Senin, 17 Februari 2020
Just another WordPress site
Gerakan Sinjai Cerdas

“Meski nama saya tidak ada bugis-bugisnya, percayalah saya ini sebenarnya keturunan Bugis. Ayah saya orang Sinjai dan Ibu saya orang Bone,” demikian kata saya ketika memulai presentasi tentang literasi di Gedung Sinjai Bersatu pada Sabtu, 17 Januari 2015 kemarin. Kabupaten Sinjai adalah kabupaten paling ujung di Sulawesi Selatan. Kab. Sinjai memiliki banyak pulau-pulau kecil di sekitarnya dan merupakan salah satu daerah penghasil ikan terbesar di Indonesia. Saya bersyukur bahwa pada akhirnya saya bisa juga menularkan gerakan literasi ke kabupaten tanah kelahiran ayah saya ini. Ada kelegaan tersendiri ketika pada akhirnya saya berhasil menyuntikkan kesadaran akan pentingnya budaya literasi membaca dan menulis di kabupaten ini. Rasanya seperti berhasil membayar utang.

Gerakan Sinjai Cerdas : Membangun Sinjai Unggul Melalui Pendidikan, itu judul seminar atau presentasi yg saya ajukan pada Ibu Mas’ati, Kadisdik Sinjai kemarin. Isinya…?! Ya tentang pentingnya budaya literasi juga! Jadi isinya sama persis dengan materi presentasi saya dimana-mana. Hehehe…! Lantas mengapa saya tidak mengajukan judul dengan potongan kata ‘literasi’ di dalamnya? Ini hanya masalah efektifitas dalam komunikasi. Ibu Kadisdik (dan masyarakat Sinjai) mungkin belum seberapa paham tentang apa itu literasi dan menyodorkan judul literasi akan sedikit membutuhkan penjelasan. Padahal kami agak kesulitan dalam berkomunikasi dan perlu perantara. Alhasil saya tidak berhasil mendapatkan alamat email beliau sehingga materi presentasi baru saya berikan di tempat acara. Acara di Sinjai memang agak mendadak dan diselenggarakan dalam waktu sesingkat-singkatnya. Kebetulan ayah dan ibu saya pulang kampung mengurusi sekolah kesehatan yg mereka rintis di Sinjai. Saya lalu titip proposal tentang Gerakan Literasi Sekolah utk Kadisdiknya. Siapa tahu mereka berminat.

Karena ternyata orang tua saya kenal baik dengan Pak Bupati maka tawaran saya langsung ditanggapi dan mereka bilang kapan saja saya mau datang maka akan diatur acaranya. Kebetulan minggu depan acara saya akan cukup padat jadi saya tawarkan waktu pada akhir pekan kemarin. Begitu mereka bilang ‘OK’ saya langsung cari tiket dan besoknya berangkat ke Makassar dan lusanya sudah sampai di Sinjai.
Waktu kami sampai di Sinjai ternyata Ibu Mas’ati, Kadisdik Sinjai yg sangat fasih itu, ternyata tidak ada di tempat. Saya perlu tahu sedikit detil ttg audiens dan tempat presentasi. Soalnya saya dengar yang diundang 500 orang dan saya perlu meyakinkan mereka bahwa utk audiens sebesar itu dibutuhkan sistem suara yang benar-benar memadai. Kalau sistem suaranya buruk maka audiens sejumlah itu adalah bencana. Saya akan harus bicara ngotot dan kalau suara saya tidak menjangkau pendengar di barisan belakang maka mereka akan gaduh sendiri nantinya. Saya tentu tidak ingin ini terjadi.
Alhamdulillah kecemasan saya tidak terjadi. Meski hanya ada satu layar berukuran kecil untuk pemirsa berjumlah 500-an orang tapi sistem suara cukup bagus dan presentasi saya berjalan lancar. Ruang gedung penuh karena selain kepala sekolah diundang juga masing-masing 5 orang guru, ketua OSIS dan beberapa ketua kelas SMA. It’s more than I expected. Mereka juga antusias dan semua berlomba ingin bertanya. Apalagi saya menyediakan hadiah sebuah buku bagi yang bisa atau mau menjawab pertanyaan saya dan juga bagi yang bertanya. Untuk presentasi kali ini saya bawakan puluhan buku-buku dan novel seberat bagasi 20 kg lebih utk saya bagi-bagikan pada mereka. As I know everybody loves to get a book for free. Sebelum acara selesai buku-buku tersebut sdh ludes terbagi karena mereka berebut utk mendapatkan bagian. Saya sungguh berharap bahwa mereka akan mulai membaca secara rutin setelah mendengarkan presentasi saya tentang wajibnya umat Islam untuk membaca tersebut (dan juga karena dapat hadiah buku). Hilangnya tradisi membaca pada umat Islam sungguh merupakan ironi yang menyedihkan dan dibutuhkan upaya keras dan terus menerus untuk membangkitkannya. Saya telah memulainya di tanah kelahiran orangtua saya dan bertekad akan melakukan lebih daripada apa yang saya lakukan di daerah-daerah lain. Ada utang asal-usul yang rasanya perlu saya bayar sepantasnya dengan apa yang saya punyai.

Baca juga:  Safari Literasi di Aceh (Bag. 1) : Menangis Karena Terharu

Perjalanan saya ke Sinjai ini memang saya manfaatkan utk melihat daerah-daerah lain di Sulsel. Ternyata beberapa daerah di Sulsel telah maju melesat karena visi kepala daerahnya. Kab. Bantaeng, yang berjarak 120 km dari kota Makassar umpamanya, sekarang menjadi hebat berkat sentuhan tangan dingin bupatinya, Prof. Nurdin Abdullah, dosen Unhas yang lulusan Jepang. Bupati yg maju untuk kedua kalinya ini adalah sosok yg sederhana tapi memiliki visi yg jauh ke depan dan sekaligus seorang pekerja keras.
Beliau berhasil membangun rumah sakit berlantai 8 di Kabupaten Bantaeng dan jika ada warga yang sakit cukup menelpon maka ambulans Brigade Siaga Bencana (BSB) Bantaeng lengkap dengan dokter dan perawat akan segera ke rumah warga. Pelayanan ini siap 24 Jam. Bantaeng yang dulu terkenal dengan semak belukarnya kini menjadi kabupaten tempat wisata pantau yang indah. Bahkan Bupati Bantaeng ini bercita-cita menjadikan Bantaeng sebagai “Singapura” di Indonesia. Karena sebagian besar pusat pemerintahan dan fasilitas pelayanan publik bakal di pindahkan ke daerah pantai.

Nurdin Abdullah berhasil meningkatkan iklim investasi di Bantaeng. Katanya 1000 ha telah disiapkan untuk pabrik smelter yang beroperasi tahun 2015, 2000 ha untuk relokasi industri dari Jepang. Bahkan rencananya kan dibangun sekolah mekanik Asia Pasifik kerjasama dengan Toyota serta BLK dengan standar internasional. Luar biasa visinya…!

Selain Bantaeng, saya melihat Bukukumba juga telah berhasil membangun Dato’ Tiro Islamic Centre yang megah. Meski belum tahu apa program yg dilakukan oleh Islamic Center Bulukumba tapi keberhasilannya membangun gedung tsb patut diapresiasi. Bulukumba juga menjadi kabupaten yang berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonominya di atas 8%, lebih tinggi daripada rata-rata nasional. Jika tidak ada aral melintang Bulukumba akan memiliki sebuah bandara sendiri.

Baca juga:  JALAN-JALAN KE MALUKU DAN MALUKU UTARA

Lantas apa modal Sinjai? Saya justru melihat banyaknya orang asal Sinjai yang berhasil di luar Sinjai. Ketua DPRD, HM Roem, Rektor UNM, Prof Arismunandar, Wakil Gubernur Kaltim, Mukmin Faisyal, adalah beberapa tokoh asal Sinjai. Selain pejabat, banyak orang asal Sinjai yang sukses menjadi akademisi dan wirausahawan di berbagai daerah baik di Sulawesi mau pun di luar pulau. Alangkah baiknya jika potensi-potensi ini bisa dikumpulkan untuk bersama-sama membangun Sinjai yang unggul. Alangkah baiknya jika ada sebuah visi bersama untuk membangun Sinjai yang unggul yang diinisiasi dan dilakukan oleh para perantau asal Sinjai. Dengan demikian selalu ada keterkaitan emosional dan batin antara masyarakat perantau asal Sinjai dengan daerah asalnya.

Saya pikir ini ide yang bagus untuk digulirkan…! 🙂

Makassar, 19 Januari 2015

Salam

Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *