Selasa, 25 Februari 2020
Just another WordPress site
HOT, FLAT, and CROWDED (Part 2)

Pagi ini saya membaca lagi buku Friedman “HOT, FLAT, and CROWDED” dan sampai pada dua kisah menarik. Kisah menarik pertama adalah tentang bagaimana tentara Amerika yang sedang berperang di Iraq memecahkan masalah keamanan transportasi bahan bakar bagi pos-pos tentaranya yang tersebar. Kebutuhan transportasi bahan bakar bagi pos-pos tersebut (terutama karena harus berpendingin udara di tengah terik matahari yang panasnya bisa mencapai hampir 50 derajat Celsius) membuat mereka rentan diserang bom dan granat peluncur ketika mengirim bahan bakar ke setiap pos-pos tersebut . Pemecahan masalah yang mereka pilih adalah dengan menjadi ‘lebih hijau’. Pada akhirnya membuat mereka menemukan cara cerdas yang bukan hanya membuat tentara Amerika lebih aman dari serangan bom, mengurangi konvoi bahan bakar, menghemat uang dari penghematan bahan bakar, dan malah masih kelebihan listrik yang bisa dibagikan kepada penduduk sekitar. Sebuah cara cerdas yang ditemukan karena upaya untuk memecahkan masalah dengan perspektif baru, yaitu menjadi ‘lebih hijau’ dari seragam mereka.

Kisah kedua adalah bagaimana kota New York berubah menjadi lebih nyaman dan lebih sehat. Dan itu dimulai dengan upaya untuk membuat armada taksi New York menjadi lebih sehat dan tidak beracun dengan mencoba mengganti mobil Ford Crown Victoria yang sangat rakus bahan bakar dengan jarak tempuh hanya 4 km/liter dengan mobil hibrida.

Jangan dikira mudah. Ada undang-undang yang menghambat yang ternyata dulunya disusun demi kepentingan pabrikan tertentu (ini membuktikan bahwa UU memang bisa disusupi oleh kepentingan industri tertentu meski di Amerika yang ketat tersebut). Untuk bisa mengubah UU diperlukan sebuah isu besar untuk diusung agar mendapatkan dukungan dari berbagai pihak. Dan isu tersebut adalah tentang masalah polusi udara dan masalah kesehatan anak-anak New York City. ‘New York adalah kota dengan udara paling kotor di Amerika’, kata Louise Vetter, CEO American Lung Association of the City of New York. Dengan mengampanyekan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak New York maka ‘perang’ dimulai.

Baca juga:  MERINDUKAN UN YANG JUJUR: FOR WHAT AND FOR WHAT COST?

Pada 22 Mei 2007, Walikota Michael Bloomberg memutuskan sebuah undang-undang baru yang mempersyaratkan semua taksi hibrida atau kendaraan emisi rendah lain dengan jarak tempuh sekurangnya 13 km/liter, dalam lima belas tahun.

“Ketika urusan sampai pada masalah kesehatan dan keselamatan serta lingkungan, pemerintah harus menetapkan standar” kata Bloomberg.

Bicara soal mobil hybrid atau hibrida saya yakin tidak banyak di antara kita yang paham apa sebenarnya yang dimaksud dengan mobil hibrida dan mengapa mobil ini diciptakan. Mobil hybrid adalah mobil bertenaga bahan bakar dan listrik sekaligus dan merupakan mobil yang irit bahan bakar karena memiliki efisiensi yang lebih baik jika dibandingkan dengan mobil konvensional.

Sistem hybrid yang menggabungkan motor listrik dan pembakaran di mesin menghasilkan tenaga yang berasal dari dua sumber daya. Energi yang biasanya terbuang menjadi panas pada saat dikendarai, pengurangan laju dan pengereman diubah sebagai tenaga listrik, yang kemudian digunakan kembali untuk memberikan tenaga ke motor elektrik. Hal ini membuat mobil hybrid menjadi lebih efisien. Ini berarti bahwa, mesin pembakar internal membutuhkan konsumsi bahan bakar lebih sedikit untuk mencapai jarak yang sama. Karena konsumsi bahan bakar yang efisien kendaraan hybrid mengeluarkan lebih sedikit emisi gas buang dibandingkan dengan mobil konvensional, dan ini yang membuat mobil hybrid lebih ramah lingkungan. Selain itu, teknologi mobil hybrid diyakini akan semakin dibutuhkan karena kemampuannya dalam mereduksi emisi CO2 di udara. Mesin hybrid diprediksi dapat menggantikan teknologi kendaraan bermotor konvensional yang hanya menggunakan satu sumber tenaga

Mengapa mobil jenis ini diciptakan (dan bahkan mobil limousine bagi para eksekutif puncak di New York kini menggunakan jenis hybrid) dan menjadi trend baru bagi para eksekutif puncak di New York? Jelas ini berhubungan dengan masalah bahan bakar fosil dunia yang semakin menipis sehingga membuat harganya terus melambung. Meski para eksekutif perusahaan raksasa tetap mampu membeli bahan bakar fosil berapa pun harganya tapi mereka tentu tidak ingin disebut sebagai para pemimpin perusahaan yang bodoh dan tidak perduli soal energi. Imej ‘cerdas dan peduli’ adalah sesuatu yang membedakan antara bankir-bankir cemerlang dengan yang bukan. Oleh sebab itu mereka semua menginginkan mobil hybrid sebagai tanda bahwa mereka paham soal energi dan peduli pada lingkungan!  Jika Anda tidak paham soal energi dan tidak peduli pada lingkungan maka Anda tidak termasuk golongan orang yang cerdas, meski pun Anda punya gelar bertumpuk-tumpuk dan diperoleh dari Ivy League sekali pun. Sederhana sekali.

Baca juga:  ALWAYS LUCKY...

Bagaimana dengan para eksekutif kita di Indonesia? Apakah mereka lebih paham soal energi dan peduli pada lingkungan? Jika mereka tidak peduli maka sebenarnya mereka sebenarnya adalah para eksekutif yang tidak begitu cemerlang. Itu standar nilai yang berlaku saat ini. Sekarang para pebisnis berlomba-lomba untuk ‘lebih hijau (outgreen)’ daripada pesaing mereka.

Bagaimana dengan di Indonesia? Nampaknya masih jauh untuk berharap bahwa masyarakat akan peduli dengan jenis mobil ini. Menjadi lebih hijau adalah konsep yang masih terlalu tinggi bahkan bagi kita, para akademisi atau intelektual. Para politisi picik kita masih terus berupaya untuk meninabobokkan masyarakat untuk tetap terlena dengan BBM murah – alih-alih berupaya mendidik masyarakat untuk menjadi lebih hijau – hanya karena ingin mendapatkan keuntungan jangka pendek dengan mendapat citra sebagai ‘pembela rakyat’.

Rendahnya dukungan pemerintah membuat harga mobil hibrida semakin tak terjangkau. Saat ini bea masuk mobil hibrida yang diimpor secara utuh (completely built up/CBU) saat ini masih sangat besar yakni 40% dan pajak penjualan barang mewah (PPnBM) 20% – 75%. Ini hanya akan berubah kalau pemerintah memberikan insentif khusus seperti subsidi, keringanan bea masuk dan perbaikan infrastruktur. Dengan demikian mobil hybrid ini harganya mungkin bisa lebih bersaing.

Karena kita masih tidak peduli dengan energi bersih dan lingkungan sehat akibatnya adalah pemerintah baru serius mengembangkan kendaraan hybrid ini pada tahun 2020. Berdasarkan peta jalan (road map) industri otomotif yang disusun Kementerian Perindustrian, Indonesia ditargetkan menjadi basis investasi dan produksi mobil hibrid pada 2020 setelah pasar hibrid berkembang signifikan pada rentang 2012 – 2020. Tahun ini kita baru akan dikenalkan dengan apa itu mobil hybrid dan mudah-mudahan delapan tahun mendatang kita sudah bisa menerima mobil jenis ini. Alangkah terlambatnya kita ini..!

Baca juga:  SEBEGITU TOLOLNYAKAH KITA…?! (BAGIAN 2)
Pagi ini saya mendapat satu kosakata baru yaitu ‘to outgreen’ yang artinya ‘menjadi lebih hijau’ dalam artian menjadi lebih baik, lebih efisien, lebih kompetitif dalam melakukan sesuatu. Dengan menjadi ‘lebih hijau’ maka kita membeli satu tapi mendapatkan gratis empat. Dengan memiliki perspektif ‘hijau’ berarti kita membangun kultur yang lebih beretika. Salah satu contoh keunggulan kompetitif dengan menggunakan keunggulan etika adalah seperti yang dilakukan oleh sebuah rumah sakit di Michigan. Manajemen RS mengajarkan kepada para dokternya untuk meminta maaf ketika mereka melakukan kesalahan – alih-alih membela diri atau menyembunyikannya fakta dari pasien. Hasilnya, tuntutan-tuntutan atas kasus malpraktik turun secara drastis.

Kapan kita akan melakukan hal yang sama, yaitu memulai untuk menjadi lebih baik, lebih efisien, lebih kompetitif dalam setiap sistem kita…?!

Balikpapan, 26 Maret 2012

Salam
Satria Dharma
https://satriadharma.com/

0 tanggapan untuk “HOT, FLAT, and CROWDED (Part 2)”

  1. coral berkata:

    go..green..jd makna nya luas yah pak..
    bukan lingkungan jg..tpi dlm segala aspek kita menjadi lebih baik. tpi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *