Selasa, 12 Nopember 2019
Just another WordPress site
Pendidikan Ilmu Sosial yang Mengkeret

img.jpgMeski belum ada riset secara nasional, fakta di lapangan jelas-jelas menunjukkan bahwa Ujian Nasional yang diselenggarakan oleh pemerintah mau tidak mau membuat pembelajaran ilmu-ilmu sosial yang tidak diujikan menjadi mengkeret (squeezed) di sekolah-sekolah menengah. Hal semacam ini tentu saja sudah merupakan konsekuensi logis dari tidak mengkutsertakan ilmu-ilmu sosial pada ujian nasional, apalagi yang menjadikan nilai UNAS sebagai syarat kelulusan. Ilmu-ilmu sosial termarginalkan oleh kebijakan UNAS tersebut.

Bagaimana bentuk pemarginalan ilmu-ilmu sosial tersebut? Yang jelas kita lihat adalah menyusutnya jam-jam pelajaran ilmu sosial di sekolah-sekolah. Hal ini bahkan nampak sangat ekstrim ketika siswa berada di tingkat terakhir dimana mereka harus mempersiapkan diri untuk mengikuti UNAS nantinya dimana sekolah bahkan telah menghapus pelajaran ilmu-ilmu sosial di kelas 3! Dengan menjadikan ilmu-ilmu sosial tidak diujikan bersama dengan ilmu-ilmu yang lain artinya secara terstruktur pemerintah telah menjadikan ilmu-ilmu sosial sebagai ’second class importance’. Sebuah pengingkaran terhadap pentingnya ilmu-ilmu sosial dalam kehidupan.

Apa bahayanya jika ilmu-ilmu sosial diabaikan dan diperlakukan secara marginal? Kita akan berada dalam bahaya kehilangan generasi yang memiliki landasan pemahaman demokrasi yang kuat, dan hanya akan menciptakan generasi yang terdidik secara parsial, tidak terdidik secara utuh dan holistik. Dan ini suatu kerugian besar.

Contoh mengenai hal ini bisa dilihat di AS dengan kebijakan NCLB (No Child Left Behind) yang lebih mementingkan pada penguasaan bahasa dan matematika sehingga mengakibatkan menciutnya kurikulum ilmu-ilmu sosial. Beberapa negara bagian di AS telah mulai mengenyahkan pelajaran ilmu sosial dari kurikulumnya di sekolah dasar dan sekolah menengah. Banyak siswa yang tidak memperoleh pelajaran ilmu sosial sampai kelas 10! Bahkan para guru baru ilmu sosial kesulitan untuk mencari tempat magang dan bahkan untuk sekedar mengamati praktek pembelajaran ilmu sosial di beberapa negara bagian AS. Akibatnya, bukan hanya materi ilmu-ilmu sosial menjadi menciut dan tidak dipelajari lagi di sekolah tapi elemen dari pembelajaran yang penuh pemikiran dan reflekstif dari ilmu-ilmu sosial jadi menghilang. Allan Kullen, President People of America Foundation bahkan menyatakan bahwa hal ini dapat menyebabkan ‘A New Crisis in America’s School’. Ia mengutip David McCullough, pemenang the Pulitzer Prize penulis biografi Truman and John Adams yang menyatakan bahwa jika kecenderungan menciutnya pembelajaran ilmu-ilmu social di sekolah tidak diperhatikan akan dapat membawa dampak besar. “We are losing our story, forgetting who we are and what it’s taken to come this far . . . . Our story is our history, and if ever we should be taking steps to see that we have the best prepared, most aware citizens ever, that time is now,”, alias Amerika akan kehilangan jati diri kata McCullough.

Baca juga:  DOA ULAMA VS DOA BENCES

Selama ini kita sudah mengeluhkan betapa kualitas pembelajaran ilmu-ilmu sosial menjadi begitu kering dan tak bermakna. Guru-guru ilmu sosial hanya mengajarkan fakta-fakta dan meminta murid mereka sekedar menghafalkan fakta-fakta tersebut tanpa berusaha untuk memperoleh hikmah dan pemahaman yang mendalam tentang apa dibalik fakta-fakta tersebut. Para guru ilmu-ilmu sosial juga tidak menemukan alasan apalagi misi untuk menjadikan ilmu yang diajarkannya sebagai sumber kebijaksanaan dalam menjawab tantangan berabgai masalah social di masa depan. Mereka hanya menjejali otak siswa-siswa mereka dengan tumpukan fakta tanpa makna dan kini mereka memperoleh pembenaran. Bukankah ilmu-ilmu sosial tidak diujikan secara nasional yang berarti tidak penting? Jika ia tidak penting maka para guru ilmu-ilmu sosial tidak menemukan alasan untuk apa mengajarkan ilmu-ilmu tersebut dengan sebaik-baiknya. Ilmu-ilmu sosial pada akhirnya hanya akan menjadi sekedar usus buntu yang sewaktu-waktu bisa kita potong karena mengganggu. Kita telah membunuh ilmu-ilmu sosial di sekolah-sekolah kita dan kita juga mematikan karir guru-guru ilmu sosial.

Saat ini sungguh sulit untuk menemukan guru-guru ilmu sosial yang berkualitas. Sekolah-sekolah tidak perduli dan pemerintah juga tidak perduli. Mereka toh hanya sebagai pelengkap dalam kurikulum. Jadi siapa yang perduli apakah pembelajaran ilmu sosial kita berkualitas atau tidak? Siapa yang perduli apakah para guru ilmu sosial berkualitas atau tidak? Mengajar dengan penuh semangat dan inspiratif? Tak ada yang perduli saat ini. Perhatian kita semua tertuju pada bidang-bidang yang diujikan pada UNAS.

Apa yang terjadi jika hal ini kita biarkan? Mari kita lihat pada apa yang terjadi di Amerika dimana program NCLB juga telah menciutkan ilmu-ilmu sosial. Berdasarkan survei di Amerika :

  • Lebih dari separoh siswa SMU tidak bisa menyebutkan negara-negara mana saja yang terlibat dalam PD II. Tragis mengingat AS merupakan negara utama yang terlibat.
  • Siswa AS berada di peringkat kedua terbawah dalam survei di sembilan negara dalam penguasaan ilmu-ilmu sosial.
  • Meski negaranya berperang di Iraq dan Afganishtan 87% siswa tidak dapat menemukan letak Negara Iraq dan 83 % tidak tahu letak Negara Afganishtan di peta!
  • 40% siswa tidak tahu pertengahan abad yang mana Perang Sipil di Amerika terjadi.
Baca juga:  TUKANG PLINTIR CAP KAPAK

Meski belum pernah ada survei tentang kemampuan siswa sekolah menengah kita dalam ilmu sosial tapi diyakini bahwa hasilnya tentu tidak akan lebih baik daripada di AS. Bahkan ada seorang teman guru yang berani bertaruh bahwa lebih dari 50% siswa sekolah menengah tidak tahu berapa propinsi sekarang yang ada di Indonesia!

Apakah benar bahwa ilmu sosial tidak penting bagi siswa-siswa kita? Tentu saja itu tidak benar. Semakin intensnya permasalahan politik dan sosial di negara kita dari hari ke hari justru semakin meneguhkan betapa pentingnya pemahaman akan pentingnya peran sejarah, politik, dan budaya pada siswa-siswa kita sebagai pemegang estafet kepemimpinan di masa depan.

Ilmu-ilmu social tidak boleh ‘dimatikan’ di sekolah-sekolah kita dan justru harus diperkuat dengan pembelajaran yang berkualitas yang merangsang siswa untuk berpikir kritis dengan menelaah sejarah, budaya, dan politik yang telah dan sedang terjadi saat ini. Hanya dengan pembelajaran ilmu sosial yang bermakna dan berkualitaslah kita bisa menghasilkan pemimpin-pemimpin masa depan yang mampu menyelesaikan permasalahan bangsa dengan secara holistik dan komprehensif. Siswa yang buta ilmu sosial pada akhirnya hanya akan menghasilkan pemimpin-pemimpin yang tak mampu menghasilkan keputusan yang tepat bagi bangsa kelak.

Sudah saatnya para ilmuwan ilmu-ilmu sosial turun dan membuat riset tentang dampak menciutnya kurikulum dan merosotnya kualitas pembelajaran ilmu-ilmu sosial ini di sekolah-sekolah menengah dan berusaha untuk mencari solusinya. Jika tidak maka kita akan mengalami masalah kehilangan jati diri yang jauh lebih buruk daripada yang dihadapi oleh AS tanpa tahu apa yang terjadi.

Jakarta, 23 Desember 2007
Satria Dharma
Direktur
Centre for the Betterment of Education (CBE)
JAKARTA

Baca juga:  YANG AWAM, YANG TAHU, DAN YANG AHLI

0 tanggapan untuk “Pendidikan Ilmu Sosial yang Mengkeret”

  1. Edy Sukrisno berkata:

    Para ilmuwan sosial lakukan riset boleh2 aja Cak, tapi jangan sampai hanya jadi sekedar “wacana” atau menjadi “paralysis by analysis” – lumpuh karena kebanyakan analisis dan akhirnya gak merubah apa-apa. Kata eyang Jenggot Marx, “Banyak filsuf telah menafsirkan dunia dalam berbagai cara, yang penting adalah bagaimana merubah dunia.

    Salam,
    Krisno – Yogyakarta

  2. Qinimain Zain berkata:

    Banjarbaru, Kalimantan Selatan, 27 Mei 2008

    Matinya Ilmu Administrasi dan Manajemen
    (Satu Sebab Krisis Indonesia)
    Oleh Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. C(OMPETENCY) = I(nstrument) . s(cience). m(otivation of Maslow-Zain) (Hukum XV Total Qinimain Zain).

    INDONESIA, sejak ambruk krisis Mei 1998 kehidupan ekonomi masyarakat terasa tetap buruk saja. Lalu, mengapa demikian sulit memahami dan mengatasi krisis ini?

    Sebab suatu masalah selalu kompleks, namun selalu ada beberapa akar masalah utamanya. Dan, saya merumuskan (2000) bahwa kemampuan usaha seseorang dan organisasi (juga perusahaan, departemen, dan sebuah negara) memahami dan mengatasi krisis apa pun adalah paduan kualitas nilai relatif dari motivasi, alat (teknologi) dan (sistem) ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Di sini, hanya menyoroti salah satunya, yaitu ilmu pengetahuan, system ilmu pengetahuan. Pokok bahasan itu demikian penting, yang dapat diketahui dalam pembicaraan apa pun, selalu dikatakan dan ditekankan dalam berbagai forum atau kesempatan membahas apa pun bahwa untuk mengelola apa pun agar baik dan obyektif harus berdasar pada sebuah sistem, sistem ilmu pengetahuan. Baik untuk usaha khusus bidang pertanian, manufaktur, teknik, keuangan, pemasaran, pelayanan, komputerisasi, penelitian, sumber daya manusia dan kreativitas, atau lebih luas bidang hukum, ekonomi, politik, budaya, pertahanan, keamanan dan pendidikan. Kemudian, apa definisi sesungguhnya sebuah sistem, sistem ilmu pengetahuan itu? Menjawabnya mau tidak mau menelusur arti ilmu pengetahuan itu sendiri.

    Ilmu pengetahuan atau science berasal dari kata Latin scientia berarti pengetahuan, berasal dari kata kerja scire artinya mempelajari atau mengetahui (to learn, to know). Sampai abad XVII, kata science diartikan sebagai apa saja yang harus dipelajari oleh seseorang misalnya menjahit atau menunggang kuda. Kemudian, setelah abad XVII, pengertian diperhalus mengacu pada segenap pengetahuan yang teratur (systematic knowledge). Kemudian dari pengertian science sebagai segenap pengetahuan yang teratur lahir cakupan sebagai ilmu eksakta atau alami (natural science) (The Liang Gie, 2001), sedang (ilmu) pengetahuan sosial paradigma lama krisis karena belum memenuhi syarat ilmiah sebuah ilmu pengetahuan. Dan, bukti nyata masalah, ini kutipan beberapa buku pegangan belajar dan mengajar universitas besar (yang malah dicetak berulang-ulang):

    Contoh, “umumnya dan terutama dalam ilmu-ilmu eksakta dianggap bahwa ilmu pengetahuan disusun dan diatur sekitar hukum-hukum umum yang telah dibuktikan kebenarannya secara empiris (berdasarkan pengalaman). Menemukan hukum-hukum ilmiah inilah yang merupakan tujuan dari penelitian ilmiah. Kalau definisi yang tersebut di atas dipakai sebagai patokan, maka ilmu politik serta ilmu-ilmu sosial lainnya tidak atau belum memenuhi syarat, oleh karena sampai sekarang belum menemukan hukum-hukum ilmiah itu” (Miriam Budiarjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, 1982:4, PT Gramedia, cetakan VII, Jakarta). Juga, “diskusi secara tertulis dalam bidang manajemen, baru dimulai tahun 1900. Sebelumnya, hampir dapat dikatakan belum ada kupasan-kupasan secara tertulis dibidang manajemen. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa manajemen sebagai bidang ilmu pengetahuan, merupakan suatu ilmu pengetahuan yang masih muda. Keadaan demikian ini menyebabkan masih ada orang yang segan mengakuinya sebagai ilmu pengetahuan” (M. Manullang, Dasar-Dasar Manajemen, 2005:19, Gajah Mada University Press, cetakan kedelapan belas, Yogyakarta).
    Kemudian, “ilmu pengetahuan memiliki beberapa tahap perkembangannya yaitu tahap klasifikasi, lalu tahap komparasi dan kemudian tahap kuantifikasi. Tahap Kuantifikasi, yaitu tahap di mana ilmu pengetahuan tersebut dalam tahap memperhitungkan kematangannya. Dalam tahap ini sudah dapat diukur keberadaannya baik secara kuantitas maupun secara kualitas. Hanya saja ilmu-ilmu sosial umumnya terbelakang relatif dan sulit diukur dibanding dengan ilmu-ilmu eksakta, karena sampai saat ini baru sosiologi yang mengukuhkan keberadaannya ada tahap ini” (Inu Kencana Syafiie, Pengantar Ilmu Pemerintahan, 2005:18-19, PT Refika Aditama, cetakan ketiga, Bandung).

    Lebih jauh, Sondang P. Siagian dalam Filsafat Administrasi (1990:23-25, cetakan ke-21, Jakarta), sangat jelas menggambarkan fenomena ini dalam tahap perkembangan (pertama sampai empat) ilmu administrasi dan manajemen, yang disempurnakan dengan (r)evolusi paradigma TOTAL QINIMAIN ZAINn (TQZ): The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority, TQZ Administration and Management Scientific System of Science (2000): Pertama, TQO Tahap Survival (1886-1930). Lahirnya ilmu administrasi dan manajemen karena tahun itu lahir gerakan manajemen ilmiah. Para ahli menspesialisasikan diri bidang ini berjuang diakui sebagai cabang ilmu pengetahuan. Kedua, TQC Tahap Consolidation (1930-1945). Tahap ini dilakukan penyempurnaan prinsip sehingga kebenarannya tidak terbantah. Gelar sarjana bidang ini diberikan lembaga pendidikan tinggi. Ketiga, TQS Tahap Human Relation (1945-1959). Tahap ini dirumuskan prinsip yang teruji kebenarannya, perhatian beralih pada faktor manusia serta hubungan formal dan informal di tingkat organisasi. Keempat, TQI Tahap Behavioral (1959-2000). Tahap ini peran tingkah-laku manusia mencapai tujuan menentukan dan penelitian dipusatkan dalam hal kerja. Kemudian, Sondang P. Siagian menduga, tahap ini berakhir dan ilmu administrasi dan manajemen akan memasuki tahap matematika, didasarkan gejala penemuan alat modern komputer dalam pengolahan data. (Yang ternyata benar dan saya penuhi, meski penekanan pada sistem ilmiah ilmu pengetahuan, bukan komputer). Kelima, TQT Tahap Scientific System (2000-Sekarang). Tahap setelah tercapai ilmu sosial (tercakup pula administrasi dan manajemen) secara sistem ilmiah dengan ditetapkan kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukumnya, (sehingga ilmu pengetahuan sosial sejajar dengan ilmu pengetahuan eksakta). (Contoh, dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru milenium III, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas dan D(ay) atau Hari Kerja – sistem ZQD, padanan m(eter), k(ilogram) dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta – sistem mks. Paradigma (ilmu) pengetahuan sosial lama hanya ada skala Rensis A Likert, itu pun tanpa satuan). (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).

    Bandingkan, fenomena serupa juga terjadi saat (ilmu) pengetahuan eksakta krisis paradigma. Lihat keluhan Nicolas Copernicus dalam The Copernican Revolution (1957:138), Albert Einstein dalam Albert Einstein: Philosopher-Scientist (1949:45), atau Wolfgang Pauli dalam A Memorial Volume to Wolfgang Pauli (1960:22, 25-26).
    Inilah salah satu akar masalah krisis Indonesia (juga seluruh manusia untuk memahami kehidupan dan semesta). Paradigma lama (ilmu) pengetahuan sosial mengalami krisis (matinya ilmu administrasi dan manajemen). Artiya, adalah tidak mungkin seseorang dan organisasi (termasuk perusahaan, departemen, dan sebuah negara) pun mampu memahami, mengatasi, dan menjelaskan sebuah fenomena krisis usaha apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistem-(ilmu pengetahuan)nya.

    PEKERJAAN dengan tangan telanjang maupun dengan nalar, jika dibiarkan tanpa alat bantu, membuat manusia tidak bisa berbuat banyak (Francis Bacon).

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Ahli strategi, tinggal di Banjarbaru, email: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com).

    THANK you very much for Dr Heidi Prozesky – SASA (South African Sociological Association) secretary about Total Qinimain Zain: The New Paradigm – The (R)Evolution of Social Science for the Higher Education and Science Studies sessions of the SASA Conference 2008.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *