Bukan. Saya bukan lulusan UGM. Adik saya yang lulusan UGM. Saya lulusan IKIP Negeri Surabaya tanpa skripsi dan tanpa wisuda. Tapi lain kali saja saya ceritakan soal ini. Saya mau bercerita tentang UGM dan seorang rektornya yang bernama Prof. Kusnadi Hardjosumantri. Koesnadi Hardjasoemantri merupakan Rektor UGM saat Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo menjadi mahasiswa di kampus ini. Beliau adalah salah seorang penggagas sekaligus pendiri program Pengerahan Tenaga Mahasiswa (PTM) yang berjalan selama 11 tahun, mulai 1951-1962. Anies Baswedan sendiri mengakui bahwa ia sangat terkesan dengan program PTM ini sehingga ia membuat program yang serupa yaitu program Indonesia Mengajar yang tampaknya sekarang sudah berhenti. Anies Baswedan mendirikan Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar yang merupakan program pengiriman lulusan perguruan tinggi untuk mengajar SD di daerah terpencil Indonesia. Sejak tahun 2010, sebanyak 204.607 pemuda Indonesia telah melamar untuk mengabdi pada bangsa dan 1.232 telah terpilih sebagai Pengajar Muda (“guru muda”) untuk melayani 349 desa di 251 Kecamatan, 38 Kabupaten dan 27 Provinsi di seluruh Indonesia.
Ketika Anies Baswedan jadi Mendikbud ia diminta untuk memberi sambutan pada acara reuni anggota PTM di Jakarta. Anies Baswedan sangat antusias. Ia kaget ketika melihat saya berada di antara para sesepuh anggota PTM yang menyambutnya. “Lho, Mas Satria kok ada di sini?” tanyanya. “Ayah saya adalah anggota PTM juga, Mas. Bukan saya. I’m not that old yet.” jawab saya bergurau. 😁
Pada awal tahun 1950, Indonesia yang sebelumnya berbentuk RIS, kembali menjadi NKRI sehingga dirasa perlu menyelenggarakan pendidikan di daerah-daerah terpencil. Akan tetapi, keinginan tersebut sulit diwujudkan, karena pemerintah belum memiliki cukup guru. Selain jumlahnya yang masih terbatas, banyak guru yang gugur dalam mempertahankan kemerdekaan RI. Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan guru, pada tahun 1951 UGM mulai menerjunkan mahasiswanya. Mereka diberi tugas untuk mengajar dan mendirikan sekolah lanjutan tingkat atas (SMA) di sejumlah kota di luar pulau Jawa yang jauh dari pusat kekuasaan. Prof Koesnadi merupakan salah satu pencetus program PTM. PTM adalah program cikal bakalnya KKN yang masih berjalan sampai saat ini di hampir semua perguruan tinggi di Indonesia.



Ketika Koesnadi muda menjadi Ketua Dewan Mahasiswa UGM, beliau bercita-cita agar di luar Jawa pendidikan di tingkat SMA bisa terlaksana dan bukan hanya ada di Jawa. Beliau kemudian berinisiatif agar UGM mulai menerjunkan mahasiswanya untuk mengajar dan mendirikan SMA di beberapa daerah di luar Jawa. Pelaksanaan program PTM diawali dengan menerjunkan 8 mahasiswa dari sejumlah fakultas, salah satunya adalah Pak Koesnadi sendiri. Jadi beliau turun jadi guru juga dan bukan sekedar mencetuskan ide. Tapi setelah berjalan cukup lama akhirnya pesertanya bukan hanya dari mahasiswa UGM tapi juga dari perguruan tinggi lain. Ayah saya adalah peserta PTM yang berasal dari Universita Airlangga dan ditempatkan di Bulukumba, Sulawesi Selatan. Apa imbalan bagi para mahasiswa yang mau ikut program PTM ini? Mereka harus mau menjadi pengajar di SLTA di luar Jawa dengan masa tugas minimum 2 tahun dengan kompensasi setelah mengajar diangkat menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil) dan diberi tugas belajar melanjutkan studi sampai selesai. Banyak dari mahasiswa PTM itu yang akhirnya tidak kembali ke kampusnya masing-masing karena terlanjur cinta dengan pekerjaannya di berbagai daerah di seluruh Indonesia dan sebagian juga karena jatuh cinta dan menikah dengan putri di daerah di mana mereka bekerja. Untungnya ayah saya sudah menikah ketika ikut PTM dan tidak kecantol gadis Bulukumba (Jangan heran. Dulu itu mahasiswa kita pemberani dan bonek soal rabi meski pun masih mahasiswa. Ayah saya saja sudah punya anak lima ketika ikut program ini.) 😎 Tapi ayah saya mandek hanya sampai Sarjana Muda jurusan Ekonomi (Bsc) di Unair.
Untuk memenuhi kebutuhan guru inilah, pada tahun 1951 UGM (Universitas Gajah Mada) mulai menerjunkan mahasiswanya. Mereka diberi tugas untuk mengajar dan mendirikan sekolah lanjutan tingkat atas (SMA) di sejumlah kota di luar pulau Jawa. Kegiatan ini lebih dikenal dengan sebutan PTM. Sampai tahun 1962, tercatat sekitar 1218 mahasiswa UGM dikirim ke berbagai daerah untuk mengajar.Meski demikian program yang dilaksanakan pada tahun 1951-1962 ini, menjadi cikal bakal tumbuh dan berkembangnya ribuan SMA dan memicu berdirinya perguruan tinggi negeri di beberapa kota di Indonesia.
Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan salah satu program yang wajib dijalankan oleh mahasiswa tingkat Strata 1 jika ingin mendapat gelar sarjana. Namun demikian, tidak banyak mahasiswa yang mengetahui siapa pengaggas program KKN. KKN merupakan program yang dicanangkan oleh Prof. Dr. Koesnadi Hardjasoemantri, S.H., ML. Peran serta Koesnadi dalam mencetuskan Program KKN juga diakui oleh pemerintah hingga ia mendapatkan penghargaan sebagai Bapak Perintis Kuliah Kerja Nyata (KKN). Penghargaan ini diberikan kepada Koesnadi karena program KKN yang dirintisnya pada tahun 1971 di UGM menjadi inspirasi bagi universitas negeri lainnya dalam melaksanakan program serupa. Koesnadi sendiri menyelenggarakan KKN karena di saat ia menjadi mahasiswa pada tahun 1950-an pernah turut serta dalam program Pengerahan Tenaga Mahasiswa (PTM). Terinspirasi oleh semangat PTM, akhirnya pak Koes, panggilan akrabnya, mewajibkan KKN sebagai salah satu kurikulum dalam pendidikan mahasiswa di UGM. Semangat yang diusung dalam KKN juga masih sama, yakni memeratakan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia di manapun berada. Terbukti, hanya KKN UGM yang menjangkau hampir ke seluruh provinsi di Indonesia. PTM merupakan cikal bakal dari KKN UGM, namun PTM memiliki jangka waktu yang relatif lebih lama yaitu 1 hingga 3 tahun.
Berikut ini adalah video dokumenter Suluh dari Bulaksumur dari Pusat Inovasi dan Kajian Akademik UGM yang menampilkan beberapa anggota PTM yang mengisahkan perjuangan mereka mengajar di berbagai daerah di Indonesia. Sila tonton dan beri komentar.
Youtube: UGM Channel Instagram: @ugmchannel Tiktok: @ugmchannel
Surabaya, 19 April 2025
Satria Dharma