Mei 23, 2022

0 thoughts on “MACET

  1. Macet saat ini memang bukan fenomena lagi, lho, Mas! Dan, betul pendapat sampeyan bahwa kemacetan itu dapat ditanggulangi sejak dini apabila kita memiliki kepekaan diri, sehingga dapat mengambil keputusan lebih awal dan tepat untuk tidak turut dalam kemacetan tersebut.
    Banyak hal dalam hidup di sekeliling kita yang sebenarnya juga macet, namun tanpa terasa sudah membudaya. Rasanya tak perlu disebutkan contohnya, karena terlalu banyak untuk ditulis, dan teramat sulit dinalar mengapa kok ya kita turut masuk dalam bagian kemacetan tersebut.
    Kemacetan bukan hanya saat kita terjebak di antara berimipitannya kendaraan di ruas jalan raya Sudirman Jakarta atau kawasan A Yani Surabaya. Tetapi lebih prinsip lagi ada kemacetan dalam hati kita yang tak pernah ada yang tahu. Sehingga bila kita yang semestinya mampu menyadarinya tak segera meluruskan jalan, tiba-tiba semuanya sudah tak lagi lancar untuk bernalar.
    Alhasil, kebuntuhan berpikir biasanya menyebabkan banyak masalah dan hal-hal negatif dalam hidup kita….

  2. Bersyukurlah Mas Satria yang masih bisa menikmati kemacetan dengan cara bersyukur dan bertafakur. Karena di negeri ini banyak juga orang-orang yang tidak pernah merasakan kemacetan malah tidak pernah bersyukur sama sekali. Bahkan mereka menganggap kemacetan hidup dan kehidupan warga sidoarjo akibat lumpur lapindo sebagai bentuk sumbangsih….mungkin kaleee! Terbukti sampai detik ini saya tidak pernah mendengar permintaan maaf dan penyesalan dari pemilik lapindo langsung atau tidak langsung

  3. hik hik hik… sepertinya sudah pada menyerah dengan kata macet mas, jadinya pasrah.. tapi bagi saya teteup, selama mobil dan motor bodinya makin lama makin gedhe ya bakalan kayak gini terussss

  4. Tiga atau empat bulan saya bertugas di Jakarta sudah cukup membuat saya stres. Jalanan macet didukung sopir taksi yang kerap memanfaatkan suasana.

    Salam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.