Selasa, 25 Februari 2020
Just another WordPress site
Hero or No Hero…

Buku obralan yg saya baca pagi ini adalah “Hidden Heroes” terbitan Bentang. Buku ini adalah kisah ttg pejuang-pejuang kehidupan, yaitu orang-orang yg dengan keterbatasan fisik dan materi berjuang dalam kesunyian utk mengabdi dan berkarya. Mereka adalah orang-orang yg ditampilkan oleh Andi F. Noya dalam acara Kick Andi dan kisahnya dibukukan agar bisa dibaca. Bagi orang yg sangat jarang nonton TV seperti saya(kalau nonton jadi ngantuk) buku ini sangat informatif.

Salah satu pahlawan di buku tsb adalah Andi Suhandi. Lahir di Sukabumi 19 Agustus 1987. Pemuda yg lahir dari keluarga miskin dan masa kecil dan remajanya hidup menggelandang di jalanan ini punya pekerjaan yg luar biasa mulia dan luhur, yaitu memberikan pendidikan pada anak-anak jalanan dan marjinal. Ia benar-benar pahlawan bagi masyarakat dhuafa yg tidak tersentuh oleh negara dg birokrasinya yg dibikin sulit utk menjangkau anak-anak yg paling membutuhkan. Aneh memang. Andi mendirikan lembaga pendidikannya sendiri yg ia beri nama Sanggar Anak Matahari. Ia mengajari mereka berbagai macam pengetahuan dan ketrampilan seperti nasyid, menulis puisi, bhs Inggris, teater, fashion show, agama, hasta karya, dan apa saja yg bisa ia berikan pada anak-anak jalanan tsb. Anak-anak ini ia ikutkan lomba dan mendapatkan penghargaan dari mana-mana. Dengan demikian anak-anak itu merasa bahwa apa yg mereka lakukan tanpa campur tangan pemerintah ternyata juga dihargai oleh ‘dunia atas angin’. Padahal Andi bukanlah sarjana, apalagi sarjana pendidikan, tapi tekadnya utk membantu dan bermanfaat bagi sesama sungguh membuat saya merasa kecil dibandingkannya. Sosok spt Andi inilah yg selalu membuat saya kagum. Sosok yg begitu tulus dan tanpa pamrih dalam mengabdi dan berkarya pada bangsa dan negara tanpa pernah berpikir ttg ‘award’ atau pujian.

Tiba-tiba sy teringat pada seorang teman yg kemarin memberi saya brosur Seminar Nasional dg tema besar “Peran Pendidikan dan Kebudayaan dalam Mengindonesiakan Manusia Indonesia”. Sungguh wow judulnya…! (ternyata manusia Indonesia itu masih perlu diindonesiakan lho…! Ra mudeng toh kowe…?!). Semnas ini dilakukan oleh sebuah PTS yg bekerjasama dg Balai Bahasa. Saya diajak teman tsb utk ikut seminar ini krn ia tahu saya mempromosikan literasi ke mana-mana. Ini seminar utk dosen yg ingin menambah kredit poinnya agar mereka bisa naik pangkat. Ikut seminar sekian poin, bicara sekian poin, jadi panitia sekian poin. Untuk itu ya kita mesti bayar. Dapat kredit poin kok gak mau bayar…!

Baca juga:  TRAGEDI NOL BUKU: TRAGEDI DI DUNIA PENDIDIKAN INDONESIA

Teman baru saya ini mungkin mengira saya seorang dosen dan ia ingin menginformasikan ajang cari kredit poin bagi saya utk naik pangkat. Sebuah niat yg baik. Supaya saya naik pangkat… (ojo ngaypang terus). Tapi ia memang tidak tahu bahwa saya bukan dosen dan juga agak memandang rendah ajang akademik abal-abal seperti ini (mohon maaf bagi para dosen dan pejabat kampus. Anggap saja ini ketrucut). Saya jauh lebih menghargai orang-orang seperti Andi ini yg dengan segala keterbatasannya justru mampu memberi manfaat nyata pada masyarakat di sekelilingnya. Ketika sekumpulan orang dengan berderet gelar dan jabatan akademik ‘nggedabrus’ menggunakan rangkaian kata-kata canggih the what so called ‘academic’ tentang bagaimana membangun bangsa dg pengetahuan yg ia tuangkan dalam makalahnya, Andi si “Pejuang Sunyi” turun langsung ke daerah-daerah paling kumuh utk benar-benar mendidik. Tanpa gelar sarjana, tanpa makalah dan paper, tanpa SK, tanpa teori tanpa rumus-rumus, dan (yang paling menjengkelkan) tanpa honor Andi menyapa anak-anak anjal di kantong-kantong kemiskinan di mana para akademisi seminar nasional mungkin tak sudi utk berkunjung.

Alangkah ironisnya…!

Ironis…?! Gak usah lebaylah, Cak. Ojok lincip-lincip opo’o…! 🙂
Bukankah dunia ini memang penuh dengan ironi yg kita cecap setiap hari sehingga rasanya seperti kumpulan sandiwara tanpa naskah tanpa babak tanpa jeda. (tanpa kunyit tanpa asem, jare sing dodol jamu)

“wamaa alhayaatu alddunyaa illaa la’ibun walahwun (Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka…” QS [6:32]

Surabaya, 12 September 2014

Salam

Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *