Senin, 14 Juli 2020
Just another WordPress site
SYIAH OH SYIAH…!

Pagi ini ada dialog menarik di milis Keluarga Unesa. Dialog ini dimulai dari postingan Hartoko yang biasa saya panggil Cak Sha. Ia bercerita tentang kegiatannya di pengajian rutin bulanan NGAJI LAKU di Masjid Al-Imam, Puspo Argo, Sidoarjo pada tanggal 13 Juli 2013. Menurutnya ada yang istimewa pada pengajian rutin yang diasuh oleh Omda Sidi Miftahulluthfi Muhammad al Mutawakkil (Gus Luthfi) kali ini. Kali ini hadir “jamaah spesial” sebanyak 69 keluarga yang terdiri atas bapak, ibu, dan anak-anak. Cak Sha menyebut mereka sebagai ‘saudara kita’, para penganut Islam aliran Syiah asal Sampang, Madura yang terusir dari kampung halaman mereka (dan saya sungguh terharu membaca empati Cak Sha ini). Hampir sebulan mereka ditampung di apartemen sederhana (aparna) di komplek pasar induk Puspa Agro setelah sebelumnya (sekitar setahun) “menginap” di GOR Sampang setelah rumah-rumah dan tempat ibadah mereka dihancurkan oleh orang-orang yang mengaku kaum Sunni. Oleh pemerintah Propinsi Jatim dan Pemkab Sampang, mereka dipindahkan ke aparna yang berada di area Puspa Agro karena pertimbangan keamanan dan keselamatan mereka.

Cak Sha kemudian menjelaskan betapa Gus Luthfi selaku pengasuh tetap majlis pengajian memaparkan pentingnya menguatkan tali persaudaraan sesama muslim, apa pun kelompok atau golongannya. Sebab, kata pengasuh PeNUS MTI Surabaya ini, hakikatnya antara muslim satu dan lainnnya adalah saudara yang memiliki sesembahan yang sama, Allah SWT; nabi dan rasul yang sama, Kanjeng Nabi Muhammad SAW; kitab suci yang sama, yakni Al Qur’an; kiblat yang sama, juga akidah yang sama. Karena itu, apa yang menimpa kaum Syiah Sampang yang berseteru dengan kaum Sunni mestinya tidak boleh terjadi. Mengutip salah satu hadis nabi, Gus Luthfi mengatakan, kalaupun ada korban meninggal akibat perseteruan itu, baik yang membunuh maupun yang terbunuh, sesungguhnya sama-sama kafir. Dalam pengajian tersebut, jamaah juga diajak mendoakan agar puluhan keluarga yang kini ditampung di aparna Puspa Agro secepatnya kembali lagi ke kampung halaman di Sampang, Madura.

Saya kembali mbrebes mili membaca ini… Ya Allah! Limpahilah Gus Luthfi dengan rejeki, berkah, rahmat, dan hidayahMu selalu.

Dan tiba-tiba muncullah celetukan dari Rizal Kuddah, seorang sahabat muda yang saya banggakan sbb :
“Coba ditanyakan sahabat nabi, itu hanya Ali yang diagung agungkan.”

Tentu saja ini bukan sebuah kalimat atau teks yang tanpa konteks. Tanpa konteks maka kalimat ini jelas akan membingungkan bagi mereka yang tidak memahami alur diskusi dan bahkan konteks yang lebih luas, yaitu alasan dibalik pertikaian antar keluarga yang menyebabkan terusirnya keluarga Syi’ah ini dari rumahnya.

Apa yang ada dibalik pernyataan yang seolah berupa pertanyaan retorik tersebut? Anda harus menggalinya untuk mengetahuinya. Itu ibarat sebuah bangunan (pemahaman) yang terkubur dan hanya nampak atapnya.

Oleh sebab itu saya lalu melempar komentar sbb :
“Jika pun demikian, apa itu kesalahan yg pantas diganjar dengan mengusir mereka dari tanah kelahiran dan tempat tinggal mereka?
Seperti kita juga, dari sedemikian banyak dosen bhs Inggris yg selalu kita sebut-sebut hanyalah Pak Budi Darma.” (Sekedar untuk diketahui, Rizal dan saya berasal dari kampus dan jurusan yang sama dan Pak Budi Darma adalah dosen kami yang sangat dikagumi oleh para mahasiswa di kampus kami.)

Komentar saya kemudian dijawab oleh Rizal
Your analogy is totally wrong pak SD, why? Meskipun pak budi darma hanya mengajar di kelas sastra saya mengakui beliau dosen unesa, pak slamet mengajar saya maka saya mengakui beliau dosen unesa. Di kasus syiah ini berbeda yaitu mereka tidak mengakui khulafaur rasyidin sebagai sahabat nabi karena mereka dianggap berkhianat kepada Nabi, prove me if they are right. Hanya Ali lah yang tidak. Mereka pun berpikir gak usah ke mekkah cukup ke karbala itu sama dengan berhaji. Is it Islam? Masyarakat Madura dikenal dengan keislamannya yang taat, itulah society rejection yang terjadi. Tindakan pemerintah itu sudah benar dengan melindungi rakyatnya dengan memindahkan mereka agar mereka aman.

Baca juga:  KISAH TENTANG LITERASI

Ketika saya bertanya apakah itu alasan untuk mengusir kaum Syi’ah dari tanah kelahirannya maka ia menjawab
“Pak SD masalahnya sekarang bukan mengeklaim syiah itu adalah islam tapi sekarang yang saya tekankan adalah tindakan pemerintah merelokasi syiah sampang itu sudah benar menurut saya karena itu demi kebaikan mereka juga. Kalau kita berbicara hak mereka tentang tanah mereka, mereka masih memiliki hak untuk tinggal di Sampang. Tapi mereka ditolak oleh masyarakat. Apakah pemerintah akan membuat blokade atau penjagaan yang serius 24jam gitu buat mereka, come on sir!! Apakah bapak SD tetep memaksa mereka balik ke sampang dimana mereka sudah ditolak sama masyarakat sana? Kalau terjadi apa apa nanti bagaimana lagi? Itulah konsekuensi warga syiah yang tinggal di negara ini yang didominasi oleh Islam.”

Perhatikan beberapa poin yang disampaikan oleh Rizal.
1. Analogi saya salah.
2. Kaum Syiah tidak mengakui khulafaur rasyidin
3. Kaum Syi’ah tidak berhaji ke Mekkah tapi ke Karbala
4. Masyarakat Madura terkenal taat keislamannya dan itu yang menyebabkan mereka menolak (tepatnya mengusir) kaum Syiah
5. Tindakan pemerintah dengan memindahkan mereka adalah benar. Pemerintah tidak bisa menjaga mereka 24 jam sehari
6. Kaum Syi’ah bukan Islam dan itu konsekuensinya tinggal di Sampang yang penduduknya adalah umat Islam yang taat.

Terus terang saya sedih dengan argumen ini. Sebetulnya saya punya harapan besar pada Rizal, intelektual muda kelahiran Madura yang sangat bangga dengan kemaduraannya itu.

Ketimbang meladeninya berdebat atau menyerang pendapatnya secara langsung seperti biasanya saya pikir ada baiknya jika saya menyusun pendapat saya dalam sebuah tulisan yang komprehensif.

Ini jawaban saya atas poin-poin yng disampaikan oleh Rizal.
1. ANALOGI.
Bicara soal analogi saya akan memberi sebuah analogi yang setara.
Seandainya ada mahasiswa yang hanya mengagumi seorang dosen saja dan meremehkan para dosen lainnya. Ia hanya mengagumi satu dosen dan menganggap dosen lainnya sebagai ‘a bunch of idiots’. Apakah ini bisa menjadi sebuah alasan untuk mencoret mahasiswa ini dari status kemahasiswaannya? Atau mari kita bikin lebih ekstrim. Seandainya mahasiswa bandel ini mencacimaki dan membenci rektornya apakah ini bisa menjadi alasan untuk mengeluarkannya dari kampus? Pikirkan baik-baik jawabannya dan beri argumen untuk mendukungnya.

2. KHULAFAUR RASYIDIN
Bagaimana kalau kaum Syi’ah tidak mengakui Khulafaur rasyidin (dan bahkan, seandainya, membenci dan memaki-makinya)?
So what gitu loh…?! Apakah ini merupakan alasan untuk menganggap mereka BUKAN ISLAM, dan bahkan lebih daripada itu, MENGUSIR MEREKA dari rumah mereka…?!
Jika ada mahasiswa yang mendemo dan menuntut Rektor beserta jajarannya untuk sebuah alasan, apakah ini bisa menjadi alasan untuk mengeluarkannya dari kampus? Bisakah kita mengatakan kepadanya bahwa ia bukan lagi mahasiswa di kampus ini dan kemudian kita mengusirnya karena sudah mencacimaki beberapa pejabat kampus? Think…!

3. Kaum Syi’ah tidak berhaji ke Mekkah tapi ke Karbala
Rizal jelas belum pernah umrah atau berhaji sehingga tidak tahu bahwa jamaah haji dari Iran yang masyarakatnya menganut aliran Syiah itu luar biasa banyaknya setiap tahun (meski tentu saja masih kalah jauh dari jumlah jamaah haji Indonesia yang merupakan kontingen haji terbesar di dunia). Penampilan mereka sangat mudah untuk dikenali karena jamaah wanita mereka selalu menggunakan pakaian hitam-hitam dan selalu bergerak dalam rombongan besar dengan bergandengan tanpa putus. Mereka bergerak seperti buldozer yang akan memberantakkan rombongan lain yang mereka lewati. Hebatnya, pemerintahan Iran memberikan subsidi dana setiap warga Iran yang akan menunaikan ibadah haji. Jadi, tiap tahunnya, jutaan dolar AS– anggaran negara Iran– dikeluarkan untuk menyubsidi jemaah haji Iran. http://indonesian.irib.ir/artikel1/-/asset_publisher/7xTQ/content/keunikan-jemaah-haji-iran/pop_up
Bagaimana dengan kasus berhaji ke Karbala? Sebaiknya Rizal tidak usah terlalu jauh ke Karbala. Jika mau maka ia bisa melihat prosesi ‘naik haji’ ke Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan. http://rizalabdullahtumcala.blogspot.com/2012/04/sejarah-munculnya-haji-bawakaraeng.html
Meski ada masyarakat yang menganggap mereka yang berhaji ke Gunung Bawakaraeng itu sebagai musyrik tapi selama ini TIDAK PERNAH ada di antara mereka sampai harus diusir dari tempat tinggal mereka karena prosesi yang nyleneh tersebut. Saya sungguh bangga dengan masyarakat Sulsel yang tetap toleran dan tidak pernah mengganggu mereka meski tahu bahwa prosesi itu sangat ganjil.

Baca juga:  PR ANAK DAN BANTUAN ORTU

4. KETAATAN ORANG MADURA DALAM ISLAM.
Tentu saja Rizal boleh-boleh saja mengatakan bahwa orang Madura itu taat dalam agama Islam. Tapi sungguh apa yang dilakukan orang Sampang yang mengusir saudaranya sendiri dari tempat tinggalnya adalah karena ketaatan pada Islam totally wrong. Sama sekali tidak ada ajaran yang membolehkan umat Islam untuk mengusir umat dan kaum lain dari tanah dan tempat tinggal mereka. Justru sebaliknya, perbuatan mengusir sebuah kaum dari rumahnya adalah perbuatan zalim yang dikutuk oleh Tuhan.

Sungguh kebetulan bahwa ngaji saya pagi ini tiba pada Surat Al-Mumtahanah dan saya tertumbuk pada ayat berikut.
“laa yanhaakumu allaahu ‘ani alladziina lam yuqaatiluukum fii alddiini walam yukhrijuukum min diyaarikum an tabarruuhum watuqsithuu ilayhim inna allaaha yuhibbu almuqsithiin. Innamaa yanhaakumu allaahu ‘ani alladziina qaataluukum fii alddiini wa-akhrajuukum min diyaarikum wazhaaharuu ‘alaa ikhraajikum an tawallawhum waman yatawallahum faulaa-ika humu alzhzhaalimuuna

[60:8] Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.

[60:9] Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

Saya tidak akan menjelaskan apa makna dari ayat-ayat ini dan saya berharap agar Rizal mau membuka sendiri Al-Qur’annya di rumah dan mulai mempertimbangkan kembali makna ‘ketaatan dalam Islam’ dari orang-orang Sampang seperti yang ia maksudkan

5. Tindakan pemerintah dengan memindahkan mereka adalah benar. Pemerintah tidak bisa menjaga mereka 24 jam sehari
Tindakan pemerintah dengan memindahkan mereka adalah SALAH. Pemerintah HARUS BISA menjaga keamanan dan keselamatan warga masyarakat yang mendapat gangguan dari pihak mana pun. Jika tidak bisa maka artinya PEMERINTAH TELAH GAGAL menjalankan fungsi dan tugasnya sebagai pemerintah. Untuk apa punya ulama, polisi, tentara, PNS, dan perangkat-perangkatnya jika menjaga keamanan orang sekampung saja pemerintah tidak mampu dan bahkan memindahkan mereka yang diperlakukan dengan zalim? Saya sungguh heran dan sekaligus geram dengan sikap pemerintah semacam ini. Pemerintah HARUS BISA menjaga keluarga Syi’ah tersebut 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 12 bulan setahun dan kalau perlu pemerintah harus mengerahkan berpeleton-peleton polisi dan tentaranya beserta semua persenjataan beratnya untuk menjaga keamanan dan keselamatan keluarga Syiah yang diperlakukan dengan zalim tersebut. Ini demi marwah atau kewibawaan pemerintah itu sendiri.

Baca juga:  KONFERENSI GURU INDONESIA 2007

6. Kaum Syi’ah bukan Islam dan itu konsekuensinya tinggal di Sampang yang penduduknya adalah umat Islam yang taat.
Saya sungguh ngeri dan sekaligus sedih dengan pernyataan ini. Apa otoritas kita untuk menyatakan kaum Syi’ah bukan umat Islam? Who are we to say that…?!
Tahukah Rizal bahwa meski hubungan antara Saudi Arabia dan Iran itu tidak pernah baik, bak kucing dan anjing, tapi Saudi Arabia tidak pernah menganggap umat Syi’ah Iran itu sebagai BUKAN ISLAM..?! Sampai detik ini Saudi Arabia tetap memberi kuota haji bagi umat Syi’ah mana pun (dan sampai detik ini pemerintah Saudi Arabia masih bermusuhan dengan pemerintah Iran). Dan itu artinya pemerintah Saudi Arabia tetap menganggap umat Syi’ah sebagai umat Islam dan berhak mendapat kuota untuk berhaji (though they never enjoy having the Iranians as their haj pilgrim guestss).
Yang lebih berbahaya lagi adalah pernyataan bahwa pengusiran kaum Syi’ah adalah KONSEKUENSI dari tinggalnya mereka di Sampang (yang katanya) adalah penduduk Islam yang taat. What the heck is that…?! Kalau ada orang yang dianggap BUKAN ISLAM maka KONSEKUENSINYA mereka bisa diusir dari rumah mereka (dan itu karena orang Sampang adalah umat Islam yang taat)…?!

Tidak sadarkah kita bahwa membiarkan pemikiran seperti ini sama dengan memasukkan virus yang jauh lebih berbahaya dari virus yang paling berbahaya sekali pun. Ada implikasi yang sangat serius dari pernyataan ini. Let me show you one.
– Umat Islam Sampang (karena sangat taat pada agama) tidak bisa menolerir umat atau kaum yang dianggap bukan Islam dan mereka akan mengusir siapa saja yang dianggap bukan Islam dan itu mendapat dukungan dari para ulama dan pejabat Sampang. Jadilah muslim seperti standar yang kami tetapkan atau kami usir dari rumah Anda (meski Anda adalah saudara kami sendiri sebenarnya)…?!

Inikah yang kita inginkan…?! Inikah yang diinginkan oleh masyarakat Sampang (atau Madura umumnya)? Apakah mereka ingin menjadi ‘Kaum Quraisy di Madura’ yang mengusir saudaranya sebangsa dan sekaum hanya karena saudaranya berislam yang tidak sesuai dengan standarnya? Baca baik-baik Al Mumtahanah ayat 8 dan 9 tersebut dan resapi baik-baik kemurkaan Tuhan atas tindakan zalim tersebut.

Salah seorang kaum terusir yang bernama Djemadi (49 tahun), dengan sabarnya menyikapi fitnah yang terjadi pada dirinya dan keluarganya sbb (seperti yang dituturkan oleh Cak Sha): “Kami memang harus bersabar. Ini ujian dari Allah dan tak ada apa-apanya dibanding ujian yang diterima para nabi dan keluarganya. Kami yakin, Allah akan memberikan pertolongan,” kata Djemadi yakin.”

Syukurlah bahwa mereka tetap meminta pertolongan kepada Allah dengan sholat dan bersabar. Tapi apakah tidak mungkin ada di antara mereka yang dizalimi ini kemudian berdoa agar Tuhan membalaskan semua penderitaan mereka pada kaum yang menzalimi mereka? Tidakkah Mas Rizal (dan orang-orang Sampang) merasa takut dengan pembalasan Tuhan atas permohonan doa orang-orang tertindas yang katanya PASTI DIKABULKAN ini..?! Astagfirullah haladzim. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita semua.

Saya menulis ini dengan harapan agar kita benar-benar berintrospeksi pada setiap pikiran, perkataan, dan tindakan kita agar kita tidak menjadi umat yang zalim yang dikutuk oleh Tuhan.

Apalagi sekarang adalah Ramadhan yang penuh berkah dan penuh pengampunan…

Surabaya, 16 Juli 2013

Salam
Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *