Senin, 22 Juli 2019
Just another WordPress site
MY LITERACY DAYS…

Seorang teman bertanya kenapa saya belakangan ini jarang menulis di milis. ‘Saya kehilangan tulisan-tulisan segar Anda’, katanya…

Saya memang jarang menulis lagi belakangan ini karena dua alasan. Pertama, saya baru saja ganti gadget. Saya sekarang bermigrasi ke IPhone 5. Bukan karena BB Onyx 2 saya sudah ketinggalan jaman tapi karena otot jari dan lengan saya bermasalah. Selama ini saya menggunakan BB saya untuk menulis dimana saja dan kapan saja saya ingin menulis sesuatu sehingga frekuensi penggunaannya menjadi berlebihan. Repotnya karena hanya jempol kiri dan kanan yang bekerja keras untuk menuliskan kata-kata di atas tuts HP. Dan karena jempol saya terlalu banyak menggunakan BB dan tekanan yang terus menerus pada jempol tersebut membuat otot-otot jari dan lengan saya menjadi sakit, utamanya kuku di jempol. Kalau sudah terasa nyeri saya berhenti menulis dan mulai memijat-mijat ibu jari dan lengan saya sendiri. Tapi otak saya bilang, “Ayo ndang nulis maneh…” dan saya pun kembali menggunakan jempol saya menari-nari di atas tuts BB. Belakangan saya melihat bahwa telah terjadi perubahan fisiologis pada kuku saya. Kuku jempol saya menjadi mengeras dan permukaannya tidak rata tapi sedikit bergelombang. Wow…! Kuku jempol saya mulai bervolusi nih…!

Sudah berkali-kali istri saya meminta saya bermigrasi ke gadget yang berlayar sentuh agar jempol saya tidak perlu bekerja terlalu keras dalam menulis tapi saya memang enggan. Bukan masalah duitnya tapi saya sudah terlanjur nyaman menggunakan Onyx 2 dalam bekerja dan saya tahu bahwa kalau saya pindah ke layar sentuh maka saya akan akan kehilangan ‘ketrampilan’ saya menulis di atas layar tekan yang sudah saya kuasai selama ini. Saya kuatir untuk berubah. Saya malas keluar dari ‘zona nyaman’ saya…

Tapi masalah nyeri di kuku jempol dan otot saya semakin lama semakin bertambah dan saya tahu bahwa kalau saya tidak menghentikan praktik menulis terus-terusan di BB maka suatu saat otot lengan saya akan mengalami gangguan tingkat parah. Akhirnya saya menyerah… Saya digiring oleh istri saya ke lapak gadget di Grand City dan jadilah saya salah seorang pengguna Iphone sampai sekarang, with difficulty…

Apakah mudah menggunakan Iphone? Tentu saja saya harus berjuang untuk belajar lagi menggunakan gadget baru, utamanya menggunakan layar sentuh. And it’s not easy… Sampai sekarang saya belum mengubah setelannya sehingga fasilias auto correction-nya yang suka mengubah-ubah kata yang saya tulis benar-benar membuat saya harus ekstra hati-hati dalam menulis. Dengan seenaknya IPhone ini mengubah apa kata yang hendak saya tulis sehingga saya sering tercengang dengan apa yang muncul di layar setelah saya kirim posting. Lha saya mau ketawa ngakak ‘Wakakak…” diubahnya menjadi Wakasek…! Piye toh iki…! :-)

IPhone sebenarnya tidak cocok untuk saya. Layarnya terlalu kecil sehingga saya tidak lagi bisa menggunakan kedua jempol saya untuk menulis dan kini saya menggunakan satu telunjuk saja untuk menulis. Tentu saja ini sangat mengurangi kecepatan menulis saya. Belum lagi misspelling yang harus saya perbaiki terus menerus karena begitu pekanya layar sentuhnya. Untuk menulis satu paragraf saja saya butuh upaya dan waktu yang cukup besar sehingga membuat saya frustrasi untuk menulis satu karangan penuh. Sejak itu saya tidak lagi menulis melalui HP. The smart phone is not making me smarter but dumber. 🙂

Baca juga:  PAK TJANDRA HERUAWAN DI ACARA KICK ANDY

Meski demikian dengan IPhone ini ternyata saya lebih mudah bermedsos-ria. Saat ini saya jadi bisa aktif menulis di Facebook, Whatsapp, dan Line. Sebelumnya saya hanya ‘ngaji’ di milis-milis (yang nampaknya memang sudah semakin ditinggalkan oleh warganya).

Itu alasan pertama. Alasan kedua adalah karena saya memang lebih sibuk wira-wiri belakangan ini. Semenjak dicanangkannya program Tantangan Membaca Surabaya 2015 pada 1 April 2015 ini telpon dan SMS terus berdatangan dari para kepala sekolah, guru, atau pustakawan sekolah yang ingin menanyakan bagaimana mekanisme program ini. Padahal sudah dua kali saya memberikan sosialisasi program ini pada para kepala sekolah dan saya juga sudah menyebarkan panduan pelaksanaannya yang menurut saya sudah cukup jelas semuanya. Tapi apa yang saya pikirkan dan apa yang ada di lapangan memang bisa sangat berbeda. Meski sudah saya tulis bahwa program Tantangan Membaca Surabaya 2015 ini berlaku mulai 1 April s/d 31 Desember 2015 (9 bulan) masih ada saja yang mengira bahwa program tantangan membaca buku ini hanya 1 bulan. Saya jadi heran darimana mereka mengambil kesimpulan seperti itu ya?

Sejak dicanangkannya program ini maka saya juga jadi sering mengadakan sosialisasi program baik langsung ke sekolah-sekolah yang mengundang saya mau pun pada para pustakawan honorer Badan Arsip dan Perpustakaan Kota Surabaya yang jumlahnya 500-an orang lebih itu. Saya juga dimasukkan sebagai anggota forum diskusi mereka di Line Barpus sehingga saya jadi tahu apa saja program yang mereka jalankan di sekolah-sekolah dan TBM-TBM. Setelah mengamati apa yang mereka jalankan di lapangan saya baru sadar dan semakin kagum pada Ibu Arini, Kepala Badan Arsip dan Perpustakaan Surabaya, yang menjadi komandan mereka.

Gerakan Literasi di kota Surabaya benar-benar marak dengan program-program yang dilakukan oleh para pustakawan Barpus ini. Anak-anak benar-benar diajak untuk datang dan mencintai buku dengan berbagai kegiatan yang dirancang sangat menarik oleh para pustakawan tersebut. Saya mengamati foto-foto yang mereka kirimkan sebagai bukti dan merasa sangat lega dan puas. It’s really what I expect from a literacy movement. Gerakan ini bukan saja terstruktur dan sistematis tapi juga massif…! Ada ratusan pustakawan yang telah mendapat pelatihan intensif untuk membudayakan membaca yang disebar bukan hanya di sekolah-sekolah (khususnya SD negeri dan swasta) tapi juga di Taman Bacaan Masyarakat yang tersebar di ratusan lokasi di seluruh pelosok Surabaya.

Tak ada kota lain di seluruh Indonesia yang bisa menyaingi Surabaya dalam hal membangun budaya membaca masyarakatnya. Jangankan menyaingi gerakan dan program-programnya, sedangkan ide dan inisiatifnya saja mereka, para kepala daerah di seluruh Indonesia, belum punya. Baru Ibu Risma, Walikota Surabaya, yang memiliki inisiatif dan sekaligus bekerja sungguh-sungguh untuk membangun budaya literasi membaca dan menulis bagi warganya. Para kepala daerah (dan akademisi di berbagai kampus top) baru sampai pada taraf mengamini betapa pentingnya budaya membaca masyarakat khususnya anak-anak tapi belum melakukan sesuatu yang benar-benar signifikan bagi pembangunan budaya membaca di daerahnya masing-masing.

Baca juga:  SURABAYA KOTA LITERASI

Itulah sebabnya mengapa saya selalu mengatakan bahwa rendahnya budaya membaca bangsa kita adalah karena RENDAHNYA PEMAHAMAN para pemimpin kita akan pentingnya budaya membaca itu sendiri. Mereka mungkin mengerti tapi belum sampai pada taraf BENAR-BENAR MEMAHAMI sehingga mereka belum sampai pada tahap MENGAMBIL TINDAKAN DAN KEBIJAKAN PENTING untuk mengubah situasi. Mereka masih MENGIRA bahwa budaya membaca itu akan muncul dengan sendirinya jika anak-anak pada berangkat ke sekolah. Mereka MENGIRA bahwa sekolah PASTILAH akan melatih anak-anak mereka untuk bisa mencintai dan menyukai kegiatan membaca sehari-hari. Jadi tidak ada yang perlu dikuatirkan soal rendahnya budaya baca anak-anak kita. Itu artinya mereka TIDAK PAHAM. Mereka memang sudah tahu betapa rendahnya budaya membaca bangsa kita karena semua statistik sudah ada di depan mata mereka. Tapi mereka masih saja sekedar berwacana dan belum melakukan tindakan berarti untuk mengubahnya.

Jangankan para kepala daerah, sedangkan Kemdikbud pun menurut saya (I’m sorry to say) juga tidak paham soal PENTINGNYA MENUMBUHKAN BUDAYA BACA BANGSA. Anda boleh tanya direktorat dan badan apa yang bertanggung jawab soal budaya baca dan tidak akan mendapatkan jawaban. Anda bisa buka semua dokumen yang dilakukan oleh Kemdikbud dan Anda boleh bongkar semua Kurikulum yang pernah dihasilkan oleh Kemdikbud (termasuk Kurikulum 2013 tentunya) dan Anda tidak akan menemukan satu pun pernyataan tentang pentingnya budaya literasi membaca dan menulis dan apa upaya untuk menumbuhkan kebiasaan membaca anak yang benar-benar terprogram secara sistematis, terstruktur dan massif. TIDAK ADA…!

Jadi bagaimana mungkin bangsa kita akan memiliki budaya membaca seperti bangsa-bangsa lain…?! Di negara-negara lain siswanya DIWAJIBKAN untuk MEMBACA SEJUMLAH KARYA SASTRA tertentu sedangkan di negara kita dianjurkan saja pun tidak. Bagaimana mungkin kesenangan (yang nantinya akan menjadi ketrampilan) membaca akan muncul pada anak-anak kita jika kita sebagai bangsa TIDAK PERNAH BENAR-BENAR PEDULI pada upaya untuk membangun budaya membaca?

Ah….pagi-pagi kok saya sudah ngresulo dan nyinyir….

Untunglah ada Kota Surabaya dengan Walikotanya yang visioner, Kepala Barpusnya yang hebat, Kepala Disdiknya yang trengginas dan paham belaka tentang pentingnya BUDAYA MEMBACA sehingga anak-anak Surabaya mulai mencintai buku like no others…

Saya belum lagi cerita tentang UNESA dengan PPPG-nya yang telah MEWAJIBKAN mahasiswa Pendidikan Profesi Guru Angkatan ke 3-nya untuk mengikuti Kelas Literasi. Sebelum ini Program Pendidikan Profesi Guru (P3G) Unesa dibawah kepemimipinan direkturnya yang cantik, Prof. Dr. Luthfiyah Nurlaela, memang telah melaksanakan program Kelas Literasi. Tapi tahun lalu program ini baru pilihan, artinya siapa yang mau ikut silakan dan kalau tidak mau ya tidak apa-apa. Tapi tahun ini program Kelas Literasi DIWAJIBKAN bagi semua mahasiswa. Nampaknya Mbak Ella (panggilan untuk Prof Luthfiyah) sudah yakin benar tentang pentingnya para calon guru ini dibekali tentang Studi Literasi sehingga beliau menambahkan materi Kelas Literasi pada kurikulum PPG-nya kali ini.

Baca juga:  SAFARI LITERASI DI ACEH (Bag.2) : Menggugah Kesadaran akan Pentingnya Gerakan Literasi di Sekolah

Ini benar-benar sebuah terobosan yang sangat luar biasa…! Kalau para calon guru ini tidak dibekali wawasan tentang pentingnya literasi dan pengetahuan tentang bagaimana menumbuhkan budaya literasi bagi siswanya lantas siapa lagi…?! Jadi upaya Prof Luthfiyah ini sungguh sangat saya banggakan. Saya sungguh bangga dan kagum pada apa yg dilakukan oleh Prof Luthfiyah sebagai Direktur PPPG Unesa ini. Seandainya tidak kampungan saya ingin berteriak “Horeeee….!” ketika mendengar bahwa Literacy Studies menjadi program wajib di PPPG Unesa kemarin itu. “Mbak Ella, you really rock…! I’m really proud of you..!”. Prof Luthfiyah telah membuktikan diri mampu berpikir dan bertindak ‘out of the box’ dengan berani membuat program yg belum pernah dilakukan oleh Direktur PPG lain. Ia jelas sedang mengukir sejarah…!

Untuk membekali para calon guru ini mereka akan dibagi menjadi 8 kelompok dan akan diberi 6 Sesi Literasi dengan materi sbb : Konsep Dasar Literasi, Literasi di Sekolah, Literasi Menulis Kreatif, Literasi Menulis Jurnalistik, dan Praktik Menulis yang akan diberikan dalam 2 sesi. Untuk pengampunya dipanggillah para alumni Unesa yang selama ini menjadi dosen dan memang getol mempromosikan literasi seperti : Sirikit Syah, Dr. Syamsul Sodiq, Jack Parmin, Eko Pamudji, Eko Prasetyo, Lala Hujuala, Prof Luthfiyah, M. Khoiri, dan saya sendiri.

Kelas Literasi ini dibuka dan langsung digeber kemarin. Setelah pembukaan di lantai 9 gedung PPG mahasiswa langsung dibagi menjadi 8 kelompok dan kelas pun dimulai.

Saya kemarin memberi materi dengan agak  terburu-buru karena saya pikir waktu seharusnya berakhir pada jam 3 (padahal waktu diundur satu jam karena dikurangi waktu pembukaan). Kami juga tidak bisa langsung belajar karena ternyata materi saya belum disiapkan di kelas dimana saya mesti mengajar dan bahkan laptopnya pinjam pada salah seorang mahasiswi. Tapi secara keseluruhan pembelajaran sangat menarik dengan konsentrasi penuh dari para peserta pelatihan. Mereka nampak sangat menikmati kelas saya (utamanya buku-buku gratis yg saya bagikan pada mereka yg mau aktif menjawab pertanyaan saya).

Ketika sampai di rumah saya mendapatkan pesan dari jaringan Line yg berbunyi, “Terimakasih pak…atas pencerahan literasinya.” Saya tidak kenal siapa ‘Almahfudi’ pengirimnya. Tapi setelah saya tanya ternyata ia salah seorang mahasiswa yg mengikuti kelas saya tadi.

Kalau Anda mendapatkan pesan setelah presentasi seperti ini maka tidak bisa tidak Anda Akan merasa puas dengan apa yg telah Anda lakukan seharian. It would pay you well.

Demikianlah hari-hari literasi yang bisa saya tuliskan saat ini. Ini pun menulisnya di laptop lama yang saya fungsikan lagi agar saya tidak kelamaan menganggur. Semoga tulisan ini bisa menginspirasi Anda untuk juga mulai ikut dalam kampanye Gerakan Budaya Literasi Bangsa. Let me know if you need some assistance in doing it….

Surabaya, 13 April 2015

Salam
Satria Dharma
https://satriadharma.com/

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *