Baru saja saya selesai melakukan zoom meeting bersama beberapa petinggi Perpusnas. Saya diminta untuk berbicara kepada beberapa pejabat perpusnas. Salah satunya adalah Dr. Adin Bondar Pasaribu, S.Sos., M.Si, yang merupakan Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan. Selain itu ada Kepala Pusat Analisis Perpustakaan dan Pengembangan Budaya Baca Nurhadisaputra dan tiga orang Pustakawan Perpusnas lainnya.
Zoom meeting ini adalah tindak lanjut dari permohonan saya kepada Prof. Dr. H. E. Aminudin Aziz, M.A., Ph.D, Kepala Perpusnas untuk bisa berdiskusi tentang pengembangan budaya baca bagi siswa se Indonesia. Saya memang mencari nomor HP beliau dan kemudian mengirim WA. Isinya adalah minta waktu untuk bertemu dan menjelaskan program bertajuk TANTANGAN MEMBACA INDONESIA 2026 yang diperuntukkan bagi siswa se Indonesia. Kalau bisa saya minta waktu 10 – 15 menit di mana saja beliau bersedia untuk menerima saya. Jika beliau sangat sibuk saya bersedia untuk dipertemukan dengan staf di Perpusnas yang ditugaskan dan menjelaskan program ini. Saya sampaikan akan membiayai sendiri kedatangan saya ke Jakarta jika beliau bersedia saya temui atau ada staf di bawahnya yang diminta untuk menemui saya.
Oleh Prof Aminudin kemudian didelegasikan kepada beberapa stafnya untuk menerima saya. Saya lalu minta waktu untuk zoom meeting saja dulu. Nanti kalau sudah ada progress atau tindak lanjut di mana saya memang diperlukan hadir baru saya akan datang ke Jakarta.
Alhamdulillah zoom meeting berjalan dengan sangat positif dan konstruktif. Saya menyampaikan presentasi saya dan setelahnya kami berdiskusi. Semua tampaknya sepakat dengan visi dan misi yang saya sampaikan. Mereka semua juga sepakat bahwa memang harus ada program literasi yang sifatnya berkelanjutan dan bukan sekedar insidental dan sekedar seremonial. Sudah terlalu banyak program literasi yang sifatnya sekedar seremonial dan setelah itu hilang tanpa bekas. Kita perlu program yang berkelanjutan, dilakukan secara massif, terstruktur, dan sistematis.
Bukan hanya itu…
Program literasi yang berkelanjutan itu haruslah tidak membebani APBN atau pun APBD dan mudah dikerjakan oleh semua sekolah. Program Tantangan Membaca ini sudah pernah saya lakukan di Surabaya Bersama Ibu Risma ketika beliau masih jadi Walikota di Surabaya. Saat itu ada 39.000 siswa SD yang berhasil membaca 20 buah buku masing-masing dan para siswa mendapat sertifikat yang ditandatangani oleh Bu Risma.
Tapi setelah Bu Risma pergi program itu juga menghilang dan sampai saat ini saya belum juga berhasil menembus Pak Eri sebagai walikota pengganti beliau.
Mengapa Perpusnas yang saya ajak dan bukan Kemendikdasmen atau Kemenag?
Karena saya tidak berhasil menembus mereka (meski sudah berusaha menemui mereka langsung)… 😁
Lha wong Walikota saya sendiri dan dua bupati yang saya hubungi juga tidak merespon ajakan saya kok…!
Saya berharap kalau menggandeng Perpusnas maka akan lebih mudah menghubungi atau menembus birokrasi di Pemda mau pun di Disdik Propinsi/Kota/Kabupaten. Kan sesama Lembaga punya jaringan dan Bahasa yang sama. Lha saya ini apa… 😁
Sebelum menutup pertemuan yang sangat menyenangkan tadi saya sampaikan lagi bahwa saya bersedia untuk menemui kepala daerah atau kepala dinas Pendidikan mana saja yang mau melaksanakan program Tantangan Membaca yang saya ajukan tersebut. Just help me get access to reach them. I will do the rest. Tapi kalau Perpusnas bersedia mengadopsi program tersebut dan menjalankannya maka saya akan sangat bersyukur tentu saja. 😁
Bayangkan ada 38 Propinsi, 416 kabupaten, dan 98 kota yang bisa diajak melakukan program ini. Mosok tidak ada satu pun yang bisa ditembus oleh Perpusnas…. 😎
Surabaya, 27 Agustus 2026
Satria Dharma