Mei 16, 2022

0 thoughts on “How (Rich, Generous and) Low Can You Go?

  1. Selalu menarik membaca tulisan Pak Satria.
    Apa yang dilakukan Warren Buffet dan Chuck Feeney memang luarbiasa dan aneh. Tapi mungkin ini tidak berbeda dengan apa yang telah dilakukan Nabi Muhammad saw dan para sahabat terdekatnya.

    Saya pernah mendengar bahwa James Riady telah mendermakan hartanya sejumlah a some million US$ di sebuah lembaga pendidikan di Singapura!! Apa Pak Satria pernah dengar hal ini? Kok kenapa di Singapura ya? apa mungkin dia takut kalau dikasih ke Indonesia, maka 50%nya akan di korupsi.

    Saya juga akhir2 ini mendengar Keluarga Sampoerna yang konon sangat aktif untuk memajukan dunia pendidikan di Indonesia setelah mereka melapas sahamnya ke Phillip Morris.

    Mudah2an saja ada orang kaya Indonesia yang setidaknya mau menyumbangkan hartanya, mungkin tidak se-ekstrim Buffet dan Feeney karena haree geenee… wah rasanya sulit sekali hidup tanpa email bukan?

  2. kalau yang nyumbang raja-raja minyak arab Atau orang2 kaya islam, ke yayasan islam, malah dituduh membantu teroris, berapa banyak yayasan2 islam di dunia yang hartanya dibekukan oleh usa & teman2 nya.

    Jangan mudah terpesona sama tipu daya dunia….

  3. Pak Satria,
    sebuah informasi yang sangat bagus dan bisa kita lihat dari berbagai perspektif. Hal yang ini saya tanggapi adalah fakta bahwa universitas-universitas besar, terutama Ivy League Universities, yang ada di Amrik sangat terbantu menjadi “besar” karena budaya filantropis ini. Mereka tiap tahun mendapat dana yang sangat luar biasa besarnya dari sumber ini. Menurut Pak Satria, apa memungkinkan kita menjadikan ini sebagai bagian dari praktek berbangsa di negara kita? Saya jadi teringat dengan “dana abadi” yang jaman orde baru sering digalakkan, misalnya ketika kita membuat Pelatnas Cipayung. Apa mungkin kita membuat dana abadi untuk pendidikan? Dan apa yang perlu kita lakukan, jika memang dianggap penting, untuk menumbuhkan “philantropic mentality” dalam kehidupan berbangsa di Indonesia?

  4. Bangga dan haru rasanya ketika membaca profil singkat kedua orang tersebut melalui tulisan Bapak. Mungkin jarang bagi kita menemukan sosok orang yang begitu dermawan sekaligus sederhana. Namun apakah niat dalam hatinya juga mencerminkan ketulusan dan keikhlasan ya…???
    apapun niatnya, sungguh saya sangat hormat dan salut kepada orang tersebut. semoga mereka dapat menjaadi tauladan bagi kita untuk berderma kepada sesama.
    Hormat saya,

    Fajar T.L

  5. Yang bisa saya ambil dari artikel ini adalah sikap dermawannya mereka (tangan kiri tidak tahu apa yang tangan kanan kerjakan) akan tetapi sungguh sia-sianya tindakan mereka jika niatnya bukan lillahi taala,
    atau Pak Satria punya ulasan/ artikel kedermawanan para sahabat yang bisa juga diulas, atau ini sudah dianggap cerita usang atau dongeng yang hanya terjadi di dunia antah berantah? sehingga tidak relevan lagi di jaman sekarang? wallahualam

  6. Saya tidak ingin menyoroti masalah kedermawanan. Tapi saya setuju dengan secuil isi artikel ini yang mengatakan “Jauhi kartu kredit dan berinvestasilah pada dirimu sendiri”.

  7. Salam dari Zakiah
    There are many ways to go very low. It doesn’t have to be monetary or in kind. But their good gestures deserve a salute. Those who are not rich in kind can go low too and all of us can a play our role….dont you think? May be you’ll write somethin’ on this….look forward to see it on your blog..

  8. Believe it or not, a mother shapes whether or not her family will turn into a filantrophist or a group of big spenders. I myself can feel that the glaring advertisements anywhere, on TVs, radios, on the streets, even over our private cellphones are a good trigger for wasting our money more and more and more and more. Simply say, close your eyes to those evil ads. On Sunday, better stay home punch these note buttons and make some good conversation with people across the wire if you don’t have anyone, even a pet, to talk with. My life is always wonderful without any luxury stuffs.

  9. Pendidikan sbg Imunisasi thd pemurtadan.
    Salah satu cara membentengi kaum muslimin dari ancaman pemurtadan adalah dgn meningkatkan taraf pendidikan umat Islam. Jika seorang muslim memiliki taraf pendidikan yg cukup (minimal SMU) maka insyaallah bujuk-rayu pemurtadan tidak akan mempan thd nya. Apalagi klo dibekali dgn Ilmu Agama yg cukup pula,terutama Ilmu Tafsir Quran. Maka mulailah dgn cara memberikan beasiswa kpd kaum dhuafa. Beasiswa tsb dpt diberikan oleh individu2 muslim aghniya (sbg orang tua asuh) maupun oleh Lembaga2 Pendidikan Islam atau organisasi2 Islam. Hal demikian adalah amal jariyah (juga dpt melancarkan rejeki, insyaallah). Jika kita mati, maka sebaik-baik yang kita wariskan (tinggalkan) adalah orang/sekelompok orang cendekiawan (Ulama) yg bermanfaat bagi masyarakat. Sebagaimana Nabi Muhammad & para Ulama terdahulu meninggalkan (mencetak) para cendekiawan (Ulama). Jika kita tidak bisa mendidiknya secara langsung maka dpt kita wakilkan kpd Sekolah2 Islam atau Madrasah2 & Pesantren2 utk mendidiknya & kita yg membiayainya (memberi beasiswa).
    Sekolah2 & pesantren2 yg rajin memberi Beasiswa kpd anak-anak Dhuafa & bantuan2 sosial lainnya, maka insyaallah sekolah/pesantren tsb akan maju & berkembang sebagai rahmat & berkah dari Allah.

  10. Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Al Quran surat Ibrahim ayat 7).

    Salah satu cara bersyukur adalah dengan mengeluarkan sebagian rejeki untuk menafkahi kaum dhuafa atau mengeluarkan zakat penghasilan atau bersedekah. Zakat Penghasilan hukumnya wajib bagi siapa saja yang mendapat penghasilan (rejeki) seperti : gaji, laba usaha, hasil panen, binatang ternak, dsb. Dengan membayar zakat penghasilan, insyaallah harta kekayaan kita akan bertambah seperti janji Allah yang akan menambah nikmat kpd kita jika kita bersyukur. Selain itu, bersedekah disunatkan kpd siapa saja yg mendapat nikmat2 lainnya, seperti : sembuh dari sakit, lulus ujian, naik pangkat/jabatan, menang dalam pertandingan olah raga, dsb.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.