Selasa, 15 Oktober 2019
Just another WordPress site
ANDA AGEN ISRAEL?

Seorang anggota milis mengirimkan sebuah berita dari koran Republika ke milis. Beritanya tentang pernyataan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) bidang Hubungan Luar Negeri, KH. Muhyidin Junaidi yang menilai banyak tokoh nasional yang diindikasi menjadi agen Israel di kawasan Asia Tenggara. MUI: Banyak Tokoh Nasional Terindikasi Agen Israel Republika – Sel, 1 Mei 2012

“Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) bidang Hubungan Luar Negeri, KH. Muhyidin Junaidi menilai, banyak tokoh nasional yang diindikasi menjadi agen Israel di kawasan Asia Tenggara. Pernyataan Kyai Junaidi terkait dengan ‘kepergoknya’ beberapa tokoh politik dan pejabat dari Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia ketika perayaan Kemerdekaan Israel ke 64 Kamis pekan lalu.”

Posting ini kemudian saya tanggapi bahwa pernyataan itu berbau fitnah dan tidak layak dikemukakan oleh Ketua MUI. Dengan menyatakan ‘banyak tokoh nasional yang terindikasi agen Israel’ sebenarnya MUI sudah melakukan fitnah. Pertama, tidak layak lembaga kumpulan para ulama ini melemparkan tuduhan spekulatif semacam itu. Sebuah lembaga, apalagi kumpulan para ulama, harus benar-benar berhati-hati dengan segala pernyataannya karena mereka membawa-bawa agama. Jelas mereka tidak akan bisa membuktikan tudingannya tersebut dan itu berarti MUI telah memfitnah. Kedua, apa maksudnya tuduhan ‘agen Israel’ tersebut? Apakah yang dilakukan Ferry itu ada hubungannya dengan urusan agama, yang menjadi kewenangan MUI ? Mengapa orang yang mengikuti upacara peringatan kemerdekaan sebuah negara dituduh sebagai ‘agen Israel’? Ketiga, apa hubungan MUI dengan urusan menghadiri upacara kemerdekaan Israel ini? Mengapa mereka yang berhubungan dengan Israel ini disebut sebagai ‘pengkhianat bangsa’?

Protes saya ini kemudian berkembang menjadi diskusi menarik di milis.

Teman di milis membela sikap Ketua MUI tersebut dan menganggap bahwa kehadiran seseorang di ultah tersebut adalah indikasi bahwa ia seorang agen Israel. Menurut saya tudingan ini sungguh berlebihan. Terlebih lagi karena yang mengucapkan adalah seorang Ketua MUI yang menurut saya tidak ada urusannya dengan masalah ini. Jika ada seseorang yang hadir dalam acara tersebut maka itu adalah urusan pribadi orang tersebut yang tidak layak untuk dikecam oleh MUI. Apa sebenarnya urusan Majelis Ulama Indonesia dengan kehadiran Ferry ke acara tersebut? Apakah ini merupakan masalah agama yang memerlukan pendapat dan komentar MUI? Seandainya pun Ferry datang mewakili atau sebagai tamu negara maka tetap saja MUI tidak punya urusan dengan itu. Jika pemerintah Indonesia memutuskan untuk mengirim seorang wakilnya pada acara tersebut maka itu adalah masalah politik dan bukan masalah agama. Jadi sungguh aneh sikap KH. Muhyidin Junaidi ini. Ini seolah MUI memiliki kewenangan untuk mengawasi siapa orang yang boleh atau tidak boleh untuk berhubungan dengan negara-negara tertentu.

“Kyai Junaidi mengatakan memang cukup sulit melihat apakah benar tokoh tersebut hadir kemudian menjadi agen Israel. Namun kehadiran beberapa orang Indonesia di hari kemerdekaan Israel, jelas Kyai Muhyidin, mengindikasikan kedekatan yang erat antara orang tersebut dengan pihak Israel.”

Baca juga:  SAFARI LITERASI DI LOMBOK

Jika Kyai Junaidi sendiri mengatakan CUKUP SULIT untuk mengetahui apakah seseorang itu agen Israel lantas mengapa dengan mudahnya ia menuding Ferry sebagai agen Israel.

“Mereka yang hadir itu, menurut Kyai Junaidi sebagian orang Islam dan mereka itu menjadi orang munafik yang melakukan standar ganda. Kehadiran mereka , jelas dia, telah menciderai perasaan sesama umat Islam di Tanah Air. Dimana sebagian besar masyarakat muslim dunia dan di Indonesia mengecam keras keberadaan negara penjajah Israel yang menganeksasi wilayah Palestina.”

Penggunaan tudingan kata ‘munafik’ dari seorang Ketua MUI ini sungguh berlebih-lebihan. Apa sebenarnya maksudnya dengan mengatakan bahwa yang hadir pada upacara tersebut melakukan ‘standar ganda’? Apa jika menciderai perasaan sesama umat Islam di tanah air adalah ciri ‘munafik’ dan ‘standar ganda’? Sejak kapan menghadiri ultah Israel masuk dalam kriteria ‘munafik’ dan sejak kapan MUI mendapat kewenangan menentukan seseorang itu munafik atau tidak?

Bagi saya MUI telah melakukan perbuatan yang melampaui kewenangannya. Apa yang dilakukan Ferry adalah urusan pribadi yang tidak boleh dicampuri atau diurusi oleh MUI. Urusan Ferry dengan Israel adalah urusan pribadinya dan bukan urusan umat Islam yang perlu mendapat perhatian MUI. Apa yang dilakukan oleh Ferry bukanlah sebuah dosa dan bahkan juga bukan urusan agama yang perlu diharamkan sehingga sungguh mengherankan jika MUI sampai turun tangan untuk mengurusinya. Terlebih lagi menudingnya sebagai agen Israel dan menuduhnya munafik dan berstandar ganda. Nampaknya MUI menganggap negara Israel itu MUSUH agama Islam. Dan siapa pun yang berhubungan dengan negara tersebut dianggap sebagai musuh umat Islam yang harus dikucilkan. Sejak kapan Islam memusuhi sebuah negara dan menganggap orang yang berhubungan dengan negara tersebut sebagai sebuah dosa dan kemunafikan?

“Kedatangan politisi Nasional Demokrat (NasDem) Ferry Mursyidan Baldan ke HUT Kemerdekaan Israel di gedung School of The Arts, Singapura, Kamis pekan lalu membuat tokoh-tokoh Islam di Indonesia merasa gerah. Mereka menganggap bekas politisi Golkar itu sebagai penghianat bangsa yang patut dikucilkan. “Dia telah mengkhianati perjuangan rakyat Palestina dan juga menyimpang dari sikap Indonesia,” kata Ketua MUI Pusat, KH. Amidhan, kepada Suara Islam Online, Rabu (2/5/2012).
(http://www.suara-islam.com/detail.php?kid=4487)

Cukup mengherankan bahwa MUI mengurusi masalah-masalah politik dan bahkan mencap seseorang sebagai pengkhianat bangsa. Apa sebetulnya urusan MUI dalam hal ini? Apakah MUI telah berubah menjadi lembaga politik yang bisa menentukan seseorang itu ‘pengkhianat bangsa’ atau bukan? Sejak kapan orang yang berhubungan dengan Israel dianggap sebagai ‘pengkhianat bangsa’? Bagaimana mungkin MUI yang merupakan kumpulan para ulama itu tiba-tiba menjadi lembaga yang begitu sembrono menuduh orang yang berhubungan dengan Israel sebagai ‘pengkhianat bangsa’. Tidak tahukah mereka bahwa almarhum Gus Dur, mantan Presiden Indonesia, adalah orang yang sering berhubungan dengan negara Israel? Bahkan Angkatan Muda NU pernah mengundang Simon Perez, mantan menlu Israel untuk berbicara ke Indonesia. http://www.infoanda.com/linksfollow.php?lh=UQdSBlEAU1Re) dan (http://www.tempo.co.id/harian/wawancara/waw-maksumzubers.html) Atau MUI memang sengaja hendak menyatakan bahwa Gus Dur dan Angkatan Muda NU juga ‘pengkhianat bangsa’?

Baca juga:  FASTABIQUL KHAIRAT

Perlu diketahui bahwa pemerintan Palestina sendiri tidak menganggap hubungan dengan Israel sebagai haram atau tindakan ‘pengkhianatan bangsa’. Mereka bahkan menyetujui dan mendukung tindakan Gus Dur menjadi anggota Yayasan Simon Perez.

Ketua Parlemen Palestina Salem al-Zanoon mengatakan, pihaknya mendukung keanggotaan Presiden Abdurrahman Wahid dalam Yayasan Shimon Perez, karena lembaga itu didirikan untuk misi kemanusiaan dan perdamaian. Zanoon juga membantah pemberitaan yang mengatakan, dirinya kecewa terhadap Gus Dur yang meminta Indonesia bersikap netral terhadap perjuangan rakyat Palestina.

Hal ini dikatakan Zanoon ketika bertemu Ketua DPR Akbar Tandjung di Jakarta, Jumat (20/10). Zanoon yang didampingi Duta Besar (Dubes) Palestina untuk Indonesia, Riby Awad siang kemarin secara khusus menemui Presiden Konferensi Ke-104 Uni Antar-Parlemen (IPU) tersebut untuk mengklarifikasi pernyataan delegasi parlemen Palestina yang sempat mengundang reaksi keras Menteri Luar Negeri Alwi Shihab.
Kepada Akbar Tandjung ketua delegasi Palestina itu mengatakan, pihaknya sama sekali tidak pernah mempersoalkan keanggotaan Gus Dur dalam Yayasan Shimon Perez. Bahkan Palestina mendukung sepenuhnya Presiden Abdurrahman Wahid masuk dalam yayasan perdamaian tersebut.
Sebagai ketua delegasi parlemen Palestina lanjut dia, dirinya tidak mungkin mengkritik yayasan tersebut, karena Presiden Yasser Arafat sendiri juga ikut sebagai anggota Yayasan Shimon Perez. Selain itu, secara pribadi Zanoon mendukung keberadaan yayasan tersebut.

http://www.library.ohiou.edu/indopubs/2000/10/21/0045.html

Jadi bagaimana mungkin MUI tiba-tiba menjadi ‘lebih Palestina daripada Palestina’…?! Lha wong Parlemen Palestina dan almarhum Presiden Yasser Arafat saja mau dan bisa bekerjasama dengan lembaga Israel kok tiba-tiba MUI ‘mengharamkan’ umat islam Indonesia untuk berhubungan dengan negara Israel? Ono opo iki..?!

Kita semua sepakat bahwa tindakan Israel menjajah Palestina adalah tindakan yang keji dan sebagai manusia yang memiliki kesadaran akan kemanusiaan kita mesti ikut bersimpati pada penderitaan rakyat Palestina dan juga harus berupaya untuk menyuarakan simpati kita. Sebagai umat Islam maka para anggota MUI semestinya juga bersimpati pada rakyat Palestina. Saya pribadi jelas menolak segala tindakan keji pemerintah Israel pada rakyat Palestina. Tapi itu tidak berarti kita bisa dengan seenaknya menuduh orang yang berhubungan dengan negara Israel sebagai ‘agen Israel’ dan ‘pengkhianat bangsa’. Itu sama dengan menuduh Gus Dur yang anggota Yayasan Simon Perez sebagai pengkhianat bangsa. Jangankan sebagai lembaga, sedangkan sebagai individu pun kita umat islam TIDAK BOLEH sembarangan menuduh seseorang sebagai ‘munafik’ dan ‘pengkhianat bangsa’. Itu tuduhan yang serius. Lebih-lebih ini orang-orang yang mendapat gelar sebagai ulama. Maka tentu ia harus lebih berhati-hati dengan segala ucapan dan tindak-tanduknya. Kita yang bukan ulama saja tidak boleh menuduh sembarangan lho…!

Baca juga:  WISATA SEHARI SATU KOTA

Indonesia tidak sedang berperang dengan israel. Bahkan kita tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Apakah kalau Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik maka Palestina lebih diuntungkan itu masih menjadi perdebatan. Maka sungguh aneh jika MUI menuduh orang yang berhubungan dengan israel sebagai pengkhianat bangsa. Apa rumusannya kok bisa menjadi ‘pengkhianat bangsa’…?! Sungguh ajaib pola pikir MUI ini.

Ketika dulu Indonesia masih bersengketa dengan GAM (Gerakan Aceh Merdeka) tak pernah saya mendengar bahwa orang yang terlibat GAM adalah pengkhianat bangsa oleh MUI. Padahal ini jelas-jelas berhubungan dengan bangsa Indonesia. Tapi MUI pada saat itu alhamdulillah tidak menyatakan demikian. Seandainya MUI menyatakan bahwa orang-orang yang terlibat dalam GAM adalah pengkhianat bangsa maka saya yakin MUI akan dikecam sebagai melanggar kewenangannya dan mencampuri urusan politik. Saya yakin betul itu dan saya yakin MUI pada saat itu juga berpandangan yang sama.

Jadi bagaimana mungkin kini tiba-tiba MUI mencap orang yang berhubungan dengan Israel yang tidak sedang berperang dengan bangsa kita sebagai ‘pengkhianat bangsa’….?! Ada apa denganmu MUI…?!

Seorang teman menyatakan bahwa apa yang dilakukan oleh MUI itu adalah sikap tegas untuk mengingatkan umat waspada terhadap Israel. Saya menjadi semakin heran dengan pembelaan ini. Pertama, itu bukan urusan MUI. Mengapa MUI harus mengingatkan umat untuk berwaspada pada Israel dengan jalan menuduh siapa pun yan berhubungan dengan negara Israel sebagai pengkhianat bangsa? Sejak kapan MUI mendapat tugas seperti itu? Kedua, apakah menurut MUI umat Islam WAJIB memusuhi negara Israel dan siapa pun yang berhubungan dengannya adalah berdosa dan haram hukumnya? Dapat dari mana rumusan hukum agama seperti itu?

Bersimpati dan mendukung kemerdekaan Palestina tidak berarti membuat kita umat Islam boleh menuduh seseorang sebagai ‘agen israel’, “munafik’, dan ‘pengkhianat bangsa’, terlebih lagi dengan menganjurkan umat Islam untuk mengucilkan seseorang. Itu sungguh perbuatan yang tidak layak dilakukan oleh para ulama. Apa yang dilakukan oleh Ferry bukanlah perbuatan dosa. Sedangkan umat islam yang melakukan kejahatan yang jauh lebih besar pun MUI tidak pernah meminta umat islam untuk mengucilkannya. Tidak pernah saya dengar dalam sejarah Islam ada ulama yang meminta seseorang yang ‘diindikasikan’ bersalaha tau berdosa untuk dikucilkan. Dikucilkan adalah hukuman yang sangat berat dan tidak pernah dilakukan oleh lembaga keagamaan mana pun. Kini MUI nampaknya hendak membuat sejarah dengan pernyataannya tersebut.

Saya sungguh prihatin dengan sikap MUI ini dan dalam hati bertanya-tanya : “Ada apa denganmu, MUI…?!” Saya membayangkan jika seandainya yang berkomentar seperti itu adalah Presiden SBY maka tentulah ia sudah habis dimaki-maki. Tapi siapa yang bisa (dan berani) mengingatkan MUI…?!

Surabaya, 7 Mei 2012

Salam
Satria Dharma
https://satriadharma.com/

13 tanggapan untuk “ANDA AGEN ISRAEL?”

  1. Mohammad Ihsan berkata:

    Alhamdulillah. MUI telah bersikap dengan tegas dan benar. Betul-betul ulama yang berpegang teguh pada syariat agama-Nya. Semoga istiqomah 🙂

    MUI memang lembaga fatwa, dan mereka memang berhak mengeluarkan fatwa hukum atas sebuah peristiwa. Sikap pemerintah yang berada di posisi berlawanan dengan zionis Israel kini mendapat support dari para ulama. Klop sudah. Lanjutkan…

    Mohammad Ihsan
    Powered by IGI BlackBerry®

  2. harry santosa berkata:

    Kalau urusan “mengunjungi” bahkan menghadiri “kemerdekaan” ISRAEL yang jelas-jelas sedang menjajah bangsa PALESTINA sih, semua bangsa yang membenci PENJAJAHAN wajib “memprotes”, apalagi MUI yang jelas secara ideology memiliki emosional dengan ummat Islam di Palestina. Jadi wajar saja bahkan perlu.

    Jangan karena ingin dibilang WISE dan khawatir disebut tidak MULTIKULTURAL dan dituduh tidak PLURAL apalagi RASIS lantas MALU untuk mengakui bahwa ISRAEL adalah PENJAJAH sebuah bangsa bernama PALESTINA. Sejak Perjanjian Balfour, wilayah ISRAEL terus meluas dan perilaku ISRAEL terus culas dan jahat.

    Bila khawatir untuk menyebut sentimen agama, saya rasa cukup kita mengangkat sebagai sentimen keadilan ummat manusia ketika ada sebagian ummat dijajah ummat lain di negerinya sendiri. Bukankah PALESTINA yang pertama mendukung Kemerdekaan INDONESIA?? Nah, kalau mau mengangkat sentimen KEBANGSAAN juga wajar, bila khawatir “minder” bila mengangkat sentimen KEAGAMAAN.

    Salam

  3. Satria Dharma berkata:

    Hukum agama dan syariat mana yang sudah dilanggar oleh Ferry?

    Salam
    Satria Dharma
    http://satriadharma.com/

  4. Irwan Kurniawan berkata:

    Sepertinya tindakan elit NasDem memang sudah ‘terukur’ dengan adanya dukungan
    dari Amrik yg pastinya meletakkan investasi di berbagai keranjang untuk RI 2014.
    Makin jelas toh.
    http://www.metrotvnews.com/read/newsvideo/2012/04/25/149823/Kedubes-AS-NasDem-Berpeluang-Jadi-Partai-Besar
    “..
    Wakil Kepala Bagian Urusan Politik Domestik Kedutaan Besar Amerika Serikat, Craig Hall
    menyatakan, Partai NasDem sangat berpeluang menjadi partai besar pada pemilu tahun
    2014 mendatang.

    Pernyataan tersebut disampaikan Craig saat mengunjungi Seketariat Dewan Pimpinan
    Wilayah Partai NasDem, Kalimantan Barat, di Pontianak, Rabu (25/4).

    Secara pribadi, Craig sangat senang apabila Partai NasDem ikut berkompetisi dalam
    Pemilu 2014. Craig juga menegaskan pemerintahan negeranya juga akan mendukung
    partai politik yang menjadi pemenang dalam pemilu mendatang.
    ..”


    Wassalam,

    Irwan.K
    “Better team works could lead us to better results”
    http://irwank.blogspot.com
    fb/twitter/skype: irwank2k2

  5. habe arifin berkata:

    Ini pernyataan politik, tentu ada motif politik dan benefit politik yang ingin didapatkan. Andai yg hadir ke HUT Israel itu Ponari, yang komen bukan MUI tapi TUKUL. Jadi, jangan terlalu “lugu” memahami statemen politik dengan menyodorkan definisi semantik yg telanjang bulat hehe….

    Saya menebak Motif utama kasus ini yag menurt saya kok sudah cukup terang.
    1. Bahwa Partai Nasdem dikesankan sebagai partai Israeli, punya hubungan dengan Israel, mengakui kedaulatan Israel, dan berjuang untuk kepentingan Israel di Indonesia. Nasdem? Ya. Representasi Nasdem diwakili Ferry Mursidan Baldan.

    2. Indonesia, khususnya umat Islam, sangat alergi pada Israel bahkan kekatan Islam nyaris mampu mengggorok upaya politik kerjasama. Dengan latar belakang itu, motif lanjutannya adalah: Jangan pilih Nasdem. Untuk memperkuat pesan ini, pilihannya adalah siapa pembawa pesan yg representatif dan cukup kuat mempengaruhi massa/kekuatan politik Islam. Jatuhlah nama MUI. Siapa yg bisa diminta bersuara. Jatuhlah nama Kyai Junaidi.

    Pesan kuat, yg bicara tepat, medianya pas, efeknya bisa cukup dahsyat. Artinya kepentingan sesuai motif tercapai. Targett dan tujuan done!!

    Bandingkan misalnya jika pesan tadi hanya disuarakan oleh TUKUL di acara Bukan Empat Mata. Dampaknya ya ketawa ketiwi saja.

    Salam
    Habe
    Revolusi Putih: Mengganyang Kebodohan, Mencerdaskan Bangsa!!

  6. sari berkata:

    satria dharma said :
    Hukum agama dan syariat mana yang sudah dilanggar oleh Ferry?

    Jawab :
    Kalau Ferry itu seorang Yahudi/Kristen, jelas tidak ada syariat Islam yg dilanggar. Tetapi kalo dia itu seorang Muslim jelas sekali Quran dan Hadith lah yg dilanggarnya. Israel adalah perwujudan cita2 sekompok zionis pelaku Kabbala yg ingin menguasai dunia, persekutuan Yahudi dan Kristen tertentu (Judeo-christian).

    Salah satu ayat Quran yg dilanggar adalah QS AL-Maidah (5) : 51.
    “O you who have believed, do not take the Jews and the Christians as allies (friend and protector-red ). They are [in fact] allies of one another. And whoever is an ally to them among you – then indeed, he is [one] of them. Indeed, Allah guides not the wrongdoing people.”

    Silakan direnungkan….

    Sariningsih.

  7. Satria Dharma berkata:

    Sekali lagi saya sampaikan bahwa pemerintan Palestina sendiri tidak menganggap hubungan dengan Israel sebagai haram atau tindakan ‘pengkhianatan bangsa’. Gus Dur yang juga kyai haji bekerjasama dengan yayasan simon Perez milik Israel. Ketua Parlemen Palestina Salem al-Zanoon mengatakan, pihaknya mendukung keanggotaan Presiden Abdurrahman Wahid dalam Yayasan Shimon Perez. Bahkan Presiden Yasser Arafat sendiri juga ikut sebagai anggota Yayasan Shimon Perez.
    Jadi bagaimana mungkin Ferry dianggap melanggar syariat sedangkan orang Palestina dan Gus Dur sendiri malah bekerjasama dengan yayasan Israel? Apakah Anda telah menjadi lebih Palestina dari Palestina?

  8. sariningish berkata:

    Kenapa pa Satria mendasarkan analisisnya cuma sampai pada Gusdur dan Yaser Arafat sih pa?. Kan masih banyak ulama2 lain yg berkaliber internasional bahkan lebih kapable dibanding Gusdur dan sekarang beliau masih hidup…semisal Sheikh Prof Dr. Yusuf Al-Qardhawi. Yg intinya beliau telah memberikan fatwanya bahwa HARAM melakukan dukungan kepada negara Israel dan bahkan HARAM pula melakukan kunjungan ke Yerusalem yg masih sdg dikuasai oleh Israel.

    Ingat pula pa Yaser Arafat pun tidak menjadi rujukan politik semua umat Islam di Palestina. Pertimbangkan pula pendapat politik para pejuang palestina dari kelompok HAMMAS yg telah secara demokratis memenangkan pemilu Palestina. Hingga kini HAMMAS masih melakukan perang (gerilya ataupun terbuka, fisik dan fisikis) thd Israel yg pa Satria enggan memusuhinya.

    Dan sangat terbuka sekali informasi dan sudah banyak diketahui umum, dmn tahun2 kemaren Israel meluncurkan kapal2 perang canggihnya dan bom2 aneh tingkat tinggi yg USA sekalipun tidak pernah mengeluarkannya dalam perang apapun, Tapi Israel dengan leluasa dan diliput media masa meluncurkan persenjataan tingkat tinggi tersebut kpd HAMMAS dan pendukungnya yg mengakibatkan gugurnya penduduk palestina hingga lebih dari 1000 orang. Lupakah pa Satria akan peristiwa itu! Itu dilakukan oleh pemerintah Israel yg kemaren merayakan hari HUT nya, dan tokoh2 Indonesia yg tidak tahu malu itu hadir dengan ringannya ke acara tersebut.

    Menurut saya ini tidak masuk akal sehat kaum beriman. Semoga Bapak Satria mendapatkan hidayah-Nya. Amin.

  9. Satria berkata:

    Dear Sari,
    Berhubungan dengan Israel bukan berarti mendukung kekejamannya. Bukankah bangsa Palestina yang katanya sedang dijajah juga tidak mengharamkan berhubungan dengan Israel? Lantas kenapa kita justru mengharamkannya?
    Perzinahan itu sangat dilarang dalam agama tapi berhubungan dengan pelacur tidaklah haram dan bukan perbuatan dosa. Nabi Musa juga bermusuhan dengan Firaun tapi tidak berarti nabi Musa mengharamkan untuk berhubungan dengan pengikut Firaun. Itu dua hal yang berbeda.
    Apakah menurut Anda berbicara dengan pealcur itu termasuk dosa juga? Apa landasanya?
    Semoga dirimu juga mendapatkan hidayahNya. Amin!

  10. sari berkata:

    Sy Insha Allah mengerti maksud bapak. Tapi bapak jangan pura-pura lupa thd kasus dan konteksnya, tidak bisa diperluas dan digeneralisir. Ingat pula ketika bapak bicara Palestina, ada HAMMAS (yg memenangkan PEMILU yg sangat demokratis) yg mana Perdana menterinya berasal. HIngga hari ini beliau tidak mengakui Israel sbg negara. Sy malah bertanya Palestina yg mana yg mengakui Israel. Sy juga berkeyakinan kalo palestina mengakui Israel itu sama artinya dengan tidak mengakui palestina sendiri, karena Israel ingin diakui bahwa wilayah kekuasaannya adalah seluruh Palestina dengan menjadikan Al Quds (Yerusalem) sbg ibukotanya.

    Bapak mengambil analogi “apakah berbicara dg pelacur itu berdosa”?, Ya, tentu berdosa kalo berbicara itu dalam rangka mengakui dirinya adalah pelacur dan berniat utk sama-sama melakukan pelacuran.

    Mudah2an Bapak dan Sy mendapat hidayah-Nya. Wallahu ‘alam.

  11. Satria berkata:

    Apa hubungan kasus dan konteksnya ketika Ferry datang ke ulang tahun Israel? Apakah itu berarti bahwa Ferry ‘berniat untuk melakukan kekejaman pada Palestina’…?! Pernah tahu namanya Gus Mik? Beliau seorang ulama yang nyentrik. Gus Mik juga memiliki habitat pergaulan yang sebaliknya. Kiai yang suka berpenampilan trendi, dengan kaus bermerek dan bersih dari aksesori seorang kiai itu sering mengunjungi diskotek, klub malam, dan kafe. Tempat-tempat favoritnya LCC, pub yang menyajikan musik hidup dan arena berdansa, dan Kafe Elmi, restoran hotel yang buka 24 jam—keduanya di Surabaya. Sambil berbincang-bincang dengan komunitasnya, Gus Mik sering tampak menenggak minuman beralkohol, terutama bir hitam. http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1999/12/27/SEL/mbm.19991227.SEL98642.id.html
    Apakah menurut Anda Gus Mik ketika berbicara dengan pelacur adalah ‘dalam rangka mengakui dirinya adalah pelacur dan berniat utk sama-sama melakukan pelacuran”…?! Dari mana Anda bisa menghakimi bahwa Ferry juga berdosa karena datang ke ultah Israel? Sejak kapan Anda menentukan seseorang berdosa atau tidak?

  12. ppreyppsalsa berkata:

    Ha..ha…mending ngikuti berita konser Lady Gaga yg tdk diberi ijin oleh Polri atas rekomendasi MUI & FPI (masalah FMB dan Lady Gaga menurutku sama dan sebangun meskipun dg konteks yg berbeda).
    Lah MUI & FPI koq jadi ikut2an ngurusi entertainment.
    Sekali-kali (atau cukup sekali saja lah) MUI, FPI ikut demo BLBI, Century, atau penuntasan kasus Nazarudin dg cepat, malah lebih tepat sasaran.

    Saya yakin kalo MUI, FPI serta ormas Islam lainnya ikut demo anti korupsi maka Kramat Tunggak, Dolly, disintegrasi di daerah perbatasan akan sirna dg sendirinya.

  13. abdullah berkata:

    tidak akan pernah berujung, manakalah selalu ingin menang terhadap opini yang kita utarakan, dan mempertahankannya,
    kita perlu pintar2 dalam memahami sesuatu sebelum menjudge sesuatu,

    Israel (Israil dalam bahasa Arab) terdiri dari 2 kata, Israa dan iil,
    yang artinya “Kekasih Allah” atau “Hamba Allah”..

    Bani Israel, adalah istilah untuk menyebut “Anak-anak Nabi Yakub”. Seperti
    halnya kita yang disebut sebagai Bani Adam (Keturunan Adam).

    Yahudi, adalah keyakinan yang dimiliki oleh sebagian besar Bani Israel.
    Keyakinan Yahudi pun memiliki begitu banyak aliran. Namun demikian, tidak semua
    Bani Israel berkeyakinan Yahudi. Hingga kini banyak dari Bani Israel yang
    berkeyakinan Nasrani bahkan juga menjadi Muslim.

    Negara Israel, adalah negara yang dibentuk di Tanah Palestina berdasarkan
    Deklarasi Balfour dengan bantuan Inggris. Nama dari Negara Israel
    sendiri diambil dari nama Nabi Yakub, yang sesungguhnya cukup kontradiktif
    dengan tujuan pendirian Negara itu sendiri. Karena bagaimanapun, hanya orang
    Yahudi yang menjadi warga “Negara Israel” sedangkan keturunan Nabi Yakub, tidak
    semua-nya menganut Yahudi.

    Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. (Q.S. Yunus [10]: 36)

    bukan suatu urusan kita untuk memperdebatkan selama itu merugikan dan mencemarkan nama islam, negara, dan hargadiri.

    wasalam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *