LASKAR PELANGI: ‘KEPAK SAYAP KUPU-KUPU’ IBU MUSLIMAH DARI BELITONG
October 13th, 2008 Oleh: Satria Dharma
Pernah dengar Chaos Theory? Katanya sih kepak sayap seekor kupu-kupu di belahan dunia sini bisa menjadi gelombang badai di belahan dunia yang lain. Apa dan bagaimana sebenarnya teori tersebut saya sendiri tidak paham. Tapi pagi ini saya melihat betapa dahsyatnya ‘gelombang badai’ yang dihasilkan oleh ‘kepakan sayap kupu-kupu’ seorang Ibu Muslimah, seorang guru SD di sudut terpencil Belitong yang dituangkan secara imajinatif oleh Andrea Hirata dengan novel Laskar Pelanginya. Dahsyat! ‘Kepak sayap kupu-kupu’ Ibu Muslimah tersebut telah membuat gelombang badai dan kegemparan di seantero Indonesia setelah ‘kepakan’ pertamanya ia lakukan belasan tahun yang lalu di sebuah desa kecil bernama Gantong, Belitong, Siapa yang tahu bahwa kepak lemah seekor kupu-kupu di sebuah sudut dunia yang tidak kita kenal, dan mungkin samasekali tidak signifikan bagi kita, dalam jangka waktu puluhan tahun kemudian bisa menjadi badai taifun yang melanda dahsyat?
Baca artikel selanjutnya… »

Bulan Ramadhan ini merupakan tahun pertama Tara, anak bungsu kami, berpuasa sehari penuh. Tahun sebelumnya Tara hanya berpuasa setengah hari sebagaimana anak-anak lainnya. Sebetulnya kami tidak menyuruh Tara, yang baru kelas 1 SD itu, untuk berpuasa penuh dan menganggap berlatih berpuasa setengah hari sudah cukup baginya yang under-weight itu. Tapi nampaknya Tara memang anak yang istimewa. Ia punya semangat yang besar untuk melakukan hal-hal yang bagi orang lain cukup berat. (Saya ingat komentar murid-murid saya di tingkat elementary di Bontang International School dulu ketika tahu bahwa saya berpuasa seharian penuh selama sebulan ketika Ramadhan. Mereka mengatakan, :”Really? You don’t drink or eat even a bit the whole day? How could you do that, Mr Satria! I would die if I did that!” Ketika saya katakan bahwa banyak anak-anak muslim yang lebih muda darinya yang berpuasa seperti saya dan mereka pun semakin melongo! Mungkin mereka berpikir bahwa anak-anak muslim adalah calon-calon superman atau mungkin rahib petapa di masa depan.)
Dear all,
Sebagai seorang guru yang telah berpindah-pindah tempat mengajar sejak tahun 1978 dan belakangan bekerja sebagai konsultan pendidikan saya banyak berkeliling melihat berbagai jenis sekolah baik di tanah air dan juga di luar negeri. Dari sekian banyak sekolah tentu saya melihat banyak sekolah bagus maupun sekolah buruk. Saya pernah melihat sebuah sekolah dasar di daerah terpencil di Kalimantan Timur yang hanya memiliki satu guru dan celakanya hanya lulusan SD! Hanya dia satu-satunya orang yang bisa dimintai jasanya untuk menjadi guru karena penduduk yang lain sibuk ke laut sebagai nelayan. Saya juga pernah mengajar di sebuah sekolah internasional dengan faslitas yang begitu ‘wah’ yang bahkan buku-buku dan pensilnya diimport dari Amerika. Kami tinggal memilih di katalog apa saja yang kami inginkan dan selanjutnya barang-barang tersebut akan datang ke sekolah kami. Kami bisa minta hampir apa saja! Saya sendiri memesan banyak buku referensi bagi guru tentang metode pembelajaran yang mutakhir. Saya tinggal conteng-conteng buku di katalog yang saya inginkan dan semua buku yang saya minta tidak pernah ditolak. Kami memang bebas untuk meminta apa saja materi, alat dan bahan-bahan pelajaran, buku-buku siswa maupun penunjang bagi bidang studi yang kami ajarkan masing-masing. Tapi ketika kepala sekolah ingin pesan ‘clay’ alias tanah liat dari Amerika untuk bahan pelajaran membuat keramik (kami punya peralatannya lengkap), saya langsung memrotesnya. ‘We don’t need clay from the States, we have plenty here’ kata saya mencegahnya memesan tanah liat import. Gila apa! Masak tanah liat aja mesti impor dari Amrik! Meski saya hanya guru bahasa Indonesia dan ia kepala sekolah tapi protes saya ia dengarkan dan ia turuti. Itu enaknya bergaul dengan expatriates karena mereka tidak otoriter. Jika argumen kita benar maka ia akan mengikuti kita.
Dua puluh lima tahun yang lalu ketika saya masih memimpin bimbingan belajar Airlangga Student Group (ASG) saya memperhatikan bahwa kegagalan utama siswa dalam memperoleh nilai tinggi agar bisa diterima di SMA atau Perti pilihan mereka adalah karena mereka malas untuk berlatih soal-soal. Padahal kalau mereka mau rajin melatih diri dalam mengerjakan soal-soal ujian apa pun maka boleh dikata bahwa mereka pasti akan dapat lolos dalam ujian. Saya seringkali melihat anak-anak pintar yang gagal karena malas dan anak-anak yang tergolong rendah prestasinya di sekolah justru berhasil karena mau menerapkan strategi berlatih…berlatih… dan berlatih….! Saya katakan pada mereka bahwa seorang atlit tinju yang akan bertanding di ring tinju selama 10 ronde minimal harus telah berlatih 100 ronde. Itu belum termasuk latihan lari, skipping, punching, dll. Nah, bayangkan jika kita mesti menyelesaikan 40 soal matematika, misalnya. Berapa ratus soal matematika yang harus kita lahap sebelumnya, termasuk membaca teori dan menghafal penggunaan rumusnya? Saya bahkan wajibkan mereka untuk menyelesaikan minimal 1000 soal bahasa Inggris (karena saya mengajar bahasa Inggris) dan kalau bisa ya 2000 soal. Lahap semua soal dan rasakan betapa mudahnya soal-soal tersebut jika kita telah berlatih sebanyak mungkin soal. Saya tidak sekedar berteori tapi sekaligus membuktikannya.
Siapakah yang disebut sebagai ‘Guru Bangsa’? Guru bangsa adalah setiap orang yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk mendidik siswa dan orang-orang di sekitarnya agar dapat menjadikan mereka sebagai tunas-tunas bangsa yang akan tumbuh dan menjadi pembangun bangsa sesuai dengan cita-cita proklamasi kemerdekaan dan amanat Undang-undang 1945.











