Jumat, 22 Februari 2020
Just another WordPress site
SURABAYA KOTA LITERASI (Bagian 2)

“Kota Literasi…?! Apaan tuh…?!”

Tahukah Anda bahwa Ibu Risma (Tri Rismaharini), Walikota Surabaya, adalah SATU-SATUNYA kepala daerah di antara 530 Walikota dan Bupati di seluruh Indonesia yang paham tentang pentingnya literasi bagi kemajuan masyarakatnya (sehingga beliau mencanangkan Surabaya sebagai Kota Literasi)…?! Bayangkan…! Dari 530 Kepala Daerah di Indonesia ternyata hanya Ibu Tri Rismaharini yang benar-benar paham tentang apa itu literasi, betapa pentingnya budaya membaca dan menulis bagi masyarakatnya, sehingga beliau bertekad bulat untuk menggerakkan masyarakatnya untuk gemar membaca dan menulis. Untuk itu beliau mencanangkan Surabaya Kota Literasi pada peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2014 yang lalu di halaman Taman Surya.

Hampir semua kepala daerah tidak memahami pentingnya budaya membaca dan menulis dan, apalagi, mau bersusah payah menjadikan masyarakatnya memiliki budaya membaca dan menulis…! Kalau pun ada satu dua kepala daerah yang memahami tapi mereka belum benar-benar berupaya untuk menjadikan masyarakatnya memiliki budaya membaca dan menulis (literasi). Tak ada program nyata yang mereka susun untuk menjadikan masyarakatnya berbudaya literasi. Mungkin mereka berpikir bahwa itu tugas Kemendikbud (padahal Kemendikbud juga tidak melakukan apa-apa untuk urusan budaya literasi ini. Sampai saat ini…!).

Mungkin para walikota dan bupati berpikir jika ekonomi daerahnya membaik maka budaya membaca dan menulis akan tumbuh dengan sendirinya. Mungkin Kemendikbud, para walikota dan bupati berpikir jika anak-anak mereka bersekolah baik-baik sampai lulus SMA maka mereka akan otomatis memiliki budaya membaca dan menulis yang memadai untuk bersaing di dunia global. SALAH BESAR…! Membaca dan Menulis adalah ketrampilan yang hanya akan bisa dimiliki oleh anak-anak kita jika kita melatih mereka dengan sungguh-sungguh. Dengan kurikulum yang ada (sejak dulu sampai sekarang) dan ketidakpedulian kita pada urusan membaca dan menulis ini maka SANGAT JELAS bahwa anak-anak kita TIDAK AKAN MEMILIKI BUDAYA MEMBACA DAN MENULIS. Silakan bantah saya…

Banyak kaum terpelajar bahkan tidak tahu apa itu literasi (kemarin saya presentasi di hadapan mahasiswa Unair yang mau KKN dan ternyata mereka juga tidak paham apa itu literasi). Untunglah bahwa kita punya Ibu Tri Rismaharini yang punya visi yang jelas tentang budaya literasi ini.

Untuk segala upaya dan keseriusan beliau membangun budaya membaca dan menulis di Kota Surabaya itu, IKAPI menganugrahi Literacy Award 2014 kepada beliau. Penghargaan ini diberikan pada seremoni pembukaan Indonesia International Book Fair 2014 (IIBF) yang dilaksanakan pada Sabtu (1/11/2014) di Jakarta.

“Biasanya sih program pemerintah itu seremonial aja. Setelah itu ‘good bye’….”
“ Kalau sekedar pencitraan mah….semua juga bisalah!”
“Menciptakan budaya membaca, apalagi menulis, itu gak main-main, Bro! Butuh satu atau dua generasi untuk mengubahnya (pakar mode on)

Ibu Risma, Walikota Surabaya, rupanya tidak sekedar lempar wacana dan main pencitraan belaka dengan pencanangan Surabaya Kota Literasinya. Semula program ini ada di tangan Ibu Arini, Kepala Badan Arsip dan Perpustakaan, dan beliau bekerjasama dengan Pak Ikhsan, Kadisdik Kota Surabaya. Beberapa program telah mulai berjalan. 500 lebih petugas perpustakaan diterjunkan ke SDN-SDN dan komunitas-komunitas untuk menggerakan program membaca pada siswa SD. Tapi tentu saja program ini masih jauh dari level ‘kota’. Itu mah baru level SDN (dan TBM)…! Program ini belum ke SD Swasta, apalagi ke level di atasnya (SMP, SMA, SMK, MTs, MA, perguruan tinggi). Baru satu bukit yang didaki, belum gunung-gunungnya…!
Oleh sebab itu Ibu Arini menghadap lagi ke Ibu Risma dan menyampaikan beberapa kesulitan yang dihadapinya. Sungguh berat untuk menjadikan Surabaya sebagai Kota Literasi, demikian keluh Ibu Arini.
Apa jawab Ibu Risma…?!

Baca juga:  SEMUA "DIHANDLE" GOOGLE, APA TUGAS SEKOLAH?

“Tidak ada tapi-tapi… Pokoknya program ini harus sukses..!”

Demikianlah…
Agar program ini mencapai tujuannya, dan tidak sekedar menjadi program Badan Arsip dan Perpustakaan, maka Ibu Risma meningkatkan status program ini menjadi Program Kota Surabaya dengan melibatkan semua SKPD. Untuk itu Ibu Risma membentuk Tim Surabaya Kota Literasi dan meminta semua Kepala Dinas dan Badan untuk menjadikan program ini sebagai bagian dari program masing-masing SKPD. Beliau lalu menunjuk Sekda utk merumuskan dan menjalankan program ini dengan mengundang semua Kepala Dinas dan Badan utk rapat pd hari Selasa, 2 Desember 2014 yang lalu. Rapat ini kemudian ditindaklanjuti lagi dengan rapat koordinasi dengan mengundang Kepala Dinas dan Badan di Pemkot Surabaya ditambah dengan beberapa perwakilan perguruan tinggi dan Tim Jawa Pos. Jawa Pos memang sudah berkomitmen utk membantu program ini dengan membuat program khusus semacam program Mading (Majalah Dinding) yang telah dilaksanakan dengan sukses oleh Japos selama bertahun-tahun.

Saya sendiri baru ikut pada pertemuan kedua yang dilakukan di Ruang Rapat Sekdakot Jl. Taman Surya 1 Sby pada 11 Januari kemarin. Ada 15 Kadis, Kabag, dan Kakan yang diundang. Selain itu diundang juga Prof Luthfiyah dan Pak Khoiri dari Unesa serta rombongan Tim Jawa Pos. Meski nampak sekali bahwa masih dibutuhkan kesamaan visi dan pandangan tentang apa, mengapa, dan bagaimana mewujudkan Surabaya sebagai Kota Literasi tapi dua pertemuan setingkat SKPD ini jelas menunjukkan sebuah kemajuan yang sangat berarti dari komitmen Ibu Risma utk menjadikan Surabaya sebagai Kota Literasi.

Dalam rapat ini saya menyampaikan beberapa hal khususnya apa itu Surabaya Kota Literasi, mengapa itu perlu, dan apa visi, misi, dan target-target yang perlu dicapai. Mereka yang terlibat dalam program ini perlu memiliki pemahaman yang sama tentang literasi dan urgensinya sebelum mereka bisa diajak untuk terlibat aktif dalam program-program yang mungkin akan dilaksanakan. Jika para pemangku kepentingan belum benar-benar memahami peran dan tujuan strategis dari program Surabaya Kota Literasi ini maka akan sulit utk mendapatkan perhatian, apalagi bantuan, dari mereka.

Baca juga:  LITERASI DI ERA DISRUPSI

Sebagai contoh, apa kira-kira hubungan dan korelasi antara Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan, Dinas Kesehatan, Bagian Hukum, Bagian Umum dan Protokol, Badan Perencanaan dan Pengembangan Kota dengan program Surabaya Kota Literasi? Jika para Dinas dan Badan ini tidak melihat sedikit pun korelasi antara tupoksi mereka dengan program ini maka bagaimana mungkin mereka akan bisa membantu program ini? Jika kita belum benar-benar paham apa, mengapa, dan bagaimana urgensi dari sebuah program maka jelas kita tidak akan bisa mengeluarkan semua kapasitas yang kita miliki utk mendukung program tsb. Rapat kemarin jelas masih menunjukkan hal tsb. It’s still a very long way ahead…

Meski demikian, selalu ada terobosan dan kemajuan jika kita mau melangkah. Setelah staf Barpus berdiskusi dengan bagian Dinas Komunikasi dan Informatika (tentang program Surabaya Kota Literasi ini) ternyata ada tupoksi Diskominfo yang benar-benar bisa membantu program Surabaya Kota Literasi ini. Salah satu tupoksi Diskominfo sebagai sebuah dinas di pemkot adalah mengkomunikasikan dan menginformasikan program-program Kota Surabaya. Jadi mempromosikan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan program Kota Surabaya, termasuk Surabaya Kota Literasi, adalah salah satu tugas Diskominfo . Surabaya Kota Literasi jelas perlu mendapatkan porsi promosi yang memadai, dan Diskominfo bisa membantunya.

Jadi begitu mendengar kemungkinan ini bersama Bu Ratih dari Barpus saya pun segera meluncur ke Diskominfo di lantai 5 dan menemui Ibu Novi Diskominfo untuk mendiskusikan apa saja bentuk promosi yang bisa dilakukan oleh Diskominfo. Ternyata banyak hal yang bisa dilakukan oleh Diskominfo untuk mempromosikan program Surabaya Kota Literasi ini. Boleh dikata semua bentuk promosi bisa dirancang bersama dan media serta alat promosinya bisa disiapkan oleh Diskominfo. Bukankah ini luar biasa…?! Alhamdulillah, Segala Puji bagi Allah yang telah memudahkan kami dalam melaksanakan program Surabaya Kota Literasi sampai saat ini. Kami segera merancang program promosi SKL agar dapat masuk ke perti-perti dengan program Mahasiswa Sukarelawan Penggerak Literasi.

  1. Beberapa media promosi yang akan kami siapkan adalah :
    Stiker tentang “Surabaya Kota Literasi” (baik yang utk di mobil mau pun di media umum). Kami sdg merancang-rancang apa bunyi stiker tersebut. Saya sedang mempertimbangkan kata-kata sbb: Surabaya Kota Literasi. Arek Suroboyo Jelas Seneng Moco Rek! Sudahkah Anda Membaca Hari Ini? Tiada Hari Tanpa Membaca, Mau Gaul…?! Baca dong…! dll. Jika Anda punya tagline yang menarik utk mempromosikan literasi kami undang Anda utk berpartisipasi.
  2. Spanduk, banner, flyer, brosur, dll untuk promosi Mahasiswa Sukarelawan Penggerak Literasi (I will talk about it later)
  3. Talkshow tentang pentingnya budaya membaca dan menulis baik di radio-radio mau pun TV lokal. Kami ingin agar ada talkshow tentang pentingnya budaya membaca bagi semua lapisan masyarakat dengan bekerja sama dengan semua media baik itu media cetak mau pun radio dan TV. Kami ingin mengajak semua intelektual, pemuka agama, tokoh masyarakat, tokoh bisnis, dll berbicara dan mengajak komunitasnya untuk mulai membudayakan membaca dan menulis sebagai bagian kehidupan sehari-hari. Kami ingin all-out (soalnya kami tidak punya ‘dua atau tiga generas’i untuk mengubah ini seperti apa yang dikatakan oleh pakar). Kami hanya punya hari ini dan kami akan menggunakan setiap menit dan jamnya untuk menggerakkan masyarakat untuk mulai melakukan kegiatan membaca dan menulis.
Baca juga:  Hilangnya Kesenangan (dan Nalar) dalam Matematika

Saya yakin Anda sepakat dengan kami…

Surabaya, 11 Januari 2015

Salam

Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *