Minggu, 16 Desember 2019
Just another WordPress site
KEBOHONGAN

KEBOHONGAN
“Namaku Roni. Aku berasal dari keluarga yg kurang mampu. Suatu hari di rumahku yg kumuh dan terbuat dari papan ini aku kekurangan makanan. Ayahku seorang tukang pijat yg tidak laku. Ibu saya penjual daster.
Beberapa tahun kemudian keluargaku mendapat rejeki. Aku disekolahkan di SMP Muhammadiyah 12 GKB. Di sana saya anak yg kurang mampu. Saya cukup dekat dengan Rijhal, Tiar, Caca, Ihza, Kevin. Semuanya orang kaya. Rijhal pemilik pesawat tercanggih di dunia. Caca adalah pemilik Italian Power (tenaga mesin Itali). Tiar pemilik toko Bintang Lima.

Saya mengaku pada teman-teman saya memiliki helicopter dan mobil panther. Waktu lumpur Lapindo meluap, mobil saya mogok, saya menelpon helicopter supaya datang menyusul keluargaku. Navigator helicopter menyupir mobilku dan keluargaku naik ke atas heli.

Beberapa saat kebohonganku terungkap. Aku seorang anak miskin, saya sangat malu hari itu. Dan tak lama lagi aku memutuskan bunuh diri supaya semua puas.”

Cerita sangat pendek ini adalah salah satu cerita yg terkumpul dalam buku kumpulan cerita Penulis Muda SMP Muhammadiyah 12 Gresik yg diterbitkan oleh MUHI Press. Judul bukunya adalah “Terukir di Bintang” dan nampaknya tidak akan bisa kita temui di toko buku-toko buku karena buku ini diterbitkan secara indie oleh MUHI Press. Ada sekitar 70 siswa yg berekspresi dalam buku mungil setebal 110 halaman tersebut. Tidak semuanya berupa karangan. Ada juga yg berupa kartun dg judul “Me and Mother” yg digambarkan begitu sedehana seperti sosok cacing bermata dan bermulut dan diberi dialog antara anak dan ibunya. Ada juga gambar seorang anak perempuan dengan beberapa sketsa baju sederhana dan diberi judul “Tuhan, aku ingin jadi disainer”. Begitu saja.

Tapi bagaimana pun, sekolah SMP Muhammadiyah 12 Gresik telah mampu menerbitkan karya siswanya dalam sebuah buku mungil yg tulisan-tulisannya mampu membuat saya terhibur, terinspirasi, dan tenggelam dalam renungan seperti pada kisah dengan judul “Kebohongan” ini.

Coba baca lagi tulisan di atas dan selami bagaimana si penulis mengembangkan imajinasinya dalam membuat kisah dan karakternya. Saya bahkan merasa larut dalam personifikasi penulis dalam karakter yg dibuatnya, Roni yg miskin tapi mengaku punya panther dan helicopter. Bagaimana ia membangun situasi yang hendak ia gambarkan dengan memasukkan karakter ayahnya yang digambarkannya sebagai ‘tukang pijat yg tidak laku’ dan ibunya yang ‘penjual daster’. Pemilihan profesi ini sungguh menarik dan nampaknya muncul dari kehidupan nyata di sekelilingnya yang ia munculkan.

Baca juga:  My Travel to Papua

Mengapa ia memilih helicopter sebagai lambang dari kekayaan yg ia imajinasikan? Mengapa justru mobil panther dan bukannya merk mobil klas atas yg disebutnya (seperti Mercedes, Jaguar atau Porsche)? Saya tercenung membaca konflik yg ia bangun dalam kisahnya dan tertawa ngakak membaca bagaimana ia menyelesaikan konflik tersebut. Saking malunya karena ketahuan berbohong sehingga ia berniat utk bunuh diri. Dan cara itu dipilihnya agar semua puas. Puas…?! Mengapa ia menganggap bunuh dirinya akan memuaskan perasaan temannya yg menemukan kebohongannya?

Tentu saja hanya si penulis yg paling paham dengan apa yg ia kehendaki dari kisah yg dituliskannya. Tapi kita sebagai pembaca tetap memiliki kebebasan utk membedah makna-makna yg eksplisit dan implisit yg muncul dalam kisah yg dituliskan. Sungguh menarik membaca bagaimana ia menekankan pada kondisi kemiskinannya dan betapa ia merasa beruntung bisa bersekolah di sekolah Muhammadiyah 12 GKB (dan itu karena ‘keluargaku mendapat rejeki’). Di sekolah inilah ia merasa beruntung bisa berteman dengan anak-anak yang kaya meski pun kondisi dirinya tidak berubah (Di sana saya anak yg kurang mampu). Perhatikan betapa ia membuat hiperbola tentang kekayaan temannya (Rijhal pemilik pesawat tercanggih di dunia. Caca adalah pemilik Italian Power (tenaga mesin Itali). Tiar pemilik toko Bintang Lima). Kita tidak tahu seperti apa ‘pesawat tercanggih di dunia’ dan ‘Italian Power’ seperti yang dimaksudkan oleh penulisnya tapi ia jelas hendak menunjukkan bahwa temannya tersebut begitu kayanya sehingga memiliki ‘pesawat tercanggih di dunia’ dan ‘Italian Power’. Sesuatu yang hebat dan tak bisa dimiliki oleh anak yang miskin. Si penulis menyusun konfliknya dengan memasukkan situasi lumpur Lapindo…! Tidak jelas apakah si penulis muda ini pernah tinggal di sekitar lokasi melupaknya lumpur lapindo atau tidak tapi ia menggunakan situasi tersebut untuk menyusun situasi konflik dalam kisah cerpennya. Ia paham bahwa semua orang tahu seperti apa itu situasi meluapnya lumpur lapindo dan ia tidak perlu harus menjelaskan lagi situasinya. Sebuah situasi nyata dipakainya untuk mengembangkan kisahnya yang imajinatif agar menjadi lebih hidup dan nyata dalam benak pembacanya. Bukankah memang demikian cara para penulis hebat dalam menyusun kisah-kisahnya agar dapat menjadi nyata dalam benak pembacanya? Mereka akan meminjam situasi-situasi yang dikenal dengan baik oleh pembaca untuk diangkat menjadi bagian dari situasi imajinatif yang disusunnya. Dengan demikian maka kisah itu membentuk menjadi ‘sosok yang bisa didekap dan disayangi’ (meminjam istilah Pak Mochtar Pabottingi).

Baca juga:  IGI Lampung dan Kisruh Organisasi Guru

Kisah dengan tema ‘kebohongan’ ternyata juga muncul dalam kisah lain dalam buku ini. Tapi judulnya adalah “Kebohongan Guru”. Berikut kisahnya :

KEBOHONGAN GURU

Pada mulanya aku hanya bisa melakukan apa yang disuruh oleh guru yang menurutku ia adalah pembimbing yang hanya bisa marah dan marah kepada muridnya. Panggil saja Caca. Ia adalah salah satu korban kemarahan dari guru tersebut. Ia sangat tidak enak hati setelah menjadi korban kemarahan itu. Di belakang itu ia selalu mencemooh atau menjelek-jelekkan guru tersebut dengan temannya.

Beberapa waktu kemudian Caca dan teman-temannya dikumpulkan untuk diberikan nasihat berupa karangan-karangan dari salah satu gurunya. Menurut Caca guru itu bercerita tidak benar alias mengarang. Teman-teman segera menyadarinya dan beberapa waktu kemudian guru itu terungkap kebohongannya dan terasa terusir dari sekolah. Dan pada akhirnya teman-teman Caca bersama Caca ikut berpesta pora karena kepergian guru tersebut.”

Coba resapkan betapa jujurnya siswa dalam menulis. Menulis memang bisa membuat orang lebih jujur karena ia bisa menjadi media katarsis yang tidak bisa kita ungkapkan secara lisan atau langsung. Bayangkan situasi sosok bernama Caca yang merasa mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari gurunya untuk hal yang ia mungkin tidak pahami. Mengapa guru hanya bisa marah dan marah…?! Coba perhatikan bagaimana Caca menyelesaikan konflik tersebut dengan klimaks di mana sang guru akhirnya ‘terungkap kebohongannya dan terasa terusir dari sekolah’. Perhatikan juga bagaimana gembiranya siswa dengan berubahnya situasi tersebut dengan ‘berpesta pora’. Bisakah Anda ikut larut dalam kegembiraan Caca dan teman-temannya ini? J Saya sungguh merasakan ekspresi kegembiraan seperti orang yang terkungkung dan tiba-tiba menjadi bebas. It’s a feast and liberation…!

Pada mulanya si penulis masih menggunakan kata ‘aku’ sebagai tokoh dalam kisah ini tapi kemudian diubahnya menjadi tokoh imajinatif dengan nama Caca (…Panggil saja Caca). Dengan demikian si penulis bisa lebih bebas memainkan imajinasinya dan melepaskan beban psikologisnya. Dengan tokoh imajinatif kita memang bisa lebih bebas dan lebih jujur dalam mengungkapkan perasaan. It’s a story of self or feeling which is told in an imaginative way. Perhatikan bagaimana Caca melawan tekanan kemarahan guru tersebut dengan ungkapan “…Di belakang itu ia selalu mencemooh atau menjelek-jelekkan guru tersebut dengan temannya…”. Caca memang tidak melawan gurunya ‘…yang hanya bisa marah dan marah kepada muridnya..’ tersebut secara frontal tapi ia bisa melawan dengan ‘mencemooh atau menjelek-jelekkan gurunya tersebut di belakang’. And I think it’s just fair.

Baca juga:  SEKANTONG BERAS

Ada banyak kisah dalam tulisan ini yang menggambarkan betapa sulitnya menjadi siswa dan betapa beratnya tekanan dan harapan pada mereka. Padahal mereka sendiri tidak tahu bagaimana agar bisa memenuhi harapan yang dibebankan pada mereka tersebut. Tidakkah itu sangat menekan dan membuat anak-anak menjadi tidak bahagia dan kehilangan keceriaan? Being a student is very stressful and you should read this tiny book to understand it. Ini adalah ungkapan hati anak-anak kita yang merasakan sulitnya menjadi siswa di antara berbagai tuntutan orang tua, guru, masyarakat dan cita-cita mereka sendiri yang nampak begitu kabur. Jadi orang tua itu jauh lebih mudah ketimbang menjadi anak dan siswa. Itu kira-kira protes yang hendak mereka suarakan meski dalam bentuk yang sangat lugu dan polos. Hati saya langsung ikut larut berempati pada kesulitan mereka.

Saya sungguh sangat menghargai upaya sekolah untuk mengajari siswa-siswa mereka untuk menyuarakan hati mereka dengan polos dan jujur. Menulis kisah super pendek seperti ini pun ternyata bisa menjadi katarsis, sebuah pelepasan tekanan psikologis. Proses menulis sendiri adalah sebuah proses belajar yang sungguh luar biasa yang semestinya ditumbuhkan sejak masih anak-anak. Saat ini kurikulum sekolah kita samasekali tidak memberi porsi bagi pengembangan literasi membaca dan menulis. Sebaliknya siswa-siswa diracuni oleh rezim ujian nasional yang sungguh celaka tersebut. Saya sungguh salut dengan MUHI Press yang mampu memberikan sarana katarsis bagi siswa seperti ini. Saya sungguh berharap bahwa buku ini akan memberi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain untuk membuat buku yang sama. Saya sendiri sudah bertekad untuk mengajak sebanyak mungkin sekolah untuk membuat buku kumpulan tulisan siswanya seperti yang telah dilakukan oleh MUHI Press ini. Melalui tulisan ini saya hendak menyampaikan penghargaan saya yang tinggi kepada semua pihak di MUHI Press dan Perguruan Muhammadiyah Gresik yang telah membuat sebuah terobosan yang sangat berarti bagi perkembangan pendidikan siswa kita. You surely have taken a great step for education. Two thumbs for you. Guys! I think I need to treat you for dinner some times.

Surabaya, 22 Mei 2013.

Salam
Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Satu tanggapan untuk “KEBOHONGAN”

  1. Peny Kristin K. berkata:

    Dunia anak remaja, mengungkapkan banyak hal di pikirannya dengan lugas, polos atau apa adanya. “Celoteh – celoteh” sederhana yang sebenarnya penuh makna jika kita renungkan. Pak Satria, terima kasih untuk inspirasinya. Ini akan menjadi “sarana” siswa – siswa berekspresi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *