Minggu, 16 Desember 2019
Just another WordPress site
THE GREATEST DEBATE EVER…

Alkisah…

Di sebuah propinsi entah berentah terjadi pemilihan gubernur yang mengharuskan paslonnya berdebat. Maka paslonnya pun berdebat berkali-kali. Tapi ternyata argumen debat mereka kurang berisi dan normatif belaka sehingga para pendukung masing-masing tidak puas dan bosan. Mereka berteriak “Huuuu…! Boring mekingking…!” teriak mereka. Mereka ingin sebuah debat yang benar-benar bisa membuat para pendukung dan penonton puas dan orgasme.

Karena kurang puas dengan debat pasangan calon gubernur mereka, akhirnya para pendukungnya mengusulkan agar ada debat antar pendukung. The greatest debate ever…! Bukankah biasanya supporter lebih menguasai teknik bermain bola ketimbang pemain bolanya sendiri? Dengan kemampuan imajinasi para supporter maka gol-gol indah dengan mudah bisa diceploskan ke gawang lawan. Diusulkan agar dari kedua belah pihak (dalam hal ini saya beri nama Kubu Ahong dan Kubu Aries agar memiliki kemiripan dengan kehidupan di dunia nyata) mengajukan satu pendebat paling top masing-masing untuk diadu kehebatannya. Mereka akan berdebat disiarkan oleh semua televisi baik yang berpihak mau pun yang netral . Semua setuju…

Tidak lama kemudian dari pihak Ahongers sudah mengajukan seorang calon pendebat. Calon ini  namanya Prof George Gandoz.  Ia seorang jenius lulusan luar negeri dengan dua gelar PhD, tiga gelar Master , semua dengan nilai Summa Cum Laude, dan merupakan dosen dengan jabatan professor pada jurusan hukum di sebuah perguruan tinggi paling ternama di Amerika. Prof George Gandoz  ini reputasinya sudah sangat dikenal dan tidak diragukan lagi. Ia seorang pendebat tak terkalahkan selama ini. Ia mampu mematahkan argumen semua lawan debatnya yang ganas-ganas  dengan mudah. Bahkan katanya ia pernah menantang debat seorang ulama bernama Zukar Nike dari Zimbabwe dan si ulama tidak berani meladeninya. Padahal reputasi Zukar Nike ini juga ngedap-edapi.  Almukarrom Zukar Nike sudah pernah menonton video si professor waktu menguliti lawan-lawan debatnya dan ia bergidig. Serangan argumen si professor ini sangat telengas, beracun sangat keras, dan bisa datang dari arah yang tidak terduga. Si Profesor ini bahkan katanya menantang Manny Pacquiao berdebat karena sudah tidak ada lagi yang berani melawannya.

Pendukung Aries ternganga melihat calon pendebat dari Ahongers dan tidak menyangka bakal harus menghadapi Professor George Gandoz. Mereka bingung mencari lawan yang sebanding untuk Prof. George Gandoz ini. Tak ada yang berani maju melawannya. Akhirnya mereka menayangkan iklan untuk mencari lawan debat bagi Prof George Gandoz ini. Ada beberapa pendebat yang mengajukan diri tapi semuanya tidak sebanding dengan Prof George ini. Pada hari terakhir tiba-tiba masuk telpon dari seorang pelamar yang mengaku bernama Drs. Ec.. Wanpir yang menjanjikan akan bisa mengalahkan Prof. George dengan mudah. “Saya akan mematahkan setiap argumen Prof George Gemboz itu cukup dengan satu, dua, dan maksimal tiga kata saja,” demikian katanya sambil menghina calon lawannya.

Baca juga:  "A Life Less Ordinary"

Pendukung Aries bersorak. Jika ada orang yang berani melawan dan bahkan menjanjikan mematahkan argumen Prof George Gandoz dengan maksimal tiga kata berarti orang ini besar kemungkinan keturunan alien.  Bukankah alien katanya memiliki kecerdasan yang jauh lebih tinggi daripada manusia biasa? Bahkan katanya Candi Borobudur dan Piramida Mesir itu dibangun oleh para alien. Apalagi ternyata Drs. Ec. Wanpir ini sangat misterius dan tidak diketahui almamater mana (ada desas-desus bahwa ia sebenarnya lulusan UNE ESA (Universitas Negeri Etane Surabaya).  Setelah didesak akhirnya Drs. Ec. Wanpir menjelaskan bahwa nama panjangnya adalah Doktorandus Ece Wani Piro. Doktorandus Ece ini maksudnya doktorandus yang suka mengece atau mengolok-olok orang. Sedangkan Wani Piro adalah semboyan hidupnya.

 

Singkat kata singkat cerita, perdebatan akhirnya dimulai. Berhadapanlah Prof George Gandoz dengan Drs. Ec.  Wanpir di televisi dengan ditonton oleh tujuh juta umat Islam dan entah berapa juta umat lain, termasuk umat Islam yang sudah dicap kafir dan munafik. Aturannya Prof George Gandoz akan memberikan satu pernyataan dan kemudian akan disanggah oleh Drs. Ec. Wanpir. Prof George akan beri pernyataan lagi dan akan disanggah lagi oleh Drs. Ec. Wanpir, begitu seterusnya.

 

Perdebatan dimulai. Penonton menahan napas. Prof George Gandoz lempar pernyataan.

GG         : Ahong adalah pemimpin yang hebat.

Meski pun kelihatannya kalimat ini remeh dan sederhana tapi ini jelas sebuah pancingan berbahaya karena jika dibantah maka Drs. Ec.  Wanpir harus memberi argumen yang lebih kuat untuk membantahnya. Dan itu akan sangat sulit karena Ahong memang pemimpin yang hebat. Itu fakta yang sudah diketahui oleh semua orang. Semua penonton, utamanya penggemar Aries, menunggu jawaban dari Drs. Ec.  Wanpir.

WP         : Preeet…!

Ternyata Drs. Ec. WP hanya menjawab singkat sambil tertawa dengan ekspresi menghina. Tapi itu telak sekali. Siapa mengira bahwa hanya dengan mengatakan ‘Preeet’ maka argumen Prof GG langsung terbanting.  Penonton, khususnya pendukung Aries, bersorak gemuruh tidak menyangka bahwa Drs. Ec.  WP menjawab hanya dengan satu kata. Prof George Gandoz terbelalak tidak menyangka argumennya dipatahkan dengan begitu mudah.

GG         : Ahong itu adalah pemimpin yang dicintai oleh warga.

WP         : Jare sopo?

GG         : Hasil penelitian dan polling dari berbagai lembaga survei menyatakan bahwa Ahong adalah pemimpin yang dicintai oleh warga. Anda tidak akan bisa membantahnya.

WP         : Iku lak jaremu.

GG         :  Jika kita melihat angka-angka statistik yang dirilis oleh lembaga terpercaya dari dalam dan luar negeri maka kita akan melihat bukti-bukti yang menunjukkan bahwa Ahong adalah pemimpin yang diharapkan untuk tampil kembali memimpin ibukota.

Baca juga:  CADAR OR NOT (PART 5)

WP         : Mbhelgedez…!

Sungguh tak diduga bahwa Drs. Ec. Wanpir mampu menghalau semua argumen yang diberikan oleh Prof George Gandoz hanya dengan satu, dua, dan tiga kata saja. Dan kata-kata itu sama sekali tidak terduga dan diluar nalar Prof George Gandoz. Prof George Gandoz terkesiap dan mulai muncul ketakutan dalam hatinya. Tidak dinyana…!

GG         : Apa argumen yang bisa Anda ajukan untuk menyangkal reputasi yang dimiliki oleh Ahong yang begitu dicintai oleh warganya itu?

WP         : Entut berut..!

GG         : Warga akan sangat rugi jika Ahong tidak terpilih lagi karena ia adalah representasi dari harapan masa depan warga. Semua orang yang waras tentu akan mengharapkan seorang pemimpin yang akan mampu membangun dunia yang lebih kondusif…

WP         : Badoken dewe…!

GG         : Para pengamat dari berbagai negara menyampaikan pujiannya atas upaya Ahong dalam memberantas korupsi di lembaganya. Apa pendapat Anda?

WP         : Ra ngandhel.

GG         : Tapi menurut ilmu ipoleksosbud terbaru dari Universitas Haprat, di mana saya mengajar, apa yang dilakukan oleh Ahong sudah sangat tepat dan menjanjikan perubahan yang nyata.

WP         : Ra patheken…

GG         : Proyek reklamasi yang dituduhkan…

Belum lagi Prof George Gandoz menyelesaikan kalimatnya sudah disambar oleh Drs. Ec. Wanpir

WP         : wes ewes…!

Bertubi-tubi serangan dari Prof George Gandoz dengan berbagai argumen yang hebat-hebat belaka tapi ternyata bisa ditepis dengan mudah oleh Drs. Ec.  Wanpir hanya dengan satu, dua, atau tiga kata saja. Prof George Gandoz kehilangan akal. Keringatnya bercucuran dengan deras, mukanya memerah, dan tubuhnya gemetaran. Apa pun jurus yang ia keluarkan bisa dihalau dengan satu, dua, atau tiga kata tak terduga dari Drs. Ec.  Wanpir. Pendukung Prof  George Gandoz terdiam seribu bahasa sementara pendukung Prof Wanpir bersorak sorai gembira. Mereka tidak menyangka bahwa Prof George Gandoz yang begitu ganas ternyata bisa ditekuk menjadi origami oleh Drs. Ec. Wanpir.

Semua argumen canggih Prof George Gandoz bisa ditangkis hanya dengan kata-kata : seperti : sudi men, ra nggagas, cah gemblung, wes ewes, blukuthuk, kowe ra nggenah, dlsb.

Prof George Gandoz berupaya mengumpulkan lwekangnya dan kemudian menyemburkan argumen terbaiknya.

GG         : APBD tahun 2017 ini telah dikunci dengan tiga password dan…

WP         : Makmu kiper…!

GG         : Para marbot telah dijanjikan untuk umrah dan sekaligus rekreasi ke…

WP         : Makmu kancutan seng…!

Begitu mendengar kalimat  ‘makmu kancutan seng’ seketika itu juga Prof George Gandoz jatuh menangis dengan air mata yang bercucuran tanpa dapat ia tahan lagi. Ia membayangkan maknya menjadi kiper dengan memakai kancut seng. Tentulah itu sebuah penderitaan yang luar biasa. Menjadi kiper dengan memakai kancut spandex saja susah apalagi dengan kancut seng. Sungguh kejam pelatih yang menyuruh maknya seseorang memakai kancut seng tersebut. Seketika itu juga Prof George Gandoz menyerah dan mengaku kalah. Baginya lebih baik kalah daripada maknya dikancuti seng. Baginya sorga terletak di bawah kaki ibu (dan tidak pakai kancut seng).

Baca juga:  Gak Usah Kuliah Segala...

Begitulah…

Perdebatan ini akhirnya dimenangkan oleh Drs Ec. Wanpir dengan telak (meski pun ada lembaga yang merilis bahwa skornya 57% untuk Drs Ec. Wanpir dan 43% untuk Prof George Gandoz. Tapi iku lak jaremu…).

Prof. George Gandoz mengaku kalah dengan jentelmen. Ia mengajak bersalaman dengan Drs. Ec. Wanpir dan diterima dengan baik. Mereka berangkulan dan fotonya dishare di dunia maya sebanyak 6.548 kali. Sejak itu dunia persilatan kembali menjadi tenang.  Tidak ada lagi yang suka berdebat apalagi sampai mengafir-ngafirkan pihak lain. Jenazah yang tidak disalatkan benar-benar memang tidak perlu disalatkan karena rencananya mau diperabukan oleh keluarganya yang Konghucu. Yang jadi guru kembali mengajar, yang ngarit kembali ngarit, yang jual pentol kembali jual pentol. Everybody lives happily ever after.

Tamat.

 

NB :

Disclaimer :

Semua yang terjadi di atas hanyalah khayalan belaka. Saya sengaja memakai nama Ahong dan Aries agar para pembaca mengasosiasikannya dengan pujaan hati masing-masing di dunia nyata. Dengan demikian secara psikologis pembacanya akan merasa terlibat dalam perdebatan tersebut. Tapi, sumpah disambar menjangan, kisah ini tidak ada hubungannya dengan mereka berdua.  Nama ‘Ahong’ kebetulan mirip dengan ‘Ahok’. Tapi ‘Ahong’ berakhiran ‘ng’ (nasal sound) sedangkan ‘Ahok’ berakhiran ‘k’ (glottal stop). Nama ‘Aries’ pun begitu. Dia pakai huruf ‘r’ (rolled ‘r’), sedangkan ‘Anies’ pakai huruf ‘n’ (sengau).

 

Terjemahan.

Jare sopo?          : kata siapa?

Iku lak jaremu   : Itu kan katamu

Mbhelgedez      : Ini adalah kata kuno yang mungkin berasal dari jaman prasejarah. LIPI masih meneliti apa sebenarnya artinya

Entut berut         : kentut yang (mungkin) berasal dari Beirut.

Badoken dewe : makanlah sendiri

Ra ngandhel       : tidak percaya

Cah gemblung   : Anak gila

Ra patheken      : tidak butuh

Wes ewes           : semacam ungkapan untuk menyatakan ‘bablas angine’ alias angin yang pergi tanpa minta ijin (atau semacamnyalah)

Makmu kiper     : ibumu penjaga gawang

Makmu kancutan seng  : ibumu… (sebaiknya tidak saya terjemahkan. Ini olok-olok khas Suroboyoan yang sungguh mbencekno dan mangkelno ati).

 

Surabaya, 23 April 2017

 

Salam
Satria Dharma
https://satriadharma.com/

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *