Jumat, 22 Nopember 2019
Just another WordPress site
A Beautiful Woman Next to My Seat

Tiba-tiba saya harus terbang ke Jakarta setelah dr Balikpapan. Ada perjanjian kredit yg saya harus ikut tandatangani di bank Mega Jakarta besok pagi. Kok ya mendadak banget toh…! Untungnya saya msh dapat tiket sore ini.

Lion tertunda hampir satu jam dan saya sdh begitu lelah ketika panggilan boarding diumumkan. Saya dapat tempat duduk di kursi 5 B diapit oleh seorang laki-laki tegap di sebelah kanan saya dan seorang wanita cantik di dekat jendela. I hate sitting in the middle. Tapi lumayanlah bisa duduk di samping wanita cantik. Pengalaman sebagai laki-laki normal selama lebih dari setengah abad memberi saya cukup keahlian utk menilai apakah seseorang gadis itu cantik atau tidak, cukup dengan pandangan sekilas. I just need a blink to judge. This woman is surely pretty and she has a class. Dandanannya sedikit glamour tapi tetap elegan. Ia tersenyum dan mencoba utk bersikap ramah pada saya. Tapi saya begitu lelah dan ingin beristirahat. Jadi saya mengabaikannya. Saya memejamkan mata dan langsung tertidur.

Entah berapa lama saya tertidur dan tiba-tiba terbangun karena pesawat terguncang. Pesawat nampaknya memasuki cuaca yg buruk dan pesawat terguncang dengan hebat. Wanita cantik di sebelah saya menjerit kecil dan mencengkram lengan saya. Saya cukup kaget dg guncangan pesawat tapi cengkraman wanita cantik ini pada lengan saya memberikan guncangan yg lain pada saya sehingga otak saya bingung harus memberi reaksi bagaimana dg tepat. “Lumayan keras ya guncangannya.” kata saya padanya mencoba utk menenangkan hatinya (tapi juga utk menenangkan gejolak di hati saya). Ia tidak menjawab tapi wajahnya nampak panik. Ia juga tidak melepaskan cengkramannya di lengan saya…!. Saya melirik dan melihat jari-jari mungilnya yg mencengkram lengan saya. Ada cincin di jari manisnya tapi bukan cincin kawin. Itu cincin bertatahkan beberapa mata sirkum yg indah. No wedding ring…?! Diam-diam saya merasa senang (lho kok senang…?!)
Saya mencoba mencuri-curi pandang kepadanya. Ia memiliki mata hitam yg indah, hidung mungil yg proporsional, dan bibir merah muda yg penuh. So lovely. Kulitnya nampak begitu halus dan lembut. Saya tidak bisa melihat rambutnya karena ia mengenakan jilbab model hijab modern yg menutupi rambutnya. Saya mencoba menebak berapa usianya dan saya pikir ia berada pada usia matang at her late thirty. Tapi siapa bisa menebak usia wanita? Mereka begitu pandai menyembunyikan usia mereka dg berbagai kosmetik dan asesori.

Baca juga:  Jebakan Turis atau Nasionalisme Praktis...?! (Korea Tour Part 2)

Pesawat terguncang sekitar tiga atau empat menit dan si cantik tidak melepaskan cengkramannya selama itu. Saya sampai lupa apakah ada doa utk pesawat terguncang dan apa doa jika hati terguncang dipegang oleh wanita cantik. Ketika pesawat mulai stabil si cantik hanya mengendurkan cengkramannya tapi tidak melepaskan pegangannya. Ya Tuhan! It’s so fun.

“Kaget ya…?!” tanya saya padanya dengan nada yg saya upayakan sekasual mungkin seolah sudah lama kenal. “Lha iyalah..!” jawabnya sambil tersenyum malu-malu. “Nanti ada yg jemput?” tanya saya mencari-cari topik utk ngobrol. Rasa kantuk saya tadi entah menguap kemana. “Nggak. Dewi nggak bisa menjemput. Biasanya saya nginap di rumahnya kalau ke Jakarta. Tapi rumahnya sedang penuh karena keluarga mertuanya sedang berdatangan.”

Jelas bhw ia bukan penduduk Jakarta. Mungkin penduduk Balikpapan.

“Jadi…?! Tinggal di mana nanti di Jakarta?” tanya saya. “Mau saya pesankan kamar hotel?” “Terserah…” jawabnya. (Terserah…?! Apa artinya?) “Saya bisa beli voucher hotel di bandara setiba kita nanti.” saya menawarkan. “Kalau mau nanti saya bookingkan di hotel Atlet Century.” “Saya selalu suka hotel Century,” jawabnya ringan. Pelan-pelan ia melepaskan pegangan tangannya dan memandang saya. Ia mengerling dan tersenyum. Jantung saya berdegup kencang hampir copot.

Pesawat mendarat dengan kasar di bandara dan si cantik kembali mencengkram lengan saya. “Kasar banget mendaratnya…” komentarnya. Saya tidak menjawab. Pegangan tangannya yg halus tersebut justru terasa begitu lembut. It’s so soothing.

Saya membantu menurunkan tas kecilnya dari bagasi dan kami turun dr pesawat beriringan. Begitu masuk bandara Soetta ia dengan berani menggandeng tangan saya tanpa sedikit pun keraguan.

“Jadi kita nginap di Century malam ini, Yang?” tanyanya manja. “Ya kalau dapat kamar.” jawab saya santai. Saya menggamit tangannya dan kami berjalan bergandengan. Istri saya nampak begitu cantik malam ini dan kami akan menikmati kebersamaan kami di hotel Century lagi seperti biasanya.

Baca juga:  MENGUNJUNGI INDIA Part 5 : TAJ MAHAL, How Beautiful and Grand Your Love?

Jakarta, 25 Mei 2013

Salam
Satria Dharma
https://satriadharma.com/

3 tanggapan untuk “A Beautiful Woman Next to My Seat”

  1. Suhardi berkata:

    Memburai kata-kata untuk memuji isteri sendiri ……

  2. helwy berkata:

    hadeeeh,,,endingnya melegakan Pak !

  3. aguspur berkata:

    ….suwe ora ketemu ojob …nganti lali …he..he..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *