Senin, 22 Juli 2019
Just another WordPress site
Marhaban, ya Ramadhan…! (Part 2)

Minggu, 14 April 2013
Hari ke empat puasa dan saya masih juga merasa terganggu oleh sebuah masjid, entah di mana letaknya di sekitar kompleks perumahan saya. Masjid ini setiap pukul 3 pagi selalu membunyikan loud speaker dengan suara keras yang saya tidak bisa mengenali apakah itu pembacaan ayat Al-Qur’an, shalawat kepada nabi atau apa. Seseorang di masjid ini membaca atau mengeluarkan suara yang bunyinya seperti erangan binatang yang tercekik atau tersiksa. Mungkin saya berlebihan menggambarkannya tapi masjid ini benar-benar mengeluarkan suara manusia yang tidak bisa dikenali apakah itu bacaan ayat Al-Qur’an ataukah shalawat, atau apa. Tapi suaranya benar-benar kencang di tengah malam seperti ini.Si pembaca ini bersuara seperti orang yang mengerang dan sungguh menyakitkan telinga dan…mengganggu sholat malam saya! Sebetulnya bukan hanya masjid ini yang mengeluarkan ‘layanan spiritual’ berupa pembacaan ayat-ayat suci, shalawat, lagu-lagu pujian pada Rasul, dan teriakan untuk berbuka puasa. Tapi masjid yang satu ini benar-benar tidak jelas apa yang disampaikannya selain suara erangan tersebut. Berkali-kali terlintas keinginan saya untuk mencari dan mendatangi masjid tersebut dan kemudian memberitahu sosok bersuara sumbang ini untuk menghentikan ‘pelayanan spiritual’nya yang mengganggu tersebut. Saya pernah melakukan hal ini di Balikpapan.

Apa yang saya dengar bukanlah adzan dari seorang muadzin tapi sebuah lantunan suara mirip erangan yang tidak jelas. Dan saya berani bertaruh bahwa siapa pun yang mendengarnya akan setuju dengan saya bahwa suaranya sungguh buruk dan tidak ada indah-indahnya sama sekali. Tapi mengapa tak ada satu pun orang di dekatnya yang mau mengingatkan orang ini (yang mungkin saja tidak tahu betapa buruknya suaranya) agar tidak memamerkan suara buruknya tersebut? Bukankah ada banyak cara lain yang bisa dilakukan untuk membangunkan orang yang akan sahur (jika memang diperlukan adanya upaya untuk membangunkan orang agar sahur)…?! Untuk apa pula ia memperdengarkan suaranya yang buruk itu di tengah malam dan mengganggu umat Islam yang sedang melakukan sholat malam?
Tapi saya kemudian mengingatkan diri saya agar kembali pada prioritas saya saat ini yaitu seeking peace in mind. Akhirnya saya lepaskan keinginan untuk mencari dan mengingatkan tersebut. Dan saya berupaya keras untuk fokus pada sholat malam saya sendiri. Saya harus bisa ‘menep’ atau mengendapkan diri melalui pikiran.

Tiba-tiba saya teringat akan sebuah cerita tentang seorang muadzin yang bersuara buruk. Kisah ini saya kutip dari salah satu milis yang saya ikuti dan dikisahkan ulang oleh seorang santri di sebuah pesantren di Bandung.
Alkisah, ada seorang muadzin yang bersuara jelek. Ia tinggal di negeri yang mayoritas beragama Nasrani. Sebenarnya telah banyak orang yang mengingatkannya agar tak mengumandangkan adzan, mengingat suaranya yang jelek itu. Tetapi tak dihiraukan cegahan tersebut. Ia tetap mengumandangkan adzan dengan suaranya yang buruk tersebut.

Baca juga:  FRIENDSHIP FORCE (Bagian 2) : Dasar Katrok...!

Hingga suatu ketika, datanglah seorang pendeta kepadanya. Pendeta itu menganugerahkan berbagai hadiah kepada sang muadzin sebagai ungkapan rasa terima kasihnya yang mendalam. Didorong oleh rasa penasaran, bertanyalah seorang muslim pada sang pendeta: ”Wahai pendeta, kiranya apakah yang menjadi sebab engkau memberi banyak hadiah kepada muadzin itu?”

Pendeta itu bercerita: ” Sesungguhnya aku mempunyai seorang anak wanita yang jelita. Dan ia sangat kusayangi. Tapi apa lacur ia jatuh cinta kepada seorang pria muslim yang sholih. Aku mengkhawatirkan dirinya suatu saat akan meninggalkan diriku dan agamanya.

Hingga suatu masa di pagi buta, putriku terbangun oleh suatu suara. Ia merasa terganggu dengan suara itu. Ia terbangun seraya bertanya: ” Ayah suara jelek apakah itu?”. Aku menjwab: ” Itu suara azan yakni panggilan Islam untuk shalat. Putriku hampir tak mempercayainya, bagaimana ajaran agama kekasihnya mempunyai panggilan untuk shalat sejelek itu. Semenjak itu putriku menjauhi kekasihnya dan juga Islam. Dan sebagai rasa terima kasihku, aku sengaja memberi sang muadzin berbagai hadiah.

Kita dapat menemui cerita di atas dalam kitab “Al-Matsnawi”. Jalaludin Rumi, sang pengarang, menampar tokoh-tokoh agama yang selalu menampakkan wajah agama dalam bentuk kekerasan. Muadzin ialah parodi dari tokoh agama. Sedangkan adzan ialah agama yang hendak disampaikan olehnya. Bagaimana adzan yang mempunyai tujuan mulia dapat disalah artikan bila ia dikumandangkan oleh muadzin yang bersuara sumbang.

Sebaik apapun tujuan kita, apabila disampaikan dengan cara-cara yang kurang simpatik, elegan, dan menebar kesan permusuhan, maka sesuatu yang baik itu akan terlihat buruk. Persis seperti layaknya parodi Rumi di atas, adzan yang seharusnya mengajak seseorang kepada keimanan, namun takkala didengungkan dengan dan oleh suara yang sumbang hanya akan menjauhkan seseorang dari keimanan.

Baca juga:  Gerakan Sinjai Cerdas

Kiranya seluruh agama mengajarkan tentang kedamaian. Tak ada satu pun agama yang mengajarkan agar mengedepankan kekerasan. Tetapi jika agama itu disebarkan dengan cara-cara yang tak simpatik, jangan disalahkan bila orang memberi stigma buruk terhadap agama yang kita anut.

Di Indonesia, ada sekolompok orang yang menunjukkan wajah Islam dengan penuh kekerasan. Mereka lebih mengedepankan cara-cara yang jauh dari nilai suatu agama.

Terhadap sesama muslim, hanya karena beda pemahaman terhadap teks-teks agama, maka mereka tak ragu menancapkan “panah beracun” berlabel “bid’ah, syirik, dan kafir”. Bahkan tak jarang menumpahkan darah demi sesuatu yang sesungguhnya teramat relatif, yakni kebenaran.

Di bulan Ramadhan nanti, kita akan menyimak bagaimana segelintir orang berjubah agama yang bergerak menggantikan peran pemerintah untuk men-sweeping tempat-tempat yang dianggap sebagai biang kerok dari kemaksiatan. Mengganggu umat dari kekhusyukan beribadah di bulan seribu bulan.

Dalam kisah Rumi di atas, cara-cara mereka diparodikan sebagai suara yang sumbang. Suara yang menyakitkan bagi orang lain, tetapi tidak untuk dirinya. Mereka menganggap telah membela “tuhan” (dengan t kecil), padahal Tuhan (dengan T besar) belum tentu merasa terbela oleh “adzan” sumbang mereka.

Rumi seakan ingin menegaskan, bahwa walau tujuannya benar, yaitu “a’mar ma’ruf nahyi munkar”, bila disampaikan dengan cara-cara yang tak simpatik, maka tujuan itu akan menjadi bias. Ia akan menjadi samar, tersapu oleh wajah kekerasan yang ditampilkan. Bahkan tak jarang stigma buruk bukan tertuju kepada kelompoknya saja, bahkan terhadap agamanya.

Beruntunglah kita mempunyai para Wali. Sebagai generasi awal penyebar Islam, para wali tidak menampakkan wajah Islam yang arogan. Meminjam bahasa Gusdur, “tidak mutlak-mutlakan”. Mereka senantiasa bersikap ramah. Mereka tampilkan gaya dakwah yang merakyat. Dakwah yang jauh dari unsur pemaksaan dan kekerasan. Sehingga tak ada satu pun darah yang tercecer dari penyebaran Islam para Wali di bumi khatulistiwa ini. Hasilnya?, bisa kita rasakan saat ini.

Baca juga:  HORMATILAH ORANG YANG (TIDAK) BERPUASA

Saya pernah menulis artikel mengenai beda cara dakwah antara ustad muda dan kiai tua terhadap seorang nenek tua yang hendak berkurban sapi namun atas nama delapan orang. Ustad muda -dengan suara sumbang- langsung memvonis “sesat” terhadap sang nenek. Berbeda dengan kiai tua yang dengan arifnya menyuruh nenek untuk membeli “tangga” berupa seekor kambing.

Hasilnya-pun berbeda. Dakwah ala ustad muda justru hanya akan melahirkan resistensi, kebenciaan, menjauhkan seseorang dari nilai-nilai agama serta keimanan. Sedangkan dakwah ala kiai tua akan mendekatkan seseorang kepada keimanan.

Tujuan yang sama namun dengan cara yang berbeda tentu akan menelurkan hasil yang berbeda pula. Dakwah ala kiai tua, yang penuh arif dan bijaksana akan senantiasa langgeng dan berbekas di hati ketimbang dakwah ala ustad muda. Mengapa? Karena dakwah ala ustad muda disampaikan dengan suara yang sumbang, jauh dari nilai-nilai kearifan, penuh dengan stigma-stigma kekerasan. Sesuatu yang muncul dari kekerasan niscaya tak akan bertahan lama.

Saya tak bisa membayangkan, andaikata kelompok2 anarkis itu yang menjadi generasi awal penyebar agama Islam. Entah berapa banyak darah yang harus tumpah atas nama agama dan kebenaran. Satu yang pasti, bila mereka yang menjadi generasi awal, nikmat Islam tak akan bisa kita rasakan. Dan parodi Rumi cukup memberi pelajaran bagi kita, agar jangan sampai suara sumbang merusak keindahan nilai suatu agama.”

Salam
Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *