Minggu, 24 Februari 2020
Just another WordPress site
FESTIVAL BURUK SANGKA

Karena ada KTP tercecer di jalan maka Indonesia kembali diramaikan oleh Festival Buruk Sangka. Berbagai pertunjukan buruk sangka berlomba-lomba ditampilkan dengan berbagai argumen dan foto-foto buruk sangka terbaik yang dimiliki. Seolah semua ingin menunjukkan bahwa mereka berhak untuk mendapatkan trofi dan penghargaan “Best Buruk Sangka Person of The Month” di bulan Ramadhan ini.

Seorang teman yang biasanya menahan diri untuk menyebar hoax (karena selalu saya ingatkan) juga tiba-tiba mengirim foto-foto tentang kasus KTP tercecer tersebut di WAG dan bertanya singkat, “Apakah ini HOAX?” Dia rupanya ikut goyah dengan masifnya pemberitaan di medsos dan foto-foto yang tampak begitu meyakinkan. Tapi ia mungkin masih segan pada saya yang selalu mengingatkan di WAG agar tidak mengirim berita hoax. Maka dia mengirim dengan bertanya apakah itu hoax. Maksudnya bertanya jika itu hoax kok begitu banyak faktor yang meyakinkan bahwa itu bukan hoax. Coba tunjukkan bukti keras dan nyata bahwa itu adalah hoax dan bukan sebaliknya.

Saya seringkali jengkel dengan tipe penikmat hoax yang sulit berhenti dari kesukaannya mengkonsumsi hoax. Mengkonsumsi hoax itu sudah menjadi hobi bagi banyak orang dan bisa bikin kecanduan yang sulit disembuhkan. Tapi karena saya sudah menganggap membrantas hoax sebagai kewajiban pribadi sebagai seorang muslim maka ya saya ladeni saja. Saya lalu bertanya padanya secara singkat, “Apakah itu BENAR?”

Lawan dari berita hoax adalah berita yang benar. Jadi kalau berita atau isu itu BELUM TERBUKTI BENAR maka kita tidak boleh menganggapnya benar. Berapa pun banyaknya bukti-bukti yang MENGARAH kepada kecurigaan kita kepada sebuah isu tapi jika itu belum terbukti benar maka kita tentu tidak boleh menganggapnya benar. Padahal syarat BENAR itu pun baru satu dari TIGA SYARAT untuk menyebarkan berita. Selain berita itu BENAR, berita itu harus BERMANFAAT dan PENTING. Jika syarat BENAR saja belum lolos maka kita akan disebut sebagai PENDUSTA jika menyebarkannya.

Baca juga:  BERISLAM TANPA RUH DAN JIWA

Itu baru menyebarkan saja kita sudah disebut sebagai PENDUSTA oleh Nabi. “Cukuplah seseorang dicap sebagai pendusta apabila ia mengatakan semua yang didengar.” Lha wong yang ia dengar itu belum tentu benar saja sudah disebarkannya maka jelas ia masuk dalam golongan pendusta. Apakah tidak takut disebut pendusta oleh Rasulullah?

Nah, bayangkan kalau kita justru terlibat dalam memproduksi sangkaan-sangkaan dan tuduhan-tuduhan berdasarkan berbagai spekulasi yang berkembang. Itu bukan lagi pendusta namanya. Itu lebih tinggi tingkatannya, yaitu PEMFITNAH. Fitnah merupakan suatu kebohongan besar yang termasuk dalam dosa besar yang diharamkan. Allah SWT berfirman yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”(Q. S. Al-Hujarat : 12).

“Dan memfitnah itu lebih besar(dosanya) dari melakukan pembunuhan.” (Q. S. Al-Baqarah : 217).

Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Hudzaifah RA, Rasulullah SAW bersabda yang artinya; “Tidak akan masuk surga orang yang suka menebar fitnah.”

Apakah kita masih menganggap enteng perkara BERDUSTA dan MEMFITNAH ini padahal ini jelas-jelas DOSA BESAR. Bagaimana mungkin kita yang mengaku sebagai umat yang beriman dan melakukan puasa di bulan Ramadhan tapi dengan entengnya melakukan DUSTA dan FITNAH? Lantas apa sih ganjaran besar yang kita peroleh dari menyebarkan DUSTA dan FITNAH sehingga kita bersedia untuk masuk neraka karenanya? Ente mau dianggap sebagai ‘pahlawan pembongkar kejahatan’ yang nantinya akan mendapatkan piagam dan trofi entah dari siapa gitu?

Baca juga:  MUHAMMAD ADALAH NABI

Ada juga teman yang mengutip ayat Alquran untuk memperkuat dan melindungi buruk sangkanya dengan ayat “Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (Al Imran 54)”. Saya sungguh sedih mengetahuinya. Dengan ayat ini ia sudah memvonis orang lain sebagai orang kafir yang membuat tipu daya (padahal itu hanya persangkaan buruknya) dan ia juga sudah berilusi bahwa tercecernya KTP tersebut adalah ‘makar’ Allah untuk membongkar dan membalas makar orang kafir tersebut (entah orang kafir mana yang ia maksud). Jadi bukannya ia berhasil membuktikan ‘tipu daya orang kafir’ yang ia maksud tapi ia sudah menipu dirinya dengan menganggap bahwa tercecernya KTP tersebut adalah ‘sebaik-baik balasan dari Tuhan’ kepada tipu daya orang kafir. Ilusi di atas ilusi…

Mumpung Ramadhan masih setengah jalan, mari kita pada bertobat dari kebiasaan menyebarkan berita yang belum tentu benar, apalagi jika sampai pada kebiasaan memproduksi fitnah. Naudzu billahi min dzalik…

Surabaya, 31 Mei 2018

Salam

Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *