WHO dan UNICEF dalam laporan bertajuk Sanitation and Hygiene 2000-2017 mengungkap, 1 dari 3 orang di dunia kekurangan air minum, layanan sanitasi, dan fasilitas mencuci tangan yang sesuai.
Seorang anak laki-laki berusia enam tahun tergerak hatinya untuk membantu mereka yang kesulitan untuk minum. Namanya Ryan, dan ia lahir di Kanada pada bulan Mei 1991. Ketika ia baru berusia enam tahun, gurunya bercerita tentang kehidupan anak-anak di Afrika yang hidup dalam situasi yang sangat sulit meski pun untuk mendapatkan air minum. Sangat tersentuh oleh cerita bahwa beberapa anak bahkan meninggal karena kehausan—sementara ia dapat dengan mudah pergi ke keran dan minum air bersih—Ryan bertanya kepada gurunya berapa biaya yang diperlukan untuk membawa air ke Afrika. Gurunya menyebutkan sebuah organisasi bernama “WaterCan,” yang dapat membangun sumur dengan biaya sekitar $70.
Ketika ia tiba di rumah, ia langsung menemui ibunya, Susan, dan mengatakan bahwa ia membutuhkan $70 untuk membeli sumur bagi anak-anak Afrika. Ibunya mengatakan kepadanya bahwa ia harus mendapatkan uang dengan bekerja keras dan memberinya pekerjaan yang memungkinkan Ryan memperoleh beberapa dolar setiap minggu.
Akhirnya, ia menabung $70 dan pergi ke WaterCan, di mana mereka mengatakan kepadanya bahwa biaya sebenarnya untuk mengebor sumur adalah $2.000. Ryan tidak menyerah—dia pinjam pada Ibunya dan berjanji akan mengembalikan uang $2.000 itu secara penuh. Dengan dana itu, Ryan kembali mendatangi WaterCan dan berbicara dengan direktur organisasi itu, Gizaw Shibru. Hasil dari pertemuan tersebut pun berujung pada keputusan di mana mereka harus membangun sumur itu, yaitu di sekolah dasar Angolo di Kota Otal, Uganda yang dibangun pada 1999.

Begitu sumur itu siap, sekolah Ryan mulai membantu, dan mereka menjalin kontak dengan sekolah di dekat sumur itu. Ryan akhirnya bertemu dengan Akana, seorang anak laki-laki Uganda yang harus berjuang untuk pergi ke sekolah setiap hari. Ryan begitu tersentuh sehingga ia meminta orang tuanya untuk membawanya bertemu Akana. Pada tahun 2000, ia tiba di desa itu, di mana ratusan orang menyambutnya, mengelilinginya dan meneriakkan namanya.
“Mereka bahkan tahu namaku?” tanya Ryan kepada pemandu itu, terkejut.
“Semua orang dalam radius 100 kilometer tahu,” jawab pemandu itu.
Setelah berhasil menyumbangkan satu sumur di Otal, Ryan pun memiliki ambisi yang lebih besar lagi, yang membuatnya memutuskan untuk terus berjuang mendirikan sebuah yayasan yang akan didedikasikan untuk menemukan cara mengembangkan akses pada air bersih.
Saat ini, Ryan berusia 33 tahun, mengelola yayasannya sendiri. Hasil dari perjuangannya itupun membuahkan hasil yang cukup menakjubkan. Ryan’s Well Foundation saat ini telah membangun lebih dari 1.200 proyek air di berbagai negara. Usahanya ini berkembang berkat upaya tim multidisiplinnya, seperti dikutip dari ryanswell.ca.
Jika kita mau berfokus pada kebaikan untuk orang lain maka semesta akan membantu kita.
Surabaya, 20 April 2025
Satria Dharma