Sebuah dialog imajiner antara seorang bernama ‘Muslim’ dan ‘David’ muncul di beberapa milis yg saya ikuti seperti ini.
Muslim : Bagaimana natalmu ?
David : Baik, kau tidak mengucapkan selamat natal padaku ?
Muslim : Tidak, agama kami menghargai toleransi antar agama, termasuk agamamu, tapi masalah ini, agama saya melarangnya..
David : Tapi kenapa, bukankah hanya sekedar kata2 ? Teman muslimku yg lain, mengucapkannya padaku ?
Muslim : Mungkin mereka belum mengetahuinya… David, kau bisa mengucapkan dua kalimat syahadat ?
David : Oh tidak, saya tidak bisa mengucapkannya… Itu akan mengganggu kepercayaan saya…
Muslim : kenapa ? Bukankah hanya kata2 ? Ayo, ucapkanlah…
David : sekarang, saya mengerti..![]()
Saya tercengang membaca dialog ini. Jelas bahwa si pembuat dialog ingin menyampaikan bhw bagi seorang muslim mengucapkan ‘Selamat Natal’ sama dengan mengucapkan syahadat dalam Islam…! Bagaimana mungkin ia sesembrono itu?
Pengharaman ucapan selamat natal jelas merupakan masalah khilafiah. Ada ulama yg melarang tapi ada ulama lain yg justru menganjurkan. Salah satunya adalah Syeh Qaradhawi. Beliau menganggap mengucapkan selamat merayakan Natal adalah perbuatan muamalah yg baik utk mempererat hubungan baik dg umat Nasrani. Beliau tidak menganggap ini sebagai bagian dari akidah melainkan muamalah yg baik utk dilakukan.
(more…)
Syahdan…
Suatu ketika Rasulullah mendapati penduduk Madinah sedang mengawinkan benih kurma dengan penyerbukan. Melihat ini Rasulullah lalu mengomentari apa yang dilakukan oleh penduduk Madinah tersebut dan bertanya mengapa benih kurma itu mesti dikawinkan segala. Mengapa tidak dibiarkan begitu saja secara alamiah. Penduduk Madinah yang petani kurma itu sangat menghormati Nabi Muhammad sebagai pemimpin panutannya. Ia lalu mengikuti saran Rasulullah dan berhenti mengawinkan kurmanya. Kemudian ternyata produksi kurmanya menurun karenanya.
Panennya berkurang karena mengikuti saran Rasulullah. Para petani kurma kemudian melaporkan panen kurma yang menurun itu kepada Rasulullah. Rasulullah kemudian sadar akan keterbatasan pengetahuannya tentang menanam kurma. Maka keluarlah sabda Rasulullah: Wa Antum A’lamu biAmri Dunya-kum, kamu sekalian lebih mengetahui urusan duniamu. http://www.mail-archive.com/jamaah@arroyyan.com/msg00446.html
Apa artinya ini?
Ketika Nabi saw memberikan nasihat tentang cara mengawinkan pohon kurma supaya berbuah, ini bisa dianggap bahwa beliau sudah memasukkan otoritas agama untuk urusan duniawi yang di mana beliau tidak mendapatkan wahyu atau kewenangan untuk itu. Untuk manusia setingkat Nabi apa pun perkataannya, sikapnya, dan bahkan diamnya pun bisa dianggap sebagai hukum, aturan, dan ketentuan. Tapi ternyata dalam masalah menanam kurma ini pendapat beliau keliru. Pohon kurma itu malah menjadi mandul. Maka para petani kurma itu mengadu lagi kepada Nabi saw, meminta pertanggungjawaban beliau. Dan beliau menyadari kesalahan advisnya waktu itu dan dengan rendah hati berkata, “Kalau itu berkaitan dengan urusan agama ikutilah aku, tapi kalau itu berkaitan dengan urusan dunia kamu, maka “Antum a’lamu bi umuri dunyaakum” kamu sekalian lebih mengetahui urusan duniamu. Rasulullah mengakui keterbatasannya. Rasulullah bukanlah penentu untuk segala hal. Rasul bukanlah orang yang paling tahu untuk segala hal. Bahkan untuk urusan dunia di jaman beliau pun beliau bukanlah orang yang paling tahu. Jadi tidak mungkin jika kita menuntut Rasulullah untuk mengetahui segala sesuatu hal tentang urusan dunia. Apalagi kalau mengurusi urusan kita di jaman modern ini…! Tentu tidak mungkin kita harus mencari-cari semua aturan tetek-bengek dalam hadist beliau. Itu namanya set-back. Lha wong di jamannya saja Rasulullah menyatakan bahwa ada hal-hal yang tidak beliau pahami dan hendaknya tidak mengikuti pendapat beliau dalam ‘urusan duniamu’ tersebut.
(more…)
Mencium tangan seseorang adalah tanda hormat kepada yg dicium tangannya. Ini bisa kita lihat pada kebiasaan para santri jika bertemu dg guru atau kyainya. Jadi jangan heran jika Anda melihat seorang pejabat yg perlente begitu bertemu dg seorang kyai bukan hanya menyalaminya tapi sekaligus mencium tangannya. Itu karena adanya kedekatan hubungan antara keduanya, di mana yg dicium tangannya biasanya adalah guru yg sangat dihormati. Kita mencium tangan seseorang karena sangat menghormatinya. Saya sendiri selalu berupaya utk mencium tangan ayah, almarhum ibu saya (dan salah seorang tante saya) karena rasa hormat dan cinta kepada mereka ketika bertemu. Meski demikian tak satu pun rasanya ada guru, kyai, atau siapa selain mereka pun yg saya perlakukan demikian hormat.
Siapakah orang yg paling patut utk kita cium tangannya selain orang tua kita sendiri? Rasanya kita sebagai umat Islam dengan senang hati mencium tangan Nabi Muhammad seandainya beliau ada bersama kita. Rasulullah adalah orang yg paling kita cintai dan hormati sebagai umat Islam. Beliau menempati urutan tertinggi utk kita hormati dan cium tangannya jika kita bisa bertemu. Bahkan ada riwayat yg menceritakan dua orang Yahudi yg mencium tangan dan kaki Rasulullah karena kekagumannya atas kerasulan Muhammad SAW.
(more…)
Ilustrasi. SDIT Lukman Al Hakim Surakarta. http://sditlukmanalhakim.blogspot.com/
Tiba-tiba saja kepala sekolah anak saya Tara di SD Luqman Al-Hakim menelpon dan bilang ingin datang berdiskusi ke rumah dan sekalian buka bersama. Kasek dan para guru Luqman Al-Hakim memang sering datang ke rumah untuk ngobrol, tentang sekolah tentu saja. Saya memang terlibat pada pembukaan sekolah tersebut sejak awal dan mereka menganggap saya sebagai salah satu Pembina Sekolah.
Karena istri saya sudah mudik dan anak sulung saya buka bersama temannya di luar maka praktis tinggal saya sendiri di rumah. Jadi saya tanyakan berapa orang yang akan datang karena saya mesti menyediakan ifthar sesuai dengan jumlah tamu yang akan datang. Untungnya bahwa pada Ramadhan banyak sekali warga yang berjualan bermacam-macam ta’jil dan makanan apa saja. Jadi saya keluar rumah berbelanja untuk keperluan ifthar tersebut. Untuk praktisnya saya belikan nasi kotak di Redsto padang saja. Karena yang akan datang katanya hanya 5 orang ya belikan sesuai itu karena saya tidak ingin ada makanan tersisa. Lha wong gak ada orang lain di rumah! Weladalah lha kok yang datang 7 orang sehingga terpaksa saya mengetok pintu ‘connecting door’ dengan rumah adik saya di sebelah sehingga bisa disuplai dari sebelah.
(more…)

Source: wikipedia.org
Tapi tiba-tiba terjadi perubahan. Tiba-tiba Bapak (ayah saya) meminta kami anak-anaknya untuk berlebaran di Balikpapan saja. Anaknya ada 11 (sebelas) orang dan kami semua diminta untuk berlebaran di Balikpapan saja. Dan itu tidak biasanya! Biasanya Bapak tidak pernah mengatur di mana kami akan berlebaran karena biasanya Mama yang mengaturnya. Tapi sekarang Mama telah tiada. Beliau telah meninggalkan kami beberapa bulan yang lalu dan Bapak ingin agar kami berkumpul berlebaran seperti biasanya di Balikpapan saja.
Akhirnya kami putuskan bahwa saya akan tetap di Balikpapan untuk berlebaran bersama Bapak dan saudara-saudara dan istri saya, bersama anak-anak , pulang ke ayahnya juga di Surabaya. Ternyata anak sulung saya juga membatalkan pulang ke Surabaya karena sepupu-sepupunya akan datang semua ke Balikpapan. Dan ia ingin berlebaran bersama sepupu-sepupunya. Suasana tentu akan meriah dan semarak dibandingkan pulang ke Surabaya dan Madiun. Dan tiketnya pun diberikan pada seorang kerabat yang ingin mudik.
(more…)

Ilustrasi. dok. islington.gov.uk
“Apakah Islam mengajarkan kekerasan? Terhadap pertanyaan ini saya akan menjawab tegas dan lantang: YA!” demikian tulis Kang Hasan dalam blognya dan ia pun menjelaskan panjang lebar pendapatnya tersebut dengan mengutip beberapa kisah yang terjadi dalam sejarah kebangkitan Islam yang diabadikan dalam beberapa hadist. Tulisan saya ini saya buat untuk menjawab tantangan Kang Hasan untuk menjawab argumennya tersebut.
Dalam blognya tersebut Kang Hasan memberikan beberapa contoh tentang PERISTIWA kekerasan yang kemudian disimpulkannya sebagai AJARAN KEKERASAN dalam Islam.
“Dikisahkan tentang seorang lelaki buta. Istrinya suka mencaci maki Muhammad. Laki-laki ini dengan meraba-raba mencari sebilah pisau. Dan ketika ia temukan, pisau itu ia gunakan untuk menikam dan membunuh istrinya, Ketika hal itu sampai ke telinga Muhammad, ia mendiamkannya. Diamnya Muhammad umumnya diartikan sebagai persetujuan.
(more…)
Al-Kahfi [18:29] Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”.
Dear all,
Bacaan Al-Qur’an saya tiba pada ayat ini tadi dan saya ingin berbagi pemikiran dengan Anda tentang ayat ini. Ayat ini mengandung sebuah konsep tentang ‘Free Will’, yaitu kebebasan memilih bagi manusia. Manusia TIDAK dipaksa untuk beriman, apalagi beragama. Jadi kalau ada orang yang memaksa seseorang untuk beriman atau memeluk agama tertentu maka itu BERTENTANGAN dengan ketentuan Allah pada ayat ini.
‘biarlah ia kafir.’ Demikian firman Allah mengenai orang yang ingin kafir. Tak usah kita memaksa-maksanya untuk beriman apalagi mengikuti ritual orang beriman.
Ayat ini kembali menarik perhatian saya karena kemarin saya didatangi saudara saya dengan menyampaikan berita,:”Ternyata si anu tidak pernah puasa selama ini! Ia tidak pernah sahur dan kalau siang ya tetap merokok.” (more…)

Lia Eden
Dear all,
Apakah Anda mengikuti kehebohan kasus ‘penghinaan agama’ Lia Aminuddin (Lia Eden) yang kemudian melebar setelah ‘dibela’ oleh Lutfi As-Syaukani?
Semula saya tidak tertarik dengan kasus ini tapi karena di salah satu milis yang saya ikuti saya didorong untuk berkomentar maka saya akhirnya membaca-baca apa yang terjadi. Isu yang dibahas adalah bahwa Lia Eden dianggap menyimpang (dari ajaran Islam) sedangkan ajaran nabi Muhammad tidak menyimpang.
“Apa yang dilakukan oleh Lia Aminudin, sama seperti yang dilakukan Nabi Muhammad. Kesalahan Lia sama dengan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad waktu munculnya Islam,” kata Luthfi Assyaukanie dalam sidang MK di Gedung MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Rabu, (17/2/2010).
Saya mau membela pernyataan Lutfi Asy-Syaukani bahwa semua nabi itu pada awalnya dianggap MENYIMPANG dari tatanan moral dan sosial yang sudah ada oleh kaumnya masing-masing.
(more…)












Recent Comments