Selasa, 15 Oktober 2019
Just another WordPress site
KISAH MUSA

QS 20:42-44 Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayat-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku;
Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas;
Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (Mudah-mudahan ia mau menerima peringatan atau bertaqwa pada Tuhan)

Dear all,
Bacaan Al-Qur’an saya pagi ini tiba di Surat Thaha. Surat ke 20 dalam urutan di Al-Qur’an yang kesemua ayatnya adalah Makkiyah (turun di Mekkah). Thaha merupakan dua huruf fonemis dan para ulama tidak bersepakat pemahaman ttg apa arti ‘Thaha’ itu sendiri. Ada ulama yang memahami kedua huruf tersebut sebagai panggilan kepada lelaki atau tokoh dan ada yang berpendapat bahwa kedua huruf tersebut adalah singkatan. Tapi kita tidak akan membahas ini.

Kisah Nabi Musa sangat menarik dan ada dikisahkan di surat-surat lain. Tapi saya hanya akan membahas ayat di atas. Pada ayat di atas Tuhan memerintahkan Nabi Musa dibantu oleh Harun, saudaranya, untuk berdakwah pada Fir’aun, raja Mesir saat itu yang sangat kejam dan lalim.

Meski hanya sebagai asisten dari Nabi Musa tapi Harun statusnya juga seorang nabi. Artinya Tuhan bisa mengirim dua orang nabi ke sebuah tempat secara bersamaan. Bahkan tidak jauh dari Mesir, yaitu di Madyan, tinggallah seorang nabi lain yg bernama Syu’aib, yang tidak lain adalah mertua Nabi Musa sendiri. Jadi dalam suatu masa yang bersamaan Tuhan bisa mengirim beberapa nabi sekaligus (Ini mengingatkan saya tentang perdebatan saya dengan seorang teman yang tidak mau mempercayai bahwa tentulah Tuhan pernah mengirim nabi ke nusantara (whatever the name at that time). Menurut saya sudah semestinya Tuhan juga pernah mengirim nabi-nabi ke seantero jagat selain ke negara Timur Tengah meski para nabi yang diceritakan di Al-Qur’an adalah nabi-nabi yang bertugas di sekitar Timur Tengah saja. Bagi teman saya itu kalau tidak disebutkan di Al-Qur’an ya tidak patut dipercayai. Yo wis…!)

Apa tugas Nabi Musa dan Nabi Harun? Mereka diutus untuk berdakwah pada Fir’aun seorang raja yang sangat berkuasa, sangat kejam dan sewenang-wenang. Ini tugas yang luar biasa berat dan berbahaya. Semacam ‘mission impossible’ yang kemungkinan keberhasilannya mendekati nol. Padahal taruhannya adalah nyawa mereka berdua. Kalau bisa ditolak ya pasti akan ditolak. Tapi tugas kenabian mana bisa ditolak…?! 🙂

Baca juga:  HOT, FLAT, and CROWDED

Lantas apa modal Nabi Musa untuk menghadapi Fir’aun ‘The Fierceful’ ini? Nabi Musa diberi asisten khusus, yaitu Nabi Harun, yang disebut lebih fasih dalam berbicara. Kepandaian berkomunikasi dan berdiplomasi adalah modal besar untuk menghadapi orang yang akan dipengaruhi. Dengan adanya Nabi Harun maka kekurangan Nabi Musa dalam kemampuan berkomunikasi, berdiplomasi dan berargumentasi jadi tertutupi.

Rupanya Nabi Musa kurang pede dengan kemampuannya berkomunikasi. Lha gimana ini…?! Nabi kok kurang pandai berkomunikasi…! Sebelum ini sebenarnya Nabi Musa sudah melayangkan permintaan khusus kepada Tuhan supaya dilapangkan dadanya dan dimudahkan tugasnya dengan ‘menghilangkan buhul (ikatan) dari lidah’nya. Maksudnya ya supaya lancar berbicara dan mereka paham dengan apa yang disampaikannya. Doa Nabi Musa ini adalah doa yang dulu diajarkan oleh sekolah kami di SD dulu dan harus kami baca sebelum kami memulai pelajaran. Waktu itu saya tidak paham apa artinya tapi saya sangat hafal karena setiap hari kami baca bersama-sama.

[QS20:25-28] “Rabbisyrah lii shadrii wayassir lii amrii
wahlul ‘uqdatan min lisaanii yafqahuu qawlii”
“Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.”

Meski Tuhan telah mengabulkan permintaan Nabi Musa ini tapi nampaknya beliau belum pede. Beliau meminta seorang asisten yang akan menemani beliau dalam menjalankan tugas kenabiannya, yaitu adiknya sendiri yang bernama Harun. Tuhan juga mengabulkan permintaannya ini.

Cukup…?! Belum.

Nabi Musa juga dibekali dengan mukjizat, yaitu kemampuan utk mencengangkan orang agar timbul rasa segan dan takut padanya. Perlu dipahami bahwa Nabi Musa hidup di jaman ketika ilmu sihir sangat merajalela. Para ahli sihir sangat disegani dan ditakuti. Oleh sebab itu Nabi Musa dibekali juga dengan mukjizat yang akan bisa membuat orang terpana dan tunduk padanya. Tongkat yg dibawanya bisa menjadi ular jika dilepaskan dan jika tangannya dikepit di ketiaknya akan mengeluarkan cahaya seperti bersinar. Siapa yang tidak takut melihat ular, apalagi ular berbisa dan ganas?

Baca juga:  BEDA PEMAHAMAN

Apakah semua modal ini cukup? Ternyata Nabi Musa masih grogi.
Beliau takut kalau-kalau Fir’aun langsung menindak mereka tanpa mau mendengarkan argumentasi mereka berdua. Beliau takut kalau-kalau Fir’aun tidak terkesan dengan mukjizat yg dimilikinya dan langsung menghukum mereka berdua.
Oleh Tuhan Nabi Musa ditenangkan dan dijanjikan keselamatan Allah berfirman:
(QS [20:46] “Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat”.

Disini kita bisa melihat bahwa bahkan seorang nabi yang memiliki begitu banyak keistimewaan dan kelebihan toh masih memiliki rasa takut dan was-was dalam menghadapi tugas berat dan berbahaya. Padahal berdasarkan riwayat Nabi Musa bukanlah seorang penakut dan bahkan dengan sekali tinju ia bisa membunuh orang (bandingkan dengan Mike Tyson yang butuh berkali-kali pukulan untuk menjatuhkan lawannya, bukan membunuh lho!). Jadi rasa takut dan pesimis dalam menghadapi tugas berat, apalagi berbahaya, itu sebenarnya hal yang sangat manusiawi (dan dalam hal ini juga nabiwi). :-). Tapi dengan memohon kekuatan mental pada Tuhan maka kita akan bisa mendapatkan keberanian utk menghadapi tugas yang maha berat dan sangat berbahaya.

Dengan modal tersebut maka berangkatlah mereka berdua menghadap ke Fir’aun dengan misi berdakwah untuk mengajaknya kepada kebenaran. Tentu saja mereka masih merasa takut tapi oleh Tuhan ditenangkan dan dijanjikan akan selamat karena dalam pengawasan Tuhan.

Apalagi modal yang diberikan oleh Tuhan kepada Nabi Musa dalam menghadapi ‘the most fearful pharaoh’ ini? Tuhan memberinya sebuah METODE KHUSUS dalam berdakwah, yaitu ‘berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut’. Berdakwah dengan ‘qaulan layyinan’, kata-kata yg lemah lembut’.

Qaulan layyinan, kata-kata yang lembut…

Jadi bahkan pada orang yang paling kejam dan jahat pun Tuhan meminta nabiNya untuk menyampaikan dakwahnya dengan lemah lembut, bukan diclathu alias dihardik, apalagi pakai bawa pentungan dan golok (emang lu berani main hardik sama Firaun…?! Hehehe…!)

Teman-teman para da’i yang selama ini giat berdakwah tentu paham belaka bahwa model berdakwah salah satunya adalah Qaulan layyinan, kata-kata yang lembut. Kalau ada orang yang berdakwah (atau ngakunya berdakwah amar ma’ruf nahi mungkar tapi menggunakan kata-kata yang kasar, keji, muka merah padam, apalagi sambil bawa pentungan dan golok, maka percayalah bahwa mungkin mereka belum membaca episode Nabi Musa dalam Al-Qur’an ini.

Baca juga:  TRAGEDI KEPEMIMPINAN DALAM ISLAM

Apalagi yang menarik dari ayat ini?

Ternyata Tuhan menggunakan frase ‘mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (Mudah-mudahan Fir’aun mau menerima peringatan atau bertaqwa pada Tuhan)’. Lho…, kok mudah-mudahan?! Emangnya Tuhan tidak tahu apa yang akan terjadi setelah Fir’aun didakwahi oleh Nabi Musa? Lha kalau Tuhan memang ingin agar Fir’aun sadar dan bertobat apa susahnya sih membuat Fir’aun bertobat…?! Kan Firaun itu hanya mahluk ciptaanNya belaka yang tidak ada dayanya dibandingkan Tuhan. ..?! Kan tinggal ‘Kun Fayakun’ aja…?!

Pada akhirnya Firaun memang tetap membangkang dan tidak mau menerima kebenaran yang dibawa oleh Nabi Musa. Ia malah menantang Nabi Musa untuk adu kesaktian sihir dengan memanggil para tukang sihir paling top di Mesir saat itu (Semoga keselamatan, berkah, dan rahmat Tuhan bagi para tukang sihir tersebut).

Jadi meski pun Nabi Musa telah dibekali dengan berbagai macam ilmu dan mukjizat tapi tugasnya untuk membuat Fir’aun beriman ternyata tetap gagal (tugasnya menyelamatkan Bani Israel sih berhasil). Ini artinya bahwa manusia sekelas nabi pun bisa gagal dalam mengemban tugas meski pun telah mendapat mandat dan bekal langsung langsung dari Tuhan (apalagi cumin sekelas elo ama gue, Bro!). Jadi tidak perlu merasa ‘ancur-ancuran’ kalau gagal dalam sebuah tugas. Tenangkan hati kita dengan mengatakan, “Sabar, Bro. Cobaan elo mah belum seberapa. Tuh Nabi Musa aja gagal.” Hehehe…!

Kisah ini juga memberi kita pelajaran bahwa urusan beriman atau tidak itu memang sepenuhnya hak prerogatif Tuhan. Jadi gak usah heran deh kalau banyak orang di sekitar kita gak beriman. Kita juga gak usah maksa-maksa siapa pun untuk beriman lha wong beriman atau kagak itu urusan Tuhan. Urusan kita cuma berusaha. Berhasil atau tidak serahkan sama yang Tuhan yang menentukan aja.

Kalau mau tahu kisah Nabi Musa selengkapnya sila baca :
http://kisah25nabi.blogspot.com/2007/12/nabi-musa-as.html?m=1

Surabaya, 14 Januari 2015

Salam

Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *