Sabtu, 23 Agustus 2019
Just another WordPress site
HTI YANG DISAYANG DAN YANG DITENDANG (PART 3)

Pagi ini Gus Mek agak terlambat keluar dari kamarnya. Padahal para santrinya sudah pada ngumpul dan duduk bersila dengan rapihnya ingin mendengarkan lebih lanjut soal HTI. Rupanya Gus Mek sliliten daging steak bekas dinner tadi malam. Dasar wong ndeso tak iye. Makan steak sedikit saja sliliten gak selesai-selesai.

Begitu Gus Mek duduk, nyruput kopinya sedikit, langsung dibrondong pertanyaan sama salah seorang santrinya yang kelihatannya sudah jatuh cinta sama HTI. Sebut saja namanya Eko Pram.

“Gus Mek, nyuwun ngapunten. Kenapa Gus Mek kelihatannya tidak suka sama HTI padahal setahu saya orang-orang HTI itu baik-baik semua, alim, bersahaja, pinter, dermawan…” si santri berhenti sejenak

“Suka menabung, tidak suka coret-coret tembok, kalau keluar dari rumah berdoa dulu…” Gus Mek langsung menambahi sambil ketawa. Dan semua santrinya ikut ketawa. Biasanya kalau Gus Mek sudah guyon begini maka suasana diskusi akan lebih gayeng.

“Kamu benar sekali, Eko Pram. Orang-orang HTI itu semuanya baik-baik. Ada juga yang sangat pinter karena lulusan luar negeri dengan gelar doktor dan PhD. Ada juga ulama lulusan Mesir, Syria, punya banyak santri, dll. Tapi mereka semua itu tertipu…” Gus Mek berhenti sebentar. Para santrinya semua diam terhenyak seolah tidak percaya Gus Mek bakal ngomong begitu. Kadang-kadang Gus Mek iki kalau ngomong sak penake dewe. Lha wong lulusan lokal aja kok ya berani mengritik PhD, demikian pikir Eko Pram.

“Tapi jangan dipikir kalau sudah doktor lulusan luar negeri dengan gelar PhD, MSc, Almukarrom, Kyai, Gus, Habib, Al-Marhum, dll maka tidak akan bisa tertipu. Semua orang bisa tertipu dan begitu juga teman-teman kita yang baik-baik di HTI itu. Coba lihat Dr. Marwah Ibrahim yang sangat pintar, doktor lulusan luar negeri dengan pengalaman yang bukan main banyaknya tersebut. Faktanya ya bisa tertipu oleh Kanjeng Dimas dengan iming-iming penggandaan uang. Sesuatu hal yang bagi orang lain tidak masuk akal tapi dengan tipu daya dan rekayasa akhirnya ya dipercaya juga. Jadi tolong jangan mengira bahwa kyai lulusan Mesir tidak mungkin bisa tertipu oleh orang semacam Kanjeng Dimas yang katanya malah gak bisa mengaji itu.”

Baca juga:  MENGAPA HTI ITU BERBAHAYA BAGI BANGSA, NEGARA, DAN AGAMA?

“Tapi, Gus… HTI itu bohongnya di mana? Bukankah mereka semua bisa menunjukkan dalil-dalil keabsahan dan kebenaran dasar dari gerakan politik mereka berdasarkan Alquran dan hadis? Mereka malah ngajak kita ngaji pada mereka.” Sahut Eko Pram yang memang suka sedikit ngeyel tsb.

“Kalau kamu membantah mereka pakai ayat-ayat atau hadist kamu pasti akan diuntal karena mereka juga pandai menggunakan ayat dan mereka sudah terlatih puluhan tahun mempengaruhi orang pakai ayat dan hadist. Makanya banyak ulama atau ustad yang tertipu karena ilmunya hanya itu-itu saja.”

“Lha trus gimana caranya kita menghadapi mereka yang begitu canggih itu, Gus.” Mereka semua bertanya.

“Pakai ilmu ‘Mikiro Sithik’,” jawab Gus Mek sambil menahan senyum. Para santri langsung tertawa dengan agak penasaran. Ilmu ‘Mikiro Sithik’ kok bisa dipakai membongkar tipuan HTI lha wong sing mikir sampai dalam aja bisa tertipu?

“Saya beri analogi ya, Le. Analogi ini penting untuk jadi jembatan pada pemahaman yang lebih tinggi. Kalau langsung pada permasalahan kamu tidak akan paham karena tidak punya dasarnya.

Bayangkan seandainya Eko Pram yang nyantri di sini umrah dan di Mekah ketemu sama kyai dari Palestina. Sebut saja namanya Kyai Taki Nabani. Eko Pram langsung kesengsem lha wong Kyai Taki ini puinter bahasa Arab, hafiz Alquran, menguasai sejarah Islam, dll. Lihat wajahnya yang berjenggot lebat itu saja sudah terpesona si Eko Pram. Belum lagi melihat jubah dan sorbannya. Pokoknya top deh! “Wong iki wis mesti alim dan benar. Tak salah lagi…!” demikian pikir Eko Pram.

Oleh Kyai Taki ini Eko diberitahu bahwa pada jaman dulu Rasulullah itu punya bendera untuk dipakai berperang. Benderanya namanya Ar-Rayah dan Al-Liwa dan bertuliskan kalimat Tauhid. Jadi benderanya Islam itu ya Ar-Rayah dan Al-Liwa. Eko Pram pasti manggut-manggut lha wong itu memang benar.

Setelah itu si Kyai Palestina ini lalu mendoktrin Eko Pram yang manggut-manggut ini, “Lambang pesantrenmu apa? Bendera negaramu apa? Bola dunia, tali melingkar dan Sembilan bintang? Opo iku? Merah Putih? Itu ciptaan siapa? Apa dasar dari lambang dan bendera tersebut? Apakah Rasulullah pernah menggunakan lambang dan bendera tersebut? Katanya Indonesia itu mayoritas muslim, tapi kok menggunakan bendera yang tidak jelas tuntunannya dalam Islam? Mengapa umat Islam Indonesia tidak menggunakan bendera Ar-Raya dan Al-Liwa yang jelas-jelas syar’I dan merupakan bendera Islam asli dari Rasulullah. Apakah belum datang ilmu kepadamu, wahai Eko Pram? Di mana ghirrahmu akan perjuangan Islam? Dll… terusno dewe. Pokoknya ujung-ujungnya Eko Pram merasa bahwa apa yang ia ikuti selama ini ternyata salah dan tidak ada dasarnya. Ia merasa sangat bodoh dan tersesat. “Jancuk…!” demikian ia misuh tapi dalam hati.

Baca juga:  SMAN 5 SURABAYA : MENJADI SEKOLAH TERBAIK DI INDONESIA (Part 2)

Maka goyanglah batin Eko Pram. Benar juga ya…

Setelah pemahamannya goyah, barulah si santri Palestina yang bernama Taki Nabani ini memasukkan doktrinnya. “Tegakkanlah kebenaran Islam. Jangan mengikuti ajaran taghut. Semua lambang dan bendera yang bukan Ar-Raya dan Al-Liwa adalah bid’ah dholalah yang harus diganti dengan bendera Islam yang benar dan asli. Barangsiapa yang tidak berbenderakan Ar-Raya dan Al-Liwa maka sesungguh ia akan mati dalam keadaan kafir, etc….etc…”

Tambah goyanglah batin Eko Pram ini. Gemetar hatinya mendengar bahwa ia akan mati kafir. Naudzu billahi min dzalik. Percuma aku sholat lima kali sehari, dzikir, puasa, sedekah, zakat, gak poligami, kalau ujung-ujungnya mati kafir. Nehi…! Aku tidak mau mati kafir. Aku mau menegakkan bendera Rasulullah dan aku akan ikut Kyai Taki Nabani memperjuangkan Islam yang sesungguhnya. Aku akan mengganti semua lambang bola dunia, tali, dan sembilan bintang itu dengan gambar bendera Rasulullah. Allahu Akbar….! Ia lalu takbir tiga kali dan salto ke belakang empat kali (serong ke kiri dan serong ke kanan).

Semua santri ternganga mendengar cerita Gus Mek. Ternyata begitu cerita analoginya. Tidak dinyana ternyata Eko Pram, santri senior di pondok mereka itu, ternyata dengan mudah dikadalin oleh Kyai dari Palestina. Ya, gak salah juga sih. Eko Pram kan belum punya ilmu ‘Mikiro Sithik’.

Semua terdiam dan berusaha meresapkan dalam hati masing-masing.

“Nyuwun ngapunten, Gus Mek. Bagaimana kalau seandainya saya tetap pada keyakinan saya bahwa lambang bola dunia, tali, dan sembilan bintang ini adalah buatan taghut. Begitu juga dengan bendera Merah Putih. Itu semua hasil karangan manusia yang tidak ada dasarnya samasekali dalam Alquran, hadist, atau pun contoh dari para sahabat. Jadi saya akan terus berupaya untuk menggantinya dengan bendera Ar-Rayah atau Al-Liwa. Ini demi perjuangan Islam yang benar dan berdasarkan Alquran dan sunnah Nabi. ” tiba-tiba Eko Pram nyletuk begitu.

Baca juga:  KEGENTINGAN NEGARA’ ALA UMAR RA

Belum lagi Gus Mek menjawab Eko Pram langsung diteriaki dan dijitaki sama teman-temannya sendiri.

“Sana bikin pondok pesantren sendiri…! Jangan ikut pondok sini. Kamu pengkhianat…!” teriak teman-temannya.

“Hei…! Sabar rek…! Kan aku tadi bilang ‘seandainya’… Ini cuma perumpamaan aja. Iki ngono semunggo’o. Gak tenanan.” jawab Eko Pram sambil menutupi kepalanya yang mau dijitaki sama teman-temannya.

“Wis, leren. Cukup sekian dulu. Ayo segera kerjakan tugas harian kalian masing-masing,” Gus Mek melerai mereka. Disruputnya lagi kopinya dengan khidmat. Ah…! Hari yang indah. Terima kasih ya, Allah! Dipandangnya lambang bola dunia, tali, dan sembilan bintang yang terpasang di dinding pondoknya dan membayangkan betapa beratnya tugas para kyai yang harus mempertahankan nilai-nilai perjuangan yang tersimpan di balik makna lambang tersebut. Ia lalu mengalihkan pandangannya ke dinding lain yang memasang bendera merah dan putih dan merasa sedih bahwa banyak umat Islam sekarang ini yang tidak tahu betapa besar rahmat dan karunia Tuhan yang telah dilimpahkannya pada bangsa Indonesia untuk bisa mengibarkan bendera tersebut menggantikan bendera merah, putih, dan biru.

“Berkibarlah benderaku… Siapa berani menurunkan engkau serentak rakyatmu membela…” lamat-lamat ia menyanyikan lagu tersebut dalam hatinya.

Surabaya, 18 Mei 2017

Salam
Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *