Jumat, 22 Februari 2020
Just another WordPress site
MALALA DAN TALIBAN

Malala Yousafzai berpidato saat merayakan ulang tahunnya yang ke-16 di Markas PBB New York (12/7). (AP Photos/United Nations Foundation, Stuart Ramson)

Kadang-kadang lalu-lintas percakapan di milis memunculkan dialog-dialog cerdas yg membuat saya takjub dan terpana. Salah satunya adalah dialog di milis IGI antara Bob Rimba, seorang dokter yang biasanya saya panggil sbg ‘Om Bob’, dan Bunyanum Marsus, seorang guru yg sangat cerdas dan nyentrik dari Lampung.

Diskusi bermula dari posting tentang Malala Yousafzai, seorang gadis Pakistan berusia 16 tahun pejuang hak-hak pendidikan bagi anak-anak perempuan, melawan kaum Taliban. Sekjen PBB Ban Ki Moon menyerukan 12 Juli sebagai Hari Malala, sebagai sebuah perayaan dan penghargaan khusus bagi gadis luar biasa ini.
Berikut ini kisah luar biasa ttg Malala Yousafzai yg saya ambil dari Kompasiana.

Malala Yousafsai menulis sejak berusia 11 tahun, sebagai penulis anonim di blog BBC, yang menuturkan pergulatan seorang anak perempuan di tengah deru peperangan dan secara khusus hak-hak anak perempuan untuk mendapat pendidikan di Pakistan.

Gadis ini lahir 12 Juli 1997 dan tumbuh di kota Mingoria, Distrik Swat, Provinsi Pakhtunkwa Pakistan, sebuah daerah yang bergunung-gunung, subur, dan hijau, namun menjelma menjadi kawasan penuh darah sejak dikuasai oleh Taliban.

Malala tumbuh dalam keluarga yang menjunjung tinggi intelektualitas. Ayahnya, Ziauddin Yousafzai adalah seorang sastrawan, aktivis pendidikan, sekaligus pemilik sekolah tempat Malala belajar ketika ia belum menghadapi ancaman kematian. Ia mengelola jaringan Sekolah Khushal, nama yang diambil dari seorang sastrawan Pashtun, Khushal Khan Khattak. Ayahnyalah yang memperkenalkan Malala pada wawasan hidup yang luas, dan mengajak Malala untuk berani tampil menyuarakan hak-haknya baik melalui tulisan maupun pidato.

Pada tahun 2009 Taliban menguasai lembah Swat tempat Malala tinggal, dan mulailah masa kelam bagi penduduk asli yang telah berabad-abad berdiam di situ. 15 Januari 2009 Taliban melarang anak-anak perempuan bersekolah. Mereka membakar ratusan sekolah dan tak segan-segan membunuh bila diperlukan.

Ketika BBC mencoba mencari suara lain, melalui reporter Abdul Hai Kakkar, sampailah mereka pada Malala dan ayahnya, sebuah suara dari anak perempuan di tengah gemuruh peperangan. Tiga Januari 2009, tulisan Malala pertama kali muncul di Blog BBC Urdu. Tak lama kemudian New York Times membuat film dokumenter tentang Malala. Tulisan-tulisan dan film dokumenter ini mengantar Malala dikenal secara nasional.
Identitasnya pun kemudian diketahui, dan Malala sering berbicara di berbagai forum untuk memperjuangkan hak-hak anak perempuan akan pendidikan. Ia ingin menjadi politisi dan aktivis sosial membela mereka yang lemah dan tertindas. Ia aktif terlibat di beragai kampanye dan gerakan yang memperjuangkan anak-anak di Pakistan.

Pada bulan Oktober 2011, Desmond Tutu menominasikan Malala dalam the International Children’s Peace Prize. Ia menjadi pemenang Pakistan’s first National Youth Peace Prize pada Desember 2011. Pada 2 Januari 2012, namanya dipakai sebagai nama sekolah di Pakistan : Malala Yousafzai Government Girls Secondary School.

Baca juga:  TANYA JAWAB TENTANG UJIAN NASIONAL

Keaktifan Malala mulai membuat pihak Taliban gerah. Malala berkali-kali mendapat ancaman dalam berbagai bentuk. Tanggal 9 Oktober 2012, sewaktu Malala dan dua sahabatnya, Kainat Riaz dan Shazia Ramzan, sedang menaiki bus sepulah ujian di lembah Swat, seorang laki-laki bertopeng menaiki bus, dan menembakkan senjatanya.

Malala dan dua rekannya selamat. Ia dirawat di rumah sakit militer di Peshawar untuk mengangkat peluru, dan mengoperasi kepala sebelah kirinya yang terluka. Taliban menyatakan diri bertanggung jawab atas penyerangan ini. Malala dibawa ke Rawalpindi. Seluruh dunia menawarkan diri kesediaan dan bantuan untuk merawat Malala. Malala kemudian dibawah ke Inggris untuk dirawat lebih jauh mengingat peluru menyerempet otak sebelah kirinya. 17 Oktober Malala sadar dari komanya. Malala membutuhkan beberapa bulan untuk pemulihan kondisinya.

Seluruh dunia bergerak karena Malala. Dari Madonna, Angelina Jolie, hingga Obama dan sekjen PBB. Pada 15 Oktober 2012, Gordon Brown, mantan Perdana menteri Inggris, yang saat ini menjabat sebagai Utusan Khusus PBB untuk pendidikan Global meluncurkan petisi dan kampanye untuk mendukung apa yang diperjuangkan Malala dengan slogan “I am Malala”.

Malala tanpa henti terus bergerak, bersama para sahabatnya, selepas dari RS Malala menyerukan Dana Pendidikan Malala untuk pendidikan anak perempuan di Swat. Ia mendapat sederet panjang penghargaan bagi perjuangan tanpanya. Malala bahkan menjadi kandidat Nobel perdamaian termuda di dunia.

Hari ini 12 Juli 2013, di hari ulang tahunnya ke-16, Malala Yousefzai berpidato di hadapan 500 anak muda di PBB. Malala berkata : “Mari mengangkat buku dan pena kita. Mereka adalah senjata yang paling hebat. Satu anak, satu guru, satu pena, satu buku dapaty mengubah dunia. Pendidikan adalah satu satunya. Pendidikan yang utama.”

Bob Rimba kemudian nyletuk sbb :
“Taliban itu Islam !? Kenapa Taliban menembaki anak anak (perempuan)…!?
Saya bingUnK…”
Pertanyaan ini, meski sekilas cuma sekedar nyeletuk, tentu saja sah dan punya tujuan yang lebih dalam. Om Bob ingin menggugat Taliban, atau lebih tepatnya pemahaman dan persepsi umum (khususnya sebagian umat Islam) tentang kelompok Taliban.
Sekedar dipahami, masih banyak umat Islam yang menganggap bahwa Taliban itu sekelompok pejuang di Afganishtan dan Pakistan yang memperjuangkan agama Islam dengan melawan imperialis Amerika Serikat. Saat ini Amerika Serikat begitu dibencinya oleh sebagian umat Islam dunia sehingga AS dianggap sebagai ‘The Villain’ dan siapa pun yang melawannya adalah ‘The Hero’, termasuk kelompok Taliban ini. Banyak umat Islam yang diam-diam ngefans dengan kelompok pejuang pemberani (melawan AS) dan selalu membawa-bawa nama Islam ini.
Tapi, tentu saja, Taliban is no hero at all dalam kasus Malala ini. Taliban bahkan dikenal sangat kejam dalam membungkam semua pihak yang dianggapnya tidak sepaham dengan garis perjuangannya. Jadi tidak peduli anak-anak atau perempuan, jika dianggap tidak sesuai dengan pemahaman dan garis perjuangannya ya harus dibungkam dengan cara dibunuh. Jadi sebetulnya tindakan Taliban ini justru tidak islami.
Tentu saja kekejaman kaum Taliban ini sangat nggegirisi dan bisa dibaca dimana-mana (Baca novel “The Kite Runner” karya Khaled Hosseini yang menggetarkan). Tapi sekali jadi pahlawan ya mesti tetap dipertahankan. Dan kaum Taliban tetap berada di hati sebagian umat Islam yang sudah jengkel pol-polan sama Amrik.
Di situlah kaitan dari celetukan Om Bob…! And it’s valid. Kalau memang Taliban itu (memperjuangkan) Islam lantas mengapa menembaki anak anak (perempuan)…!? Bukankah hal tersebut tidak sesuai dengan ajaran Islam?
Beberapa hari berlalu tanpa ada yang mengomentari celetukan tersebut ketika tiba-tiba meluncur sebuah posting balasan dari Bunyanum Marsus, seorang guru yang luar biasa cerdas dan nyentrik dari Lampung (Lampung jek…! Jangan dikira cuma ada pawang gajah di sana) yang komentar dan jawabannya benar-benar maknyus sehingga serasa bersinar-sinar di benak saya.
Terus terang gugatan seperti yang disampaikan oleh Om Bob ini terus menerus berdatangan dan orang juga terus menerus menjawab dan menangkisnya. Tapi tangkisan Pak Bun ini sungguh jurus yang sangat langka dan terlalu indah untuk tidak saya komentari. Hehehe….!
Mau tahu bagaimana jurus mautnya Bunyanum Marsus, The Master ini…?! Bacalah pelan-pelan dan nikmati.

Baca juga:  PR ANAK DAN BANTUAN ORTU

“Om Bob, salah satu jenis literatur yang saya gunakan untuk belajar memahami dunia tempat saya tinggali ini adalah syair nyanyian. Dan untuk menjadi acuan komentar saya, saya kutipkan sebagian dari Innuendo-nya Queen yang saya anggap akan relevan untuk memahami gambaran ‘keseluruhannya’.

–While we live according to race, colour or creed
–While we rule by blind madness and pure greed
–Our lives dictated by tradition, superstition, false religion
–Through the aeon, and on and on

Harap membedakan antara religion sebagai sesuatu yang dipahami seseorang atau sekelompok orang, dengan religion sebagai sistem.

Kalau kita membuka dan membaca dengan PIKIRAN TERBUKA kitab sejarah
panjang dan tebal ‘through eons, and on, and on, and-and on’ kita toh bakal menemukan bahwa dalam setiap ‘race, color, or creed’ ada saja ‘blind madness & greedy’-nya, kan?!

Dan karena menurut saya, memandang dunia dengan cara mempertentangkan ras, agama, juga kebangsaan tidak membuat saya memahami perilaku dunia ini lebih baik; saya memulai dari kerangka kesamaan. Bahwa kita sama-sama manusia. Dan dengan kerangka acuan ini, manusia–masing-masing–dibedakan melalui perbuatannya.

Selanjutnya, saya kira ada baiknya kalau ‘pertanyaan-pertanyaan’ Om Bob ‘diuji’ dengan pertanyaan lain yang senada sebagai studi banding.

Saya akan ajukan tiga pertanyaan. Terus terang, saya tidak memiliki datanya.
Anggap saja pertanyaan yang bakal saya ajukan ini hanya berdasarkan rumor. 😀

#1_?
Apakah benar, bahwa di kalangan dokter ada sebagian di antara mereka yang memanfaatkan ketrampilan dan fasilitas yang dimilikinya untuk melakukan penggugguran kandungan secara tidak sah? Secara Illegal?

#2_?
Apakah bisa, penggugguran kandungan semacam itu disebut sebagai pembunuhan? Harap saya, jawabannya disertai penjelasan.

Baca juga:  PAK TJANDRA HERUAWAN DI ACARA KICK ANDY

#3_?
Kalau jawaban untuk pertanyaan pertama benar ada, dan jawaban pertanyaan kedua dapat dikonfirmasi; apakah jawaban yang Om Bob sediakan bila ada orang yang mengajukan pertanyaan: pembunuh-janin itu dokter!?

Saya kira, jawaban-jawaban atas pertanyaan tersebut dapat digunakan sebagai acuan untuk mengurai kebingungan Om Bob. :DD

Saya ajukan suatu pendekatan lain untuk memahami. Mari kita lanjutkan dengan melakukan studi banding menggunakan bahan-bahan dari kepustakaan sains.

Dalam bentuknya yang paling murni, Islam saya ibaratkan sebagai PROTON.
Ah, Om Bob sudah langsung bisa membaca arah bicara saya ke mana, kan?

Semisal, ketika Proto-Islam ini memasuki wilayah ‘A’, Proto-Islam ini mengikat satu (elektron) nilai adat masyarakat di wilayah ‘A’. Sedangkan ketika disebarluaskan ke wilayah suku ‘B’, Proto-Islam ini mengikat dua (elektron) nilai tradisional suku ‘B’. Pemisalan bisa dilanjut-teruskan sendiri. Dan begitulah kemudian dari Proto(type)-Islam berkembang menjadi atom-atom unsur Sunni, Syi’ah, Ahmadiyah, dan lain sebagainya.

Kalau merujuk pada ucapan pembawa risalah Proto-Islam ini, akan ada saatnya manakala Proto-Islam berinteraksi dengan adataon-adaton dan traditon-traditon sehingga berkembang menjadi 72 golongan. Tabel Periodik Unsur Kimia hanya menyajikan jumlah golongan yang jauh lebih sedikit dibanding dengan Tabel (Ramalan) Perkembangan Proto-Islam yang mencapai 72 golongan, kan?

Secara ilmu sosial, menggunakan analisis riset kualitatif akan dapat membantu kita ‘membaca’, mengapa unsur-unsur tertentu suatu agama ada yang bersifat al-maslahatin, antengan & inert, responsif, reaktif, amoksioner, al-ngakali, al-ngapusi, al-ngusili, al-njahili, al-ngorupsi, al-ngerupsi, al-ngrusuhi, dan lain-lain sebagainya yang ragam sifat-sifatnya dalam daftar silahkan dilanjutkan sendiri. Saya khawatir
jemari ini kecethit kalau nulis daftar panjangnya. :))

Nah!
Menggunakan hasil studi banding ini, maka; rumusan frasa tanya apakah: ‘Taliban itu Islam!?’ senada dan sebanding dan kongruen dengan: rumusan frasa tanya apakah: ‘Helium itu Proton!?’

Hahaha….ha-yo0oo…..

Satu lagi pertanyaan:
Belum adakah orang yang inven obat anti-bingunk? Kalau belum ada, mbok yao, Om Bob yang inven. Prospek pasarnya gampang sekali diciptakan lho. Lobi saja menteri pendidikan agar mewajibkan para murid sekolah baca buku-buku paling mbulet. Lak pada bingunk itu murid-murid. Jualan pil dan kapsul anti-bingunk di sekolah pasti guwedhe komisinya. Dan saya, sebagai yang mengajukan gagasan, royalti atas ide
sebesar 5% ae jadilah. 😀

_.salam._
http://groups.yahoo.com/group/ikatanguruindonesia/message/72003

Bagaimana…?! Bisakah Anda merasakan keindahan jurus untaian argumen dan penjabaran Pak Bun, The Master, ini…?!
Surabaya, 15 Juli 2013

Salam
Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *