Senin, 22 Juli 2019
Just another WordPress site
KESALAHAN BERBAHASA ATAU KESALAHAN LOGIKA?

Dear all,
Pagi ini saya membaca judul di koran Surya “Satu Pendaftar Harus Kalahkan 75 Lainnya : Persaingan SBMPTN Sangat Ketat.”

Beritanya sbb :

” Jumat, 7 Juni 2013 19:42 WIB. SURYA Online, SURABAYA – Pendaftar Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) yang memilih jurusan Manajemen Bisnis ITS dipastikan akan bersaing ketat. Untuk bisa lolos, mereka harus mampu mengalahkan 74 hingga 75 pendaftar.
Hal ini beralasan karena jumlah pendaftar jurusan ini hingga Jumat sore (7/6/2013) mencapai 1.129 orang. Padahal kuotanya hanya 15 kursi.

Persaingan tak kalah ketatnya juga terjadi di jurusan Teknik Multimedia dan Jaringan dengan jumlah pendaftar 1.127 orang.
Ketatnya persaingan di jurusan ini sama dengan Manajemen Bisnis di mana satu pendaftar harus mampu mengalahkan 74 hingga 75 pendaftar lainnya….”

Sejak th 80-an ketika saya masih mengajar di bimbingan belajar saya sdh sampaikan bhw ini pernyataan yg sangat keliru. Jadi kesalahan berpikir ini sudah keliru sejak dulu sampai sekarang dan TIDAK DISADARI…!

Tahukah Anda apa kesalahan dari pernyataan ini…?!

Berikut ini saya berikan contoh berita lain di media yang juga sama kesalahannya.

Informasi lain menyebutkan, jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi paling banyak diminati (3.991 pendaftar). Padahal kursi yang tersedia hanya 140 kursi. Berikutnya disusul Fakultas Kesehatan Masyarakat yang menyediakan 100 kursi, diminati 3.781 siswa. Selanjutnya, jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ada 2.148 pendaftar, Fakultas Kedokteran (2.080 pendaftar), dan Program Studi Ilmu Keperawatan (2.049 pendaftar).

Disinggung soal keketatan kompetisi, Rohani menyatakan, Fakultas Kedokteran tetap memiliki persaingan paling keras. Satu peserta harus mengalahkan 18 saingannya. Disusul Program Studi Ilmu Keperawatan dengan angka keketatan kompetisi 1 : 15.”

Ingin Masuk PTN, Singkirkan 12 Peserta

MALANG KOTA– PTN (perguruan tinggi negeri) di Kota Malang masih menjadi perburuan lulusan SMA sederajat. Buktinya, untuk bisa menembus kursi PTN, satu peserta seleksi harus menyingkirkan 12 kontestan lain. Dengan begitu, tingkat persaingan menuju PTN adalah 1:12. Berdasarkan data yang dihimpun Jawa Pos Radar Malang, jumlah peserta SNMPTN di PTN Malang mencapai 119.344 peserta. Rinciannya, di Universitas Brawijaya (UB) jumlah pendaftar mencapai 71 ribu, Uni- ver sitas Negeri Malang (UM) ada 39.647 peserta dan Universitas Islam Negeri (UIN) Maliki Malang mencapai 8.697 peserta.

Fakultas Kedokteran masih merupakan pilihan paling favorit para calon mahasiswa yang melamar melalui jalur undangan pada tahun akademik 2011/2012. Data terakhir menyebutkan, dari pelamar Unhas melalui jalur undangan 6955 orang, 968 orang di antaranya menjatuhkan pilihan I pada Fakultas Kedokteran. Jika dihitung daya tamping fakultas ini yang hanya 15 orang, berarti persaingan akan sangat ketat. Perbandingan 1 kursi diperebutkan 64,8 mahasiswa.

Di Surabaya, Kedokteran Umum Universitas Airlangga (Unair) masih menjadi program studi (Prodi) dengan persaingan tersengat, 1: 47 ( 1 kursi diperebutkan 47 calon mahasiswa,Red). Sementara Prodi paling ‘enteng’ saat ini Ilmu Keolahragaan di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dengan perbandingan 1: 3.

Namun bila dibanding tahun lalu, sebenarnya untuk Prodi Kedokteran Unair lebih longgar, sebab di 2012 perbandingannya mencapai 1: 50. Tapi tetap lebih ketat dibanding 2011, kala 1 kursi hanya diincar 23 calon mahasiswa baru.

Mari kita lihat apa kesalahan dalam berita tersebut.

Baca juga:  UJIAN NASIONAL SI SETAN BESAR

Seandainya yang mendaftar di suatu jurusan adalah 2.000 calon mahasiswa sedangkan kuotanya hanya untuk 100 mahasiswa maka pernyataan yang benar untuk situasi ini adalah ‘Perbandingan antara siswa yang mendaftar dengan yang diterima adalah 20 : 1’. Tapi pernyataan ‘Setiap siswa harus mengalahkan nilai 20 siswa lain’ adalah salah untuk menggambarkan situasi ini. Kedua pernyataan itu tidak sama maknanya.

Mengapa demikian…?!

Sistem yang digunakan untuk menyeleksi siswa ini bukan sistem pertandingan dengan sistem gugur atau sistem kompetisi penuh di aman siswa harus melewati beberapa kali bertanding sampai mendapatkan jumlah kuota camaba yang diinginkan. Sistem yang digunakan untuk menyeleksi camaba ini adalah dengan mengurutkan nilai atau skor yang dimiliki oleh siswa masing-masing mulai dari yang paling tinggi sampai dengan paling rendah. Jadi jika kuota yang dimiliki hanya 100 kursi maka hanya 100 camaba yang memiliki nilai tertinggi yang akan diterima sedangkan sisanya (tidak perduli berapa pun jumlahnya) akan dicoret.

Jadi jika ada 2.000 camaba yang memperebutkan kursi jurusan tertentu sedangkan kuotanya hanya 100 kursi maka camaba yang ingin diterima haruslah memiliki nilai dengan peringkat diantara 1 s/d 100. Jika seorang camaba berada di peringkat 101 (yang artinya nilainya mengalahkan 1.899 camaba lain) ia tetap tidak akan bisa diterima. Setiap camaba yang ingin diterima pada situasi ini nilainya minimal harus bisa mengalahkan nilai 1900 camaba lainnya. Camaba yang ingin diterima dengan peringkat tertinggi haruslah mengalahkan nilai 1999 camaba lainnya.

Jadi pernyataan Surabaya Post sbb : “…Di Surabaya, Kedokteran Umum Universitas Airlangga (Unair) masih menjadi program studi (Prodi) dengan persaingan tersengat, 1: 47 ( 1 kursi diperebutkan 47 calon mahasiswa, Red). Kalimat ‘1 kursi diperebutkan 47 calon mahasiswa’ bukanlah menggambarkan perbandingan 1:47.

Baca juga:  INDAHNYA KERAGAMAN: Catatan Perjalanan dari Saudi Arabia Sampai Amerika

Jadi ketika saya masih mengajar di bimbingan belajar ASG (Airlangga Student Group) dulu saya selalu menyampaikan pada siswa-siswa saya bahwa jika ia ingin diterima di jurusan yang mereka inginkan maka nilai mereka harus bisa masuk di peringkat kuota yang diperebutkan. Jika ada 1.000 camaba yang mendaftar di satu jurusan tertentu sedangkan yang diterima hanya 50 camaba maka nilai siswa saya minimal harus mengalahkan 950 camaba lainnya atau 50 kursi diperebutkan oleh 1.000 camaba. Dan ini jels berbeda dengan menyatakan 1 kursi diperebutkan oleh 20 camaba. Camaba tidak bertanding dalam sistem gugur atau sistem kompetisi penuh. Mereka hanya sekali ‘bertanding’ dan nilai yang tidak masuk kuota langsung masuk kotak. Simpel sekali.

Surabaya, 9 Juni 2013

Salam
Satria Dharma

Satu tanggapan untuk “KESALAHAN BERBAHASA ATAU KESALAHAN LOGIKA?”

  1. moh azis wijaya berkata:

    asik nih om tulisannya…
    Salam kenal dari saya…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *