Selasa, 18 September 2019
Just another WordPress site
POLISI ALERGI ISLAM

Seperti kebanyakan keluarga lain saat ini , kami juga punya media komunikasi WA Group. Di situ berkumpul dua generasi, generasi kedua dan ketiga. Di sini berkumpul para bapak dan ibu, om dan tante beserta anak-anak dan para keponakan. Ayah dan Ibu kami sudah terlalu tua untuk bisa ikut nimbrung di WAG yang asyik tersebut. Tentu saja karena ini grup keluarga maka diskusi kami di sini sangat guyub dan cair. Meski pun demikian sesekali muncul topik-topik yang hot markohot di mana kami bersaudara akan saling berbeda pendapat dengan sangat serunya. Kalau suasana sudah panas maka para anak dan keponakan akan menahan diri tidak ikut terlibat, utamanya jika para ortunya sudah saling gempur. Daripada kecipratan getih (darah).

Apa topik yang bisa membuat kami saling serang? You bet. Tidak jauh-jauh dari isu yang sedang hangat di dunia maya saat ini. Meski bersaudara tapi kami juga terbelah dalam kelompok pro dan kontra Ahok, pro dan kontra Habieb Riziq, Sunni dan Syiah, fanatik dan liberal, semacam itulah. Yang aneh dan sekaligus lucu adalah kelompok ‘pro-Islam’ dan ‘kontra-Islam’. Tentu saja tidak ada di antara kami yang kontra Islam lha wong kami itu islamnya ‘ndhekek’ alias Islam yang taat semua. Mungkin ada satu atau dua di antara kami yang tidak seberapa taat, sholatnya bolong-bolong, gak ngaji, dll, tapi keluarga kami terkenal sebagai keluarga yang sangat taat dalam agama. (Nek gak percoyo takono wong Darmokali. ). Jadi sebenarnya pengelompokan ‘pro dan kontra Islam’ itu sebenarnya sekedar menggambarkan argumen-argumen yang kami pakai dalam berdebat atau berdiskusi. Kalau sudah saling serang maka bisa saja salah seorang dari kami akan dituduh ‘alergi terhadap Islam’ atau bahkan ‘musuh Islam’. Pancen edhan kok diskusi di WAG kami itu.

Kemarin muncul diskusi hangat lagi gegara seorang saudara mengunggah kemarahannya pada polisi yang menahan Fahmi yang membawa-bawa bendera bertuliskan syahadat dan bergambar dua pedang. Dengan berang ia memuntahkan kemarahannya dengan mengatakan bahwa polisi alergi Islam dan tebang pilih. Jika memang bendera tidak boleh ditulis-tulisi lantas mengapa Metallica dan Slank tidak ditangkap. Mengapa justru Fahmi, yang katanya hafiz Al-Qur’an, yang ditahan. Ia lalu mengunggah foto-foto berbagai kain merah putih yang bertuliskan macam-macam tapi si pembawanya tidak ditangkap sebagaimana si Fahmi, yang katanya seorang muslim taat, seorang hafiz, sekaligus pejuang Islam ini.

Baca juga:  JUDICIAL REVIEW RSBI (Part 2) : ANTARA PUTUSAN MK DAN KENGOTOTAN WAMENDIKBUD

Saya sebetulnya malas menanggapinya tapi karena terus menerus akhirnya saya tanya apa benar Fahmi itu ditahan karena polisi alergi Islam? Apa tidak berlebihankah menuduh demikian lha wong polisinya sendiri mayoritas adalah orang Islam. Tapi karena sedang tinggi ‘ghirah’nya maka kami yang berusaha untuk ‘mendudukkan permasalahan’ pun ditudingnya alergi Islam. Wakakak…! Untungnya yang dituding tidak bilang ‘Aku lho sudah Islam sebelum kamu lahir. Kok kamu bisa merasa lebih Islam daripada aku?’. Diskusi urusan beginian memang bisa sangat ‘ideologis’. Seseorang bisa merasa lebih ‘membela Islam’ daripada yang lain hanya karena ia membela para pejuang 411, 212, memboikot Sari Roti, cinta Habib, merasa dekat pada seseorang yang membawa bendera yang bertuliskan kalimat tauhid yang ditahan, dll. Bagi ‘faksi’ini Fahmi sedang memperjuangkan agama Islam. Mengibar-ngibarkan bendera bertuliskan kalimat tauhid tersebut adalah perjuangannya. Ia sedang menegakkan kalimat tauhid pada bendera Indonesia ketika berdemo. Polisi menangkap dan menahannya. Itu adalah bukti yang sangat jelas bahwa polisi tidak suka pada ‘perjuangan’ umat Islam ini. Faktanya Slank dan Metallica tidak ditangkap kok! Mereka tebang pilih. Karena polisi memang tidak suka pada Islam maka mereka menangkap dan menahan Fahmi yang katanya hafiz ini. Polisi alergi Islam. Titik.
 

“Polisi gak punya nurani dan tebang pilih. Bendera dicoret dengan kalimat tauhid ditangkap tapi gambar lainnya dibiarkan. Apa-apaan itu?”
 

“Polisi tentu punya alasan mengapa menangkap Fahmi. Gak mungkin polisi ngawur.” Begitu kata yang berupaya untuk menenangkannya.
 

“Faktanya polisi tebang pilih. Artinya alergi Islam. Kalau sampeyan pro pada polisi alergi Islam ini maka sampeyan termasuk golongan alergi Islam. Titik (bisa dibikin koma lagi jika diperlukan).”

Baca juga:  NO DICHOTOMY

 

Apakah polisi (dan para aparat hukum lainnya) tebang pilih? Tentu saja kita punya alasan untuk menyatakan demikian. Setiap saat kita bisa melihat pelanggaran lalu lintas dan polisi membiarkannya saja. Tapi sekalinya ada sweeping kok kita yang kebetulan pas tidak pakai helm malah kena. Padahal sebenarnya setiap hari kita pakai helm, tertib, punya SIM, eh! gak ada operasi tilang. Begitu gak pakai helm sekali saja kok ya pas ada tilang. Orang-orang yang bolak-balik melanggar malah gak kena tilang. Berarti jelas polisi tebang pilih kan? Kalau memang mau menegakkan hukum ayo semua yang berada di jalanan naik motor tidak pakai helm ditilang semua. Jangan tebang pilih kau, Pak Pol. Dst…dst…!

 

Pertanyaannya adalah : apakah polisi bersalah jika ia menindak pengendara motor yang tidak pakai helm? Tentu saja tidak. Mereka punya ALASAN dan KEWENANGAN untuk itu.
 

“Tapi kan mereka tebang pilih…!”
 

Pertanyaannya adalah : apakah kita ingin polisi membiarkan saja jika ada pengendara motor tidak menggunakan helm? Atau kita ingin agar polisi menindak SEMUA pengendara motor yang tidak menggunakan helm?
 

Tentu saja kita ingin agar ketertiban dan aturan ditegakkan.
 

“Tapi jangan tebang pilih dong…!”
 

Baiklah kalau begitu, Kakak. Sekarang pertanyaan pentingnya : Apakah polisi alergi Islam?
 

“Pokoke….!”
 

Kalau sudah ‘pokoke…!’berarti diskusi dan debat telah berada di ujung dan bakal segera berakhir. It’s the end of battle. Alhamdulillah…! Berarti topik lain silakan masuk.
 

Epilog:
Pertanyaannya : Kenapa sih umat Islam ini kok sedikit-sedikit merasa diserang, dibuli, dihinakan, diperlakukan tidak adil oleh pemerintah, dimusuhi oleh kaum Wahyudi, Mamarika, Remason, Liberal, Equil, uang berlogo PKI, Sari Roti, embuh opo maneh mari iki….
Repotnya, mereka yang selalu merasa diserang dan diperlakukan tidak adil justru bukan anggota atau simpatisan organisasi Islam besar seperti NU dan Muhammadiyah. Soal representasi umat kedua organisasi Islam besar ini tentu saja lebih ‘mewakili’ Islam ketimbang organisasi atu kelompok yang lain. Tapi tak pernah kita dengar NU dan Muhammadiyah berteriak dan mendemo pemerintah karena alasan menindas umat Islam di Indonesia. Mereka merasa hepi-hepi saja dengan suasana dan atmosfir keislaman di Indonesia dan bahkan selalu mendukung pemerintah. Justru mereka yang jumlahnya kecil (tapi suarane banter, Cak!) yang selalu berkoar-koar bahwa pemerintah kita anti-Islam.
Anti-Islam, gundulmu…! (Ssst…! Ojok banter-banter).

Baca juga:  KAPAN TERAKHIR KALI ANDA BERSEDEKAH...?!

Surabaya, 24 Januari 2017

Salam

Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *