Selasa, 12 Nopember 2019
Just another WordPress site
MANA YANG LEBIH PENTING: IMANMU ATAU PRILAKUMU?

Mana yang lebih penting: Imanmu atau prilakumu? beragama Islam (menjadi muslim) atau berakhlak atau berprilaku islami?

Saya beri ilustrasi ya. Dulu saya pernah punya tetangga pendeta waktu di Bontang. Orangnya baik sekali. Kalau anak saya nangis gak berhenti ia akan datang dan menanyakan apakah anak saya baik-baik saja, jika sakit apa perlu diantar ke RS (ia dapat fasilitas mobil dari perusahaan dan saya tidak). Katanya bangunkan saja ia jika kami perlu bantuan kapan saja. Kalau cucian istri saya beterbangan karena tertiup angin maka ia akan mengumpulkannya dan meletakkannya di keranjang cucian kami. Pokoknya Pak Pendeta ini asyik banget sebagai tetangga. 🙂

Setelah pindah rumah yang lebih besar saya bertetangga dengan orang Batak muslim yang luar biasa halusnya perangainya. Saya sampai meragukan ‘kebatakannya’ saking lembutnya ia. Namanya Amir Harahap dan kini bekerja di Pertamina, Jakarta.
Amir Harahap ini juga tetangga yang sangat baik. Ketika ia dapat tugas ke Paris kami dioleh-olehinya miniatur Menara Eiffel yang cantik. Itu menara Eiffel pertama yang kami miliki. 🙂 Kami selalu merindukan tetangga Batak kami yang lembut dan baik hati tersebut.

Sebaliknya, ada tetangga agak jauh waktu di Balikpapan yang kerjanya cuma merepotkan saya saja kalau ia datang ke rumah. Ia tidak pernah menawarkan bantuan bagi saya tapi justru merongrong. Ia akan menghabiskan waktu saya untuk mendengarkannya mengeluh panjang pendek akan nasibnya serta kehidupan dan lingkungan yang tidak adil padanya. Ujung-ujungnya tentu saja minta uang (pinjam sih katanya). Dia seorang muslim. Tapi tampaknya ia tidak terlalu peduli dengan status muslimnya.

Ada lagi seorang kenalan yang sangat membanggakan kemuslimannya dan selalu menonjolkannya. Sayangnya sikapnya terhadap yang non-muslim dan keturunan Cina agak negatif dan ia tidak menyembunyikan rasa tidak sukanya tersebut. Ia sering menyerang orang non-muslim dan keturunan Cina secara verbal. Saya sungguh risih mendengarnya atau berdekatan dengannya ketika ia dengan terang-terangan menunjukkan kebenciannya pada mereka.

Baca juga:  “YOUR TENSION, PLEASE…!”

Tentu saja saya juga punya banyak teman non-muslim, yang tidak jelas agamanya, dan bahkan ada yang mengaku agnostik. Ada yang muslim tapi tidak pernah ke masjid dan di siang hari di bulan Ramadhan tetap merokok kebal-kebul.
Bagaimana sikap saya pada orang-orang ini? Bagaimana kalau saya ditanya mana yang lebih saya sukai, teman atau tetangga yang muslim atau yang berprilaku islami (berakhlaqul karimah)?

Tentu saja saya lebih suka punya tetangga seperti Pak Pendeta dan Lai Amir Harahap. Saya juga tidak keberatan dan hepi-hepi saja punya teman yang tidak jelas agamanya atau bahkan yang non-muslim sekali pun tapi tidak pernah mengganggu kehidupan saya. Apalagi kalau teman-teman tadi suka membantu dan menyenangkan sebagai teman. Tapi saya sungguh berharap tidak perlu berdekatan dengan kenalan yang meski muslim tapi lebih banyak mendatangkan kemudharatan bagi saya dan orang-orang disekitarnya. Saya juga berupaya menghindari teman-teman muslim ‘garis keras’ yang selalu melontarkan permusuhan kepada umat non-muslim atau pun yang rasis. Saya justru paling alergi dengan teman yang begini.

Inti dari yang hendak saya katakan adalah : Orang-orang di sekitar kita tidak memerlukan agama atau keimanan kita. Apakah kita beriman atau tidak, apakah kita melaksanakan sholat atau tidak, sudah haji atau belum, puasa Senin-Kamis atau tidak, sholat tahajud dan ngaji rutin atau tidak, dlsb yang berhubungan dengan ibadah pribadi kita dengan Tuhan itu semua TIDAK DIPERLUKAN oleh teman, tetangga, dan bahkan keluarga terdekat kita sekali pun. It has nothing to do with them. Apa yang mereka butuhkan dari kita adalah sikap, prilaku dan tindakan kita yang mencerminkan sikap, prilaku dan tindakan yang berlandaskan akhlaqul karimah atau yang biasa kita sebut sebagai prilaku islami.

Baca juga:  Rektor Icebreaker

Jadi saya rasa kita tidak perlu menunjukkan kepada siapa pun seberapa saleh kita pada Tuhan. Jika bisa rahasiakan hubungan istimewa Anda denganNya karena kadang atau bahkan seringkali terbersit keinginan kita untuk menunjuk-nunjukkan kesalehan kita padahal itu samasekali tidak dibutuhkan oleh orang lain dan justru akan menggugurkan kedekatan kita pada Tuhan. Gak penting amat…! 🙂 Sebaliknya, kita justru harus menunjukkan sikap, prilaku, dan tindakan kita yang islami dan berlandaskan akhlaqul karimah pada orang-orang di sekitar kita. Itu yang mereka butuhkan dari kita. Anak, istri, keluarga, teman, tetangga, dan siapa saja yang kita temui perlu mendapatkan manisnya BUAH IMAN kita. Iman itu sesuatu yang Anda yakini, sampaikan, dan lakukan. Jadi jika Anda selalu berbuat baik pada orang lain (tidak peduli beragama apa pun Anda atau bahkan tidak beragama sekali pun) maka itu berarti Anda mengimani perbuatan baik bagi orang lain. Sebaliknya, jika Anda selalu melontarkan kebencian pada orang-orang tertentu maka sebenarnya itulah yang Anda imani. Anda percaya bahwa itulah yang baik menurut Anda. Seperti kata Gus Dur, “Jika engkau berbuat baik maka orang tidak akan bertanya apa agamamu.” Jadi simpan saja agama dan keimananmu untuk dirimu sendiri tapi bagikanlah buah dan keindahan dari keimananmu pada semua orang di sekitarmu.

Begitu menurut saya… 🙂

Surabaya, 16 Desember 2016

Salam

Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Satu tanggapan untuk “MANA YANG LEBIH PENTING: IMANMU ATAU PRILAKUMU?”

  1. EDYAR RAHAYU MALIK berkata:

    “Mana yang lebih penting: Imanmu atau prilakumu? Beragama Islam (menjadi muslim) atau berakhlak atau berprilaku islami?”
    Ada yang rancu, Pak. Apa itu iman? Apa itu Islam? Iman dulu apa Islam dulu? Apa itu perilaku Islami? Apa bedanya muslim dengan berperilaku islami? Apakah semua perbuatan baik disebut perilaku Islami? Baik menurut versi siapa? Versi sekulerkah? Versi liberaliskah? Versi komuniskah? Versi orang awamkah? Atau versi siapa? Sepertinya harus dipahami dulu konsepnya agar tidak terburu-buru dan salah menyimpulkan, apalagi bagian yang ini:
    “Inti dari yang hendak saya katakan adalah : Orang-orang di sekitar kita tidak memerlukan agama atau keimanan kita.”
    Versi Allah SWT:
    Agama itu dien, jalan hidup.
    Rukun agama ada tiga: Iman, Islam, dan Ihsan.
    Orang beriman disebut mukmin. Syarat disebut mukmin harus memenuhi rukun iman.
    Orang Islam disebut muslim. Syarat disebut muslim harus melaksanakan rukun Islam.
    Orang ihsan disebut muhsin. Ihsan adalah buah dari keimanan dan keislaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *