Sabtu, 23 Februari 2020
Just another WordPress site

Pernahkah Anda bertanya-tanya dalam hati dimana sekarang teman-teman sekolah Anda dulu, 10 … 20… 30 tahun yang lalu? Dimana mereka sekarang berada dan apa pekerjaan mereka? Saya sering bertanya-tanya dalam hati saya kemana perginya teman-teman sekolah saya dulu ketika SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi. Kalau teman-teman kuliah masih bisa saya jejaki sebagian meski banyak juga lainnya yang saya tidak tahu informasinya. Saya bahkan sering menghubungi mereka satu persatu jika saya mampir ke Surabaya dan kamipun mengadakan reuni kecil-kecilan. Saat-saat yang selalu menyenangkan bertemu dengan teman-teman lama. Tapi teman-teman SMA? Hampir tidak ada satupun yang saya ketahui kemana perginya mereka sekarang. Saya benar-benar kehilangan jejak dan tidak tahu kemana harus mencari mereka.

Tapi kemarin secara tidak terduga saya menemukan salah seorang teman sekolah SMA saya, Martin namanya. Bukan benar-benar teman melainkan salah seorang siswa SMA dimana kami sama-sama bersekolah dulu. Ia satu tingkat dengan saya meski ia di jurusan IPA dan saya di jurusan Sosial. Ia adalah ‘the brightest student’ di sekolah. Ia begitu populernya sehingga hampir setiap siswa mengenalnya. Bahkan rumor mengatakan bahwa ia sering membuat para guru berkeringat dingin kalau mengajarnya karena saking pintarnya ia.

Waktu itu saya lulus SMA jurusan Sosial dengan nilai terbaik. Bukan karena saya cerdas atau bekerja keras untuk itu tapi lebih karena begitu rendahnya motivasi dan prestasi teman-teman saya di jurusan Sosial waktu itu. Siswa-siswa bermotivasi dan berprestasi terendah biasanya dijadikan satu di jurusan tersebut dan diajar oleh guru-guru yang sama kualitasnya. Begitu kaburnya tujuan sekolah kami sehingga kami mengembangkan kesenangan untuk membuat para guru kami marah besar atau menangis jika mengajar kami. It was more a hell than a classroom.  Para guru selalu mencari alasan untuk tidak masuk ke kelas kami dan kami dengan senang hati memberi mereka alasan untuk itu. Satu-satunya ‘literatur’ yang bisa kami nikmati di kelas adalah cerpen stensilan dengan cerita paling jorok yang bisa Anda bayangkan. Saya masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana ekspresi wajah teman-teman perempuan kami ketika pertama kali membaca ‘literatur’ tersebut di kelas. Wajah mereka berubah menjadi traffic light, merah-kuning-hijau berganti-ganti. Full adrenaline. Ekstra kurikuler paling populer adalah bolos bareng-bareng untuk taruhan di rumah bilyar dekat sekolah.

Baca juga:  APAKAH TUHAN HENDAK MEMBERKAHI INDONESIA (ATAU SEBALIKNYA INGIN MENGHANCURKANNYA)?

Untuk praktek pelajaran ‘human relations’ dan ‘etiquette’ malamnya kami kumpul lagi untuk beramah-tamah dengan para waria di tempat mereka biasa mangkal. You don’t really need to work hard to be the best.

Tapi itu jurusan IPS. Di jurusan IPA profil siswanya berbeda 180 derajat. Jurusan IPA adalah tempat bagi para ‘putra harapan bangsa’ berkumpul. Di pundak merekalah cita-cita bangsa dan negara dibebankan. (Thanks God we don’t belong to them!). Siswa-siswa berlomba untuk berprestasi menjadi yang terbaik dalam segala bidang, termasuk dalam bidang sastra  dimana seharusnya jurusan IPS yang berbicara. Banyak teman-teman sekolah kami yang mendapatkan bermacam-macam penghargaan atas prestasi mereka. But Martin ‘The Genius’ is the superstar among the stars.
Saya lulus terbaik di kelas ‘neraka’ tersebut dengan nilai yang cukup membuat saya bangga karena bertaburan dengan nilai 8 dan ada satu nilai 9, yaitu bahasa Inggris yang memang saya sukai. Saking bangganya ijazah tersebut saya laminating dan selalu saya jadikan sebagai bukti atau dokumen resmi ‘keberhasilan’ saya di sekolah. Meski demikian, nilai saya tersebut masih belum ada apa-apanya dengan si Martin ini. Perbedaan nilai ijasah saya dengannya adalah 16 angka! Itu artinya nilainya bertaburan nilai 9 dan 10! Ia meraih nilai tertinggi yang bisa dicapai pada setiap mata pelajaran.
Untuk melengkapi kehebatannya, ia diterima di 5 perguruan tinggi ternama dimana ia mendaftar. Saat itu sistem penerimaan mahasiswanya bernama SKALU (Sistem Kerjasama Antar Lima Universitas)  dan kami boleh mendaftar pada lima universitas yang tergabung pada SKALU tersebut (sistem yang menggelikan sebetulnya). Dan ia lulus pada ke lima universitas tersebut. Ia kemudian memilih masuk ke Teknik Elektro ITB, jurusan paling bergengsi pada waktu itu. Sejak itu saya tidak pernah mendengar berita tentang dirinya lagi. Saya sendiri Alhamdulillah bisa diterima di PGSLPYD, sekolah bagi calon guru SMP, dimana seterusnya menjadi awal karir saya selanjutnya.

Baca juga:  CIUM TANGAN ALA RASUL

Sering saya bertanya dalam hati kemana nasib membawa Martin ‘The Genius’ ini setelah ia lulus dari ITB. Dengan prestasinya tersebut tentunya masa depan terbentang luas dihadapannya. Apalagi ia masuk ke jurusan paling top di ITB. Tapi saya tidak pernah mendengar beritanya karena saya juga tidak pernah berhubungan dengan satu pun teman SMA lagi.

Tiba-tiba saja saya kemarin mendapatkan informasi tentang si Martin ini di meja makan di mana anak saya sedang belajar. Karena anak saya mendapatkan kesulitan dengan mata pelajaran Fisika, padahal ia baru kelas 1 SMP (like father like son, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, dll.) maka saya memanggilkan guru les Fisika untuknya. Ketika selesai belajar itu saya kemudian ikut duduk bersama mereka sambil melihat buku Fisika yang dipakai anak saya. Ternyata pelajaran Fisikanya sudah begitu sulit dan banyak materinya sehingga begitu melihat beberapa halaman saja saya sudah merasa mual. Pantas anak saya juga sudah putus asa mempelajarinya! Memberi materi yang begitu banyak dan begitu sulit bagi anak berusia 12 tahun bagi saya is almost a crime.

Nah! Ketika iseng membaca riwayat hidup penulis buku Fisika tersebut tiba-tiba saya sadar bahwa penulisnya ternyata adalah si Martin teman satu SMA saya dulu. Ia memperoleh gelar insinyur maupun masternya dari ITB. Setelah lulus dari Teknik Elektro ITB ia kemudian menjadi pengajar di perguruan tinggi dan juga mengajar mahasiswa yang akan kuliah ke luar negeri. Dari riwayat hidup yang tertulis disebutkan bahwa saat ini ia memiliki lembaga bimbingan belajar dengan namanya sendiri di Bekasi.  Terjawab sudah satu misteri yang ada di benak saya selama ini!

Saya gembira mengetahui bahwa Martin ‘the genius’ sekarang berprofesi sebagai guru dan penulis buku pelajaran Fisika. Berdasarkan guru Fisika anak saya bukunya bagus dan digemari karena mudah dipahami (not for me!) dan komprehensif (sangat tebal, tepatnya). Ia tentulah seorang guru dan penulis buku yang baik karena ia sangat menguasai materi yang ia tulis maupun ajarkan. Dengan kecerdasan dan pengetahuannya yang dalam dan keluasan pengalamannya selama bergelut dengan materi pelajaran Fisika ia tentu bisa menulis buku dan mengajarkannya dengan sangat baik pula. Ia adalah figur guru ideal dalam khayalan saya. The smartest student with the best education to become a teacher. Saya membayangkan seandainya saja profesi guru di negeri kita diisi oleh orang-orang terbaik seperti Martin ini maka pendidikan kita tentunya akan jauh lebih baik daripada sekarang. Para guru kita akan berasal dari siswa-siswa terbaik di sekolah menengahnya, ditempa penguasaan materi bidang studinya di perguruan tinggi terbaik, macam ITB umpamanya, dan diberi pelatihan pedagogik terbaik (saya tidak akan merekomendasikan perguruan tinggi dimana saya dicetak jadi guru) dan setelah itu diterjunkan ke sekolah-sekolah untuk mengajar. Inilah impian yang sedang dijalankan oleh Malaysia dengan program ‘super teacher’nya. Malaysia merekrut sekitar 100 siswa-siswa terbaik dari sekolah menengahnya setiap tahun yang kemudian diberi bea-siswa untuk menuntut ilmu di sekolah terbaik di Malaysia dan kemudian dikirim lagi ke luar negeri selama dua tahun sebelum diterjunkan ke sekolah-sekolah untuk mengajar menjadi ‘super teacher’. Mereka berharap dari guru-guru super ini akan dapat dididik murid-murid super pula. Saat ini mereka sudah mencetak sekitar 500 orang ‘guru super’ semacam ini. Bayangkan impaknya pada kualitas pendidikan di Malaysia nantinya!

Baca juga:  JALAN-JALAN KE JEPANG (Bagian 3) : The Most Beautiful Mountain I’ve Ever Seen

Meski Indonesia belum punya program seperti itu tapi mengetahui bahwa Martin ‘The Genius’ menjadi guru adalah kegembiraan yang luar biasa bagi saya. Kegembiraan lainnya adalah karena saya bisa mengatakan dengan bangga pada anak saya dan guru Fisikanya,”Saya kenal dengan penulis buku ini! Ia adalah teman sekolah saya dulu. Maksud saya, kami satu SMA dulu. Ia adalah siswa paling pintar di sekolah kami.” I wish I knew him better so I can tell more about him. Mudah-mudahan saja anak saya bisa menahan dirinya dan tidak berkomentar :”Bapak mau numpang beken ya!”

Balikpapan, 6 Desember 2005

Satria Dharma

0 tanggapan untuk “”

  1. ibnu dar berkata:

    mas dharma,
    kemana sih orang setelah belajar, belajar untuk belajar saja saya pikir tidak bukan. btw tentang bimbel, mungkin mas dharma benar tapi tidak 100% menurut saya. “Where am I going with it? Bimbel is not an education”. bagaimana dengan model homeschooling, bagaimana pula dengan guru yang “nyambi” jadi guru les? oke mas dharma, terlepas dari itu aku salut mas dharma punya keberanian melepas bimbelnya

  2. Muly De La Vega berkata:

    Mas, saya yakin benar bahwa apa yang Anda tulis di sini adalah pengalaman yang Anda alami. Namun, apakah Anda pada akhirnya adalah orang yang berpandangan bahwa ilmu sosial, para siswa jurusan ilmu sosial, dan bidang kajian ilmu sosial adalah obyek yang berkasta paria?
    Dari penuturan Anda, saya merasakan bahwa inferiority complex menyelubungi Anda bersamaan dengan pujian tulus yang diberikan pada teman Anda bernama Martin yang jenius itu. Memang benar bahwa selama ini jurusan ilmu sosial beserta para peserta didiknya mengalami perlakuan yang jauh dari adil. Para siswa yang bandel, bodoh, dan kehilangan arah serta motivasi sudah pasti disalurkan kepada jurusan ilmu sosial. Sementara, mereka yang rajin, cerdas, baik, dan berkemampuan tinggi (bahkan dalam bidang sosial dan bahasa pula) oleh penguasa sekolah melalui guru bimbingan dan penyuluhan cenderung diarahkan masuk jurusan ilmu pengetahuan alam. Padahal, pada perkembangan diri mereka selanjutnya mereka justru memilih dan menggapai prestasi bagus dalamk bidang terkait ilmu sosial dan humaniora.
    Itulah yang menjadi pangkal masalah -dan menurut pengamatan saya- sekaligus penyebab mengapa jurusan ilmu sosial pada suatu sekolah menengah umum terkesan sebagai tempat dimana keburukan berkumpul. Distribusi siswa pandai yang tidak seimbang menjadikan satu jurusan superior dan satu jurusan lagi tampak malang dan patah kakinya.
    Masalah sosial berkembang pesat dua kali lipat dari pada kemajuan teknologi. Hal ini mengandung arti bahwa pengkajian problematika kemasyarakatan melalui ilmu sosial harus selalu dilaksanakan secara serius. Kemudian, jurusan ilmu sosial harus diberdayakan. Seharusnya, para siswa yang pandai dan memiliki ketertarikan atas masalah sosial harus dicermati secara seksama potensinya untuk diberi jalan lebih luas guna masuk jurusan ilmu sosial.
    Selaku pelaku ilmu sosial, kita haruslah berperan serta mengangkat izzah (harga diri) ilmu sosial. Jika kita telah merasa inferior sejak awal serta membenarkan pandanagn bahwa ilmu sosial adalah ilmu kelas empat, berarti kita telah tersugesti dan kita kehilangan kemampuan untuk membuktikan kesetaraan manfaat ilmu kita. Kita hendaknya mengambil peran dalam upaya menanamkan persepsi bahwa ilmu sosial merupakan ilmu yang memiliki kehormatan setara dengan ilmu pengetahuan alam.

  3. Muly De La Vega berkata:

    Be Proud to be Social Sciences Students….!

    Berhari-hari terakhir ini –dan sebenarnya juga sejak beberapa bulan lalu- entah kenapa saya merasa penasaran untuk mencari situs dalam jaringan internet yang mengetengahkan diskriminasi perlakuan yang diterima oleh para siswa jurusan ilmu sosial pada khususnya serta pandangan minor terhadap ilmu sosial oleh anggota masyarakat kita pada umumnya. Setelah berulangkali saya berselancar di dunia maya, barulah hari ini (Jum’at, 27 April 2007) saya menemukan situs berupa web-log yang menurut saya amat menarik untuk dibaca. Karenanya, ucapan kagum dan salutlah yang pertama kali saya sampaikan kepada “dhanyangnya” web-log ini.
    Betapa tidak, penunggu situs ini bisa menyampaikan buah pikiran yang berasal dari “pangudarasa” (hasil perenungan) secara runtut, logis, sekaligus menarik bagi orang muda tanpa kehilangan bobot apalagi menjadi banal. Harus saya akui, saya sendiri merasa tidak mampu melakukannya. Barangkali, sesuai dengan buah pikiran Anda sesudahnya tentang ilmu padi, saya jelas-jelas orang yang belum mampu memainkan jurus padi namun acap kali dengan pongahnya merasa rendah hati. What hell am I! Saya juga harus mengucapkan terima kasih yang tak terhingga karena pada situs inilah saya menemukan tempat berbagi, terutama cerita yang saya alami dahulu dan juga sesekali masih saya alami sekarang ini.
    Kemudian, kemarin malam, Jum’at 4 Mei 2006 kembali saya temukan situs berupa web-log milik Mas Satria Dharma yang mengetengahkan tulisan tentang kekagumannya terhadap mantan rekan satu sekolahnya yang dinilai jenius, Martin Kanginan. Sebenarnya, tulisan ini tidak mengulas masalah diskriminasi perlakuan yang diterima oleh para siswa jurusan ilmu sosial. Namun, ada sekilas kisahnya yang menurut saya menarik untuk didiskusikan. Pada web-log ini pula, saya berharap nantinya komentar atau cerita mengenai masalah ini terkirim pada alamat e-mail saya. Sebelumnya, kiranya perlu diketahui bahwa saya (Muliawan Hamdani, S.E.) adalah seorang staff edukatif pada suatu perguruan tinggi swasta di kota Semarang, Jawa Tengah.

    Rasa Penasaran Saat Masih Kecil
    Sejak saya masik anak kecil tetapi rasa ingin tahu serta keinginan untuk untuk berpikir kritis sudah muncul dalam batin, saya sering kali mendengar almarhum ayah saya mengatakan bahwa ilmu sosial adalah ilmu yang tidak laku atau ora payu. Demikian pula, ungkapan yang pada intinya menyatakan bahwa ilmu sosial adalah ilmu yang remeh acap kali terlontar. Beliau menyatakan bahwa ilmu matematika dan ilmu pengetahuan alam beserta pribadi yang menguasainya adalah lebih unggul. Barangkali, almarhum ayah menyatakan demikian karena beliau mengetahui bahwa saya memang memiliki kelemahan pada mata pelajaran matematika. Padahal mata pelajaran yang lain bisa dikatakan bahwa saya adalah penguasanya. Memang, setiap orang tua pastilah memiliki naluri untuk mengupayakan kesempurnaan bagi anak-anaknya. Saya pribadi mengakui bahwa saya memiliki kelemahan untuk memahami konsep-konsep yang ditampilkan dalam mata pelajaran ini secara cepat. Sementara, untuk ilmu pengetahuan alam (sekarang dinamakan sains) saya memiliki kemampuan –atau setidaknya nilai- yang sangat bagus untuk ukuran saat itu yakni senantiasa berada di kisaran angka 8 dan 9. Sekalipun sudah berusaha keras dan kadang-kadang membuahkan nilai bagus, saya tetap merasa bahwa saya memang lemah dalam bidang ilmu ini. Namun, hati saya merasa tidak terima jika seseorang (termasuk pula saya) dikatakan under-qualified hanya karena lemah dalam bidang yang terkait dengan matematika beserta derivasinya serta ilmu pengetahuan alam. Bukankah Tuhan Yang Maha Kuasa memang menciptakan manusia dengan kemampuan yang berbeda satu dengan lainnya? Apakah Tuhan Yang Maha Bijaksana ini mentakdirkan keberadaan ilmu sosial hanya untuk bahan ejekan bagi siapa saja yang menguasai matematika dan ilmu pengetahuan alam? Ilmu kelas suderakah dan juga sialkah ilmu pengetahuan sosial itu?

    Rasa Keadilan Yang Terusik
    Pertanyaan bernada tidak terima ini terus berkecamuk dalam pikiran saya walaupun saya juga sadar bahwa kekurangmampuan saya menguasai ilmu matematika ikut berperan dalam hal ini. Rasa tidak terima ini makin menguat dan mencapai puncaknya ketika saya menempuh pendidikan di SMA II Surakarta (dari tahun 1987 hingga 1990). Mohon ma’af jika saya menyatakan nama sekolah asal secara terang karena rasa keadilan saya terusik benar! Pada saat saya masih berada di bangku kelas I, tepatnya kelas I9, guru matematika saya dengan pongahnya menyatakan bahwa IPA adalah Ilmu Paling Angel (ilmu paling sukar) dan IPS adalah Ilmu Paling Santai. Sedangkan matematika “merga angele nganti mati-matian” atau “karena sukarnya sampai mati-matian”. Ia sering kali bersikap merendahkan kepada para siswanya yang memiliki kemampuan lemah dalam bidang ilmu matematika dan merasa bangga jika para siswa merasa takut pada mata pelajarannya.
    Pada saat itu, pembagian jurusan diberlakukan ketika para siswa telah naik ke kelas II. Adapun jurusan yang ada adalah AI (ilmu fisika), A2 (ilmu biologi), A3 (ilmu sosial), A4 (ilmu bahasa), dan A5 (ilmu agama). Umumnya, suatu sekolah menengah umum pasti memiliki kelas-kelas untuk jurusan A1, A2, dan A3. Hanya sedikit diantaranya yang mempunyai jurusan A4. Sementara, hingga saya lulus pada tahun 1990, tidak ada sekolah menengah umum yang membuka jurusan A5. Sebenarnya, pembagian jurusan seperti itu juga tetap layak untuk dipertanyakan dari sisi tertentu. Misalnya saja, perbedaan antara yang dipelajari oleh para siswa jurusan A1 dan A2 hampir tidak ada kecuali selisih jumlah 2 jam lebih banyak untuk mata pelajaran fisika pada jurusan A1 dan 2 jam lebih banyak mata pelajaran biologi pada jurusan A2. Selain itu, materi yang diterima adalah sama dan mereka toh dipanggil dengan sebutan anak IPA. Bagi para siswa jurusan ilmu sosial, mereka tetap menerima mata pelajaran matematika, namun materinya disesuaikan dengan penekanan khusus pada bidang yang dipelajari dan jumlah jam tatap mukanya lebih sedikit sekalipun tetap ada materi yang sama dengan para siswa jurusan A1 dan A2. Misalnya saja, deret, dasar-dasar statistika, trigonometri, limit, integral, diferensial, serta logika matematika. Untuk mata pelajaran matematika, ternyata materi yang diberikan pada jurusan A3, A4, dan A5 tidak memiliki perbedaan. Dengan kata lain, materi yang diajarkan sama berikut buku ajar yang digunakan. Sementara, mata pelajaran sosiologi dan anthropologi juga diberikan pada jurusan A4.

    Keinginan Untuk Membongkar Anggapan
    Kurang lebih tiga bulan menjelang kenaikan kelas, ayah sudah memberikan wanti-wanti agar saya paling tidak -kata paling tidak ini didasarkan atas persepsi beliau- dapat masuk dan bergabung menjadi siswa pada jurusan A2. Semakin besar nilai tempelan angka dibelakang huruf A, justru makin menjadikan suatu jurusan dianggap rendah derajatnya. Sekali lagi, harapan ini masih saja didasarkan pada anggapan bahwa ilmu sosial adalah ilmu yang tidak laku dan remeh. Ironisnya, beliau sesungguhnya adalah seorang guru agama yang nota bene merupakan bidang ilmu yang jauh dari ilmu pengetahuan alam dan lebih dekat dengan bidang ilmu sosial atau humaniora! Bagi pihak sekolah sendiri, karena tidak ingin mengalami kesulitan dalam menentukan pembagian jurusan, dengan mudahnya kriteria yang sangat menyakitkan dan melecehkan salah satu pihak diberlakukan. Mereka yang dinilai pandai dan memiliki nilai matematika serta ilmu pengetahuan alam (terutama fisika) tinggi pastilah dikelompokkan dalam jurusan A1. Sementara, mereka yang pandai-sedang dan memiliki nilai matematika serta ilmu pengetahuan alam di bawahnya diarahkan untuk masuk dalam kubu A2. Adapun bagi jurusan A3, betapa amat menusuk rasa keadilannya kriteria yang diberlakukan untuknya. Di sini, para siswa yang dikategorikan bodoh, nakal, suka menimbulkan gaduh, kehilangan orientasi, atau frustasi dikandangkan. Kerap kali, guru mata pelajaran bimbingan dan konseling (penyuluhan) menyatakan bahwa ini adalah tempat hukuman yang layak bagi mereka. Terasa sangat perih memang!
    Berdasarkan nilai test potensi akademik, memang saya sejak awal disarankan untuk masuk jurusan A3. Namun, saya yang dikenal oleh kawan-kawan sebagai salah satu siswa yang tergolong pandai secara umum (untuk ukuran waktu itu berikut segala kondisinya yang menurut saya berat), bertekad untuk mematahkan anggapan itu. Saya ingin membuktikan bahwa jurusan ilmu sosial bukanlah tempat para siswa yang frustasi dan kehilangan arah. Ia adalah tempat bagi siapa saja yang ingin mengkaji ilmu sosial secara serius serta jurusan ini adalah sangat pantas untuk dijadikan tempat menggali potensi serta mengoptimalkan kemampuan bagi siswa yang memiliki prestasi akademik bagus. Kebetulan, di mata kawan-kawan, saya dinilai memiliki kemampuan atau bakat dan prestasi belajar bagus dalam mata pelajaran bahasa Inggris. Ketika itu, mata pelajaran bahasa Inggris merupakan mata pelajaran yang ditakuti selain matematika serta fisika. Terlebih lagi, pembelajaran bahasa Inggris tidak ditunjang dengan metode dan suasana yang menyenangkan seperti masa sekarang ini. Sehingga, bolehlah saya merasa sedikit jumawa (dalam hati) dan memiliki rasa percaya diri sekaligus bargaining power psikologis di hadapan teman-teman yang menguasai matematika dan fisika lebih baik dari pada saya.
    Karena itulah, pada saat kenaikan kelas nanti akan saya buktikan bahwa nilai beberapa mata kuliah yang menjadi syarat untuk masuk jurusan A1 dan A2 saya bagus namun saya tetap masuk jurusan ilmu sosial. Saya masih ingat benar bahwa syarat yang harus dipenuhi untuk bergabung menjadi siswa jurusan A1 dan A2 adalah harus mampu meraih nilai minimal 6 untuk mata pelajaran matematika, fisika, kimia, biologi, bahasa Inggris, dan bahasa Indonesia. Sebelumnya, saya berusaha keras memberikan argumen kepada ayah mengapa pilihan ini saya tempuh. Bersyukurlah, pada akhirnya beliau bisa menerima dan menyetujui pilihan saya terlebih karena beliau sejak awal sebenarnya mengetahui bakat dan ketertarikan saya dalam bidang bahasa Inggris dan ilmu sosial. Betapa bahagia sekaligus lega rasanya karena satu rintangan psikologis yang semula dianggap amat berat telah terlewati.
    Akhirnya, dengan perjuangan keras, do’a, dan sedikit kelancungan (yakni belajar di kala ujian tengah berlangsung) saya mampu memenuhi syarat nilai minimal untuk mata pelajaran di atas. Masih ingat dengan jelas hingga saat ini, nilai untuk mata pelajaran matematika adalah 6. Keadaan ini pada dasarnya sudah saya perkirakan sejak awal dan memang saya menyadarinya. Sedangkan untuk mata pelajaran fisika nilai 7 saya peroleh. Padahal, guru fisika pada saat itu terkenal sulit dalam menyampaikannya dan tentunya para siswa lebih sulit lagi memahaminya. Banyak diantara teman sekelas yang memperoleh nilai di bawah saya. Bahasa Indonesia, kimia, dan biologi membuahkan nilai 8. Nilai ini juga tergolong di atas rata-rata kelas. Adapun untuk mata pelajaran andalan yakni bahasa Inggris, nilai 9 adalah pengundang decak kagum dari rekan-rekan sekelas. Lebih membanggakan lagi, nilai ujian akhir semester saya adalah sempurna, yakni 10! Dari tolok ukur peringkat dalam kelas, saya juga berada dalam the big five. Lengkaplah rasa bahagia saya terlebih pada saat penerimaan rapor dilaksanakan ayah kemudian justru menasehati saya dengan panjang lebar agar saya belajar dengan rajin di jurusan A3 nantinya.

    Masa-Masa Yang Dinamis Dan Menantang
    Setelah masa liburan selama sebulan dinikmati di kampung halaman, Pacitan (saya seasal dengan Bapak Presiden, hanya beda kecamatan), tibalah saatnya untuk kembali belajar. Hari pertama belajar di kelas IIA3.3 terlewati dengan penuh keceriaan. Ada banyak teman dari satu kelas dan juga kelas lainnya yang ternyata bergabung di dalamnya. Diantara mereka, ternyata ada banyak yang memiliki peringkat bagus di kelasnya. Ketika para guru memperkenalkan mata pelajaran yang menjadi kekhususan jurusan ilmu sosial, ada rasa percaya diri membersit dalam hati karena menurut saya beberapa mata pelajaran itu pantas untuk dikatakan menarik. Ilmu tata negara, sosiologi dan anthropologi (pada saat itu keduanya digabungkan), akuntansi, ekonomi, dan bahasa asing lain (bahasa Perancis, but I have forgotten everything!) adalah menu wajib bagi saya dan rekan-rekan sejurusan. Dengan mempelajari beberapa mata pelajaran itu, tidak ada alasan untuk merasa inferior dibandingkan dengan rekan-rekan yang tergabung dalam jurusan A1 dan A2 karena kami ditantang untuk memperluas cakrawala wawasan dan analisis sosial. Di bawah curahan motivasi dari guru mata pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa, kami menjadikan jurusan IPS sebagai tempat dari Ikatan Pelajar Serius. Matur nuwun sanget, Bapak!
    Begitu pula, pada saat Ibu Nira Zacharie membawakan mata pelajaran bahasa Perancis, suasana riuh-rendah dari setiap kelas terdengar karena kami semua harus belajar mengucapkan kata-kata dalam bahasa yang menurut kami mirip suara makhluk dari planet Merkurius. Seringkali, gelak tawa terdengar manakala kami harus mengucapkan sepatah kata dalam bahasa Perancis yang menurut kami mirip dengan kata dalam bahasa Jawa atau Indonesia yang kocak. Misalnya saja, “Oui, tui oussi!” (Ya, kamu juga!). Kami tertawa geli karena kata “Oussi” terdengar mirip “Oshin” (Oshin adalah drama seri dari Jepang mengenai seorang wanita yang tegar mengarungi kehidupannya dan kala itu disulihsuarakan dalam bahasa Inggris bukan bahasa Indonesia. Anda pernah menyaksikan ketika masih kecil dahulu?). Sedangkan mata pelajaran bahasa Inggris untuk kami diberikan dalam jumlah jam lebih banyak dari pada yang diterima oleh rekan-rekan yang berada dalam jurusan A1 dan A2. Sekali lagi, tidak ada alasan untuk merasa dan dinilai inferior. Dalam pergaulan sehari-hari di luar kelas, ada sangat banyak rekan-rekan dari kedua jurusan itu yang merasa nyaman bergabung dan berinteraksi secara pribadi bersama kami. Itulah kenikmatan dan kebanggaan yang kami semua rasakan.
    Pernah saya memperoleh pelajaran berharga dimana ia datang karena rasa percaya diri yang berlebihan. Karena merasa berasal dari kelas I dengan tingkat persaingan yang ketat, memiliki peringkat bagus pada kenaikan kelas, dan menguasai bahasa Inggris lebih baik dari teman-teman sekelas, saya merasa arogan dalam hati dan yakin bahwa saya pasti keluar sebagai juara pada pembagian rapor pertengahan semester. Kegiatan belajar sedikit saya kendorkan. Tetapi, apakah yang terjadi? Ternyata, pada saat rapor pertengahan semester dibagikan, jangankan peringkat pertama, peringkat sepuluh besar saja tidak teraih. Saya terlempar pada peringkat keenambelas dari 48 siswa. What a very big shame for me! Peringkat pertama diraih oleh teman saya yang baik hati dan manies, Ulia Nurhayati. By the way, Ulia, how are You and where are You now! Thank’s for your sweet and delicious mangoes!
    Dengan didorong oleh rasa takut mengecewakan orang tua, saya segera bangkit. Siang dan malam saya belajar keras, termasuk mempelajari apa yang belum disampaikan oleh para guru. Saya berdo’a memohon dengan sangat pada Tuhan agar Tuhan bersedia mengembalikan kejayaan yang pernah saya miliki agar orang tua yakin bahwa pilihan saya tidak salah. Sisa waktu dua bulan benar-benar saya gunakan secara penuh hanya untuk bersekolah dan belajar di rumah. Untunglah Tuhan mengabulkannya. Walaupun bukan peringkat pertama, tapi juara III sudah merupakan bukti peningkatan prestasi. Sehubungan dengan pelajaran berharga yang pernah saya alami, saya berpesan pada Anda semua agar Anda jangan pernah merasa jumawa karena potensi kelebihan yang dimiliki. Tuhan Maha Bijaksana ketika Ia menggariskan suatu bentuk lakon. Tak terkecuali pada mereka yang memiliki skor 130 ke atas setelah tingkat intellegence quotientnya diuji. Ia bisa saja memilih orang yang rendah hati dan tekun untuk jadi pemenang. Lagi pula, Ia memiliki kuasa atas segalanya. Kita tidak memiliki hak untuk mencerca apa yang digariskanNya hanya karena dalam keseharian kita merasa lebih cerdas, lebih mudah menangkap pelajaran, atau lebih memiliki wawasan.

    Kenapa Ketidakadilan Itu Masih Terjadi?
    Akan tetapi, dua tahun menempuh studi dalam jurusan ilmu sosial masih juga juga menjadi masa yang menyakitkan serta mengusik rasa keadilan bagi saya dan rekan-rekan lain sesama siswa jurusan ilmu sosial. Kami tetap saja sering mendengar ucapan bernada merendahkan dari bapak dan ibu guru dan ucapan itu masih dapat saya ingat dengan jelas hingga sekarang. Misalnya saja,
    1. “Waduuhh…tobat saya kalau mengajar di kelas IPS. Ramainya bukan main…!”
    2. “Anak-anak IPA itu lho, anteng-anteng. Beda dengan anak IPS…”
    3. “Jurusan IPA itu lebih menjamin kemudahan memperoleh jalur studi dan masa depan dibanding jurusan IPS..”
    4. “Kalau anak ini nakal dan suka berbuat onar di sekolah, baiknya dijuruskan ke kelas IPS saja….”
    5. “Anak A1 dan A2 itu kalau mau nakal pasti pakai pikiran. Lain dengan anak IPS yang sering main tabrak aturan saja!”
    6. “Anak IPA pasti bisa dengan mudah masuk jurusan IPS nanti. Tapi kalau anak IPS, tidak bisa masuk jurusan IPA di UMPTN….”
    7. “Sudahlah, kalian masuk IPS ini juga karena kalian sudah tidak kuat menerima mata pelajaran matematika, fisika, kimia, atau biologi….”
    8. “Dari pada memperoleh peringkat bawah di jurusan A1 dan A2, lebih baik kalian juara di kelas A3…” *Ironisnya, ucapan nomor 7 dan 8 ini justru diucapkan oleh para guru pengampu bidang studi ilmu sosial sendiri. Sehingga, bagi kami ucapan seperti itu melemahkan rasa percaya diri kami.

    Saya pernah memimpin teman-teman untuk bersuara abstain dan menuliskan rasa kecewa di kertas suara karena merasakan upaya pengucilan peran siswa jurusan A3 saat pemilihan ketua OSIS (organisasi siswa satu-satunya yang boleh hadir di sekolah saat itu). Ketika itu, ketua OSIS lama telah habis masa jabatannya dan harus diganti oleh ketua yang baru dari kelas II. Sungguh, saya merasa marah dan terhina ketika pada saat pemilihan ternyata dari jurusan A3 tidak dimunculkan kandidat. Kami hanya diminta untuk memberikan suara bagi dua atau 3 kandidat dari jurusan A1 dan A2. Padahal, saya yakin dari jurusan A3 ini pasti ada yang memiliki kapabilitas walaupun nanti pada saat pemilihan bisa saja kalah. Menurut saya, hal ini tidak bisa diterima dan patut diprotes. Saat itu, saya meminta teman-teman yang sependapat untuk menuliskan kalimat “Kami tidak memilih karena kami kecewa sebab tidak ada calon dari jurusan A3!” di dalam kertas suara. Selanjutnya, ketika saya mencoba menemukan penyebab dari masalah itu, saya memperoleh jawaban yang mengejutkan (terlebih untuk saat ini) dari teman sekelas saya. Teman sekelas saya mengatakan bahwa sebenarnya dari jurusan A3 ada kandidat ketua OSIS (seingat saya namanya adalah Bambang Pranowo), namun ia konon terganjal karena ia beragama non Islam. Walaupun saya sendiri beragama Islam, saat itu hati saya tidak dapat menerima jalan berpikir yang menurut saya sangat picik dan bertentangan dengan prinsip keadilan. Lebih membuat kesal, teman saya itu rasanya menyetujui keadaan tersebut padahal ia juga berasal dari kelas yang sama dengan saya.
    Selaku remaja, saya juga pernah berbuat tolol karena ingin dikagumi dari sisi keberanian oleh rekan-rekan saya. Saat bulan puasa (saya tidak tahu pada hari ke berapa), dengan konyolnya karena didorong oleh bombongan dari teman-teman sepermainan, saya menyulut petasan yang cukup besar di depan kelas IIA3.2. Suara ledakan keras menggema ke seluruh penjuru dan tepuk tangan riuh mengiringi derai tawa norak saya. Tak lama kemudian, guru bimbingan dan penyuluhan melakukan penyelidikan. Tentunya, kisah selanjutnya dapat ditebak. Saya digelandang menuju ruang bimbingan dan penyuluhan. Di sana, prosedur interogasi diberlakukan. Ketika itu pula, salah seorang guru dengan nada marah dan sarkastis menyatakan “Pantas, kamu yang melakukan anak A3. Anak A3 itu tidak harus berpikir! Dasar anak IPS!”. Aduuuh, saya memang bersalah. Namun, tolonglah, jangan membawa-bawa nama jurusan ilmu sosial dalam kasus ini! Biarlah saya saya menanggung akibat kesalahan, kebodohan, dan kecerobohan itu.
    Tanpa terasa, tahun ketiga telah terlampaui. Tibalah masa ujian Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional yang mendebarkan karena menetukan kelulusan. Black out menimpa saya ketika saya mengerjakan soal mata ujian matematika. Apa yang terjadi, sungguh membuat saya tidak mengerti hingga saat ini. Memang, sejak kecil saya memiliki kelemahan dalam mata pelajaran matematika. Namun, kenapa bisa nasib apes yang keterlaluan itu terjadi? Saya telah mempersiapkan diri jauh-jauh hari dengan mengulang belajar materi dari kelas I. Seminggu sebelum ujian terlaksana, materi juga telah saya pelajari lagi. Tapi, mengapa ketika soal dibagikan, hampir tidak ada materi yang dapat saya pahami. Semuanya hilang hampir tiada bekas. Saat daftar Nilai Ebtanas Murni dibagikan, angka 3,75 tertera di samping kanan tulisan Matematika. Kapokmu kapan!! Tetapi, nilai rata-rata saya tetap 7,59 dan peringkat II jurusan A3 tetap dapat saya raih. Padahal, pemegang peringkat pertama konon memiliki skor 8 untuk mata pelajaran matematika. Sedangkan, nilai keseluruhannya hanya terpaut 0,25. Berarti, untuk mata pelajaran lain saya masih jauh lebih unggul dari padanya. Sudahlah, saya terima keadaan ini sebagai salah satu dari sekian banyak dinamika kehidupan pribadi yang harus saya tempuh.
    Seusai seremoni pelepasan siswa, langkah perjuangan yang lebih berat telah menanti. Saya dan juga beratus ribu rekan lainnya di Indonesia harus berjuang keras lagi untuk memperoleh tempat pada perguruan tinggi. Tentunya, perguruan tinggi yang dimaksudkan adalah perguruan tinggi negeri umum atau kalau memang beruntung, perguruan tinggi negeri kedinasan yang dinilai mampu memberikan kepastian masa depan. Di sela-sela upaya mempersiapkan diri dengan mempelajari kumpulan soal ujian dari tiga rayon mulai tahun 1987, 1988, dan 1989, ayah memperlihatkan kepada saya brosur penerimaan mahasiswa baru Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (sekarang, perguruan tinggi negeri kedinasan ini menjelma menjadi Institut Pemerintahan Dalam Negeri lengkap dengan kegemparan karena kasus penyiksaan mahasiswa yang terulang kembali). Ayah memiliki keinginan agar saya menempuh pendidikan tinggi pada lembaga pendidikan yang bisa memberikan kepastian perolehen pekerjaan setelah saya lulus nantinya dan mengenai hal itu saya juga sependapat. Tetapi, pada paparan yang disampaikan dalam brosur itu saya menyaksikan sesuatu hal yang membuat mata saya terbelalak dan otak saya tidak bisa berpikir apa sebabnya. Di dalamnya, disebutkan bahwa mata pelajaran yang diujikan dalam seleksi penerimaan adalah Pendidikan Moral Pancasila, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, matematika, fisika, kimia, dan biologi.
    Untuk tiga mata pelajaran pertama, saya sudah pasti maklum karena keduanya bersifat umum. Namun, untuk mata pelajaran keempat hingga ketujuh, jelas saya tidak bisa memahami landasan pemikirannya. Bagaimana bisa, Akademi Pemerintahan Dalam Negeri sudah pasti mendidik para mahasiswa dengan bidang kajian yang terkait dengan ilmu sosial, politik, hukum, dan administrasi atau manajemen. Tetapi, kenapa justru mata pelajaran matematika, fisika, kimia, dan biologi yang dijadikan tolok ukur penerimaan calon mahasiswanya? Bukankah materi perkuliahan yang dipelajari di dalamnya secara umum justru dekat sekali dari aspek jalur keilmuan dengan mata pelajaran yang telah kami pelajari pada jurusan A3 sebelumnya, utamanya ilmu sosiologi dan anthropologi, tata negara, ekonomi (karena di dalamnya juga mempelajari dasar-dasar manajemen) dan akuntansi (seandainya di dalamnya juga dipelajari aspek terkait dengan keuangan daerah)? Betapa mengherankannya. Justru para calon mahasiswa yang telah memiliki dasar-dasar pemahaman paling dekat tidak memperoleh kesempatan. Saya ingin bertanya kepada Anda dan juga siapa saja yang mengetahui hal ini. Apakah memang seperti itu mekanisme seleksi yang diterapkan bagi para calon praja Akademi Pemerintahan Dalam Negeri atau Institut Pemerintahan Dalam Negeri sekarang? Ataukah, brosur yang saya terima itu khusus bagi para calon mahasiswa dari jurusan A1 dan A2? Mohon beritahukan hal ini kepada saya!
    Seumpama Akademi Pemerintahan Dalam Negeri memang memberikan kesempatan kepada para calon mahasiswa selain dari jurusan A3, itu syah saja. Sudah lama terjadi memang, para siswa jurusan ilmu pengetahuan alam diberikan peluang lebih lebar dari para siswa jurusan ilmu sosial atau bahasa. Namun, kalau perguruan tinggi itu pada dasarnya mempelajari ilmu pemerintahan (padahal secara jelas ilmu pemerintahan merupakan ramifikasi atau percabangan dari ilmu sosial), mengapa justru bidang ilmu matematika dan juga ilmu pengetahuan alam yang menjadi tolok ukur mekanisme seleksinya? Keadaan ini sangat aneh sekaligus mengusik rasa keadilan. Untuk diketahui saja, sebenarnya dalam ujian masuk perguruan tinggi secara formal hanya ada sedikit pembatasan bagi siswa jurusan ilmu sosial untuk mengikuti seleksi masuk dalam jurusan yang dikategorikan secara administratif dalam jurusan ilmu pengetahuan alam, semisal kedokteran, pertanian, peternakan, perikanan, atau peternakan. Namun, kami memang harus tahu diri karena para siswa jurusan ilmu sosial memang memperoleh porsi pembelajaran matematika lebih sedikit dari pada para siswa dari jurusan ilmu pengetahuan alam. Sementara untuk mata pelajaran fisika, kimia, dan biologi kami sudah tidak mendapatkannya sama sekali sejak kelas II. Artinya, seandainya kami memang ingin mengikuti seleksi masuk dalam program studi terkait dengan ilmu pengetahuan alam, kami juga harus bersedia diuji dengan mata pelajaran fisika, kimia, dan biologi, serta matematikan tentunya. Namun, kenapa bagi para calon mahasiswa dari jurusan ilmu pengetahuan alam keadaan yang sama tidak diberlakukan? Dalam artian bahwa mereka diuji dengan mata pelajaran yang sebenarnya secara tipikal tergolong sebagai ilmu pengetahuan sosial yang sudah pasti dekat dengan bidang ilmu pemerintahan seperti halnya sosiologi dan anthropologi, tata negara, ekonomi, dan akuntansi. Mengapa bagi mereka justru diberlakukan keistimewaan?
    Bagi saya, kiranya tetap masuk akal kalau matematika dijadikan sebagai salah satu mata pelajaran yang diujikan karena ia adalah pelayan bagi berbagai bidang ilmu tanpa pandang ilmu pengetahuan alam atau sosial dalam rangka menciptakan kemampuan analistis dan logika. Tetapi, bagaimana dengan fisika, kimia, dan biologi? Memang, Akademi Pemerintahan Dalam Negeri memiliki hak penuh untuk memberlakukan mekanisme seleksi. Tetapi, ia harus berpikir pula dari aspek keadilan karena masalah ini sangat mendasar sifatnya.
    Anda tentunya tahu Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, perguruan tinggi negeri kedinasan yang sangat diminati sehingga setiap lembaga bimbingan belajar sampai menyelenggarakan program khusus untuk para calon mahasiswa agar dapat diterima di dalamnya? Dari beberapa jurusan yang ada di dalamnya, saya mendengar bahwa jurusan bea dan cukai hanya bisa dimasuki oleh para calon mahasiswa dengan latar belakang jurusan ilmu pengetahuan alam. Benarkah memang demikian? Seandainya apa yang saya dengar itu benar adanya, betapa ironisnya. Bayangkanlah, para siswa jurusan ilmu sosial yang jelas-jelas memiliki bekal ilmu akuntansi justru tidak diperkenankan sejak awal untuk bergabung di dalamnya. Bahwa barangkali materi perkuliahan yang diselenggarakan pada jurusan bea dan cukai adalah sarat dengan perhitungan merupakan kenyataan yang harus disadari. Namun, bukankah hal itu memang merupakan tipikal bidang ilmu akuntansi dan para siswa dari jurusan ilmu sosial juga telah berlatih selama dua tahun untuk itu selama menempuh studi? Kemudian, kenapa mereka justru didiskriminasikan?
    Memang, jurusan ilmu pengetahuan alam sejak awal telah diuntungkan oleh distribusi para siswa pandai yang banyak mengalir padanya sekaligus porsi pembelajaran matematika yang lebih banyak. Akan tetapi, seandainya jurusan ilmu sosial juga diberi kondisi yang serupa, pastilah ia juga bisa menjadi sumber keunggulan suatu sekolah menengah umum. Selama ini, keuntungan komparatif para siswa jurusan ilmu pengetahuan alam diperoleh dari porsi pembelajaran matematika yang jauh lebih banyak dari rekan-rekannya di jurusan ilmu sosial. Kondisi seperti itu menjadikan mereka dengan relatif lebih mudah bisa memenangkan persaingan perebutan tempat dalam ujian masuk perguruan tinggi negeri dan sejenisnya. Pada hari pertama ujian masuk perguruan tinggi negeri, mata pelajaran matematika dasar diujikan bersama Bahasa Indonesia dan Pendidikan Moral Pancasila. Biasanya, mereka melakukannya melalui jalur penerimaan IPC atau ilmu pengetahuan campuran (secara batang tubuh filosofinya, tidak ilmu pengetahuan bernama itu. Hal ini hanya untuk memudahkan penanganan administrasi seleksi penerimaan saja). Seorang calon mahasiswa dari jurusan ilmu pengetahuan alam misalnya saja dapat memilih program studi kedokteran dan akuntansi pada suatu perguruan tinggi negeri. Sebaliknya, sulit sekali bagi seorang calon mahasiswa dari jurusan ilmu sosial untuk dapat menempuh seleksi masuk untuk program studi sosial ekonomi (pertanian, perikanan, peternakan, dan kehutanan), agro-bisnis, komunikasi dan penyuluhan pertanian, sosiologi pedesaan, manajemen sumber daya perairan, atau planologi karena materi yang diujikan dirancang sejak awal untuk hampir tidak mungkin dikuasai oleh para siswa jurusan ilmu sosial. Padahal, berbagai bidang ilmu yang saya sebutkan itu sesungguhnya kental sekali dengan muatan ilmu sosialnya. Bagi para calon mahasiswa dari jurusan ilmu sosial, ternyata tidak ada mekanisme seleksi khusus yang diberikan dengan melihat latar belakang mereka. Berbeda sekali dengan apa yang saya duga terkait dengan seleksi penerimaan calon mahasiswa yang ada pada Akademi Pemerintahan Dalam Negeri.
    Masih ingat kasus tidak lulusnya beberapa siswa yang tergolong pandai di sekolahnya dalam ujian akhir nasional tahun lalu dan hal ini dipandang kontroversial? Dari berita melalui saluran televisi yang saya saksikan, ada seorang siswa yang tidak bisa lulus ujian karena nilai mata pelajaran matematikanya tidak bisa mencapai angka 4. Padahal, sebelum pengumuman hasil ujian akhir nasional, ia telah diterima di Universitas Negeri Jakarta pada program studi administrasi melalui jalur penelusuran minat dan kemampuan (PMDK). Ia tidak lulus karena nilai mata pelajaran matematikanya kurang dari 4 berarti ia berasal dari jurusan ilmu pengetahuan alam. Tetapi, kenyataan lain bahwa ia telah diterima pada program studi administrasi Universitas Negeri Jakarta inilah letak kebingungan saya. Setahu saya, penelusuran minat dan kemampuan itu didasarkan pada nilai rapor hingga kelas III semester ganjil. Tetapi, kenapa ia yang notebene berasal dari jurusan ilmu pengetahuan alam justru dapat diterima melalui jalur penelusuran minat dan kemampuan dalam program studi administrasi yang jelas-jelas itu merupakan program studi ilmu sosial. Apakah landasannya adalah tetap pandangan superior yang diberikan kepada para siwa jurusan ilmu pengetahuan alam? Betapa beruntungnya menjadi siswa dari jurusan itu! Sementara, salah satu tetangga saya yang lulus sekolah menengah umum tahun lalu dan ia merupakan siswa dari jurusan ilmu alam bisa diterima melalui jalur penelusuran minat dan kemampuan pada tiga perguruan tinggi salah satunya pada program studi bahasa Inggris di suatu perguruan tinggi negeri. Entah apa gejala ini. Mungkin Anda memiliki cerita yang serupa?

    Tetap Percaya Dirilah Mempelajari Ilmu Sosial!
    Dengan segenap perjuangan, do’a, dan keberuntungan yang diberikan oleh Tuhan, akhirnya saya diterima pada program studi manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Sekalipun indeks prestasi saya hanya tiga koma sedikit, saya tetap mampu eksis secara bagus (tidak hanya dianggap sebagai debu jalanan) dan dinilai sebagai mahasiswa yang pintar serta berwawasan luas oleh rekan-rekan kuliah yang indeks prestasinya lebih tinggi serta juga mereka yang pernah menjadi siswa jurusan ilmu pengetahuan alam sewaktu menuntut ilmu di sekolah menengah tingkat atas. Setelah lulus kuliah pada tahun 1996, saya bekerja sebagai seorang staff pengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Bank BPD Jateng. Dari pengalaman nyata yang saya rasakan, di hadapan para mahasiswa, saya dinilai sebagai seorang staff edukatif yang memiliki kelebihan dibandingkan rekan sejawat yang lain. Menurut mereka, saya adalah seorang dosen yang berwawasan luas, dekat dan dicintai mahasiswa, bersifat gaul dari sisi cakrawala berpikir, dan mampu menyampaikan materi dengan jelas dan secara umum menjadikan mereka nyaman menempuh perkuliahan di kelas saya. Tapi, memang saya akui bahwa saya ini memiliki kelemahan pula dari sisi penguasaan teknologi informasi. Mungkin sekali, saya termasuk dosen yang gagap akan teknologi. Belum lama saya dapat bersinggungan dengan e-mail dan internet. Hanya menulis dan membuka e-mail dan browsinglah yang bisa saya lakukan hingga saat ini.
    Sebagaimana yang saya ceritakan di atas, saya memang memiliki kelemahan dalam bidang ilmu matematika. Justru karena itulah, mulai tahun 2000 saya memberanikan diri untuk mengajar mata kuliah Statistika. Kelemahan saya dalam bidang itu saya jadikan cambuk agar saya mampu menyampaikan materi statistika yang penuh dengan hitungan serta angka namun tetap mudah dipahami oleh para mahasiswa yang sebenarnya tidak menyukainya. Di sini, keinginan untuk berempati berperan sangat banyak. Dengan kenekadan yang saya miliki, akhirnya saya mampu untuk membawakan mata kuliah ini secara sangat jelas, menyenangkan, dan serasa tidak mempelajari mata kuliah hitungan. Kesimpulan itu saya rumuskan karena setiap akhir semester saya dan rekan-rekan dosen lainnya dievaluasi secara personal oleh para mahasiswa. Secara umum, para mahasiswa menyatakan demikian sekalipun ada saja yang memberikan penilaian kurang.
    Hanya saja, sehubungan dengan pandangan mengenai jurusan ilmu sosial beserta ketidakadilan yang diterimanya, beberapa kali masih saja saya mengalami hal yang membuat saya harus mengelus dada atau mendengar beberapa ucapan yang mengganggu kenyamanan telinga. Misalnya saja, ketika tengah berbincang dengan seorang mahasiswi, ia kemudian bertanya, “Bang Muly ini kenapa pintar sekali? Apa dulunya berasal dari jurusan IPA?”. Pertama kali, saya senang mendengar pujiannya tetapi kemudian perut saya merasa sakit mendengar kalimatnya yang kedua. Demikian pula, saya ingin segera pergi jika mendengar ada diantara rekan dosen yang bercerita tentang pengalamannya saat ia menjadi siswa jurusan ilmu pengetahuan alam di sekolah menengah tingkat atas dahulu. Pengalaman ketika ia belajar dahulu ia ceritakan dengan bangga, tapi ia merasa sedikit “nggresah” atau berkurang kebanggaannya saat ia ternyata malah menempuh perkuliahan di fakultas ekonomi.
    Karena perguruan tinggi saya belum memiliki reputasi ternama, saya harus melaksanakan kegiatan promosi secara langsung ke berbagai sekolah menengah baik umum maupun kejuruan. Saya pernah membentak rekan saya ketika ia mengatakan bahwa jika ia melakukan promosi dalam kelas jurusan ilmu pengetahuan alam, ia merasa berada dalam lingkungan unggul. Sebaliknya, bila ia harus melaksanakan promosi dalam kelas ilmu sosial, ia merasa ingin cepat-cepat meninggalkannya karena para siswa tidak antusias atau gaduh. Perasaan saya serasa tersayat manakala mendengar wakil kepala sekolah bidang kemahasiswaan mengatakan, “Pak, nanti kalau berada di kelas IPS mohon yang sabar, ya!Maklum begitulah anak-anak IPS itu.” Padahal, ia adalah orang yang seharusnya bersikap netral dan mengayomi semuanya.
    Dari penuturan saya yang panjang lebar mengenai apa yang telah saya alami sebagai salah satu mantan siswa jurusan ilmu sosial itu tidaklah boleh menjadikan kita merasa malu atau rendah diri. Kita tetap harus merasa bangga dan percaya diri karena beberapa alasan, yakni
    1. Tidak mungkin Tuhan kita berlaku demikian tolol menghadirkan ilmu sosial dalam rangkaian sejarah peradaban manusia jika hal itu hanya untuk dijadikan bahan ejekan oleh para pelaku ilmu pengetahuan alam. Mungkin, kita saja yang belum mampu menemukan makna di balik realita ini.
    2. Dalam kenyataannya, kemampuan hidup bermasyarakatlah penentu keberhasilan kita menjalani kehidupan sebagai makhluk beradab. Setiap orang, tanpa pandang latar belakang pendidikan dan pekerjaannya dituntut untuk mampu melakukannya. Sementara, selain telah dan harus selalu melakukan secara nyata sebagaimana orang lain, kita juga telah memiliki bekal secara teoritis. Sehingga, makin mantaplah upaya kita menjalankan peran dalam kehidupan.
    3. Masalah-masalah sosial terjadi bersamaan atau bahkan dua kali lebih cepat dari pada akselerasi kemajuan teknologi. Karenanya, kajian yang terkait dengan permasalahan sosial yang timbul dalam kehidupan manusia akan senantiasa dibutuhkan. Dengan menjadi pribadi yang menekuni bidang ilmu sosial, jalur yang searah telah kita tempuh. Kita harus ingat, pada kenyataannya, mereka yang memiliki latar belakang bidang ilmu alam atau eksakta juga harus berpartisipasi memecahkannya. Untuk itu, mereka harus mengambil arah yang berlainan dengan arah semula sementara kita telah berada pada jalan yang searah.
    4. Ada banyak pribadi yang semula memiliki latar belakang ilmu pengetahuan alam. Namun, kemudian ia justru eksis, menemukan dirinya, dan mengoptimalkan kemampuan dirinya pada bidang terkait dengan aspek sosial, budaya, dan humaniora. Fenomena ini hendaknya kita artikan bahwa sesungguhnya ia telah memiliki potensi keunggulan dalam ketiga bidang itu. Hanya saja, mereka sempat menempuh jalur arah kehidupan yang lain terlebih dahulu. Tetapi, sebenarnya ia adalah manusia unggul dalam bidang sosial, budaya, dan humaniora. Seandainya mereka sejak awal telah memilih jalur ilmu sosial, humaniora, dan budaya, mereka justru akan semakin termasyhur. Seorang Sukarno adalah pribadi yang unggul dan multidimensional, terutama dalam bidang filsafat, budaya, politik, dan humaniora walaupun secara formal ia bergelar insinyur. Pendidikan tinggi dalam bidang teknis harus ia tekuni dahulu karena pada saat itu, perguruan tinggi yang didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda adalah perguruan tinggi dengan latar belakang ilmu terapan yang dinilai bebas dari muatan normatif-idealis. Pemerintah kolonial Belanda tidak mungkin bersedia mendirikan perguruan tinggi berlatar bidang ilmu sosial, politik, filsafat, dan hukum karena pasti akan menjadi wahana pembangkitan semangat ingin lepas dari penindasan. Hal ini dinilai amat berbahaya. Karenanya, pemerintah penjajah hanya bersedia mendirikan lembaga pendidikan yang pada awalnya dianggap tidak mungkin akan mampu menciptakan kader perjuangan kemerdekaan walaupun kenyataan sejarah mementahkan perhitungan itu. Sementara, Ir. Sukarno, dr. Sutomo, dr. Cipto Mangun Kusumo, dan dr. Wahidin Sudiro Husodo bisa mengenyam pendidikan di Technische Hoogh School (sekarang Institut Teknologi Bandung) dan School van Toot opleiding for Indische Aartsen (cikal bakal fakultas kedokteran Universitas Indonesia) salah satunya karena mereka mampu memenuhi syarat mendasar yakni ditakdirkan menjadi putra kaum elit dan berdarah biru. Bagi rakyat jelata, hanya tersedia sekolah hingga jenjang menengah atau bahkan dasar saja.
    Ira Kusno si jelita nan cerdas memang pada saat masih menjadi siswi suatu sekolah menengah atas mempelajari matematika, fisika, biologi, dan kimia. Sesudahnya, ia diterima sebagai mahasiswi program studi akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Namun, ia justru menemukan kemasyhuran namanya ketika ia menjadi pembaca berita Surya Citra Televisi dan selanjutnya meningkat menjadi anggota dewan redaksinya. Ia merasa bersyukur dengan keadaannya saat ini. Seandainya ia tetap saja menekuni bidang ilmu yang sejalur dengan apa yang ia terima pada sekolah menengah atas dulu, ia hanyalah Ira Kusno yang cantik namun tidak setenar sekarang ini. Barangkali, jika sejak awal ia telah menekuni bidang ilmu komunikasi massa, prestasi lebih akan ia raih. Setidaknya, tetap menyamai raihan saat ini. Tetapi, tidak mungkin ia akan meraih sesuatu yang kurang dari saat ini dengan menjadi pelaku ilmu sosial.
    5. Bahwasanya saat ini masih saja ada banyak orang yang menganggap bahwa bidang ilmu sosial sebagai obyek yang bisa diremehkan, hal ini lebih banyak terkait dengan langkah edukasi dan penyadaran yang belum menemukan formatnya secara tepat. Saya yakin, pada suatu saat, cara penyadaran yang tepat akan ditemukan, sekalipun bukan kita yang melakukannya. Saat ini, biarlah kita berusaha dengan tegar menahan keadaan yang kurang menyenangkan ini. Sing becik bakal ketitik!
    Hanya seperti inilah apa yang mampu saya sampaikan. Sungguh, saya merasa beruntung bisa bergabung dalam situs ini, Untuk itu, kepada para pembaca, saya ingin bertukar cerita mengenai pengalaman menjadi siswa jurusan ilmu sosial ketika masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Bisa juga, pengalaman ketika belajar pada program studi terkait dengan ilmu sosial di suatu perguruan tinggi atau sesudahnya. Karena saya belum bisa merancang web-log, mohon kirimkan pada alamat e-mail saya di bawah ini. Terlebih kepada Nadya-Gal selaku penunggu web-log ini serta Mas Satria Dharma, Anda wajib mengirimkan balasan atas partisipasi saya.
    Muly De La Vega
    Badutaman@Yahoo.Com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *