Sabtu, 20 Oktober 2018
Just another WordPress site
Gelar vs Kompetensi

“Satria, anakku asyik bekerja dan tidak mau meneruskan kuliah. Ia yakin banget bisa hidup meski tanpa ijazah sarjana. Tapi aku ingin dia meneruskan kuliahnya dulu sampai selesai dan setelah itu kembali meneruskan pekerjaannya. Tapi otomatis ia harus berhenti bekerja dulu. Anak saya akhirnya manut tapi katanya ia akan melakukan itu hanya demi ibu dan akan menyerahkan ijasahnya kepada saya nanti. Bagaimana pendapatmu sebagai orang tua, Sat?”

Seorang teman bertanya pada saya kira-kira seperti itu melalui surel dan saya tertawa geli membacanya. Kalau ia berharap dukungan dari seorang ‘veteran dan sekaligus ketua organisasi guru’ seperti saya dalam soal sikap anaknya ini maka ia bertanya pada orang yang salah. Saya tidak akan mendukungnya. Saya justru akan mendukung anaknya. 🙂

Pertama, saya tidak percaya pada ijazah. It’s just a piece of paper yang menyatakan bhw seseorang telah melewatkan (atau mungkin menyia-nyiakan) sekian tahun waktunya utk belajar bidang tertentu. Jika ia berprestasi di sekolah maka itu juga tidak berarti bhw ia akan bisa berprestasi dalam kehidupan. Apa yg dipelajarinya di sekolah bisa-bisa malah menghambatnya dalam berprestasi di dunia nyata. Ia mungkin akan tertipu dan akhirnya berilusi bahwa kehidupan nyata akan sama dengan mata kuliah yg dipelajarinya.
Ijasah itu penting dan wajib bagi mereka yg mau berkecimpung di dunia akademik karena ijazah dan gelar dijadikan acuan utk peningkatan karier. Jadi yg pendidikannya S3 dg gelar Doktor tentu akan lebih mudah berkarir di dunia akademik ketimbang yg hanya S2. Tapi kehidupan dunia ini kan begitu luasnya sehingga dunia akademik itu hanya satu keping saja di antara keping-keping kehidupan lainnya. Lagipula, tanpa gelar dan ijazah pun seseorang tetap bisa menunjukkan kompetensi intelektualnya di masyarakat dan tidak kalah dg yg bergelar akademik. Gelar akademik tidak menjamin seseorang adalah sekaligus intelektual. Intelektualitas itu kompetensi individu dalam berpikir, bersikap dan bertindak secara ilmiah atau secara waskita. Kalau Anda membaca riwayat hidup Umar bin Khattab dan Ali r.a yg tidak pernah ‘makan sekolahan’ maka Anda akan kagum dengan kemampuan intelektual mereka. Banyak akademisi bergelar professor doktor yg bicaranya tak mencerminkan sedikit pun nilai-nilai ilmiah atau sikap waskita. Asal ngacapruk aja, kata orang.

Kedua, saya juga semakin lama semakin meragukan efektifitas sekolah dalam membekali siswanya akan bekal hidup di masa depan. Sekolah-sekolah kita itu seolah hidup dalam ilusinya sendiri akan pentingnya peran mereka. Mereka asyik dengan kurikulum yg mereka jejalkan pd siswa-siswa mereka yg samasekali tidak berorientasi pada masa depan dan tidak membekali siswa mereka dengan kemampuan berpikir dan belajar. Kebanyakan apa yg mereka berikan justru tidak ada maknanya bagi kehidupan siswa mereka kelak di dunia nyata. Kebanyakan dari sekolah tidak paham bahwa pendidikan itu harus didesain utk mempersiapkan siswa utk hidup di masa depan dan terus saja menjejali siswa-siswa mereka dg pengetahuan kuno mereka ttg kehidupan di masa lampau. Jadi alih-alih membuat siswa mereka siap menghadapi kehidupan sekolah justru menjauhkan mereka dari realita kehidupan nyata yg mereka hadapi sehari-hari.

Ketiga, gelar akademik justru bisa menipu. Tidak ada bukti bahwa si pemilik gelar memiliki kompetensi di bidang yg ia geluti. Memiliki gelar sederet itu tidak identik dengan memiliki ilmu. ‘Bergelar’ dan ‘berilmu’ itu dua hal yg berbeda. Sering sekali saya mengikuti dan memberi seminar di berbagai daerah dengan para penyandang berbagai gelar akademik yg nggegirisi yg ternyata bahkan tidak paham dengan apa yg dipresentasikannya…! Saya sampai heran dengan kenekatan mereka utk bicara mengenai hal yg tidak mereka pahami. Rupanya mereka dengan sengaja memanfaatkan keawaman masyarakat soal kompetensi dan gelar akademik dan menerima saja tawaran memberi seminar di mana-mana meski tidak paham dg materi yg diberikannya. Anehnya, meski jelas tidak kompeten tapi orang-orang semacam ini justru eksis. Masyarakat yg awam dikelabui oleh gelar akademik yg mentereng tapi nir-kompetensi. Saya seolah melihat fakta peribahasa ‘si buta (bergelar) menuntun si buta (yg tertipu)’.

Keempat ( ini agak personal), bagi saya hidup anak saya itu sepenuhnya miliknya. Saya hanya dititipi amanah anak tapi tidak berarti saya memiliki kehidupan mereka. Saya punya kewajiban utk mendidik dan memberikan fasilitas pendidikan sebaik yg saya mampu. Tapi saya tidak punya hak utk menentukan ke mana mereka mau pergi dan mau jadi apa mereka nantinya. Itu hak mereka sepenuhnya yg dijamin oleh Sang Pemilik. Hidup mereka sepenuhnya urusan mereka dengan Sang Pemberi Hidup. Kalau mereka mau melenceng ya apa boleh buat. Itu juga ketentuan Tuhan. Lha wong anak nabi aja punya hak utk tidak mengikuti tuntunan bapaknya kok.
Jika anak saya merasa yakin dengan hidupnya tanpa harus kuliah sekali pun, maka saya akan mendukungnya. Saya tidak akan mendukungnya kalau ia tidak mau kuliah hanya karena mau bermalas-malasan tentunya. Hampir semua anak kita ingin kuliah karena mereka tidak tahu harus berbuat apa setelah lulus dari sekolah menengah. Kuliah empat tahun hanya akan memberi mereka perpanjangan waktu utk memikirkan apa yg akan mereka lakukan setelah lulus nanti. Setelah lulus pun sebagian besar dari mereka masih belum tahu mau berbuat apa dengan hidupnya. Sebagian dari mereka menambah lagi waktu kuliahnya agar punya tambahan waktu utk memikirkan apa yg akan mereka lakukan setelah lulus S2 nanti. Sungguh berbahagia anak-anak yg sudah tahu apa yg harus dilakukannya dg hidupnya tanpa harus bergantung pada gelar. Jadi ketika Bill Gates memilih hengkang dari Harvard adalah karena ia sudah yakin benar apa yg akan dilakukannya dengan hidupnya. Jadi utk apa membuang-buang waktu kuliah meski kuliahnya di kampus paling top di dunia? Kuliah dan punya ijazah dari Harvard bukanlah sebuah prestasi. Itu baru potensi bagi si pemilik ijazah utk menunjukkan karyanya.
Jadi kalau tanya saya bagaimana sikap saya kalau anak saya tidak mau kuliah dan lebih memilih bekerja maka saya akan membayangkan Bill Gates ketika bilang pada ortunya akan keluar dari Harvard dan fokus ke Microsoftnya. Pada saat itu akan saya jawab,”Sak karepmu, Le! It’s your life. You have the very right to decide what is best for your life.”.
(Tapi tentu saja jawaban saya tidak akan sama dengan jawaban emaknya. :-D)

Bis Damri, Cengkareng – Blok M, 17 Februari 2012

Salam
Satria Dharma
https://satriadharma.com/

0 tanggapan untuk “Gelar vs Kompetensi”

  1. zulfikar hakim berkata:

    Buat saya, mengambil S1 itu membuka wawasan. Wawasan yang tidak dimiliki oleh orang2 yang tidak mengambilnya. Jika anaknya bakat bisnis, dengan mengambil S1 di bidang Software Enginenering misalnya, maka ia memiliki wawasan di bidang itu.

    Jangan lupa, walaupun Steve Jobs juga DO, dia menyempatkan diri mengambil beberapa mata kuliah di desain tanpa status mahasiswa. Artinya, dia punya wawasan desain. Terbukti bahwa produk2nya, selain memiliki wawasan teknologi seperti Windows misalnya, juga memiliki wawasan desain dan interaksi yang menarik. Wawasan ini penting, tidak harus dapet gelar memang, tapi kuliahnya sendiri penting. Dengan wawasan ini (dan tentu saja aspek2 lainnya), Apple bisa membuat barang2 yang overpriced, berkali2 lipat dari barang merk lain dengan spesifikasi sejenis, tapi semua orang mengantri untuk membelinya

    Kedua, membuka jalan menuju link. Ini yang cukup penting. Dengan kuliah di sebuah tempat yang memiliki ikatan alumni yang kuat, ITB misalnya, maka kita telah membuka salah satu jalan kita menuju link alumnus ITB. Juga ada ITB career center, yang artinya, jika sasarannya kerja, peluang untuk mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan 2x sampai 3x pendapatan per kapita rata2 di Indonesia terbuka lebar

    Saya bilang peluang, mohon dicatat, karena memang tidak menjamin. Tapi Peluangnya menjadi LEBIH BESAR.

    Ketiga, membuka wawasan untuk berbagai bidang yang lain yang bisa mendukung bisnis/perusahaan. Misalnya kita ada di ITB (sori lagi2 contohnya ITB) dan kita memiliki usaha basreng misalnya, bekerjasama dengan rekan desain produk dan rekan bisnis/manajemen tentunya akan lebih meningkatkan nilai basreng itu, dari yang awalnya hanya di pasar2 mungkin bisa masuk hotel bintang lima

    Tidak ada yang bisa menjamin dengan S1 itu lebih oke, tapi dengan S1, peluang lebih besar tentunya. Kalau sasarannya bisnis, bisa jadi peluang product developmentnya lebih oke. Kalau sasarannya perusahaan, perusahaan kan ga mau rugi. Kalo ga punya ijazah ya mending dibayar murah aja 😛

  2. Yanto Musthofa berkata:

    >>>>>>Kuliah empat tahun hanya akan memberi mereka perpanjangan waktu utk memikirkan apa yg akan mereka lakukan setelah lulus nanti. <<<<<<< so sad, but true….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *