Sabtu, 23 Agustus 2019
Just another WordPress site
JEMPOL UNTUK SANDIAGA UNO

Ditengah tontonan prilaku politik yang amoral, licik, koruptif, dan dipenuhi oleh para politisi munafik saya sungguh terkejut sekaligus gembira membaca pernyataan Sandiaga Uno yang mengecam Dhani karena memaki dengan kata ‘idiot’. Bagi Sandi makian tersebut bermuatan negatif dan ia berharap agar pendukungnya tidak menggunakan kata-kata yang mendegradasi atau merendahkan. “Kita gunakan kata-kata yang seharusnya menyanjung. Kata-kata yang mengangkat semangat.”

Gileee…! Kata saya dalam hati. Sandi ini sungguh keren dan bak oase di padang pasir perpolitikan yang ganas. Ingin rasanya saya mentraktir Sandi makan penyetan 4T (tahu, tempe, telor, dan terong). Biarlah saya yang membayar. Saya sungguh berharap bahwa Sandi tidak terkontaminasi oleh prilaku jahat para politisi di sekitarnya dan tetap mempertahankan kesantunannya. Selagi ILC mempertontonkan debat antara Rocky Gerung dan Ngabalin yang sungguh tidak ada manfaatnya selain mempertebal rasa permusuhan dan bahan olok-olok di antara pendukungnya kesantunan Sandiaga ini sungguh menyegarkan dan memberi harapan.

Sebelumnya Sandi juga mengecam kejadian penghadangan neon Warisman di Pekanbaru. “Pemilu seharusnya mempersatukan bukan pecah belah. Kita ingin isu yang diangkat adalah isu ekonomi. Saya prihatin dengan gesekan yang terjadi di masyarakat,” Ia memberi saran kepada Neno dan Mardani Ali Sera untuk lebih selektif memilih tempat deklarasi dan lebih menyarankan untuk memanfaatkan media digital. Artinya Sandiaga Uno tidak ingin pilpres atau pemilu ini menjadi ajang permusuhan dan gesekan di masyarakat. Lebih baik mengalah daripada memprovokasi masyarakat sehingga terjadi benturan dan perpecahan. Ngapain sih harus ngotot deklarasi jika itu sampai membuat masyarakat marah dan terjadi bentrok? Kalau pun deklarasi mbok ya jangan memprovokasi tapi gunakan kata-kata yang menyanjung dan mengangkat semangat, bukan mengangkat pedang. It’s not a war and never turn it into a war. Sungguh cool…!

Terus terang saya prihatin dengan suasana perpolitikan yang sudah tidak mengenal lagi aturan dan norma. Sayang sekali saya tidak bisa seperti SBY ngomong prihatin dengan wajah sendu sambil disorot oleh kamera. Tapi dunia politik di negara kita memang semakin lama semakin membahayakan persatuan bangsa. Jika Anda tidak menyadarinya coba lihat bagaimana kelompok-kelompok masyarakat yang mengaku sebagai perwakilan suku dan bangsa sudah saling mengancam untuk melibas kelompok yang dianggapnya berbeda dengan aspirasi politiknya. Itu sungguh berbahaya. Untuk apa itu semua? Untuk semakin merobek tenun kebangsaan kita?

Baca juga:  29 Gifts : Keajaiban Memberi 29 Hari

Saya sedih melihat kelakuan orang-orang politik yang dulunya saya kagumi tapi terus berubah menjadi ganas, tidak peduli, dan kehilangan empati. Saya sangat sedih ketika pilgub DKI kemarin bahkan para ustad, pemuka agama, dan politisi memprovokasi umat Islam untuk mengafirkan sesama muslim yang berbeda pilihan politik dengannya. Sebagian ada yang tidak setuju tapi diam saja ketika muncul gerakan untuk tidak menyolatkan sesama muslim yang memilih Ahok. Bagi saya ini sangat jahat dan berbahaya dan prilaku tersebut sama dengan para khawarij. Demi memenangkan sebuah kedudukan dalam politik kita tidak lagi peduli pada dampak yang terjadi pada bangsa dan umat dalam jangka panjang.

Kita juga sudah tidak peduli dengan partai politik yang menggunakan nama Islam tetapi ternyata pimpinannya melakukan korupsi juga. Beberapa kepala daerah yang sebelumnya naik dengan menggunakan jargon-jargon Islam ternyata tertangkap KPK juga. Ini sungguh menyedihkan. Islam benar-benar hanya dimanfaatkan untuk mengelabui masyarakat.

Ada yang tidak paham mengapa saya menentang demonya Neno dan mengira karena saya membela Jokowi karena tidak ingin ia diganti. Bagi saya siapa pun nantinya yang terpilih maka kita wajib menerimanya. Tapi saya peduli pada bagaimana cara seseorang berpolitik. Apa yang dilakukan oleh Neno cs dengan merepresentasikan perjuangan politiknya untuk menang dengan Perang Badar dan Perang Uhud sungguh licik dan berbahaya. Dengan cara demikian maka mereka ini langsung menganggap diri mereka sebagai Pasukan Allah dan mereka yang tidak sevisi politik mereka sebagai kaum kafir. Padahal pada hakikatnya mereka yang tidak sevisi politik dengan mereka adalah sama-sama muslim. Tapi dengan siasat licik ini maka mereka langsung mencap mereka yang tidak ikut dengan gerakan mereka sebagai kelompok kaum kafir yang diperangi oleh Nabi Muhammad dalam Perang Badar. Mereka dengan sengaja dan terstruktur menggunakan slogan dan jargon agama Islam untuk mengafirkan sesama muslim dan memecah belah umat Islam untuk kepentingan politik mereka. Sesungguhnya ini jahat dan menjijikkan. Untunglah rakyat jawa Timur tidak senorak itu dan pilgubnya berjalan dengan mulus dan tidak ada dendam yang tersimpan sebagaimana di DKI sekarang.

Baca juga:  DOA ULAMA VS DOA BENCES

Saya juga prihatin dengan adanya kejadian jegal menjegal yang terjadi di belakang layar pemilihan wapres Jokowi dan kecewa bahwa Kyai Ma’ruf akhirnya yang maju. Apakah kekuasaan memang terlalu menggiurkan bahkan ketika kita sudah menjadi ulama besar? Saya bersyukur bahwa Ustad Abdul Shomad sudah menegaskan dirinya untuk tetap menjadi ustad dan tidak akan berpolitik praktis. Bravo UAS…!

Kita memang sering gelap mata dan sudah tidak peduli lagi bagaimana norma dan akhlak dalam berpolitik dan berpikir yang penting memenangkan kekuasaan. Kalau sudah berkuasa kita akan macak soleh lagi sambil lirak-lirik mana yang bisa diembat. Mungkin sudah saatnya kita berpikir lebih panjang dan tidak terlalu larut dalam perebutan kekuasaan. Kita perlu mengedukasi masyarakat bahwa siapa pun yang akan naik nantinya adalah merupakan ketentuan Tuhan yang perlu kita terima dengan lapang dada. Tidak ada gunanya menakut-nakuti masyarakat seolah jika ganti presiden atau jika jokowi naik lagi maka negara kita akan hancur. Jadi kalau ternyata presidennya tidak ganti atau Prabowo yang naik jangan sampai kekecewaan dan kemarahan yang dalam yang muncul. Toh semua itu sudah tertulis di Lauh Mahfuz.

Seperti kata Sandiaga Uno, “Kita gunakan kata-kata yang seharusnya menyanjung. Kata-kata yang mengangkat semangat.” Tebarkan optimisme dan kebaikan. Seperti kata Jokowi jangan menebar fitnah dan permusuhan. Jangan sampai pilpres ini membuat tali persaudaraan bangsa menjadi putus.

Tarik napas dalam-dalam dan bersyukurlah menjadi bagian dari Indonesia…

Surabaya, 1 September 2018

Salam

Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *