa yang diberitahukan kepada mereka.
Hasilnya mengkhawatirkan…
Orang-orang yang pasangan diskusinya pernah menonton video berbeda lebih cenderung melaporkan melihat hal-hal yang tidak ada dalam video mereka, terlepas dari fakta bahwa mereka sudah diperingatkan bahwa hal ini bisa terjadi. Dan 67 persen mengatakan mereka secara sadar “mengingat” daripada “mengetahui” setidaknya satu informasi yang salah. Kita mencampuradukkan apa yang kita lihat dan alami dengan apa yang dilihat dan dialami oleh orang lain dan kita akan bersikeras bahwa itulah yang kita lihat dan alami. Kita DITIPU oleh ingatan kita sendiri. Jadi pengadilan jangan terlalu mengandalkan pada pernyataan saksi mata karena ingatan mereka tidak dapat diandalkan. Ini tidak berarti bahwa saksi akan berbohong tapi ingatan manusia itu memang tidak dapat diandalkan.
Ada peristiwa yang sangat terkenal dalam hal ini, yaitu ketika Hillary Clinton dianggap berbohong atas sebuah peristiwa yang katanya dialaminya.
Pada kampanye tahun 2008, Hillary Clinton menyampaikan pidato yang menggambarkan pendaratan dirinya di Bosnia di bawah tembakan penembak jitu. Dalam pidatonya di Washington pada tanggal 17 Maret Hillary menyatakan: “Saya ingat mendarat di bawah tembakan penembak jitu. Seharusnya ada semacam upacara penyambutan di bandara, namun kami malah berlari dengan kepala tertunduk untuk masuk ke dalam kendaraan untuk sampai ke markas kami.”
Ketika The Washington Post menyelidiki kisahnya, para reporternya menemukan rekaman yang menunjukkan dia berjalan dengan tenang melintasi jalanan. Jadi pernyataannya itu tidaklah benar. Tidak ada kasus tembakan penembak jitu di mana ia harus berlari dengan kepala tertunduk. Rekaman pendaratannya membuktikan bahwa penyambutannya baik-baik saja dan ia melangkah dengan tenang. Orang-orang, terutama saingan politiknya ketika ia mencalonkan diri menjadi calon presiden AS jelas menuduhnya berbohong. Tim kampanye saingannya dari Partai Demokrat, Barack Obama, menuduh Hillary berbohong dengan pengalamannya ketika di Bosnia. Jejak dijital membuktikan kepalsuan pernyataan Hillary.
Tapi Chabris punya pendapat lain. Hillary mungkin terkena KENANGAN PALSU.
Chabris yakin kenangan palsu terjadi pada “semua orang sepanjang waktu”. “Perbedaan antara Hillary Clinton dan Anda dan saya adalah dia memiliki orang-orang yang selalu menulis semua yang dia katakan,” katanya. “Mungkin saja dia berbohong, tapi kemungkinan besar dia memiliki ingatan yang salah. Tapi pikiran pertama yang terlintas di kepala orang-orang bukanlah bahwa dia memiliki ingatan yang salah, itu adalah ‘Oh, dia pembohong’ atau ‘Oh, ada sesuatu salah dengan pikirannya atau dia sakit jiwa’.”
Chabris yakin ingatan yang salah mungkin menyebabkan Hillary Clinton kalah dalam pencalonan presiden dari Partai Demokrat dari Barack Obama. Dia dianggap sebagai seorang pembohong. Padahal mungkin itu hanyalah ILUSI dari kenangan palsu.
Chabris berharap bukunya ini akan membantu orang menjadi lebih sadar akan ilusi semacam itu, baik dalam pikiran mereka sendiri maupun pikiran orang lain. “Kami berharap mereka tidak akan memandang perilaku orang lain dengan begitu kasar dan berasumsi bahwa orang tersebut berbohong, tidak kompeten, atau mempunyai motif jahat, padahal kenyataannya itu hanya cara pikiran bekerja.”
Surabaya, 24 Juni 2024
Satria Dharma