Senin, 03 Agustus 2020
Just another WordPress site
MUHAMMAD YUNUS DAN GRAMEEN BANK

yonus_bwk.png Pernahkah Anda mendengar nama Muhammad Yunus dan Grameen Bank? Saya sempat mengeluh dalam hati ketika beberapa anak-anak muda di kantor saya menunjukkan wajah bengong mendengar nama tersebut. Kemana saja mereka selama ini? Apa saja informasi yang ia kunyah sehingga nama Muhammad Yunus dan Grameen Bank tidak pernah didengarnya? Keterlaluan! Tapi, baiklah!, beberapa di antara kita mungkin sibuk menonton sinetron, Tukul, dan berita kriminal sehari-hari sehingga tidak pernah dengar nama Muhammad Yunus dan Grameen Bank. Beliau adalah pemenang Nobel Perdamaian 2006 atas usahanya yang tidak mengenal lelah mengentaskan kemiskinan di Bangladesh dengan mendirikan Grameen Bank, bank khusus untuk dan milik orang miskin.

Saya sudah mengagumi orang hebat ini ketika pertamakali membaca beritanya bertahun-tahun lalu. Sebagai ‘lulusan’ orang miskin, saya tahu betapa jarangnya orang yang mau mendedikasikan dirinya untuk membantu orang miskin. Dunia dipenuhi dengan orang-orang yang sibuk mencari kekayaan sendiri dan menganggap orang miskin adalah penyakit sampar yang harus dicurigai dan dijauhi.

Muhammad Yunus dan Mother Teresa adalah sosok yang sangat saya kagumi. Mereka mendedikasikan seluruh hidupnya untuk mengasihi dan membantu orang-orang miskin. Mereka adalah semacam nabi bagi partai Kaypang, partainya orang-orang miskin, dimana saya pernah menjadi anggota tanpa perlu mendaftar. 🙂

Cerita tentang Muhammad Yunus dan Grameen Banknya sangat banyak kita temui di berbagai media. Saya sudah pernah membaca bukunya, artikel-artikel tentangnya, dan bahkan menonton acaranya di Oprah Show. Saya menonton hampir tak berkedip. Ketika Oprah bertanya mengapa ia percaya bahwa orang miskin akan bisa membayar pinjaman tanpa kolateral alias agunan, beliau menjawab :”Fakta bahwa mereka adalah manusia sudah cukup bagi kita untuk mempercayainya.” Dan air mata saya mengalir tanpa bisa saya cegah. Ya, Tuhan! Betapa saya mencintai orang ini. Seandainya saya bisa bertemu, menyentuh, mendengarkan dan berbicara dengannya, sungguh akan merupakan momen yang sangat luar biasa bagi saya.
Dan kemarin mimpi saya menjadi kenyataan. Saya mendengarkannya berbicara langsung, berjabat tangan dengannya, sekaligus mendapatkan tanda tangan dan kartu namanya pada acara “Sampoerna Foundation’s Distinguished Speaker Series” di Hotel Mulia! Tuhan mengabulkan keinginan saya.

Baca juga:  PR ANAK DAN BANTUAN ORTU

Pada acara tersebut beliau yang professor di Fakultas Ekonomi Chittagong, Bangladesh, menceritakan kembali pengalaman hidupnya ketika pertama kali ia bersentuhan langsung dengan kenyataan hidup di luar kampusnya ketika Bangladesh terkena bencana kelaparan. Ia sangat terkejut menemui kenyataan bahwa keluarga miskin di sekitar kampusnya sebetulnya hanya butuh bantuan uang sangat sedikit untuk dapat mengubah hidup mereka. Ketika beliau memutuskan untuk membantu para ibu yang miskin tersebut dengan meminjaminya uang untuk modal beliau berhasil mengumpulkan 42 orang dengan jumlah pinjaman kurang dari US$27! “Ya, Tuhan! Ya Tuhan! Seluruh derita semua keluarga itu hanya karena tidak ada uang dua puluh tujuh dollar!” serunya dalam hati. Malamnya ia tidak bisa tidur karena merasa muak dengan dirinya sendiri. Ia sangat shock menemui kenyataan betapa ia mengajarkan teori-teori indah tentang ekonomi dan bicara tentang uang ratusan juta dollar sementara di luar kampusnya ia menemui orang-orang yang begitu miskinnya karena terjerat oleh rentenir. Beliau kemudian memutuskan untuk mendirikan Grameen Bank, Bank for the Poor, untuk membantu para orang miskin tersebut.

Ceritanya mengalir begitu indahnya dan suasana menjadi hening karena it’s so absorbing. Rasanya semua orang menahan nafas mendengar ceritanya. Saya menahan nafas berkali-kali. It’s so dramatical. Saya seolah melihat dan mengalaminya sendiri bagaimana beliau memperjuangkan bank bagi orang miskin tersebut meski mendapat penolakan terus menerus dari para bankir. Pada beberapa bagian diam-diam saya menangis dalam hati karena kisahnya begitu menyentuh. I am really touched by his story. Suatu ketika datang seorang ex napi ke Grameen Bank untuk minta pinjaman juga sebagaimana orang-orang lain. Staff Muhammad Yunus kebingungan menghadapinya. Ex napi ini sangat terkenal reputasinya sebagai seorang kriminal dan empercayainya adalah tidak masuk akal.

Baca juga:  Terimakasih atas Apa...?!

Tapi staf bank juga tak berani menolaknya karena takut ex napi tersebut marah dan mengamuk. Ia terkenal dengan reputasi buruknya tersebut. Ia minta bantuan Muhammad Yunus untuk mengatasi masalah tersebut. Muhammad Yunus memintanya untuk menemuinya dan tidak perlu takut. Ia adalah manusia juga seperti kita, katanya. Kalau ada lima orang lain di desanya yang mau menjaminnya (ini adalah sistem yang berlaku di Grameen Bank sebagai ganti dari kolateral) maka dia layak untuk mendapat pinjaman seperti orang desa lainnya.

Jadi Grameen Bank memberinya pinjaman. Dan ex napi ini membayar cicilannya seperti orang-orang miskin lainnya. Ia kemudian menjadi pemimpin kelompok. Dan naik…naik…menjadi pemimpin kelompok yang lebih besar dan lebih besar. Ia tak pernah lagi melakukan tindakan kriminal sejak mendapatkan pinjaman dari Grameen Bank. Grameen Bank telah mengubah hidupnya! Sangat luar biasa!

Ketika beliau ditanya apa tindakan yang ia lakukan jika ada nasabah miskinnya yang tidak dapat membayar. Bank lain tentu akan menyita apa saja yang dimiliki oleh nasabah ‘bandel’ tersebut. Tapi di Grameen Bank
tidak ada kolateral atau agunan. Lagipula nasabahnya adalah orang-orang miskin yang tidak punya harta benda yang bisa disita. “If anybody cannot pay, you should come and help him more, not punish
him.” Jawabnya. Mereka tidak membayar karena memang tidak bisa membayar dan itu berarti mereka dalam kesulitan dan lebih memerlukan pertolongan daripada sebelumnya. Mereka harus ditolong dan bukannya
dihukum. Ya, Allah! Betapa benarnya kata-kata itu. Kredit mikro bukanlah obat ajaib yang bisa menghapuskan kemiskinan dalam sekali tenggak. Tetapi kredit mikro bisa mengahiri banyak kemiskinan banyak orang dan mengurangi penderitaan orang-orang lainnya.

Baca juga:  MENJADI KONSULTAN PENDIDIKAN DI GROBOGAN

Digabungkan dengan program-program inovatif lainnya dalam meningkatkan potensi masyarakat, kredit mikro adalah alat utama dalam upaya kita membangun dunia yang bebas dari kemiskinan. Demikian katanya.
The story is sooo beautiful and told by Muhammad Yunus himself. It will be the best day in my life.

Pada tahun 2015, katanya, Grameen Bank, Bank for the Poor, yang sahamnya mayoritas dimiliki oleh orang-orang miskin akan berubah menjadi Grameen Bank, bank for the formerly poor, bank milik orang-orang yang DULUNYA miskin. Saat itu mereka tidak lagi miskin dan telah bangkit menjadi orang-orang yang hidup layak dan sejahtera. Saya mempercayainya. Sayang sekali hari itu Jum;at, hari yang pendek, dan beliau harus
menghentikan ceritanya yang indah dan penuh inspirasi tersebut. Setelah acara selesai saya segera menghampiri beliau, menyapanya untuk minta tandatangan dan kartu nama, sebagaimana biasa saya lakukan pada penulis buku lainnya. Dan beliau menandatangani buku “Bank Kaum Miskin” terbitan Marjin Kiri yang saya beli semalam khusus untuk ditandatangani beliau. Buku saya adalah satu-satunya yang berbahasa Indonesia yang ditandatangani beliau. Peserta lainnya membawa buku asli yang berbahasa Inggris “Bank for the Poor”.

Malamnya saya bermimpi duduk-duduk di teras dan ngobrol berdua bersama beliau. “Everybody is enterpreneual, Satria. You have to believe that.” Saya mendengarkannya dengan penuh takzim. “Charity works once. Social business continues.”, lanjutnya.
Sayup-sayup saya mendengar beliau berkata,:”Touching somebody’s life is addictive. Once you do it, you’ll do it more and more.” Dan saya terbangun karena alarm handphone saya. Dalam sholat Subuh saya berdoa dalam hati,:”Ya Tuhan! Jika saya masuk surga kelak, perkenankan saya menjadi tetangga Muhammad Yunus.” Amin!

Jakarta, 11 Agustus 2007
Satria Dharma

0 tanggapan untuk “MUHAMMAD YUNUS DAN GRAMEEN BANK”

  1. Roni berkata:

    Pak Satria, perkenankan saya mengambil tulisan anda tentang Muhammad Yunus untuk saya kirimkan kepada teman-teman kami.

    Salam
    Roni

  2. redskin berkata:

    Saya sudah kenal dengan sosok M.Yunus agak lama, tapi setelah membaca bukunya dan mengetahui perjuangan beliau jadi salut dan sekaligus terharu sekali. Penghormatan setinggi2nya buat beliau. Sebenarnya banyak dari prinsip-prinsip kreditnya sudah dilakukan di Indonesia (katanya). Oh ya itu juga komentar dari teman2 kalangan perbankan yg saya ajak diskusi. Tapi kenapa tidak sukses ya disini? Mungkin kita kurang sosok pantang menyerah, terus memperbaiki diri yg ada di M.Yunus? Banyak yang bilang karena orang Indonesia itu spesial (kompleksnya). Kalo menurut saya koq tidak ya. Mungkin karena kita kurang berusaha saja?

  3. shavaat berkata:

    Kapan ya ada “Muhammad Yunus” lahir di Indonesia?

  4. nino berkata:

    Bangkadesh memiliki Muhammad Yunus, pejuang sejati bagi kaum miskin. Indonesia punya segudang politisi, pejabat, aparat birokrasi, serta pengusaha yang tak henti-hentinya menindas kaum miskin.

    Aksi korupsi dipamerkan secara telanjang dan tanpa malu-malu. ketika kasus korupsi pengalihan hutan lindung Kepulauan Riau yang melibatkan Alamin Nasution yang anggota DPr terbongkar, saya mengira itu adalah kasus paling memalukan yang pernah terjadi yang melibatkan politisi dan birokrat. Ternyata masih muncul lagi kasus suap yang lebih mengerikan, yang diduga melibatkan pejabat BI dan politisi Senayan.

    Kebijakan pemerintah pun tak ada yang berpihak kepada kaum miskin. Alih-alih memikirkan nasib kaum miskin, policy yang muncul justru menindas dan kian menyulitkan hidup rakyat. Mulai dari kenaikan harga BBM, konversi minyak tanah ke gas, penjualan aset-aset produktif milik negara ke investor asing, atau penetapan upah buruh yang sangat rendah.

    Kalangan pengusaha pun tak mau kalah. Kesempatan korupsi memang tidak mereka miliki secara leluasa. Tapi penindasan yang mereka lakukan terhadap para buruh tak kalah bengisnya. Bank-bank, baik swasta maupun BUMN, juga pabrik-pabrik, bahkan stasiun televisi , tak lagi menerima karyawan tetap. Mereka hanya bersedia menyediakan tenaga outsourching yang tak memiliki posisi tawar dan bisa di phk sewaktu-waktu tanpa pesangon.

    Pendek kata, Indonesia untuk saat ini bukanlah rumah yang indah buat kaum buruh atau mereka yang bernasib kurang beruntung secara materi. Tanpa lahirnya pemimpin yang sangat kuat, yang memiliki konsern ekstra besar terhadap kaum papa, piramida penindasan terhadap mayoritas umat manusia oleh sekelompok elit politik dan ekonomi, akan terus berlangsung.

    Pak Satria Dharma, saya berdoa untuk kelahiran seorang ‘Muhammad Yunus’ persis di tengah-tengah kaum papa di Indonesia. Negeri ini sepertinya jauh memnutuhkan sosok Muhammad Yunus ketimbang Bangladesh karena rakyat di sini tidak hanya dibiarkan hidup dalam kemiskinan, melainkan juga dijadikan korban penindasan struktural. Hak-hak dasar hidup mereka dirampas dengan cara korupsi massal yang berlangsung sangat masive.

    Usul saya kepada Anda, pada tulisan mendatang, ada baiknya disertai analisa, mengapa di tengah proses pemiskinan yang dahsyat di negeri ini, justru bermunculan sosok mirip Muhammad Yunus, atau lebih tepatnya Muhammad Yunus-Muhammad Yunus palsu. Orang-orang ini mengabdikan sepanjang hidupnya sebagai instrumen penindas rakyat. Namun belakangan ini mengiklankan diri seolah-olah dirinya adalah sosok dewa penolong bagi kaum miskin papa. Ada juga orang yang tanpa malu-malu mengajak rakyat untuk berbuat, padahal prestasinya selama ini baru mampu memimpin sebuah partai politik tanpa memiliki catatan yang jelas tentang perbuatan konkret apa yang pernah di perbuat untuk masyarakat. Masih banyak lagi sosok yang menurut saya, bertingkah nekat dan menggelikan, sekadar untuk memenuhi ambisi menjadi pemimpin sebuah negara yang secara struktural, belum bebas dari tabiat kolonial yang gemar menindas orang-orang kecil.

    Selama belum lahir seorang ‘Muhammad Yunus’ di sini, rakyat di negeri ini tak pantas menyatakan diri sebagai bangsa merdeka.

  5. bale berkata:

    Org Indonesia bisanya cuma jadi pengagum aja…

    Saya rasa ga ada masalah dengan rakyat kita kok, semua masi punya kesempatan yang sama. Hanya yang membedakan ada yang benar-benar mau keluar dari kemiskinan dengan cara bekerja keras dan ada yg hanya terdiam menunggu uluran tangan orang.

    Bapak saya juga orang miskin sewaktu di jaman nya dan berkat kerja keras dia mampu memenuhi semua kebutuhannya dengan cara mandiri dan hidup berkecukupan sekarang.

    Setiap hari banyak kita dengar kisah sukses si miskin yang bisa hidup berkecukupan. Dan kisah itu tidak dimiliki oleh daerah tertentu tapi seluruh dunia dan begitu juga sebaliknya.

    Jadi semua itu tergantung orgnya mau hidup sebagai orang miskin atau hidup berkecukupan.

    Kisah “Klasik” Mr. Yunus dan lain-lainnya akan banyak bermunculan dan itu wajar-wajar saja, tidak ada yang luar biasa (maaf ya pembaca…)

    Jadi semua orang punya kesempatan untuk hidup layak dengan atau tanpa caranya Mr.Yunus sang “Hero”

  6. Satria berkata:

    Anda mungkin salah baca. Apa yang dilakukan oleh Muhammad Yunus ini bukan kisah ‘klasik’ mengenai perjuangan seseorang miskin untuk menjadi kaya. Muhammad Yunus bukanlah orang miskin yang berjuang agar diri dan keluarganya bisa hidup berkecukupan dengan kerja kerasnya seperti ayah Anda. Muhammad Yunus sudah hidup berkecukupan sebagai professor di bidang ekonomi di kampusnya sebelum ia mendedikasikan seluruh hidupnya untuk mengasihi dan membantu orang-orang miskin. Muhammad Yunus adalah SATU-SATUNYA manusia di bumi ini yang membuat BANK KHUSUS BAGI ORANG MISKIN agar orang miskin dapat bangkit dari kemiskinannya. Dan itu samasekali bukan kisah klasik atau kisah yang umum.

  7. M. Uyun berkata:

    Saya sangat kagum dengan M. Yunus, seorang ekonom yang bukan hanya menguasai teori ekonomi doang tetapi langsung menerapkannya kedalam praktek. Jika peraih nobel perdamaian memenangkan hadiahnya dengan mendamaikan perang, justru M. Yunus memperoleh nobelnya dengan cara mengobarkan perang. Yah… perang terhadap kemiskinan.
    Mengenai konsep bank Garmeen, saya merasa konsep koperasi yang dicetuskan bung Hatta tidak kalah hebatnya. Yang saya merasa heran, mengapa koperasi model bung Hatta tidak berhasil diterapkan di Indonesia? Apakah karena koperasi justru menjadi alat pemerintah, bukannya alat rakyat untuk mensejahterakan dirinya sendiri?

  8. tien berkata:

    Sy termasuk yg telat membaca buku ini.Bgt selesai membaca buku ini, sy gak bisa tidur.Menurut sy, bs begitu krn lahir dari seorang ayah yg SERIUS MEMBANGUN MARTABAT KELUARGA (ayahnya berhasil jd pria yang setia di tengah2 masyarakat Bangladesh yang bs dg sekehendak hatinya mencampakkan istri-padahal istrinya gila-, kritis thd bank konvensional, dan bekerja keras menghidupi keluarganya, jg muslim yg taat) dan lahir dari seorang ibu yang baik hati kepada kaum kerabat yang miskin (sang ibu memberi sentuhan terakhir pd setiap handmade yg dibangun ayahnya, hasil dr add value itu, beliau sumbangkan kpd kaum miskin).
    LAHIRLAH M.YUNUS YG SERIUS MEMBANGUN MARTABAT KAUM MISKIN.

  9. sita_perbanas berkata:

    pak, izinkan saya untuk mengambil tulisan bapak ini, untuk dijadikan tugas kuliah saya “penyehatan perusahaan” .. terima kasih.

  10. Auki berkata:

    Senang sekali menemukan tulisan ini. Mulai dari part 1-part 3. Saya suda membaca kedua buku yang di tulis muhamad Yunus, Bank untuk Kaum Miskin dan Menciptakan dunia tanpa kemiskianan. Setelah membaca kedua buku tersebut, saya mengambil kesimpulan bahwa:

    “Muhamad Yunun adalah seorang pejuang kemerdekaan yang sesunguhnya. Setelah berjuang membebaskan banblases dari cengkraman pakistan, Ia kemudian berjuang membebaskan banglades dari cengkreman kemiskinan yang parah. Untuk memperjuangkanya, ia malahan melakukan sesuatu yang bertolak belakang dengan apa yang dia ajarkan sendiri dalam ruang kelas.

    Salut buat muhamad Yunus. Saya mohon ijin untuk kopi tulisan ini sebagai koleksi dalam hadrdisk saya. Tentu saja saya akan menyebutkan si empunyai tulisan plus sumber.

    Salam hangat.

  11. Dedi Munadih berkata:

    Pak minta ijin mencopy dan mencetaknya untuk di bagikan ke teman-teman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *